Di tengah kegelapan malam yang sunyi, di sebuah Kota besar yang dilindungi oleh kaisar barat, hiduplah seorang anak yang bernama Azumaya. Azumaya adalah sosok yang hidup paling sengsara di antara warga sekitarnya, sering di-bully dan dipermainkan tanpa ampun. Suatu malam yang dingin, Azumaya terbangun dari tidurnya oleh suara bising yang menggema di luar rumahnya.
Dengan hati berdebar, Azumaya mengintip melalui jendela dan terkejut melihat kelompok pendekar pemberontak berkumpul di luar. Namun, kejutan terbesar menimpa ketika Azumaya bergegas menuju kamar ibunya dan menemukan pemandangan mengerikan: ibunya telah tewas dibunuh, dan di ujung mata pembunuh terpampang dengan jelas simbol klan Aris, klan pendekar terhebat yang ditakuti di seluruh kota.
Dalam keadaan panik dan ketakutan, Azumaya melarikan diri melalui jendela dan berlari ke arah hutan untuk mencari perlindungan. Namun, takdir berkata lain saat Azumaya dikejar oleh sejumlah pembunuh yang tak kenal belas kasihan. Terpojok di dalam sebuah goa gelap, Azumaya yang merasa tak berdaya dan terancam akhirnya terpaksa melepaskan kutukan yang selama ini tersegel oleh ayahnya. Di saat genting ketika Azumaya terpojok dan terancam oleh para pembunuh, ia terpaksa membuka segel kekuatannya yang selama ini disimpan dalam dirinya. Kata-kata ayahnya teringat jelas dalam pikirannya, bahwa kekuatan Azumaya terlalu berbahaya dan hanya boleh digunakan dalam keadaan darurat. Begitu segel terbuka, angin kencang mulai berhembus dan aura mengerikan terpancar dari tubuhnya. Bibir Azumaya mulai meneteskan darah, membentuk simbol kuno kerajaan Yu yang melambangkan kematian di lehernya.
Azumaya, dalam kesakitan yang tak tertahankan, terjatuh ke tanah. Para pembunuh merasa terganggu oleh kejadian aneh yang terjadi pada Azumaya, namun sebelum mereka sempat melarikan diri, hembusan angin dahsyat tiba-tiba membuat mereka mati. Tiga rekan perjuangan pembunuh yang tak bergerak terkejut, menyaksikan kekuatan misterius yang membuat mereka mati jika bergerak. Setelah kekuatan besar mereda, Azumaya dengan tenaga terbatas menerima kekuatan yang begitu besar dan kehilangan kesadarannya, pingsan di tempat.
Para pembunuh, bingung dan takut akan kekuatan yang dimiliki Azumaya, berdebat apakah harus bertindak atau tidak. Salah satu dari mereka akhirnya mendekati Azumaya dengan niat jahat. Namun, saat pedangnya diayunkan ke arah kepala Azumaya, pedang tersebut tiba-tiba pecah berkeping-keping tanpa tersisa. Suara aneh terdengar, dan energi hitam keluar dari tubuh Azumaya, meledakkan tubuh pembunuh tersebut dalam sekejap.
Setelah kejadian mematikan yang menimpa Azumaya, ia tiba-tiba terbangun di rumahnya dengan rasa bingung yang memenuhi pikirannya. Ingatannya hanya terpaut pada momen tragis kematian ibunya. Dengan hati yang berdebar, Azumaya buru-buru memeriksa kamar ibunya, namun tak satupun jejak yang ditemukan. Lemas dan terkejut, Azumaya menyadari bahwa pengalaman yang ia alami bukanlah mimpi semata.
Sejak saat itu, sikap Azumaya berubah drastis. Dendam yang membara terhadap klan Aris mendorongnya untuk terus berlatih dan mempersiapkan diri. Bertahun-tahun berlalu, Azumaya tumbuh menjadi dewasa dengan kekuatan rahasia yang dimilikinya. Suatu hari, kesempatan untuk mendaftar ke Akademi Ruyin, tempat para pendekar terbaik berkumpul, terbuka bagi siapa saja.
Tanpa ragu, Azumaya mendaftar ke akademi tersebut dan diterima. Semangatnya membara, Azumaya tekun berlatih untuk menjadi kuat dan siap membalas dendam atas kematian ibunya. Pada malam Festival Menulis Harapan di atas teratai, Azumaya menuliskan harapannya untuk menjadi pendekar yang hebat seperti ayahnya. Namun, ketika sedang duduk tenang, suara ledakan menggema dari arah Benteng Perlindungan Utara.
