Berpacaran dengan Nagi tidak usah berharap bisa pergi berkencan keluar. Apalagi bepergian dari satu tempat ke tempat lain dalam satu hari. Karena itu semua merepotkan, bagi lelaki pemalas seperti Nagi.
Bisa berkencan di akhir pekan saja kamu sudah bersyukur, walaupun hanya di dalam rumah. Setidaknya Nagi tidak malas untuk datang ke rumahmu. Tapi, Nagi yang tiduran di pahamu sambil memiringkan ponsel- bermain game -dan kamu yang menonton televisi di depanmu, apakah bisa disebut berkencan? Kalian hanya sibuk dengan perhatian masing-masing. Saling berdiam diri.
Ah, kalian sekarang berada di dalam kamarmu. Kamu duduk berselonjor di lantai beralas karpet, Nagi berbaring dengan paha kamu sebagai bantalnya.
Udara panas dari luar menyeruak ke dalam kamar, sehingga kamu merasa kepanasan. Padahal kamu sudah menghidupkan AC sebelumnya. Kamu berniat mengaturnya kembali dan menurunkan suhunya.
"Nagi, bangun sebentar." Kamu menyuruh Nagi. Lelaki itu menurunkan ponselnya, menatapmu protes. Kamu mengusap sebelah pipinya, menyuruhnya untuk menurut lewat tatapan matamu. Nagi menghembuskan napas, lalu bangun.
Kamu hendak bangkit mengambil remote AC yang tergeletak di pojok kamar, tapi Nagi menahan sebelah tanganmu.
"Mau kemana?" suaranya terdengar lemah.
"Panas. Aku mau nurunin suhu AC-nya," sahutmu. Lalu kamu menatap heran Nagi yang sedari awal datang ke rumahmu tidak sekalipun melepaskan hoodienya. "Lagian emangnya kamu enggak kepanasan?"
"Panas.. " Nagi mengeluh.
"Simpan HP-nya. Terus angkat tangan kamu ke atas."
Nagi melakukan yang kamu suruh. Lalu kamu membantunya melepaskan hoodie dengan susah payah. Tangan kamu yang kecil harus melepaskan hoodie dari tubuh Nagi yang lebih besar darimu, itu membuat kamu mengeluarkan tenaga sedikit lebih kuat. Kini Nagi menatapmu dengan kaos hitam polos di tubuhnya.
Kamu bangkit mengambil remote, menurunkan suhunya menjadi lebih dingin. Mengambil kotak tisu, melangkah kembali menghampiri Nagi. Lalu tanpa banyak bicara, Nagi kembali menjadikan pahamu sebagai bantal, lanjut bermain game. Tisu yang sebelumnya kamu bawa, diusapkan pada dahi Nagi yang berkeringat. Kamu melakukan itu sambil mengelus rambutnya.
Kamu tidak sadar jika yang kamu lakukan membuat Nagi tersihir rasa kantuk. Ponsel yang sebelumnya dia miringkan di atas wajahnya, terjatuh. Menimpa wajah, terutama bagian hidungnya. Kamu terkejut, lalu ikut meringis.
Nagi meringis kesakitan sehingga matanya sedikit berair. Jelas saja itu sakit. Kamu pernah mengalaminya.
Untuk meredakan rasa sakitnya, kamu menunduk. Meniup hidung Nagi, lalu mengusapnya pelan.
Nagi memejamkan mata. "Wangi. Napas kamu wangi.." katanya.
Kamu terkekeh, terus mengusap hidung Nagi.
"Gak mau lanjut main. Mau tidur. Hidung sakit."
Kamu mengangguk. Membiarkan Nagi memiringkan posisi tidurnya menghadap ke perutmu. Nagi membenamkan wajahnya di sana, sebelah tangannya memeluk pinggangmu. Kamu merasakan darahmu berdesir. Kupu-kupu berterbangan di perutmu.
Akhir pekan ini kalian habiskan dengan Nagi yang tertidur di pahamu dan kamu yang mengelus lembut rambutnya. Terus seperti itu sampai Nagi benar-benar pulas.
Sementara layar televisi di depan menampilkan serangkaian iklan.