Afifah yang merasa kesal dan sakit hati hanya mampu menghentakkan kakinya ketika meninggalkan kediaman Bu Ratih, sekali lagi ia dibuat marah oleh keadaan.
Dulu ia pernah marah pada situasi yang tak menguntungkan dirinya, namun takdir seolah membuatnya kembali terhempas ke masa lalu. Menolak pria sempurna seperti Irfan adalah hal yang paling ia sesali hingga kini, tapi keharusan dirinya menjadi tulang punggung keluarga membuat Afifah melakukannya.
Sejujurnya saat itu Irfan tak hanya ingin menjadikan Afifah sebagai istri, tapi ia juga bermaksud untuk membantu perekonomian keluarganya, setidaknya dua orang bekerja lebih baik daripada hanya satu orang yang saja, namun Afifah tak ingin jika keluarganya kelak menjadi beban sang suami, hingga ia terpaksa menolak bantuan serta lamaran Irfan kala itu.
Dan kini, melihat perekonomian keluarga Irfan yang sudah baik, menjadi semakin baik, sementara suaminya sendiri sedang di rumahkan, membuat Afifah goyah. Ia bimbang karena kini penghasilan suaminya tak pernah menentu, sementara anak-anak sekolah tetap butuh biaya yang tak sedikit.
Afifah tiba kembali di rumah kontrakannya, ia disambut dengan tatapan sinis Bu Romlah sang pemilik kontrakan. “Mana uang tunggakannya? katamu mau bayar sore ini, iiihhh tak tahunya jam segini baru pulang.”
Walau marah dan kesal dengan sikap Bu Romlah, tapi Afifah tak punya pilihan. Ia pun menyerahkan setengah dari gaji mingguannya kepada Bu Romlah.
“Kok cuma segini? Ini kan cuma sebulan, kalian sudah nunggak 4 Bulan!!” protes Bu Romlah, usai menghitung beberapa lembar uang berwarna biru.
“Maaf, Bu, kalau semuanya saya bayarkan, keluarga kami makan apa?" tanya Afifah mencoba meminta keringanan pada Bu Romlah.
Tapi, Sreeeeekkk !!!
Tak peduli dengan kesusahan penghuni kontrakannya, Bu Romlah merampas sisa uang dalam Amplop Afifah, "Lha kalo kamu gak bayar semua, trus besok ibu belanja pake uang apa?"
"Nah … segitu cukup," Bu Romlah mengembalikan satu lembar uang berwarna Biru, kemudian dia berbalik meninggalkan Afifah dalam kebimbangan, karena satu minggu ke depan tak tahu dengan uang apa harus berbelanja kebutuhan rumahnya.
Afifah melangkah gontai menghampiri unit tempat ia tinggal bersama suami dan kedua anak mereka.
"Assalamualaikum," ucap Afifah ketika membuka pintu rumahnya, tampak sang suami sedang mengawasi kedua anak mereka makan.
"Waalaikumsalam," Ucap ketiganya bersamaan.
"Ibuuuuu …" kedua anak Afifah berseru ketika melihat kedatangan Afifah.
betapa mirisnya Afifah ketika anak-anaknya baru menikmati makan malam ketika hari hampir berganti. "Kok baru makan?"
Wajah Priyo memelas, ia merasa bersalah pada sang istri karena tak bisa jadi kepala rumah tangga yang baik. "Iya … kami menunggu Ibu, biar bisa berbagi telur." jawab Nana Putri keduanya.
Sejak Priyo dirumahkan, praktis semua kebutuhan rumah pun Afifah batasi, Priyo bukan tak mau bekerja, tapi ia tak menemukan passion yang pas jika berwiraswasta. Hingga toko kelontong kecil di teras kontrakan kini menjadi sumber penghasilan mereka sehari hari.
Karena hal inilah, Afifah segera menerima tawaran Bu Ratih untuk kembali bekerja. Padahal ketika menikah, Priyo hanya menyuruhnya diam di rumah mengurus rumah dan anak-anak, walau penghasilannya sediri tak begitu besar.
Uang tabungan?
Ah entahlah, saat itu mereka sedang proses mencicil rumah, setelah gaji berhenti, praktis cicilan rumah pun kini rumah sudah kembali di take over, dan uang masih dalam proses pengembalian, entah kapan bisa cair.
Melihat betapa menyedihkan hidupnya, membuat hati Afifah kembali goyah ketika melihat Irfan yang semakin tampan, mapan, dan bahagia membina keluarganya.
"Maaf, Dek, hari ini Mas cuma mampu membeli sebutir telur dan tahu, untuk kita makan. Kamu habis dapat gaji kan? tadi Bu Romlah nagih uang kontrakan."
Afifah hanya mengangguk lemah, "Sudah di ambil semua, Mas, hanya sisa ini." Afifah mengangsurkan selembar uang berwarna biru di tangannya.
Keduanya diliputi kebekuan, tak mampu berkata-kata, sibuk dengan pikiran masing-masing.