Tepi pantai memang damai, ya. Pasirnya yang abu-abu ditemani tumpukan sampah. Sedang orang-orang berenang bersama gelak tawa. Terkadang aku mematung memandangi laut yang silau itu. Sambil berkhayal seseorang tiba-tiba tenggelam terbawa ombak. Para pengunjung akan teriak histeris oleh rasa panik karena anak kecil itu sudah terbawa ombak cukup jauh.
Ah tidak. Aku bukan mengharapkan kemalangan seperti itu terjadi. Sebaliknya. Aku hanya berkhayal, jika hal itu terjadi aku ingin menjadi seseorang yang berlari lalu melompat ke dalam laut. Lalu dengan kemampuan renang yang cepat seperti putri duyung aku akan menyelamatkan anak kecil itu. Kemudian orang-orang akan terpukau dan berterima kasih kepadaku.
Hal sederhana yang aku inginkan. Mendapatkan sebuah pujian. Bukan kalimat kasar seperti kutukan.
"Aku mau kelapa satu," Tukas seorang gadis dengan senyuman ceria.
Ia menyodorkan selembar uang berwarna ungu. Aku segera menerimanya dan mencoba membalas senyuman cerianya. Walau hanya dengan senyuman seadanya.
"Silakan duduk dulu," Ucapku sembari mencuci parang dari pasir-pasir yang masih menempel.
Gadis ini terus memandangiku. Sesekali aku menghadap ke arahnya untuk memastikan. Perangainya aneh. Apakah ada yang salah dari penampilanku?
Aku tak menanyakan apapun karena itu. Dia hanya memandangiku. Barangkali hanya karena merasa kasihan anak kecil sepertiku terlihat lusuh dan miskin.
"Ini kak. Kelapanya."
"Terima kasih!" Jawabnya semangat.
Ia langsung meminum air kelapa itu di depanku. Kukira ia akan pergi ke teman-temannya.
"Aaah. Segar!" Ucapnya sambil memegang leher. Lalu ia kembali melihat ke arahku.
"Mmm... Ada apa ya. Dari tadi kamu melihat aku terus?" Tanyaku untuk menguak rasa penasaran.
Ia segera menggeleng, "Kamu sepertinya lebih muda dariku. Tapi kamu pekerja keras dan sangat semangat menjalaninya tanpa mengeluh."
Yang benar saja. Ia hanya melihat dari luarnya saja.
"Tidak juga. Anak pantai sepertiku sudah biasa begini."
"Apakah kamu bisa menangkap ikan bersama nelayan? "
"Tentu saja. Itu sudah seperti hobi."
"Wah... Kamu tidak takut jika ombak besar datang dan membuat perahumu tenggelam?"
"Kalau memang takdir seperti itu apa boleh buat. Yang terpenting sudah berusaha menjalaninya. Lagipula jika hanya berbaring di rumah apakah bisa menjamin kau aman selamanya? Tidak kan!?"
Gadis itu menampakkan ekspresi berbinar. Ditemani mata coklatnya yang berkilau oleh sinar matahari.
"Kamu cerdas sekali. Aku bahkan merasa sedang berbicara dengan orang dewasa. Berapa usiamu?"
"Dua belas."
"Oh iya?" ia berdiri dan menyodorkan tangannya kepadaku untuk bersalaman.
Aku yang kebingungan yang menerima jabatan itu.
"Aku Daisy. Empat belas tahun. Kalau kamu? "
"Aa.. Aku Caprio."
"Wah.. Aku seperti pernah mendengar nama itu. Apakah diambil dari bahasa latin?"
Aku mengangguk. "Iya, salah satu jenis ikan."
Daisy semakin berbinar. Entah apa yang membuatnya begitu senang. Padahal tak ada yang menarik dari perkataanku.
"Kamu sangat cerdas. Pasti di sekolah kamu berprestasi."
"Sekolah?" Aku menunduk lesu. Lalu menggeleng.
Seketika ekspresi Daisy berubah. Sedikit bertanya-tanya. "Kenapa Caprio?"
"Aku tidak sekolah."
"Kenapa? Kamu putus sekolah?"
Aku menggeleng, "Tidak pernah sama sekali."
Daisy memasang wajah sendu. Secepat itu ia dapat memainkan ekspresi.
