Aku tengah berada di dalam ruang kosong. Lengang. Kotor. Pengap. Dengan bercak darah di lantai yang telah mengental. Hembusan angin membawaku dalam ingatan masa lampau. Mengingatkanku akan hari di mana raga itu masih dapat aku sentuh.
Musnah. Tak ada lagi yang tersisa. Kecuali luka. Teruntuk kilat yang memotret bumi ini. Diselingi suara petir bising. Pada sore yang gelap bagaikan malam. Pun guyuran deras hujan. Dapatkah aku mengulang masa lalu agar dapat kutemui lagi senyuman yang kini telah raib dari hadapanku?
Bodohnya. Aku menggila di dalam rumah reyot. Bangunan tua yang telah kosong sejak lima tahun lalu. Menjadi rumah hantu. Biarlah. Hidupku jauh lebih menyeramkan. Bahagiaku bermula di sini. Sampai akhirnya berakhir pula di tempat yang sama.
"Sudah kuduga. Kau pasti ada disini," Tiba-tiba suara seorang gadis terdengar. Memecahkan nostalgia pahitku.
Aku menoleh dengan tatapan datar walau sebenarnya sedikit terkejut, "Untuk apa kamu kesini. Jauh-jauhlah dari hadapanku!"
Ia tersenyum, "Hujan turun sangat deras. Malam juga sebentar lagi tiba. Terjebak di tempat menyeramkan seperti ini sendirian? Kamu bisa mati ketakutan," Tukasnya.
"Kamu pikir hal kecil seperti itu membuatku peduli? Tidak! Pulang saja kamu. Lagipula kamu sudah terlanjur basah."
"Baiklah, aku akan pulang. Asal kamu juga ikut."
Aku menarik napas panjang, "Aku lebih suka para hantu rumah kosong ini datang mencabik-cabik jiwaku daripada harus pulang bersamamu," Ketusku.
Belum sempat ia menjawab, tiba-tiba angin kencang menyingkap tirai lusuh. Sontak membuatku memegang dada karena terkejut.
"Membiarkan hantu mencabik jiwamu? Benarkah? Lantas mengapa karena suara angin saja kau begitu ketakutan?" Tanyanya sedikit mengejek.
Aku membuang muka.
“Qiana, aku tahu beban yang kamu topang sendiri sangat berat. Bagaimana tidak, di usiamu yang masih remaja. Masa di mana membutuhkan dukungan lebih dari keluarga dalam menajalankan semua. Kamu justru kehilangan segalanya. Ibu, ayah, saudara, entah apa lagi yang tersisa bagimu. Tragedi berdarah itu tentu akan melekat dalam ingatanmu. Bahkan mungkin selamanya. Tidak, bukannya mungkin, tapi pasti.” Shazia mencoba berjalan mendekatiku. Ia meraih kepalaku untuk diusap, namun segera kutepis tangannya.
“Sudahlah, Shazia. Aku nggak butuh belas kasihanmu. Jangan berlagak jadi sosok kakak, aku tak butuh keluarga pengganti termasuk saudara sepertimu,” Spontan aku mendorong tubuh Shazia.
Tubuh Shazia terjantuh karena doronganku. Ia langsung bangkit dan berjalan menuju tembok di seberangku untuk duduk bersender, “Mengapa kakak? Bukankah kamu sedikit lebih tua dariku?!”
Aku membuang muka. Benar juga. Sikap dewasa Shazia membuatku sering lupa dan merasa dia jauh lebih tua dariku.
Petir menyambar lagi. Hujan masih lebat. Sore semakin redup. Malam segera tiba. Rumah kosong ini tak memiliki penerang apapun. Shazia, gadis yang sedari tadi mengajakku pulang menyalakan senter dari ponselnya. Sedangkan aku datang ke tempat ini tanpa membawa apapun.
Tak berselang lama, akhirnya aku dan Shazia terdiam satu sama lain. Ia duduk menyender di tembok sambil memeluk lutut untuk membalut gigil. Begitupun denganku yang duduk di sudut yang agak jauh dari tempatnya. Tentu saja dalam keadaan basah kuyup seperti itu ditambah hujan lebat akan membuatnya kedinginan. Hanya wajahnya yang terlihat karena cahaya dari senter ponselnya.
