“Vega!”
Sontak seorang gadis kurus yang masih dalam kedaan mengantuk berdiri dari bangku kelas tempatnya duduk, “Iya, Bu.” Jawabnya panik dengan badan tegak layaknya seorang paskibraka. Namun dia memang mengikuti ekskul tersebut.
Seisi kelas tertawa karena tingkah konyol Vega, sementara gurunya mengernyitkan kening, “Kenapa kamu kaget begitu? Ibu cuma mau balikin buku latihan minggu lalu.”
Mata Vega melirik sekitar sebentar dengan rasa bingung, “Oh iya,” Jawabnya yang langsung melesat dari bangku menuju meja guru.
“Sebentar, Vega. Sebelum Ibu kembalikan, ibu ingatkan ke kamu. Lain kali jaga buku baik-baik. Terutama buku sekolah. Ini penting!”
Vega menurunkan tangannya yang sempat mengarah ke buku latihannya, “Maksudnya, Bu?”
Ibu guru membuka lembaran dari buku Vega, “Lihat, di sini ada banyak sekali coretan. Untung aja nggak kena lembar yang tertulis. Lain kali jauhkan adikmu dari hal semacam ini. Kalau rusak kan yang susah kamu.”
“Loh, tapi kan..”
“Zevanya! Udah Vega sekarang kembali ke tempat dudukmu!”
“Baik, Bu.” Jawab Vega lesuh. Sambil berjalan ke bangku ia terus memerhatikan coretan di buku dengan tangan yang menggaruk kepalanya karena bingung. Karena tidak fokus ia pun tersandung meja bangku paling depan hingga tersungkur. Ia kembali ditertawakan teman-temannya.
Wajahnya memerah karena malu dan kembali duduk sambil menutup wajah. Audy, teman sebangku Vega menepuk bahu Vega untuk menenangkannya namun dalam kedaan menahan tawa,
“Aduh, kamu gimana sih. Seperti biasa, sangat ceroboh,” Tukas Audy kepada Vega.
___ ___ ___
Sehabis ekskul paskibra, Vega tidak langsung pulang. Namun ia duduk di kantin dengan Ziha, teman ekskulnya. Ziha dikenal dengan primadona sekolah. Wajahnya yang cantik dengan senyuman manis membuatnya berada di posisi pembawa baki bendera. Sifatnya yang ramah juga membuat orang-orang sekitar sangat menyukainya. Pesona Ziha tak jarang membuat Vega minder.
Satu persatu siswa-siswa yang melewati kantin sebagian besar akan menyapa atau hanya melambai kepada Ziha. Ini adalah salah satu hal yang membuat Vega jengkel. Karena ia seperti makhluk tak kasat mata atau diabaikan. Wajar saja, Vega berbanding terbalik dengan Ziha. Vega sangat pemalu dan wajahnya seperti orang jutek, padahal sebenarnya tidak. ia juga ingin mempunyai banyak teman layaknya Ziha. Vega dan Ziha sangat dekat karena mereka tetanggaan dan kenal sejak kecil.
“Ziha. Gimana sih rasanya disenangi semua orang?” Tanya Vega blak-blakan.
“Eh? Kenapa nanya gitu?” Ziha kembali bertanya.
“Eum.. Tidak apa-apa. Aku cuma asal nanya.”
___ ___ ___
“IBU!!!”
Sepulang sekolah alangkah terkejutnya Vega melihat kondisi kamarnya sampai berteriak kencang.
Ibu Vega segera menuju arah teriakan itu dengan sutil berminyak di tangan kanannya.
“Ada apa sih kamu teriak begitu? Ibu lagi masak.”
Disela napasnya yang tersengal karena bekas berlari bersama Ziha, Vega menunjuk kamarnya.
“Kenapa kamar Vega rapi banget, Bu?”
Dukk..
Geplakan gagang sutil tepat mengenai dahi Vega, “Kirain ada apa. Heboh banget. Bagus dong kalau rapi. Biasanya juga kamarmu kayak kapal pecah.”
“Kenapa tiba-tiba ibu rapiin? Kalau catatan-catatan penting Vega hilang gimana?”