"DAISY! Cepat kemari! Dipanggil Pak Yaman," Panggilan seseorang dari timur sana.
"Bentar. Aku segera datang," Daisy meletakkan kelapa mudanya, "Caprio, aku titip ya. Guruku memanggil. Aku akan kembali," Pintanya disusul lari kencang yang membuat pakaiannya berkibar.
Aku bahkan tidak mengingat awalnya bagaimana. Ia seperti sudah lama mengenalku. Jika dia tidak menyapa duluan pasti aku tidak akan berbicara santai seperti itu dengannya.
Rambut coklatnya terlihat berkilau seperti emas oleh terik pantai. Angin kencang membuat rambutnya melambai. Sungguh indah. Mengapa ia terlihat anggun sekali.
Plakk
Tamparan keras mendarat tepat di pipi kananku. Sial. Apa yang kupikirkan. Sadarkah Caprio. Apa yang kau pikirkan. Sehingga aku menampar diri sendiri.
__ __ __
"Caprio! Bangunlah sudah sore. Kau melewatkan banyak pelanggan."
Samar-samar terdengar suara memanggil namaku yang tengah tertidur pulas. Aku segera membuka mata dan menengok sekitar. Air laut sudah surut. Mentari sudah tak terik. Lebih menjorok ke barat sedikit.
"Bangunlah dasar kebo!"
"Sejak kapan kamu disini, Joa?"
Gadis itu tersenyum dan menyodorkan sebuah gelang yang terbuat dari kerang-kerang kecil.
"Ini buatan Joa. Bagus kan Caprio?"
Aku mengangguk lemah. Masih dalam proses mengumpulkan nyawa. Lalu melihat ke meja. Kelapa muda Daisy masih ada di sana. Apakah dia lupa mengambilnya? Bukankah dia berkata akan kembali lagi. Ataukah dia sempat datang tapi aku masih tertidur. Tapi jika memang begitu mengapa ia tak membawa kelapanya. Entahlah aku masih terlalu ngantuk untuk memikirkannya.
"Caprio, ayo coba berdiri biar nggak ngantuk lagi," Joa menarik lenganku untuk membuatku berdiri. Seketika dunia berputar. Aku memegang kepalaku yang masih pusing. "Eh.. Jangan jatuh, " Joa membantu menopang tubuhku.
"Terima kasih Joa. Sudah tidak apa-apa," Ucapku sambil melihat ke arah kelapa muda Daisy.
"Kelapa siapa itu? Dari tadi kamu melihat itu terus."
"Iya. Itu punya seorang pembeli. Tadi siang menitipkannya disini. Katanya akan kembali lagi. Tapi sampai sekarang belum diambil."
"Bukankah sudah biasa seperti itu. Pembeli meninggalkan kelapa yang tidak habis. Siapa tahu orangnya sudah pulang. Aneh. Kau seperti baru mengalami."
Benar juga. Kenapa aku masih memikirkan kelapa itu. Dia hanya menitipkan. Jika tidak datang bukankah memang tak berniat mengambilnya lagi.
"Baiklah, aku akan membuangnya. Aku ingin pulang dan segera mandi."
Saat kelapa itu hendak aku gapai, tiba-tiba sepasang tangan lentik menggapainya terlebih dahulu.
"Ini kelapaku nggak ada yang minum kan?"
Daisy muncul dengan seragam olahraga. Berbeda dengan siang tadi yang menggunakan baju pantai yang anggun. Aku menepuk dahi. Gadis yang aneh.
"Nggak ada. Itu aman di dekatku."
"Bagaimana kau tahu. Kamu tertidur pulas," Timpal Joa.
"Yaudah. Nggak apa-apa. Lagipula siapa juga yang mau minum air kelapa bekas," Ujar Daisy yang diikuti air kelapa yang langsung diminum tanpa ragu. "Aku kira kamu sudah pulang. Awalnya aku akan langsung pulang tanpa kembali ke sini. Tapi karena aku masih ingin memastikan jadi aku kembali. Ternyata benar. Kamu masih di sini."
"Aku sebenarnya akan pulang. Tapi tiba-tiba kau datang."
"Begitukah? Maaf Caprio. Aku terlalu lama. Karena ada kegiatan dengan teman- teman sekolahku."
Aku menggeleng. Tidak apa-apa.
