Nanda, Della Ananda, nama gadis bersurai panjang yang sedang duduk di kursi taman, matanya hanya menatap kosong hamparan bunga yang indah itu. Tiba tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya, ya itu Riko sang ayah, Nanda hanya menoleh sekilas lalu menatap kosong kembali ke hamparan bunga.
"Kenapa yah?" Tanya Nanda sembari menoleh sekilas ke sang ayah.
Sembari mengusap kepala Nanda yang terus menatap kosong hamparan bunga, Riko berucap "Nggak papa Nan. Ayah cuma pengen ngobrol sama kamu. Nanda jangan benci mama ya, mau gimanapun mama kan mama Nanda, yang ngelahirin Nanda, walaupun mama udah jahat sama Nanda dan kakak, semoga aja dengan berbaktinya anak anak mama, mungkin hati mama bisa terketuk, dengan begitu mama bisa kembali ke jalan yang benar."
"Sebenarnya aku nggak terlalu mikirin soal ini, aku lebih mikirin soal kondisi Kak Nara sama Kak Dino, Kak Nara selalu disalahin, selalu dituntut sama mama, terus Kak Dino selalu dibebani sama tuntutan mama, apalagi kak Nara lagi nyiapin snbpnya, kak Dino lagi nyiapin skripsi. Aku takut mereka nggak fokus sama hal yang udah disiapin dari lama." Jawabnya sembari memainkan jari jarinya yang lentik.
"Huuuuuuff" Ayah hanya menghela nafas dan kembali teringat pada waktu itu.
Nanda, Nara bantuin mama masak sini! "Seru Rita, mama Manda.
"lya ma bentar" Sahat Nanda dan Nara babarengan, pagi itu adalah hari Senin seperti biasa di dalam rumah Nanda, berjalan seperti hari-hari sebelumnya tidak ada yang spesial dari hari itu. Setelah selesai dengan segala kegiatannya Nanda dan Nara berangkat ke sekolah, Nanda dengan menaiki sepedanya , dan Nara di antar sang mama. Hal ini terus berjalan hingga pertengahan semester, saat liburan idul Fitri, tepat pada hari ke 28 bulan ramadhan, Riko pulang dari perantauan nya. Mereka menikmati momenn bersama dengan bahagia. Pada tanggal 2 Syawal, Nanda dan Nara yang sedang bersantai di kamar masing-masing, tiba-tiba terdengar isak tangis dari Nara dan terdengar suara Riko juga yang menenangkan Nara. Suara Riko tidak begitu jelas, karena suaranya yang lirih dan juga dari ruang sebelah. Setelah itu tidak terdengar lagi suam Riko, yang terdengar hanya suara langlah kaki dan isak tangis yang samar-samar "Kriet" Suara pintu Nanda yang dibuka perlahan, Narda pun melihat sang ayah yang sedang menggendong tas, seperti akan kembali pergi merantau, Nanda hanya melihat ayahnya menuju ke tempat tidur Nanda dan duduk di pinggiran kasur memberi gestur kepada Nanda untuk mendekat, Nanda pun lantas mendekat ke sang ayah.
"Nanda, maafin ayah ya, ayah udah nggak bisa, mama udah nggak jujur sama ayah, hubungan itu dilandasi sama kejujuran dan kepercayaan, sedangkan mama udah nggak jujur sama ayah. Jagain mama sama kak Nara ya. Kalo Nanda mau ketemu ayah, dateng aja ke rumah ayah."
Penjelasan Riko belum cukup untuk Nanda, tapi ingatan Nanda langsung tertuju pada saat itu.
Ketika Nanda sedang bersantai di kamarnya, setelah lelah dengan kegiatan di sekolah. Terdengar suara tak asing di telinga Nanda, ya itu suara motor Diki. Diki adalah rekan kerja Rita. Ya, Rita memang memiliki usaha kecil-kecilan di rumahnya. Nanda juga pernah diajak ke rumah Diki, Diki memiliki seorang anak dan istri, dia juga memiliki bengkel di rumahnya, Rita pernah mengganti oli dan mennyerviskan motornya di sana, dan ternyata Diki menggratiskan biayanya, Nanda kira itu karena, Rita dan Diki berteman, jadi Nanda tidak terlalu memikirkan nya.
Di siang itu Nanda sedang mondar mandir melewati ruang tamu, dan disanalah Rita dan Diki sedang duduk, mereka tampak duduk berdekatan, dan sepertinya sedang mengobrol, setelah beberapa lama Nanda mondar mandir dia menuju ke ruang tamu untuk ikut menemani ibunya. Di sana tampak Diki dan Rita agak saling memberi jarak, tapi mereka tetap mengobrol, Nanda pun hanya mendengarkan, yang dia dengar waktu itu hanya obrolan tentang usaha yang sedang dijalankan ibunya itu, karena dia cukup bosan melihat dan mendengar obrolan mereka, dia lalu ke kamar untuk kembali memainkan telepon genggam nya.
Nanda masih terisak, dia belum mengerti apa yang terjadi, tapi perasaannya sangat sakit mendengar ucapan Riko.