Gelap. Gelap sekali. Aku membuang muka. Sepertinya aku bersyukur karena ada Shazia di sini. Aku tak bisa membayangkan jika ia tak datang ke tempat ini. Aku pasti sudah sangat ketakutan sendirian. Lagi, keberadaan Shazia kembali menolongku. Entah sampai kapan aku berbohong. Berbohong pada diriku sendiri. Perihal Shazia yang sebenarnya sangat ku syukuri keberadaannya.
"Hatchihh.." Tiba-tiba Shazia bersin. Sepertinya dia sangat kedinginan. "Aduh, dingin sekali. Apakah kamu tidak mengkhawatirkanku, Qiana?"
"Matilah! Aku tidak peduli, " Jawabku tidak ramah.
"Baiklah.. Hatchihh.. Qiana. Aku sudah meminta ayahku datang menjemput."
Sebenarnya aku sangat senang mendengarnya. Akhirnya aku bisa keluar dari tempat mengerikan ini.
"Baguslah. Kamu bisa enyah dari hadapanku."
"Hahahahahaha."
"Kenapa? "
"Dalam hitungan kelima sebelum aku melangkah menuju mobil Ayah, kamu akan berlari ketakutan karena ditinggal sendirian."
“Begitukah?”
“Mau sampai kapan kamu nggak nerima aku jadi saudara? Padahal aku sangat senang menjadi saudaramu. Jangan sungkan walaupun kita hanya saudara angkat.”
“Saudari angkat? Aku lebih suka menyebutnya saudara pungut dari seorang korban pembunuhan berantai yang malang.”
“Tapi kan kamu selamat.”
“Justru itu, akan lebih malang karena korban itu satu-satunya yang selamat dan ditinggal sendiri. Menyedihkan.”
“Tidak. Itu artinya hanya kamu yang diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup di dunia fana ini.”
Tittt.. Tittt...
Belum sempat aku menjawab tiba-tiba terdengar suara klakson mobil. Ya, ayah Shazia telah sampai.
Tanpa menunggu lagi, ayah Shazia sudah berlari menuju tempatku dan Shazia berada. Ia menggunakan payung cukup besar yang dapat menampungku dan Shazia.
"Ya ampun, Qiana. Lihatlah Shazia sampai rela basah kuyup gini demi kamu. Lagi-lagi kamu menyusahkan orang. Menyusahkan Shazia. Saya bukannya mau membela anak saya. Tapi apa yang dilakukan untuk kamu sering berbahaya buat dia. Mau sampai kapan kamu egois kayak gini, " Ucap ayah Shazia tegas.
Aku menunduk, "Maafin saya, Om. Jika saya sudah membuat Om khawatir sama Shazia. Tapi tolong jangan salahkan saya. Karena saya hanya ingin sendiri. Apa yang saya lakukan biarkan. Bukankah saya tidak pernah meminta Shazia hadir?! Bukankah saya tidak pernah meminta dia untuk direpotkan?! Jadi jika dia terluka atau kenapa-napa, itu disebabkan karena dia mengikuti saya, bukan disebabkan karena kejahatan saya. Jadi, saya tak menuntut apa-apa dari sikap pahlawan putri Om."
Ayah Shazia terdiam. Sementara Shazia tersenyum. Seperti biasa, aku tak tahu apa yang ada di pikirannya.
"Ayah, ayo pulang!"
Ayah Shazia menoleh. Kilat memperlihatkan ekspresi kebingungannya.
"Lantas, Qiana?" Tanya ayah Shazia.
"Payung Ayah sangat besar. Cukup untuk kita bertiga. Ayo pulang, Qiana!" Ajak Shazia ramah sambil tersenyum tulus.
"Pulanglah!" Ucapku.
"Baiklah. Ayo Ayah!" Shazia menarik lengan ayahnya dan langsung keluar dari bangunan ini.