"Ekhm... Ada satu orang lagi di sini," Ketus Joa yang merasa diabaikan.
"Eh maaf. Kamu temannya Caprio?"
"Dia Joa. Joa, ini Daisy," Timpalku memperkenalkan mereka, yang dilanjutkan jabat tangan antara mereka berdua.
"Wah.. Cantik sekali," Ucap Daisy.
Joa sedikit tersipu.
"Gelang kerang. Apakah kamu yang membuatnya, Joa?"
"Pfffttt.." Aku yang menyadari ekspresi Joa seketika hampir tertawa. Untung saja masih bisa ditahan.
"Ee.. Ii.. Iya. Aku membuatnya dengan kerang-kerang kecil yang cantik," Jawab Joa yang diikuti meraih lenganku dan memasangnya pada pergelangan tanganku.
"Eh?"
"Gelang ini untuk Caprio. Aku membuatnya sendiri. Bukankah tampak indah juga di kulit hitam manisnya. Gelang kerang ini jadi terlihat lebih jelas dan berkilau," Tutur Joa namun pandangannya tak tentu arah.
"Kenapa buatku? Bukankah kamu sulit menemukan kerang-kerang cantik dan berkilau seperti ini. Kemarin kamu bilang butuh waktu seminggu kan untuk mengumpulkannya."
Joa menggigit bibir," Gelang ini sangat spesial. Aku kesulitan menemukan bahannya."
"Benar. Sangat cocok dipakai Caprio. Kesan anak pantainya semakin terlihat. Sangat eksotis," Timpal Daisy lalu mengambil ponselnya dan memotretku. "Wah.. Caprio sangat manis disini," Ucapnya ke arah layar ponsel.
"Bukankah tidak sopan memotret orang tanpa izin," Joa memasang wajah sebal.
"Tidak apa-apa, Joa. Banyak orang bahkan turis yang memotretku untuk dijadikan model di fotografinya."
"Benarkah? Jadi apa boleh aku simpan fotomu?" Tanya Daisy Antusias.
"Tentu saja."
"Wah memang indah gelangnya," Daisy mengelus gelang yang ada di pergelangan tanganku sambil tersenyum.
Aku membiarkan saja ia yang sedang mengagumi. Entah bagaimana ternyata aku bertemu lagi dengannya. Kukira hanya pembeli. Ternyata sudah seperti teman. Ia sangat ramah.
"Eumm.. Sudah. Kamu jangan memegang gelangnya lagi. Nanti kilaunya hilang. Aku sudah lelah mencari kerang-kerangnya," Tiba-tiba Joa menarik lenganku agar terlepas dari Daisy.
Aku mengernyitkan dahi lalu memastikan ekspresi Daisy. Ia masih tersenyum. Namun tak selebar tadi.
"Apa-apaan kamu. Jangan ngomong kayak gitu. Kalau kamu sesayang itu sama kerang ini kenapa sampai memberikannya kepada orang lain?" Tanyaku sedikit terkejut dengan perkataan Joa.
"Aku memang sesayang itu sama kerang-kerangnya. MAKANYA AKU KASIH KE KAMU, CAPRIO!"
Hening. Hanya suara debur ombak surut yang terdengar. pengunjung juga hanya tersisa beberapa orang lagi.
Daisy ternganga. Kemudian tersenyum seperti biasanya.
Begitupun aku. Sangat terkejut dengan perkataan Joa.
Tiba-tiba angin pagi berhembus. Membuat rambut panjang Daisy yang terurai melambai anggun. Aku teringat tadi saat ia berlari di tengah terik yang menghasilkan kilau pada rambut coklatnya. Yang membuat tergetar seketika. Apakah itu asmara pemuda yang pertama? Lantas, mengapa aku tak mengalaminya ketika bersama Joa?
"Joa, bolehkah aku menanyakan satu hal?"
"Mau nanya apa, Caprio?"
"Mengapa kau tiba-tiba menyatakan perasaanmu? Padahal aku dan Daisy tak lebih dari seorang penjual kelapa dan pembelinya yang kebetulan bertemu."
Joa dan Daisy menoleh ke arahku.
