Sekarang- entah situasi seperti apa, kamu sulit mencernanya- Dazai Osamu membawamu keluar melompati jendela lantai atas. Saat bangunan di belakang kalian meledak hebat, kamu dan Dazai telah berhasil menyelamatkan diri. Tubuh kalian bergulingan, namun dengan posisi saling memeluk.
Tubuhmu rasanya sakit sekali saat menimpa tanah, tidak, menimpa Dazai. Lelaki berambut coklat gelap itu melindungimu saat jatuh, terutama di bagian kepala. Kamu berusaha bangkit.
"Dazai-san?" Kamu menyentuh wajah Dazai dengan penuh cemas. Si Pemilik Nama yang semula terpejam, membuka matanya. Perasaanmu lega seketika.
Dazai berusaha bangkit, membuat kamu membantunya. Matamu memeriksa setiap inci tubuh Dazai, harap-harap cemas. Cemas bila Dazai mendapat luka. Yang dicemaskan justru tertawa ringan.
"Jatuh dari ketinggian seperti barusan tidak akan membuat tubuhku terluka, (Name)," katanya. "Hatiku yang justru akan terluka jika kamu pingsan tidak sadarkan diri setelah jatuh."
Spontan kamu memalingkan wajah, bersemu malu. Walau sedikit kesal karena Dazai begitu santai. Selanjutnya, lelaki itu membuka mantel hitamnya, memasangkannya pada bahumu.
"Udara setelah kita pergi dari sini akan sangat dingin," jelasnya.
Kamu menatap pada bangunan yang kini diselimuti api. Tempat kamu sebelumnya terjebak dengan tangan terikat bersama sebuah bom waktu yang tersisa beberapa menit. Lalu lelaki ini-yang sekarang ikut menatap bangunan - datang menyelamatkanmu. Terjadilah situasi yang sulit kamu cerna tadi: kalian melompati jendela dan meledaklah bom itu, membakar bangunan.
"Seharusnya Dazai-san tidak perlu repot datang menyelamatkan bawahan tidak penting sepertiku," ucapmu. Sekarang kamu menunduk.
Benar. Dazai Osamu, sosok penting di organisasi tempat kamu bekerja, Port Mafia, tidak seharusnya melakukan hal itu. Hanya membuang waktu. Seharusnya membiarkan kamu berakhir bersama ledakan itu.
Dan sepertinya Dazai bisa membaca yang kamu pikirkan. Tangannya terulur untuk mengangkat wajahmu, sehingga kalian bertatapan. Senyumnya mengembang. "Yah~ lelaki sejati tidak akan membiarkan perempuan cantik mati bersama ledakan."
"Kecuali aku ikut mati ke dalamnya. Maka cita-citaku terwujud sempurna. Mati bersama perempuan cantik," lanjutnya.
Kamu tersenyum. "Cita-cita Dazai-san masih sama rupanya," ucapmu dengan nada bercanda. Dazai tertawa. Kamu terdiam, lalu kembali berucap, "Terimakasih, Dazai-san..."
Dazai hanya mengangguk. Senyuman tidak luntur dari wajahnya.
"Baiklah, waktunya pergi. Musuh akan cepat berdatangan. Akan merepotkan." Dazai berdiri membantumu. Namun rupanya, kakimu terkilir. Sepertinya akibat terjatuh tadi. Kamu merintih kesakitan.
Dan tiba-tiba saja kamu sudah berada dalam gendongan Dazai. Kamu terkejut. Kamu mengangkat wajah, menatapnya. Dari sini, wajah tegas dengan perban yang membalut sebelah matanya, terlihat sangat menawan. Juga leher dan jakunnya. Kamu menelan ludah. Segera mengalihkan pandangan.
"Pegangan, (Name). Jika terjatuh, hatiku akan ikut merasa sakit."