Semua senior dengan cepat bergegas menuju lokasi ledakan, termasuk Azumaya yang penasaran meskipun telah diingatkan untuk tetap di tempat. Di sana, terjadi pertarungan sengit antara pendekar kelas atas dan sosok misterius yang tak dikenal. Namun, yang mengejutkan, sosok tersebut menatap tajam ke arah Azumaya sebelum menghilang setelah berhasil mengalahkan pendekar kelas atas Akademi Ruyin. Keberadaan sosok misterius ini menimbulkan pertanyaan dan ketegangan di hati Azumaya.
"Apa maksud dari tatapan nya?," batin Azumaya yang kesal.
Setelah kejadian tragis tersebut, Azumaya merasa memiliki firasat buruk bahwa dirinya menjadi target karena telah membunuh pendekar tinggi dari klan Aris. Tanpa ragu, Azumaya terus berlatih tanpa henti, meskipun terluka, hanya fokus pada peningkatan kekuatannya. Dia sadar bahwa setelah lulus dari akademi dan meninggalkan perlindungan, nyawanya akan terancam. Hari-hari Azumaya dihabiskan dengan latihan tanpa henti, tanpa ruang untuk kesenangan atau cinta.
Bertahun-tahun berlalu, Azumaya menghadapi berbagai tantangan dan berhasil mengatasinya, memenangkan gelar sebagai pendekar terkuat. Ketika Azumaya kembali ke rumahnya, ia dihadapkan pada pemandangan yang menghancurkan: rumahnya telah hancur tanpa sisa. Marah dan penuh dendam, Azumaya bersumpah untuk membalas dendam pada klan Aris malam itu. Tanpa tempat tinggal di sekitar, Azumaya pergi ke pusat kota untuk beristirahat setelah kelelahan.
Malam harinya, Azumaya bangun dan bersiap untuk melawan klan Aris. Memakai pakaian hitam dan masker untuk menyembunyikan identitasnya, Azumaya siap membalaskan dendamnya. Berkat latihan bertahun-tahun di akademi, Azumaya menyadari bahwa ia memiliki kekuatan naga kematian bernama Yu. Naga Yu dan Azumaya telah menjadi seperti teman sejati, bersatu dalam pertempuran.
Tiba di kerajaan selatan, tempat klan Aris bermarkas, Azumaya disambut oleh ribuan pendekar tingkat atas yang siap menyerangnya.
"Hahaha, ternyata kehadiran ku sudah ditunggu ya?" Ucap Azumaya tersenyum dengan tatapan tajam.
"Tentu saja, karena kau anak rendaham yang berani sekali membunuh pendekar terhormat kita."
"Aku benar-benar tidak terima dengan perkataan mu, tetapi jika kau menganggap ku sebagai rendahan bukankah lebih rendahan pendekar terhormat mu itu?"
"Apa maksud mu bajingan!"
"Bagaimana bisa seorang pendekar yang kau hormati mati dalam sekejap ditangan ku?"
"CK, rendahan sialan! Kau itu curang dan menggunakan ilmu hitam!"
"Terserah kau berkata apa yang penting aku akan membunuh semua yang ada di kerajaan selatan sekarang"
"Sombong sekali setelah mendapatkan gelar pendekar terhebat! "
"Aku tidak peduli aku akan membunuh kalian!" Ucap Azumaya dengan tajam.
Meski dihadapkan pada tekanan yang sangat besar, Azumaya dengan marah menyerang mereka. Naga Yu muncul dan membantu Azumaya mengalahkan semua musuhnya, bahkan seorang pendekar sepuh yang ikut turun tangan dan kerajaan selatan lenyap dalam kegelapan malam.
Setelah berhasil membalaskan dendamnya, Azumaya meninggalkan tempat itu dengan luka-luka parah. Namun, setelah kejadian bersejarah itu, Azumaya tersenyum dan memilih untuk hidup sebagai orang biasa di kota tercintanya. Gelar sebagai pendekar terhebat memberinya kedudukan yang dihormati, dan kini ia tidak lagi ditindas, melainkan dihormati sebagai pahlawan yang legendaris.
-TAMAT-