"Nanda jangan nangis ya, kan Nanda udah gede, ayah pergi dulu ya." Pamit sang ayah kepada Nanda.
Tadi malam
"Rita coba kamu jujur sama aku, sama siapa aja kamu ngelakuin itu?" Tanya Riko tiba tiba kepada Rita ketika mereka berdua sudah di kamar dengan suara pelan.
"Ngelakuin apa sih, nggak jelas banget jadi orang" Jawab Rita dengan nada ynag meninggi.
"Haaah, kamu baru dipancing gitu aja udah keliatan paniknya, kenapa? Selingkuh sama siapa aja kamu?" Sambil tersenyum simpul dia menanyakan pertanyaan yang mencengangkan.
"Apasih, selingkuh apaan, orang selama ini aku sibuk ngurusin anak sama usaha juga" Tandasnya dengan suara yang masih tinggi.
"Udahlah ngaku aja kamu, nggak usah ngelak, aku tau kamu selama ini ngapain aja, sama siapa, ngaku aja Rita, dan satu lagi pelankan suaramu, kamu nggak takut anak anak ngedenger? " Riko masih terus menatap Rita dengan tatapan sendu.
Dengan mata yang terus menghindari Riko, Rita menjawab"Nggak ada ya aku selingkuh selingkuh, kamu nih ngaco deh"
"Kamu pikir aku nuduh tanpa alasan, aku tau kamu habis dari hotel Legon sama Diki, jadi ngaku aja sama siapa aja kamu pernah ngelakuinnya" Riko bertanya dengan suara yang masih di pelankan.
"Iya aku udah ngelakuin itu sama Diki, aku juga pernah ngelakuin itu sama adik kamu, Rio, karena kamu jauh dari sini dan aku butuh pelampiasan" Rita menjawab tanpa beban, dia seperti tidak memiliki dosa.
"Rita kenapa kamu nggak mikirin anakmu sih, kenapa yang kamu pikirin itu cuma keinginanmu, masa mudamu udah kamu habisin buat maksiat, masa sekarang setelah kamu sudah nikah dan punya anak masih aja ngelakuin itu, apa kamu nggak malu sama anak anak?" Tanya Riko panjang lebar.
"Ya mau gimana lagi, aku butuh, dan kamu jauh dari aku" Lagi lagi jawaban Rita sungguh mencengangkan, entah apa yang ada dipikirannya.
"Huh, udahlah aku capek." Riko langsung merebahkan diri membelakangi Rita.
Setelah kepergian Riko, suasana di rumah itu cukup dingin, Nanda dan Nara hanya diam meski Rita mengajak mereka untuk mengobrol, tapi pada keesokan harinya suasana di rumah itu kembali normal, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Tetapi raut wajah Nara masih menunjukkan kesedihan, mereka hari ini berencana untuk mengunjungi Riko. Mereka bertiga pergi ke rumah Riko, ya mereka bersama Rita, sesampainya mereka di sana ternyata ada Dino si sulung yang menemani Riko. Di sana mereka mengobrol seperti biasa, Rita pun bergabung dalam obrolan mereka. Saat sore mereka bertiga kembali ke rumah.
Hari terus berjalan, hingga tiba pada hari pertemuan dengan keluarga Riko, pertemuan keluarga ini dilakukan untuk merundingkan permasalahan Rita dan Rio.
Ketika semua sudah berkumpul, "Dasar wanita murahan" celetuk salah seorang yang ada di sana, ya itu kakak perempuan Riko, Mar.
"Kak, kita di sini itu buat berunding bukan berantem, tolonglah kerja sama nya, di sana juga ada Nanda" kata Riko seraya menunjuk ke arah Nanda yang duduk tak jauh dari tempat mereka mengobrol, Nanda menikmati mie nya dengan santai, walaupun ayahnya sedang mengkhawatirkan kehidupannya nanti.
Entah kenapa Nanda dari dulu tidak pernah terlalu pusing dengan masalah yang dilaluinya, walaupun dia sering melihat Riko dan Rita serung bertengkar, dia tidak terlalu memusingkannya, baginya hidup itu menatap ke depan bukan ke belakang.
Pembicaraan itu berlangsung cukup lama, entah apa yang mereka bicarakan Nanda pun tak tau, yang dia lihat keluarga Riko mulai meninggalkan tempat itu satu persatu dengan raut wajah yang cukup muram. Ternyata hasilnya Riko masih mempertahankan Rita karena alasan anak anak, entahlah Nanda juga heran dengan ayahnya, tidak ada yang tau pikiran Riko, tapi inilah keputusan Riko, mau tak mau mereka menerima keputusan Riko.
Setelah pembicaraan itu, Riko memutuskan memboyong keluarganya ka kota lain.
Dan di sinilah mereka berada, taman bunga tetap menatap hamparan bunga yang indah, tetap berdiri walaupun banyak yang membuatnya rapuh.
Meski Riko dan Rita selalu bertengkar, Nanda hanya tarus melihat saja dan tetap diam, dia hanya berdoa semoga kakaknya tetap waras dengan keributan yang terjadi setiap harinya.
Cukup sekian dan terima kasih. 😊