Mungkin nada bicaranya terdengar lebay, tapi kamu menurut. Mengalungkan tanganmu di lehernya, membenamkan wajahmu di dadanya. Tiba-tiba kamu bersemu, suara detak jantung Dazai.. suara detak jantungnya terdengar lebih cepat dari ritme normal. Tapi kamu mengenyahkan pikiran liarmu, jelas saja deg-degan. Setiap orang akan deg-degan jika berada dalam situasi seperti sekarang-selamat dari ledakan dan cemas bila musuh datang tiba-tiba.
"Maaf, kalau berat, Dazai-san," ucapmu pelan.
Dazai terkekeh. "Aku bukan laki-laki lembek yang mengeluhkan berat badan seseorang dalam gendongan. Aku orang terkuat di Port Mafia, tahu! Percayalah!"
"Dazai-san pernah menggendong orang lain seperti ini?"
Dazai tampak berpikir, raut wajahnya tiba-tiba murung. Lantas menggeleng. "Tidak. Setiap perempuan yang aku tawarkan untuk digendong, selalu menolak. Katanya aku tidak pantas. Bahkan aku dikatai menjijikkan. Sedih.. "
Sekarang raut wajah kamu yang berubah murung. Dari penuturannya, kamu langsung mengerti, bahwa seharusnya kamu tidak perlu sesenang ini hanya karena Dazai menyelamatkanmu dari kematian, menggendongmu karena kesakitan. Dazai melakukan hal ini mungkin tidak hanya kepada bawahan sepertimu saja, tetapi kepada bawahan yang lain, bawahan perempuan yang lain. Tidak seharusnya kamu berharap bahwa Dazai mempunyai perasaan yang sama terhadapmu. Normal seseorang yang kedudukannya lebih tinggi menyelamatkan bawahannya, bukan? Menyelamatkan bukan berarti menyukai.
Kamu meredam dalam-dalam perasaanmu terhadap Dazai.
Di tengah kemurungan kamu di dalam gendongannya, diam-diam Dazai menarik senyum. Kamu tidak tahu, bahkan mungkin tidak akan pernah tahu, bahwa Dazai saat ini menghembuskan napas lega. Lega sekali karena berhasil membawamu dengan selamat. Lega karena setelah ini Dazai masih bisa melihatmu berkeliaran di markas kalian. Dan kamu mungkin tidak akan pernah tahu, bahwa Dazai-yang beberapa detik lalu kamu yakini tidak punya perasaan yang sama terhadapmu- justru sebaliknya. Menyimpan perasaan itu jauh di dalam hatinya. Kamu tidak tahu tentang hal itu, untuk saat ini. Entah suatu hari.
Kalian berdua mulai memasuki hutan lebat dan gelap, meninggalkan bangunan di belakang yang apinya semakin berkobar. Percikan apinya memberi pancaran cahaya pada gelapnya langit malam. Seolah ada kembang api besar dinyalakan.
"Aku izinkan kamu menyelamatkannya. Meskipun mungkin alasan kamu sebenarnya bukan hanya karena dia adalah bawahanmu, tetapi karena dia adalah seseorang yang istimewa untukmu. Aku izinkan kamu menyelamatkannya, Dazai-kun," adalah ucapan Mori Ougai kepada Dazai beberapa jam yang lalu.
Jika Dazai keliru memperhitungkan waktu sedikit saja, kamu mungkin sudah berakhir bersama ledakan itu. Hangus terbakar menjadi abu. Dan jika itu terjadi, Dazai akan memilih untuk melompat ke dalam ledakan, membiarkan dirinya ikut terbakar bersamamu. Namun karena suatu hari kamu pernah berkata kepadanya tentang angan-angan kehidupan yang panjang, maka Dazai memilih memperhitungkan waktu dengan tepat. Supaya kamu tetap hidup sesuai angan-anganmu.
Seandainya saja kamu tahu, Dazai bahkan bersedia terbakar bersama ledakan terhebat sekalipun jika itu bisa membuatmu tetap hidup.