Pada siapakah cinta sejati itu bertahta? Hamparan rumput hijau dua belas September lalu ketika seorang penikmat terik surya bersenandung bersama gitar tuanya. Kulit kuning langsat yang beradu dengan cahaya keemasan mentari kala itu. Diselingi gigi bergingsul yang aying tiap kali tawanya bergema. Kuingin sudahi perihal nostalgia. Harapan semu akan kebersamaan abadi sirna sudah. Tak ada lagi analogi edelweiss. Bangku pada hamparan rumput di bawah pohon rindang itu telah lama kosong tanpa diduduki sang penikmat terik surya.
Di manakah tubuh jangkung itu berpijak kini? Sudah setahun sejak kepergian langkahnya. Meninggalkan jejak kehadiran yang tiada dapat kuhempas. Yang setiap kilas khayalku tertuju padanya.
Hentikan. Memang salahku terlalu percaya diri akan keyakinan ia sebagai hadiah Tuhan untukku. Sungguh bodoh. Aku bahkan hanya hamba yang masih jauh dari-Nya.
Sekali lagi, aku melewati jalanan menuju hamparan rumput hijau. Ucapku hanya tuk bersepeda tengah hari. Namun terbersit anganku dapat melihat ia kembali. Sudah berkali-kali kulakukan. Namun tak sekalipun membuahkan hasil. Entah di tanah mana tempatnya berpijak kini. Sial. Apalah arti ingin melupakan nostalgia jika raga terus saja mengharapkan temu. Siang hari pembawa luka. Ia masih saja sukar tuk dilupakan.
Kini aku terjebak dalam pikiranku. Mencoba bercakap dengan Tuhan. Tuhan.. Bisakah kau jangan timpakan rindu berlebih dan berkepanjangan ini? Bahuku teralu rapuh tuk menopangnya seorang diri. Hatiku terlalu lemah untuk mencintai seorang diri. Kau tahu ia tak menginginkanku lagi. Namun mengapa aku tetap Kau buat merasakan hal yang sama sejak awal berjumpa dengannya? Baiklah. Jika ini takdir-Mu. Jika ini keinginan-Mu. Kumohon, untuk kali ini saja. Setelah penantian panjangku. Datangkanlah ia kembali walau bukan sebagai seseorang yang menyayangiku lagi. Mungkin hanya sebagai penepis rindu saja. Atau dengan melihatnya maka aku dapat melupakannya.
Hening. Tak ada apapun. Tentu saja. Baiklah, Tuhan. Aku tak memaksa-Mu untuk mengabulkannya. Cuaca semakin panas. Waktu yang tepat untuk tidur siang namun dariku tak sedikit pun rasa kantuk. Bangku kosong itu terlihat nyaman.
Setelah sekian lama, akhirnya aku memberanikan diri untuk menuju bangku panjang ini. Warna catnya berubah sebab tahun lalu warnanya memang susah terkelupas. Sehingga baru-baru ini dicat ulang dengan warna berbeda.
Bangku panjang ini jadi terlihat baru dan cantik. Namun tidak. Aku tidak menyukai ini. Kau lebih menyukai penampakan satu tahun lalu. Bangku berkarat yang sangat suka diduduki si penikmat terik surya. Sungguh jahat. Kembalikan suasana masa laluku!
“Dari mana saja kamu?”
Sesaat mataku membulat kaget. Sebab suara yang sangat kutunggu. Tiba-tiba terdengar amat dekat dari belakang punggungku.
Dengan cepat aku menoleh, air mataku sudah tak dapat terbendung lagi, “Dengan santainya kamu bertanya seperti itu?”
Ia mengernyitkan dahi, “Kenapa kamu menangis? A..aku melakukan kesalahan?”
Aku tak menjawab. Masih fokus dengan air mata. Air mata penuh akan rasa yang bercampur aduk. Sungguh tak dapat aku utarakan dengan kata-kata. Kubiarkan saja segala yang ingin mengalir keluar. Aku tak peduli. Bendungan air mataku sudah menahannya sangat dalam hingga hari ini keluar dengan begitu deras. Membiarkan lelaki yang menjadi tujuan lepasnya sendu mematung bersama rasa bingung.
