Angka sembilan kembali memenuhi pikiranku. Kala penat menerjang tiada ampun usai menyelesaikan tugas sekolah yang membosankan. Tetap menumpuk walau libur sekolah. Sungguh kasur empuk yang kurindukan. Tak ada yang lebih indah dari menelentangkan raga di atas. Sesaat kuayunkan pandangku ke arah jam yang menunjukkan pukul 09:00. Berawal dari letak jarum jam itulah aku mengingat sesuatu perihal angka sembilan.
"Kea, kamu udah ngerjain PR, 'kan?" Tanya seorang wanita paruh baya yang berdiri di bingkai pintu kamarku yang terbuka lebar.
"Udah, Bun."
"Kamu masih lelah?"
"Sedikit. Memangnya ada apa, Bun?"
"Istirahatlah sebentar. Kalau sudah, bantu Bunda di halaman depan."
"Baik, Bun."
Tanpa sadar aku menyimpan setiap sembilan yang kutemukan. Walau terkadang hal itu tidak penting untuk diingat. Minggu lalu aku mendapatkan nilai 90 di mata pelajaran Kimia. Itu adalah pencapaian terbaikku untuk mata pelajaran tersebut.
Namun sembilan bukan selalu tentang kebahagiaan ....
Sembilan hari yang lalu, separuh sinar dalam hidupku dari pria tertampan di dunia lenyap. Termakan sunyinya geming dunia tanpa mendengar suara panggilannya lagi. Sampai galian tanah merah menyambut kehadirannya. Tentu saja duniaku sudah tak se-terang dulu. Sebelum sembilan hari yang lalu merenggutnya.
"KEA, CEPATLAH KE SINI!" Suara panggilan bunda memecah ingatku tentang sembilan.
"BAIK, BUN. KEA SEGERA DATANG!"
Separuh sinarnya lagi masih ada dari seorang wanita tercantik di dunia. Ah, iya. Serdadu ketakutan menghantam sanubariku oleh bayang-bayang kehilangan separuh sisa sinar lagi. Wanita tercantik itu tidak menangis ketika memangkuku bersama sendu tiada berkesudahan. Namun, rasa takut itu semakin memuncak ketika melihat kedua ujung matanya yang sudah keriput. Ia tak tahu isi tangisku mengandung dua makna. Bukan hanya kesedihan karena kehilangan sosok ayah, namun juga kekhawatiran akan sisa umurnya. Semua boleh pergi. Semua boleh hilang. Asalkan jangan dia.
"Bunda membeli tanaman apa lagi?"
Bunda menoleh sedikit terkejut dengan suaraku yang tiba-tiba muncul di belakang punggungnya.
"Bunga anggrek. Cantik-cantik, 'kan?" Ujar bunda menunjuk beberapa bunga warna-warni yang masih berserakan.
Sepeninggal ayah, bunda tiba-tiba menjadi hobi bercocok tanam dengan tanaman-tanaman hias. Padahal ayah bukan pecinta tanaman hias. Jadi aku menganggap bunda memiliki hobi baru ini untuk mencari kebahagiaan baru selain bersama ayah.
"Iya, cantik seperti Bunda."
Alis sebelah kiri bunda naik sambil menatapku penuh interogasi.
"Apa? Kamu menggoda Bunda, ya? Apakah ini hari ulang tahunmu?"
"Ah, tidak. Kea hanya ingin memuji Bunda. Lagipula ulang tahun Kea sudah lewat beberapa bulan yang lalu. Masa Bunda lupa."
"Oh iya. Waktu segerombolan temanmu tiba-tiba datang tengah malam itu, 'kan."
"Iya, Bun. Masa lupa sih."
"Iya. Bunda ingat. Ya sudah, sekarang kamu bersihkan pot-pot ini, ya. Berdebu banget."
"Kotor banget. Bunda beli di mana?"
"Ini dikasih sama bu Erika. Karena sering lihat Bunda merawat tanaman jadi beliau nawarin ini. Lumayan 'kan menghemat biaya."
Kulayangkan pandangku ke arah pot-pot berdebu ini. Jumlahnya sembilan. Lagi. Kenapa ada saja yang bisa kutambah ke dalam koleksi sembilan?
"Kea?"
"Eh iya, Bun. Kea mau mengambil kain lap dulu di dapur."
Ketika hendak melangkah, aku memutar badan lagi ke arah bunda.
"Ada apa lagi, Kea? Ayolah, hari ini kamu banyak melamun."
"Bun ... Kea mau bilang sesuatu sama Bunda."
"Mau bilang apa? Kamu mau menggoda Bunda lagi? Itu kalimat yang biasanya diucap pemuda untuk mengutarakan perasaan. Kamu mau simulasi di Bunda? Tapi kamu 'kan perempuan. Masa mau nembak cowok duluan."
