sore hari itu~
"Kata orang, nonton film romantis berduaan bareng pacar itu dilarang."
Sore hari yang dilanda gerimis, penghangat ruangan di dalam kamar yang dihidupkan, dan layar laptop yang menampilkan adegan pertengahan sebuah film, adalah saat-saat dimana kamu menikmati hidup. Lalu, bersama Tsukishima Kei di sampingmu adalah bonusnya.
"Lo ngomongin itu disaat kita udah nonton setengah filmnya." Tsukishima menimpali. Matanya memandang datar ke arahmu.
Kamu terkekeh. "Ya, kan, itu yang dibilang orang. Gue gak dengerin yang mereka bilang. Kalo mau nonton, ya nonton aja. Terserah bareng siapa," katamu.
"Kenapa gak boleh nonton bareng pacar?" Tsukishima kembali menatap layar.
Kamu mengangkat bahu lalu menjawab, "Gak tau."
"Takut adegan di filmnya dipraktekin?"
"Lo-" Kamu menoleh terkejut karena ucapannya. Tsukishima ini... tidak mungkin dia tidak sadar dengan ucapan yang keluar dari mulutnya baru saja.
Tsukishima menatapmu. Terselip senyum jahil dari sudut bibirnya yang terangkat. Tangannya dia gunakan untuk menopang dagu. "Kenapa? Gue salah?"
"Enggak tau.." Kamu mengalihkan perhatian kembali pada layar, tidak mau balas menatap. Namun pipimu yang memerah membuat tawa pelan Tsukishima terdengar. Lantas kamu memelototinya sebagai peringatan.
"Segitu doang malu, payah."
"Diem deh."
Lalu setelah itu kalian terdiam, fokus menikmati alur film tersebut.
"Ceweknya mirip lo, Kak." Tiba-tiba Tsukishima berkata. "Pendek," lanjutnya.
"Fokus nikmatin alurnya, Dek, bukan malah ngatain," balasmu.
"Tapi fakta."
"Yang pendek di dunia ini bukan cuman gue, ya!" Kamu menatap Tsukishima protes. Kentara sekali kamu merasa kesal.
Tsukishima balas menatap. Menantangmu lewat sebelah alisnya yang terangkat.
Sekilas Tsukishima dapat melihat senyum jahil di wajahmu. Kamu terpikir untuk membalas ejekan Tsukishima setelah melihat karakter lelaki di dalam film tersebut.
"Lo bilang ceweknya mirip gue. Setelah diinget-inget lagi, cowoknya mirip seseorang deh," ujarmu. "Ngerasa gak sih lo? Mirip siapa... gitu di tim voli lo."
"Siapa?"
"Coba lo inget-inget lagi deh. Rambutnya yang item, mukanya yang datar, terus karakternya kaku gitu. Ada, kan, orang di tim voli lo yang kayak gitu?"
"Gak ada." Tsukishima membalas cepat ucapanmu.
"Ada." Kamu bersikeras. "Mirip temen lo itu. Kalo gak salah namanya Kage-"
"Gak ada, Kak. Halu lo aja," setelah memotong ucapanmu, Tsukishima benar-benar fokus menonton. Alisnya tampak mengerut kesal. Karena itu, kamu terkekeh.
"Payah," ejekmu.
Lalu kalian terdiam lagi.
Layaknya film romantis pada umumnya, selalu terselip beberapa adegan romantis. Menit berikut salah satunya. Saat kedua karakter utama yang sebelumnya kalian bahas saling menatap satu sama lain, keduanya menutup mata hingga tak ada jarak sedikitpun, soundtrack romantis pun diputar. Kamu melotot. Lalu secara reflek sedikit menegakkan tubuh untuk menutupi kedua mata Tsukishima.
"Lo ngapain?" tanya Tsukishima. Menjauhkan tanganmu, tetapi kamu bersikeras untuk menutupinya.
"Diem, anak kecil kayak lo gak boleh liat. Pamali," jawabmu sedikit berbisik.
