Wina, seorang mahasiswa yang sedang menempuh semester 5, merasa sangat cemas akan kehidupannya sendiri, terutama pada kuliahnya terutama dari IPK-nya yang sedikit mengalami penurunan dari A ke B, apalagi IPK itu sangat menentukan kelulusan, sebenarnya bukan karena ia takut tidak lulus, hanya saja ia tidak akan menjadi wisudawati terbaik di jurusannya, ia sedikit merasa rendah diri dengan teman seangkatannya yang bisa mempertahankan IPK nya agar tetap stabil serta tidak menurun.
Tidak hanya itu, ia iri dengan temannya yang tidak perlu waktu yang lama untuk belajar, sedangkan dirinya minimal ia harus belajar sebanyak 5 jam agar materi tersebut benar-benar ia pahami dan dicerna olehnya. Tetapi entah karena kecerdasan alaminya yang sudah diberikan dari penciptanya oleh mereka sejak kecil, sehingga mereka tidak perlu berjuang lebih keras dan mengorbankan waktu lama untuk belajar.
Jujur saja dari hal tersebut saja, ia sudah merasa kecil hati suatu hari ia pun berada di ruangan kosong dalam rumahnya, mengeluh serta mengungkapkan isi hati terdalamnya yang selama ini tidak pernah tersampaikan dari mulutnya.
"Tuhan, kamu sebenarnya adil gak sih sama aku?"
"Kenapa kamu tega meninggalkanku sendirian dengan keadaan sedih?"
"Kenapa aku tidak sepintar teman-teman kuliah seangkatanku?"
"Aku iri lihat teman-temanku yang pintar, tidak hanya itu bahkan mereka semua terlihat lebih aktif dalam mengikuti banyak kegiatan organisasi di kampusnya, sedangkan aku, aku hanya seorang mahasiswa yang menjalani magang di kafe barista dan gajiku juga tidak seberapa, dan aku juga bukan anak kesayangan orangtuaku"
"Orangtuaku pilih kasih, ia memanfaatkan hanya untuk membuat saudara kandungku bahagia begitu juga saudaraku, mereka hanya memanfaatkan dan aku pun diperlakukan layaknya seperti anak pungut"
Ya, seperti itu lah keluhannya kepada Tuhan, sebagian keluhannya memang belum pernah diceritakan sebelumnya, ya akhirnya ia memilih untuk menceritakannya karena hal itu sudah lama terpendam dan membuat dirinya tidak nyaman jika tidak dikeluarkan sampai sekarang.
Tak lama ia pun akhirnya memutuskan untuk berjalan ke taman untuk menenangkan dirinya sebentar dari kehidupan kampusnya ataupun persiapan skripsinya.
Saat ia duduk di taman ia menenangkan dirinya dengan melihat pemandangan alam yang indah, menikmati udara sejuk, dan menghembuskan nafasnya perlahan-lahan agar emosinya bisa terkontrol dengan baik.
Kemudian, beberapa lama menit kemudian ia melihat seorang anak SMA kelas 3 yang duduk di sampingnya dan membawa banyak buku dan alat tulis untuk mempersiapkan ujian sekolahnya, walaupun di sisi lain, teman-teman sebayanya hanya bermain-main di taman sambil berbincang-bincang, sedangkan dirinya, ia rela untuk mengorbankan waktu bermainnya untuk belajar.
Wina pun juga sempat mendengar perkataannya terhadap dirinya sendiri saat duduk di sampingnya, bahwa ia berkata jika semua orang memiliki prioritas, kemampuan, kecerdasan yang berbeda-beda, ia menganggap bahwa mungkin dalam hal akademik ia harus berjuang lebih keras dari teman-temannya, tetapi ia pun tidak merasa keberatan, karena menurutnya belajar itu bukan suatu hal yang sia-sia, entah nanti nilai atau peringkatnya memuaskan atau tidak itu urusan nanti, tapi menurutnya yang paling penting adalah ilmu yang dia isi setiap hari ke otaknya yang ibaratnya otaknya sendiri seperti "Gelas kosong" yang tidak selalu penuh dan akan berkurang setiap harinya dan terus diisi dengan ilmu baru dan hal-hal positif lainnya.