"Bagaimana tidak. Lihatlah, Daisy begitu cantik. Aku tak masalah ketika kamu akrab dengan perempuan lainnya yang kukenal karena tak ada yang lebih cantik dariku. Sampai kemarin kamu berbicara dengan Daisy. Aku terperangah melihat keanggunannya. Kulitnya mulus seperti bayi. Aku takut dia akan merebutmu dariku. Akhirnya tanpa ragu aku mengatakan perasaanku yang sebenarnya. A.. Aku hanya ingin kau bersamaku. Maaf jika aku egois. Tapi Daisy, bisakah kau ja.. Jangan terlalu akrab dengan Caprio?" Tutur Joa yang diakhiri dengan lirikan memohon kepada Daisy.
Ya, sedari dulu Joa memang sangat perhatian terhadapku. Tak henti-hentinya ia meyakinkan ibunya bahwa aku bukanlah pengaruh buruk. Hingga ibunya luluh dan membiarkanku bermain dengan Joa. Walau terkadang ibunya khawatir saat melihat ayah pulang larut malam dalam keadaan mabuk. Ya, warga sekitar sangat berhati-hati denganku karena ayahku adalah seseorang yang buruk dan menjadikanku seolah budaknya.
Daisy tertawa lepas. Ia merapikan rambutnya kemudian memegang tangan Joa dengan lembut. Joa yang memiliki kulit terputih di desaku saja terlihat terbanting oleh kulit Daisy. Wajar saja jika Joa rendah diri.
"Joa, kau hanya salah paham. Eum.. Maaf sebelumnya jika kamu tidak nyaman karena kehadiranku. Maaf juga karena aku tiba-tiba datang dan menyapa kalian dengan sok akrab. Sekalian menjawab pertanyaan Caprio. Kemarin, aku kegiatan olahraga ke pantai. Aku datang bersama teman-temanku dan guru. Ketika sedang berjalan di pasir, aku tercengang melihat seseorang yang duduk sendiri sambil melamun melihat pantai. Yaitu kamu, Caprio. Aku tercengang sebab kau begitu mirip dengan sosok yang aku sangat sayangi. Jangan salah paham dulu, Joa. Ya, sosok yang aku sayangi ialah adikku. Caprio sangat mirip dengannya. Adikku meninggal dunia sebulan yang lalu. Ia seumuran denganmu. Mengapa tidak aku terkejut dengan seseorang yang sudah meninggal tiba-tiba duduk santai menikmati keindahan laut. Sekali lagi maafkan aku yang tiba-tiba sok akrab. Aku.. Aku hanya mencoba melepas rinduku dengan menyapa seseorang yang mirip dengan adikku dan menganggap bahwa sedang berbincang dengannya. Setiap berbicara dengan Caprio aku selalu membayangkan adikku yang sedang bercengkrama denganku. Bercengkrama sebagai sepasang saudara yang saling menyayangi."
Joa menghembuskan napas lega, "Jadi aku hanya salah sangka?! Eum.. Jika tahu seperti itu aku akan menyimpan perasaanku sampai nantinya usiaku sudah cukup untuk bisa memiliki Caprio."
Daisy tertawa kecil.
Jadi sedari awal ini tidak lebih dari sekedar cinta segitiga? Ya ampun betapa bodohnya aku mengalami cinta pertama kepada seseorang yang menganggapku hanya sebatas pereda rindu seorang yang sudah meninggal. Jika sudah begini apa boleh buat. Tapi aku masih mengharapkan Daisy akan tetap mengunjungiku. Aku berharap dia akan terus menjadikan pereda rindu pada adiknya.
"Kamu janji kan akak terus bersamaku Caprio?" Tanya Joa sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Ehh? A.. Aku harus apa?
"Jika iya kamu harus membalas jari kelingking ini. Jika tidak aku tak masalah. Selagi sekarang aku masih bisa bersamamu."
"Aku.." Aku melirik sekitar dengan tak karuan. Joa sangat menghipnotis. "Baiklah. Aku akan tetap bersamamu, Joa," Ucapku diikuti acungan jari kelingking.
"Apakah aku juga boleh ikut janji jari kelingking? Aku akan menajdi sosok kakak untuk kalian, " Timpal Daisy disertai acungan jari kelingking.
Joa mengangguk ceria. Ia sangat lega mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan Daisy. Entah mengapa aku tak bisa menyangkal apa yang diinginkan Joa. Dia sudah terlalu baik selama ini kepadaku. Walau untuk rasa bukan dia yang aku inginkan.