Aku menepuk kening, "Bunda, Kea belum ngomong apa-apa. Gimana Kea bisa melanjutkannya kalau Bunda lebih banyak bicara."
"Oh iya. Maaf ya."
"Sembilan."
"Sepuluh."
"Sebelas."
"Kamu mau ngajak Bunda berhitung?"
Kami pun tertawa karena tingkah bunda.
"Bukan. Bunda diam dulu. Kea jadinya ikutan berhitung, 'kan."
"Iya. Bunda akan menutup rapat-rapat mulut cerewet ini," ujar bunda lalu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kea cuma mau membicarakan angka sembilan kepada Bunda. Angka yang banyak menemani kehidupan Kea. Baik itu suka dan duka. Sebenarnya Kea tidak mau menghiraukannya, tapi angka sembilan kerap kali menghantui pikiran Kea."
"Apakah hantu sembilan itu lebih menyeramkan dibanding pocong?"
Lagi-lagi bunda membuatku tergelitik. Padahal aku ingin mengutarakan hal serius.
"Ih, Bunda. Sebel. Kalau ngomong lagi Kea ngambek, nih."
"Habisnya, mukamu kalau lagi serius jadi mirip ayahmu. Bunda jadi mengingatnya lagi, 'kan."
"Benarkah?" Tanyaku cemas.
Bunda tertawa terbahak-bahak. Sepertinya sangat puas membuatku kebingungan.
"Bercanda. Apa-apaan wajah cemasmu itu. Lanjutkan."
"Apakah Bunda sadar tentang sembilan yang membersamai kita? Selama sembilan bulan Bunda mengandung. Bulan ke sembilan Bunda melahirkan Kea. Lalu Kea mendapat piala pertama di usia sembilan tahun. Banyak, 'kan?! Walau tak semua sembilan adalah bahagia. Contohnya ayah yang telah meninggalkan kita sembilan hari yang lalu. "
"Harusnya Bunda memasukkan kamu lagi ke perut di tanggal 6 itu agar kamu lahir di tanggal 9. Aduh, bodohnya aku," ucap Bunda masih dengan lawakannya.
Aku manyun dengan tingkah bunda.
"Bun, tolong tetaplah bersama Kea!"
"Memangnya ada perjaka tampan yang akan membawa Bunda ke dunia yang hanya dihuni kami berdua?"
"Ayolah. Bunda serius sedikit. Nanti Kea nangis," pintaku tanpa sadar air mata sudah mengalir.
Dengan sigap bunda mendekapku erat. Tangan lembutnya membelai rambut panjangku. Sedang aku tenggelam dalam tangisan tanpa tertahan.
"Apa yang membuatmu mengatakan itu, nak?" tanya bunda.
"Kea hanya punya Bunda sekarang. Tolong, temani Kea selamanya. Tak peduli kemana pun Bunda akan pergi. Bawalah Kea juga."
"Sepertinya angka sembilan banyak mengganggu perasaanmu. Terutama hari ke sembilan meninggalnya ayah. Tapi kamu seharusnya ingat, bahwa esok adalah hari ke sepuluh. Jika hari ini sembilan membuatmu bersedih, Bunda yakin besok akan berbeda. Entah karena sembilan apa. Atau mungkin bukan angka sembilan lagi."
"Bunda sangat kuat, namun kenapa Kea sebaliknya? Kenapa tidak menurun kepada Kea? Sekali pun tak pernah ada air mata yang menghiasi mata Bunda. Entah mengapa semalam Kea berpikir untuk membuat Bunda menangis. Bukan. Bukan mengharapkan kesedihan Bunda. Tapi Kea ingin Bunda melihat Kea sebagai sosok pengganti ayah. Sosok yang dapat melindungi Bunda lebih baik dari siapa pun. Sehingga ketika Bunda butuh tempat untuk berbagi sendu, bersandarlah di pundak Kea serta menangislah sepuasnya."
Setetes air seperti mengenai kulit kepalaku. Pelukan erat bunda perlahan kulepaskan. Lalu memastikan dengan melihat wajah bunda. Ia menangis?!
"Ketahuan, ya," ujar bunda.
"Apakah kata-kata Kea salah?"
"Tidak. Sepertinya gerimis masuk ke mata Bunda."
"Bunda ... Maaf."
"Terima kasih, Kea. Tumbuhlah dengan cantik dan tangguh. Bunda ingin melihatmu tumbuh dewasa."
Lontaran kata-kata seolah menyalakan separuh sinar yang padam selepas kepergian ayah.
"Pasti!" Jawabku lantang.
"Tapi kamu melupakan satu makna sembilan lagi."
"Apa itu?"
"Kamu harus memberikan Bunda sembilan cucu."
"TIDAK!"
Bunda tertawa puas.
Kami menikmati minggu pagi dengan perasaan yang sulit dideskripsikan.