“Bukan ibu yang rapiin. Lagian catatan penting dibiarin berserakan gitu.”
“Terus kalau bukan Ibu, siapa dong?”
“Mana ibu tahu. Ziha kali.”
Vega menggaruk kepalanya, “Kok jadi Ziha.”
“Udah-udah. Perkara kamar jadi rapi aja banyak nanya. Mending sana, masuk kamar aja. Syukur-syukur ada yang rapiin.”
Tanpa berkata-kata lagi Vega langsung melesat ke dalam kamarnya dan langsung membanting diri ke kasur. Namun selang beberapa detik ia segera bangkit menuju pintu untuk menutup dan menguncinya.
Bukan tanpa sebab, pintu kamar ditutup karena suatu alasan. Vega tertunduk lesuh. Lalu berjalan tertatih ke kasurnya lagi dengan mata berkaca-kaca. Ya, Vega sedang memendam suatu sendu.
Ia menatap sekitar. Beberapa benda kamar satu persatu. Lalu matanya berhenti pada sebuah bingkai foto yang tertata di meja rias. Foto dua gadis kecil yang sudah usang. Itu adalah foto masa kecil Vega dan Ziha.
“Padahal kita selalu bersama dari kecil. Sama-sama menjadi kebanggaan sewaktu kecil. Orang tuamu menyukaiku. Begitupun sebaliknya. Tapi kenapa, kau tumbuh begitu memesona, pintar dan disenangi banyak orang. Sedangkan aku, tumbuh menjadi pecundang. Selalu konyol, ceroboh, bodoh dan jadi bahan tertawaan banyak orang.” Tutur Vega kepada dirinya sendiri. Kini air matanya tumpah.
Kemudian ia membuka galeri di ponselnya. Ia melihat fotonya dan Ziha beberapa hari yang lalu. Ziha memegang sebuah piala juara olimpiade kimia. Sementara Vega hanya tangan kosong yang mengacungkan jempol.
“Dasar curang. Kau tumbuh terlalu sempurna. Ibu juga jadi semakin enteng membandingkanku denganmu.”
Plakk..
Vega menampar dirinya sendiri, “Ayo dong! Kemarin kan aku sudah janji nggak akan mengeluh dan menangis lagi. Sial, dasar pecundang.”
Senyap sejenak. Vega terjebak dalam pikirannya. Kemudian menangis kembali.
“Aku juga ingin mendapat pujian.”
“Kakak keren sekali!”
Tiba-tiba seorang anak perempuan muncul dari bawah ranjang Vega.
“AAAAAAAAA…..” Spontan ia melempar anak itu dengan bantal namun lemparannya meleset.
Anak itu memungut bantal tersebut dan meletakannya dengan rapi di kasur Vega.
“Si si si siapa kamu?” Tanya Vega seperti habis melihat hantu. Ia bangkit dari rebahannya dan duduk di tepi kasur.
Krekk..krekk..
Sementara dari luar ibu Vega menarik gagang pintu, “Kenapa teriak, Vega? Buka!”
Vega melirik sekitar sambil bingung, “A… Ada kecoa, Bu.”
“Lain kali jangan teriak kenceng gitu. Udah kayak ngelihat hantu aja. Nanti diomelin tetangga,” Ucap Ibu Vega dari balik pintu.
“Kenapa kakak bohong?” Tanya gadis kecil itu.
“Udah sekarang jawab! Siapa kamu dan kenapa bisa ada di sini?” Vega melayangkan pandangnya ke bantal yang tadi dipungut gadis kecil itu, “Kamu ya yang rapiin kamarku?”
Gadis itu mengangguk cepat sambil tersenyum. Membuat Vega menepuk kening.
“Coba sekarang kamu jelasin semuanya!”
“Aku tinggal di dekat sekolah kakak. Namaku Berlian. Sepuluh tahun.”
“Iya iya. Sekarang kenapa kamu bisa ada di sini?”
“Kakak keren sekali waktu paskibra. Aku penggemar kakak. Makanya sejak kemarin aku diam-diam ke rumah kakak.”
