Menulis narasi sebenarnya bukan hal yang sulit, namun ketika Si Annu datang membawa pasukan kemalasan, kemudahan akan berubah menjadi kesulitan yang terasa menghabiskan banyak energi. Seperti yang kita tahu, pasukan kemalasan diantaranya adalah nanti saja, sebentar lagi, besok saja, 'waktu masih lama kok' dan 'ah, aku nggak bisa'. Serangan-serangan pasukan ini cukup membuat Si Malas harus menghabiskan banyak energi untuk menciptakan jurus baru agar bisa memusnahkan mereka. Di sini Rasinggan Naruto, sihir Harry Potter, bahkan Toya sakti Sun Go Kong pun tidak akan berguna. Kita sendiri yang harus menciptakan suasana nyaman dalam dunia fantasi di pikiran kita.
"Hai,otak orang malas, bangunlah!" Seru si Pengendali Imajinasi.
"Buat apa?" Sahutnya masih dalam pengaruh bius kemalasan.
"Jika kamu tidak menemukan senjata untuk peningkatan levelmu hari ini, tamatlah sudah riwayatmu."
"Kenapa?"
"Kamu akan mengalami mati otak dalam waktu yang lama. Kamu tahu kan apa artinya?"
"Tidak!!! Aku tidak mau seperti itu!!"
"Bagus kalau begitu! Persiapkan diri untuk menerima peningkatan kekuatan yang baru!"
Si Malas kembali berusaha fokus dan menuruti arahan dari Si Pengendali Imajinasi. Dengan usaha yang keras dan latihan berkali-kali, Si Malas berusaha mencapai titik level berikutnya. Si Malas harus melawan Yatno yang berusaha merayunya dengan sebuah permen berbentuk kaki, menolak keinginan Udin yang dengan sengaja mengajaknya bermain gundu di halaman tetangga, juga menolak rayuan maut Dokter Harun untuk melihat dunia barunya. Bukan hal mudah bagi Si Malas untuk melakukan semua itu, namun berkat kegigihan niatnya dibantu si Pengendali Imajinasi, pada akhirnya ia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
Sekian hasil dari semedi selama bertahun-tahun di gunungnya Puji.
Salam para author,
Saya si Udin temannya Yatno yang pernah menjadi pasiennya Dokter Harun.
Terimakasih.