Dalam gelapnya malam, wanita itu merangkak. Bersibah darah. Ia tidak bisa menggunakan mulutnya karena itu menggunakan matanya yang kecil untuk mencari bantuan.
Mata itu indah dan sedikit sipit.
Aku bukan penjahat. Aku bukan seorang pecundang. Bukan juga seorang yang ingin melakukan kejahatan.
Tapi wanita itu memaksaku melakukannya. Menghianatiku, membagi kasih sayangku dengan yang lainnya. Aku tidak salah melakukannya. Dia layak mendapatkannya. Dia layak untuk mati. Tapi......
“Tuhan berkata lain. Aku adalah bungamu. Kamu tidak akan bisa hidup tanpa bungamu, tidak juga bisa menghirup aromanya. Jika aku mati, kamu akan menyesal. Tidak ada bunga yang sama meski memiliki bentuk yang sama. Aku adalah bungamu. Bungamu yang nakal,” katanya ketika memegang tanganku.
Aku tidak bisa membunuhnya. Merasa kasihan dengannya.
Bungaku kuambil di jalan itu, membawanya ke rumah sakit. Orang-orang bertanya mengapa dia terluka. Aku mengatakan kecelakaan. Dan mereka tidak curiga.
Jika moster itu sepenuhnya mengendalikanku maka aku sudah mencabut bunga itu di jalan yang sepi.
Dia lalu menjawab ketika aku mengandaikannya, “Maka aku diam di jalan sepi itu terus meminta tolong dan bertanya-tanya mengapa orang-orang tidak mendengarku. Mengapa mereka tidak mau menolongku dan terlihat cuek. Aku akan kesepian dan kamu juga akan mengalaminya. Bungamu telah hilang di jalan itu dan karena kebodohanmu, kamu mencabutnya. Atau mungkin mencarimu dan membawamu ikut bersamaku.”
Nadia kekurangan darah selama berhari-hari dan aku mendonorkan darah kepadanya.
Dia lalu sadar dan takut denganku. Aku malaikat yang ingin membunuhnya. Tapi ketika dia melihatku memegang tangannya, dia lebih terkejut.
Nadia berselingkuh dengan pria lainnya. Dan ketika aku mengatakannya, dia berbohong. Aku mengikutinya dan dia benar-benar berselingkuh. Aku ingin mencari penjelasan dengannya tapi dia cuek. Suatu ketika, aku merencanakannya.
Ketika kami menikah, dia berkata, “Aku nakal. Aku hanya milikmu. Bunga ini hannyalah milikmu.”
Nadia gadis nakal. Dia memiliki banyak hubungan dengan laki-laki lain.
Tapi ketika dia sembuh dari rumah sakit, sikapnya berubah. Dia menjadi lebih ceria dan menikmati sisa hidupnya.
Dia berkata kepadaku, “Aku bungamu, siramlah bunga ini dan beri dia pupuk! Maka para lebah dan tawon tidak akan mendatanginya. Kecuali dirimu, yang selalu menjaganya!”