Ia juga tidak hanya sekadar seorang pelajar SMA, ternyata ia pun merupakan seorang remaja yang menjual buku bacaan yang bermanfaat, tidak hanya itu ia juga menjual sebuah kanvas serta cat air sebagai usaha kecil-kecilannya.
Jujur, saat Wina melihat perilaku dan sifat dewasanya itu, hatinya menjadi sangat tersentuh, hal-hal penting yang bisa dia ambil dari anak remaja itu adalah, ternyata yang sedang berjuang dan bekerja keras bukan hanya dirinya seorang, orang lain pun juga banyak yang sedang berjuang mati-matian meraih masa depannya dan semua orang pastinya memiliki kekurangan dalam dirinya, sehingga ada beberapa hal yang harus dia korbankan, agar kemampuan tidak ketinggalan dari orang sekitarnya, lagian suatu hal yang dikorbankan tidak selalu tentang nilai atau keberhasilan dan kesenangan saja, karena itu semua hanya bonus dan urusan nanti, tetapi bermanfaat bagi kehidupannya sendiri, agar semakin mendapat pengetahuan atau suatu pelajaran dari hal yang dikorbankan itu.
Ia jadi merenungkan bahwa kehidupan itu layaknya puncak dan roda yang artinya, hidupnya itu memang tidak selalu ada di puncak kejayaan kadang hidupnya berputar-putar saja, yang artinya tidak menentu dan berjalan secara penuh kejutan, kadang menyenangkan dan kadang pun tidak, ya walaupun kejutan yang ia alami dalam kehidupannya tidak terlalu menyenangkan.
Tapi ini memang benar, beberapa tahun yang lalu saat ia masih menempuh kuliah semester pertama sampai ketiga, hidupnya dipenuhi dengan masa kejayaan seperti banyak teman, selalu mendapatkan nilai A, selalu tidak merasa sendirian, banyak orang disekitarnya yang senang dengannya dan dikagumi oleh semua orang.
Ya, tapi kejayaan itu ya sudah hilang begitu saja seiring berjalannya waktu, ia sekarang banyak menghabiskan waktu sendirian, nilainya tidak begitu stabil seperti beberapa tahun yang lalu walaupun sudah belajar lebih keras daripada teman-temannya, suasana hatinya jadi lebih kacau, banyak orang yang sudah meninggalkan dia sendirian.
Itulah hidup, orang lain datang dan pergi di kehidupan kita begitu saja, manusia itu sifatnya dinamis, ia juga bisa jenuh dan akhirnya lenyap begitu saja, tetapi hidup ini bukan terpaku oleh menjadi orang yang dikagumi oleh orang lain ataupun pusat perhatian orang lain, sesungguhnya hal-hal seperti itu sia-sia dan sempit jika hanya untuk hal tersebut.
Karena sesungguhnya hidup ini adalah tentang bagaimana ia selalu memperlakukan segala hal dan sesamanya dengan baik, dan mempertanggungjawabkan tugasnya di kehidupan, juga menyebarkan hal-hal bermanfaat bagi dunia ini, yang paling penting puncaknya mempertanggungjawabkan seluruh tugasnya dan perbuatannya dengan pencipta yang akan berurusan langsung dengan pencipta.
Jadi tidak ada salahnya jika hidupnya tidak lagi ada di puncak, karena dari keadaan itu ia akan lebih banyak mendapatkan pembelajaran positif yang sesungguhnya tentang memaknai kehidupan, juga tidak ada manusia yang kehidupannya selalu di puncak kejayaan, jadi yang penting adalah menjalaninya bukan menghindarinya.