Ayah Shazia mengernyitkan dahi. Kebingungan. Begitupun denganku. Mengapa ia tidak membujukku lagi?
Spontan tanganku melambai. Ingin mencegah kepergian mereka. Suasana di tempat ini sudah tenggelam dalam balutan gulita. Sudah terlihat seperti wilayah huni makhluk astral.
Aku takut. Tidak. Jangan tinggalkan aku sendiri. Apa yang akan terjadi padaku jika mereka pergi. Apa yang bisa aku lakukan dalam kegelapan seperti ini? Bagaimana jika ada hal yang menakutkan. Bagaimana jika aku mati disini? Benarkah kali ini Shazia tidak menjadi penyelamatku lagi? Kenapa dia seperti itu? Bukankah biasanya dia memaksaku? Apakah sekarang dia mulai berubah dan mengabaikanku. Kenapa? Entah kenapa aku takut kehilangan Shazia yang peduli padaku. Shazia, tolong jangan tinggalkan aku! Aku ingin ikut.
Kilat memotret bumi. Aku bersiap untuk mengejar mereka. Namun sebelum kakiku melangkah, kilat menyala lagi dan menampakkan Shazia yang menoleh ke belakang, membuatku tak jadi melangkah. Kemudian aku menunduk.
“QIANA!!!” Shazia berlari kembali menuju tempatku berada dan memelukku erat tanpa ragu, “Mana mungkin aku meninggalkanmu di tempat mengerikan seperti ini. Maaf..maaf Qiana aku tidak bisa menggantikan keluargamu. Aku tidak bisa menjadi saudara yang baik. Maaf jika kamu terganggu dengan keluargaku juga yang seperti tidak menerimamu dengan baik. Pasti tidak nyaman kan berada pada posisi itu. kehilangan segalanya ditambah keluarga angkat yang tidak memberikan kasih sayang.”
Dadaku sesak mendengar ucapan Shazia. Ya, memang seperti itu. sedari awal aku memang tidak membenci Shazia. Aku hanya tidak nyaman dengan keluarganya yang terlihat tidak tulus. Hanya dia, hanya shazia yang kupunya sekarang. Perlakuan acuh dari keluarganya membuatku melampiaskan rasa kesal itu kepada Shazia.
“Mengapa kamu baru mengatakannya sekarang? Mengapa kamu mengerti apa yang ada dalam diriku,” Kini air mataku tumpah. Aku membalas pelukan erat Shazia dengn erat pula. Hangat. Tubuh basah kuyup Shazia entah mengapa begitu hangat dalam bayanganku.
Shazia melepas pelukannya, lalu ia mengusap air mataku seraya menepuk bahuku untuk menguatkan.
“Semuanya boleh hilang,namun sebanyak apapun kamu kehilangan sesuatu, sesering apapun kamu mengalami perpisahan bahkan seterbiasa apapun telingamu mendengar kata ‘selamat tinggal’. Kamu pasti akan punya tempat. Ya, tempat untuk pulang. Untuk sekarang lihatlah aku. Anggap aku rumahmu. Jika tidak, setidaknya anggap aku sebagai tempat singgah sementara. Namun jika masih tidak ingin mengganggapku rumah singgah, anggaplah aku udara, yang akan selalu berada di sisimu walau tak bisa kau lihat namun kau tahu jika ia ada bahkan selalu ada.”
Air mataku mengucur deras tiada henti. Setelah langit yang sedari tadi mengguyur dengan derasnya hujan kini sudah berangsur gerimis, derasnya berpindah ke dalam kelopak mataku. Sungguh retina taksa yang menggelorakan harapan abu-abu kini berbuah ketulusan. Batu yang terpatri dalam sanubari telah lunak. Sungguh, aku tidak akan pernah membiarkan seseorang hilang lagi. Aku punya Shazia. Biarlah semua yang telah lalu hilang, aku akan mempertahankan seseorang yang dapat kujadikan tempat pulang.
Shazia, terima kasih telah menggantikan milikku yang hilang menjadi tempat untuk pulang.