“Hah? Kamu tidur di mana? Jangan bilang bawah ranjang.” Tanya Vega terkejut.
“Bukan. Aku pulang waktu sore setelah kakak ngerjain tugas.”
“WAHHH.. Kamu ya yang coret buku aku?!”
Berlian mengangguk tanpa beban. Membuat Vega kembali menepuk keningnya.
“Mau kamu apa sih? Udah rapiin kamar tapi rusakin buku. Punya dua kepribadian ya?!”
“Kemarin aku denger semua kata-kata kakak yang bicara dengan diri sendiri. Termasuk kertas berserakan yang isinya diary semua.”
“AAAAAAAA… Tidakkkk.. jangan ingatkan lagi!” Teriak Vega sambil menggelengkan kepalanya
“Tenang saja. kertas itu sudah aku rapiin dia kotak sepatu kosong di bawah ranjang.”
“Bukan itu masalahnya. Aduh, mimpi apa aku nemu bocah aneh di bawah ranjang.”
“Kakak punya mimpi besar kan. Tapi kakak sangat pemalas dan gampang menyerah.”
Wajah Vega bersemu merah karena malu, “Aduh.. kamu ya. Tahu sejauh mana privasiku kemarin?”
“Kemarin kakak nyontek, makanya buku tugas itu aku coret. Aku nggak mau ada orang yang sukses dari hasil curang.”
Ekspresi Vega seketika berubah menjadi raut wajah menyesal.
“Suatu saat aku mau mengibar bendera di istana negara. Tapi tidak mungkin.”
Vega terdiam. Dia terbawa cerita dari Berlian.
Berlian duduk di samping Vega, lalu mengangkat rok panjangnya.
“Kaki palsu?”
Berlian mengangguk, “ Jika kakak tidak sempurna, lantas aku apa? Mungkin hanya butiran debu ya.”
“Bu..bukan seperti itu. maaf jika perkataanku membuatmu tersinggung.”
“Kakak cantik. Wajah jutek kakak memiliki pesona juga kok. Aku suka lihat wajah kakak. Kakak terlihat sepertiku ketika aku masih tujuh tahun. Pasrah dan mengeluh terus.”
Seketika tubuh Vega gemetar. Sekujur tubuhnya seperti tenggelam, mendapatkan kejernihan air laut. Tanpa ragu Berlian mengusap air mata Vega.
“Aku tinggal di panti asuhan. Anak sepertiku sudah tidak harapan lagi, kan. Tapi aku tetap ingin hidup.” Berlian menunjukkan sikunya yang diperban, “Sepulang dari sini aku tertabrak motor. Kaki palsuku mengalami sedikit kerusakan. Namun pihak panti tidak mengkhawatirkan sedikitpun tentang lukaku. Karena mereka hanya membahas biaya perbaikan kaki palsuku. Jadi aku tetap pakai kaki rusak ini. Daripada membiarkan mereka membayar perbaikan dengan berat hati. Aku tidak punya tempat bersandar.”
Vega sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Hatinya dirudung sesal dan malu. Kenapa aku begitu rapuh?
“Bagaimana kamu tidak menangis ketika meluapkan isi hati seperti itu?”
“Aku ingin tetap hidup. Meramu kerasnya dunia dengan tubuh cacat ini. Terus menahan luka demi luka. Sampai pada suatu saat nanti aku bisa menyapa masa depan dengan kekuatan yang telah aku asah bertahun-tahun. Baik masa depanku cerah atau gelap gulita. Aku tak peduli, rasa sakit yang telah lalu akan menjadi perjalanan terindah yang tercatat dalam sejarah memoriku,” Berlian melontarkan kata-kata indah.
Skenario Tuhan memang penuh misteri. Entah ada angin apa aku bisa bertemu dengan gadis sekokoh baja ini. Namun darinya aku dapat tersadar. Aku bukan pecundang, begitupun dia. Luka dan rasa sakit memang patut menjadi perjalanan terindah untuk menyapa masa depan dengan kekuatan yang terasah hingga sekokoh baja.