Hujan turun rintik-rintik, membawa mendung berarak menyelimuti sore. Aku menghela nafas sekilas, letih rasanya setelah berkutat dengan kertas-kertas di ruangan OSIS. Sepertinya hanya tinggal aku yang tersisa di sini. Kakiku melangkah, membelah lapangan yang mulai basah karena hujan, jalanan sudah mulai sepi, dan sepertinya aku harus pulang jalan kaki.
“Eli!” Aku menoleh, seorang gadis berseragam sama dengan-ku sedang berlari menghampiriku. Ah, ternyata masih ada orang. “Kamu gak ngambil poster di mading ? Sekarang-kan hujan, kalau basah gimana?” Ucapnya sedikit kesal sembari menggeleng-gelengkan kepalanya lalu pergi beitu saja. Sekilas aku mendengar kata-kata kurang menyenangkan tentang posisiku sebagai inventaris OSIS.
Lagi-lagi aku menghela sekilas, tak-ku hiraukan sedikitpun perkataanya. Aku-pun segera mengemasi poster-poster di majalah dinding dan menyimpanya di dalam tasku. Tapi sayang, hujan malah turun semakin deras mengguyur. Tak ada pilihan lain, aku harus pulang menerjang hujan. Sepanjang jalan sepi terus menemani, semakin kakiku melangkah cepat, semakin terasa rintikan hujan deras yang menumbuk punggungku.
Rasanya menyakitkan seiring dengan air mata yang tiba-tiba meluncur tanpa henti, tubuhku terasa membeku terguyur air hujan. Sampai kakiku mulai melemas memasuki halaman rumah dan ibu segera menghampiriku sembari menyelimutiku dengan handuk. Beruntung sekali aku dilahirkan olehnya. “Lain kali kalau hujan berteduh dulu atuh, mbak” Tuturnya sembari mengeringkan rambutku yang basah, sedangkan aku hanya dapat tersenyum menikmati setiap pijatan yang ibu berikan dikepalaku. Sudah lama kita tidak sedekat ini.
Yah, terkadang pulang adalah tempat ternyaman setelah menjalani hari yang panjang, dan itu selalu aku rasakan setiap kali sedih melanda karena suatu hal, termasuk tadi. “Mbak, kok gak pulang ke asrama saja? Sekolah sama rumah-kan jauh” Tanya-nya lembut. “Gak apa-apa buk, Eli cuman pingin mampir” Alibiku menolak kenyataan bahwa sebenarnya aku memang tak ingin kembali ke sana.
“Yakin?”
“Iya ibuk…”. Dan setelah itu, aku menghabiskan malamku di rumah. Tenang tidak ada kegelisahan yang menghampiri hatiku lagi.
Esok harinya, ibu sudah bersiap menyajikan sarapan untuk-ku. Wanita cantik itu menawarkan dirinya untuk mengantarkanku ke sekolah, namun aku menolaknya. Aku memutuskan untuk pergi ke halte dan menunggu bus datang. Sebenarnya aku tidak mau merepotkan ibu lagi, semalam aku melihatnya menjahit hingga larut malam hanya untuk mencukupi kebutuhan hidupku. Wajahnya belakangan ini jadi terlihat lebih tua dari sebelumnya, dan aku tahu apa penyebabnya.
Semenjak aku berusia 3 tahun ayahku sudah lama menghilang dari rumah, dan aku tidak tahu apa alasan dibalik semua ini. Setiap kali aku bertanya kepada ibu, beliau hanya menjawab. “Ayah sedang berjuang demi kita, Eli. Kamu yang sabar ya?” Sejak itulah aku jadi tak pernah ingin bertanya lebih dalam tentang ayahku. Dunia antara aku dan ibu sudah cukup menyedihkan saat ini, tak perlu lagi dikenang hal-hal yang lebih menyedihkan dari hal itu.
Aku menghembuskan nafasku panjang, tiba-tiba dadaku terasa sesak, sebulir air kemudian jatuh tanpa alasan. Jalanan mendadak sepi, seolah waktu berhenti sejenak memberikanku ruang untuk melampiaskan kesedihanku selama ini. Sungguh aku sudah tidak kuat lagi. Berkali-kali aku mengusap air mataku , takut seseorang melihatnya. Tapi pada kenyataanya aku hanya duduk sendiri di halte itu.
“Kamu baik-baik saja?”
Tiba-tiba terdengar suara berat seseorang dari sisiku, segera kubersihkan genangan air di pelupuk mataku. Apa dia sudah lama di sini?
“Tidak, aku tidak apa-apa”.
Jawabku tanpa menoleh sedikitpun. Tak lama setelah itu selembar sapu tangan diulurkan ke hadapanku.
“Ambil”
Titahnya. Tanpa menoleh aku segera meraihnya.
“Terimakasih”
Lenggang sejenak, aku diam-diam melirik seseorang yang duduk tak jauh dari tempat-ku itu. Ah, ternyata dia anak laki-laki seusia-ku. Seragamnya nampak lain dari yang aku kenakan.
“Kenapa?”
Ucapnya tiba-tiba, lalu menolehkan kepalanya ke arahku.
“Tidak apa-apa”
Sahutku cepat sembari mengalihkan pandanganku ke arah lain.
“Maksud-ku, kenapa tadi kamu nangis?” Aku terdiam sejenak, bingung harus berkata apa.
“Bukannya ini terlalu pagi untuk menangis?”
Sambungnya lagi, membuatku terkikik kecil. Konyol rasanya mendengar hal benar yang anak laki-laki itu katakana. Aku memang terlalu cengeng hanya untuk hal yang sepele.
“Kamu benar, mungkin aku saja yang teralu cengeng”.
Hening kembali menyapa, baik diriku maupun anak laki-laki itu—kami tak saling bersuara sampai atmosfer kecanggungan tiba-tiba saja datang di antara kami.
“Kamu tahu? Terkadang tidak ada salahnya jika kamu ingin menangis. Selagi tangisan itu tidak semakin menyakiti hatimu”.
Ucapnya samar, nyaris tak terdengar. Tak lama setelahnya bus yang kita tunggu-tunggu akhirnya datang. Bersamaan dengan beberapa penumpang yang mulai turun, aku dan anak laki-laki itu segera menaiki bus tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi. Seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
Bus yang tak banyak berisi penumpang itu pada akhirnya melaju kencang menyusuri jalanan. Saat aku sibuk menatap ke luar jendela tiba-tiba seorang anak kecil mendatangiku sembari menyodorkan secarik kertas bergaris. Anak itu sempat menyudingkan tangannya ke seberang kursi-ku, lalu berlalu sembari melambaikan tangannya. Ku-buka lembaran kertas itu segera, dan seuntai kalimat indah terukir apik di atas barisan garis.
‘Lupakan kesedihan-mu. Karena sesungguhnya setiap hati yang kita miliki berhak merasakan damai’ #Biru.
Seulas senyum terukir diwajahku. Sekilas aku melirik ke seberang deretan kursi dipinggiran jendela, dan ku-temukan anak laki-laki itu tersenyum ke arahku.