Festival kembang api paling meriah yang dirayakan setahun sekali akhirnya tiba. Masyarakat telah memadati jalanan kota yang didominasi oleh kaum remaja. Hingar-bingar diselingi raut wajah gembira terukir sumringah. Suara-suara bising meruah kala kembang api meletup mekar di loteng dunia malam ini. Disambut tepuk tangan juga tatapan takjub yang tenggelam dalam pesona warna-warni.
Chisaki dan Keisuke, dua remaja SMA berdiri bersebelahan di barisan paling depan tempat orang-orang melihat kembang api.
"Aku suka kembang api," ucap Chisaki sambil menghadap ke arah kembang api di langit. Ia mengenakan yukata bermotif biru muda dengan dasar putih.
Lelaki bernama Keisuke yang datang bersamanya menoleh. Lalu tersenyum kecil, "Iya. Sangat indah."
"Tapi aku lapar. Bisakah kita membeli beberapa makanan sebentar? Setelah itu kembali lagi ke sini," pinta Chisaki sembari memegang perutnya yang keroncongan dan beberapa kali berbunyi.
"Bukankah kamu sangat menantikan pemandangan ini? Jika kita pergi sekarang kemungkinan besar tidak mendapatkan tempat paling depan lagi," ujar Keisuke.
"Tak apa, kita sudah berdiri beberapa menit di bagian paling depan. Itu sudah lebih dari cukup untuk beristirahat makan malam."
"Baiklah jika itu yang kau mau. Ayo!"
Mereka berdua berjalan di antara padatnya manusia. Mencari celah untuk lewat dengan genggaman tangan yang erat agar tidak lepas. Chisaki sedikit menjerit karena kakinya terinjak. Namun ia segera mengacungkan jempol ketika Keisuke menoleh dengan tatapan khawatir, sebagai isyarat bahwa ia baik-baik saja. Langkah mereka terus melaju hingga keluar dari kerumunan. Secara bersamaan mereka menghembuskan napas lega.
"Akhirnya," ucap mereka berdua serempak. Sesaat tertawa bersama karena tidak menyangka ucapan itu akan terlontar secara bersamaan.
Berbagai macam jajanan tersaji di tepi jalan. Tak henti-hentinya mereka menengok kiri dan kanan untuk menentukan jajanan apa yang akan mereka beli. Keisuke terlihat tenang. Berbeda dengan Chisaki yang terlihat sangat heboh dengan banyaknya jajanan di festival. Seolah ingin mencicipinya satu-satu.
"Permen apel! Terlihat menggoda sekali. Wah, aku juga ingin _yakisoba, yakitori,_ jagung bakar! Kenapa semuanya terlihat enak!" tukas Chisaki penuh semangat.
Keisuke tertawa gemas dengan tingkah heboh Chisaki, "Chi- _chan_, lihatlah badanmu. Baru memakan dua macam saja pasti sudah tidak muat lagi," ejek Keisuke.
"Kei jahat sekali. Tapi aku suka semua itu."
"Kalau tidak habis mau diapakan? Kau mau menyia-nyiakan makanan?"
Perkataan Keisuke membuat Chisaki terdiam sejenak. Ia mengingat kejadian beberapa waktu lalu ketika seorang gelandangan hampir tertabrak bis karena berlari ke tengah jalan untuk memungut makanannya yang terjatuh.
"Kei benar. Aku tidak seharusnya membeli semuanya sedangkan semua itu tidak bisa aku habiskan."
"Nah, gitu dong. Beli seperlunya saja."
"Tapi ada Kei di sini. Jadi aku bisa beli semuanya dan yang akan menghabiskannya adalah Kei."
"Eh? Kenapa aku?"
"Kumohon!" Pinta Chisaki penuh harap bersama mata sipitnya yang berbinar.
"Ya ampun. Jangan memasang wajah seperti itu. Bagaimana mungkin aku bisa menolaknya jika kamu meminta."
Seketika Chisaki melompat tanpa peduli dengan banyak mata yang melihat ke arahnya. Sebaliknya, Keisuke menunduk menahan malu karena tingkah Chisaki.
"Lebih baik beli jagung bakar atau permen apel, ya?" Tanya Chisaki sambil berjalan menuju tempat penjual makanan tersebut yang bersebelahan.
"Kamu lebih suka yang mana?"
"Semua yang aku sebut tadi aku suka. Semuanya," jawab Chisaki gemas.
Keisuke menepuk kening seraya mengacak-acak rambut Chisaki yang terurai.
"Kamu menyukai banyak hal, ya."
"Entahlah. Sepertinya begitu."
"Lantas, dari semua hal yang kau suka dan begitu banyak, mengapa tidak termasuk aku dalam salah satunya?"
Ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut Keisuke. Serpihan rasa yang ia pendam berbulan-bulan lepas sudah. Sedang Chisaki membisu menghadap Keisuke yang menunduk malu-malu.
Senyap sejenak. Keduanya terjebak dalam pikiran masing-masing. Tak peduli beberapa kali tersenggol orang-orang yang berlalu-lalang.
"Kei, kamu menggemaskan ketika malu-malu seperti itu."
"Ah, sudahlah. Lupakan saja. Anggap saja aku tak pernah mengatakannya," tegas Keisuke dilanjutkan dengan langkah yang mendahului Chisaki.
Tanpa menghadap belakang, Keisuke terus melangkah sambil terus menyesali perkataan memalukan itu. _Sial. Kenapa langkahnya tak jua sampai di sebelahku? Apakah dia sedang menertawakanku? Apakah dia menolakku? Tapi perkataan tadi memang memalukan. Bodoh._ Geram Keisuke dalam hati.
"KEI!" Teriak Chisaki memanggil.
Akhirnya Keisuke menengok belakang. Didapatinya Chisaki tidak bergerak sedikit pun dari tempat mereka berdiri tadi. Namun kini Chisaki dalam keadaan duduk. Melihat itu, Keisuke segera berlari kembali sebab khawatir jika ada yang terjadi pada Chisaki.
"Chi- _chan_ , apa yang terjadi? Kau terluka?" Tanya Keisuke mengikuti posisi duduk Chisaki sambil melihat sekujur tubuh Chisaki untuk memastikan luka yang bisa saja ada.
Bukan menjawab pertanyaan Keisuke, Chisaki justru tersenyum lebar yang membuat matanya semakin sipit, membuat Keisuke terjatuh dalam pesona senyuman itu.
"Ada yang salah?" Tanya Keisuke bingung.
"Apa-apaan ekspresi itu. Kamu terlihat aneh," ujar Chisaki dilanjutkan dengan berdiri. Lalu diulurkan tangannya kepada Keisuke untuk membantunya berdiri. "Ayo, kita belum membeli jagung bakar. Kamu seenaknya saja pergi padahal tempat jual jagung bakar di dekat sini."
"Eh?" Keisuke menerima uluran tangan itu.
Mereka mengibas debu yang menempel di pakaian.
"Aku sudah memutuskan. Pertama membeli jagung bakar yang kusuka. Kedua... "
"Kedua?"
" Kedua, membelinya bersama seseorang yang kusuka."
Malam festival yang manis. Keisuke tersipu menyambut jawaban tak terduga dari Chisaki. Mereka berdua bergandengan tangan ke arah tempat penjual jagung bakar dengan riang.