Sekarang tanganmu sepenuhnya terjauh dari kedua mata Tsukishima yang segera menatapmu kesal. "Kita cuman beda setahun," katanya. Lalu dia melihat adegan tersebut di layar.
Kamu merasa Tsukishima melirikmu. Seperti dugaanmu, senyum jahil benar-benar tergambar di wajahnya. "Cuman karena ini lo nutupin mata gue, Kak?"
Kamu mendiamkannya.
"Lo malu? Bukannya kita juga pernah?"
Mendengar ucapannya yang tidak terduga, kamu menoleh terkejut. Pipimu memanas. "Lo-"
"Apa?" Tsukishima menantangmu.
"Lo malu? Bukannya kita juga pernah?"
Mendengar ucapannya yang tidak terduga, kamu menoleh terkejut. Pipimu memanas. "Lo-"
"Apa?" Tsukishima menantangmu.
"Gak ada adab," sumpah serapah dari mulutmu. Pipimu rasanya semakin memanas. Entah semerah apa sekarang. Yang pasti kamu ingin menutupi wajah Tsukishima yang seakan sengaja menatapmu lama. "Kenapa sih?!"
Respon Tsukishima hanya terkekeh. Fokusnya kembali pada layar.
Lama kalian terdiam lagi.
Selanjutnya, kamu merasa ada sesuatu yang merayap di rambutmu, bergerak ke atas kepala. Kaca besar yang agak jauh di samping menangkap sesuatu itu. Seekor hewan kecil yang kamu kutuk seumur hidupmu. Seekor kecoa berwarna coklat.
Bukannya segera menyingkirkan kecoa itu dengan tangan, kamu malah menggunakan tanganmu untuk menutupi wajah. Merasakan takut dan geli yang berlebihan. Segera kamu berteriak memanggil nama depan Tsukishima.
Sesaat kamu merasakan tangan yang mengusap kepalamu, mungkin mengusir jauh-jauh hewan kecil terkutuk itu. Nyatanya itu tidak dapat meredakan rasa takut dan geli kamu sebelumnya, justru air mata mulai menggenang di matamu lalu turun mengaliri pipi. Kamu menangis dalam diam. Ketakutanmu pada hewan tersebut benar-benar nyata.
Tsukishima menyingkirkan pelan tanganmu yang menutupi wajah. Dia terkejut. "Lo nangis?"
Dia mengusapkan jarinya untuk menghapus air matamu, tapi kamu menolaknya. Menepisnya. Kamu takut-takut mencari keberadaan hewan kecil itu.
"Gak ada. Udah gue usir," ujar Tsukishima, membaca gerak-gerikmu. "Dia terbang. Gue gak terlalu merhatiin kemana terbangnya, karena lo nangis, Kak."
Tsukishima kembali mengusapkan jarinya menghapus air mata kamu. Kamu mendongak menatapnya. Senyum jahil menyebalkan di wajahnya tadi menghilang, berubah menjadi senyum menenangkan. Kamu lupa kapan hari terakhir melihat senyum yang ini.
"Asin," keluhmu, tidak sengaja menelan air mata.
Dan tawa menyebalkannya kembali terdengar. Kamu cemberut kesal.
Ibu jari Tsukishima menekan lembut bibirmu yang cemberut. Tak ada di benak kamu sedikitpun bahwa setelah itu Tsukishima akan memberi kecupan lembut. Hanya sesaat. Namun mampu membuat kamu terdiam seribu bahasa dengan degupan jantung yang kencang.
Kamu menatap Tsukishima terkejut. "Lo..."
"Jangan nangis, Kak. Hewan tadi udah gak ada. Jangan takut, gue ada di sini," bisiknya.
Selanjutnya, kamu terlalu terkejut untuk bereaksi karena setelah itu Tsukishima menarik wajahmu terlalu cepat ke arahnya sebelum memejamkan mata. Mengecupmu lebih dalam dari sebelumnya.
Di tengah gerimis di luar yang berganti menjadi hujan deras, penghangat ruangan yang dihidupkan, dan film di layar laptop yang masih berputar, kamu pasrah membiarkan Tsukishima memegang kendali...
... dengan ikut memejamkan kedua mata.