“Ebira…, “ Lelaki itu menarik napas sejenak, “Aku mengerti. Namun aku juga tidak menyangka akan jadi seperti ini. Maaf membuatmu melalui bulan-bulan yang berat. Jujur, aku tidak bermaksud membuatmu terluka. Apa yang kau pikirkan memang benar. Kami para laki-laki memang tak tahu diri. Dengan mudahnya melontarkan janji manis. Padahal tak mampu tuk ditepati. Sekali lagi, maaf yang membuat perpisahan dan penantianmu menyebalkan.”
Sebuah gitar tua itu ada pada genggamannya. Perlahan aku mencoba untuk melayangkan pandangku ke segala sisi tubuhnya. Ia sudah lebih tinggi dan berisi. Poni panjang dulu sudah hilang. Kini wajahnya terlihat semua. Dengan sunggingan senyum yang tak berubah. Suasana pun tak berubah. Walau kini bukan sebagai orang yang menyayangiku lagi. Tuhan mengabulkan doaku begitu cepat.
“Ebira..,” Sekali lagi ia memanggilku.
Di sela air mata yang terus tumpah ruah, aku berusaha untung mengusapnya berulangkali sebelum menenangkan diri dan menjawab sapaannya.
“Ebira…, “ Panggilnya lagi.
“Iya, Bernas,” Jawabku singkat.
Seuntai senyum simpul melengkung dari bibir tipisnya. Seolah menemukan kembali suasana kala itu. Mungkin.
“Sudah lama aku tak mendengarmu menyebut namaku,” Ujarnya mencari arah mataku memandang yang sedari tadi membuang wajah.
“Apa artinya perkataanmu itu jika hari ini tidak akan sama dengan waktu itu.”
“Apa kamu menunggu kedatanganku untuk pernyataan cinta untuk yang kedua kalinya?” Tanyanya.
Sial. Air mataku tak jua berhenti mengalir. Kerah bajuku sudah basah sempurna. Siang hari pembawa luka mempertemukanku dengannya lagi. Senang. Sungguh. Namun seketika sakit meradang sebab mengingat lelaki di hadapanku ini bukan lagi milikku. Sudah sangat jelas ekspresinya tidak menunjukkan ingin untuk mengulang semuanya bersamaku.
“Ebira. Jangan menangis. Wajah-wajah orang di sekeliling kita menatapku seperti orang jahat,” Tutur Bernas sambil melihat sekeliling. “Ngomong-ngomong, kamu nggak capek berdiri? Yuk duduk. Kasihan bangkunya dibiarin kosong dar tadi.”
Pohon berdaun lebat tempat bangku bangku panjang berpijak tempat kami duduk, membuat teduh di antara terik. Juga anak-anak kecil banyak bermain layang-layang, menghasilkan pemandangan warna-warni di langit. Aku dan Bernas diam sejenak karena menikmati pemandangan itu.
“Dari mana saja kamu?” Tanyaku membuka obrolan kedua, tanpa menatapnya.
“Aku sudah seperti hantu ya. tiba-tiba menghilang dan datang tiba-tiba tanpa derap langkah. Aku hanya pergi ke luar kota untuk melanjutkan pendidikan. Itu saja,” Tuturnya. Sebuah ponsel ia keluarkan dari saku kemejanya, “Maaf sudah mengakhiri hubungan kita tahun lalu. Dan maaf, jika ternyata kamu tak kunjung dapat melupakanku. Eh, aku telalu percaya diri, ya?”
Teriakan anak-anak yang melengking seolah menjadi suara latar di tengah obrolan kami. Hati kecilku tak henti-hentinya berbisik untuk menyatakan rindu. Pun tanganku tak henti-hentinya mengadu untuk menggenggam jemari lentik di sebelahku ini.
“Dipikir-pikir, kamu memang penjahat sih. Namun tak sepenuhnya begitu. Karena kamu kembali ketika aku merasakan hancur terparah selama perjalan berbulan-bulan ini. Terima kasih.”
“Terima kasih untuk apa? padahal aku datang tidak untuk mengulang semuanya bersamamu lagi.”
Pedih. Gemerlap rinduku yang berangsur terang padam seketika. Tidak. Aku tidak akan menangis lagi. Memalukan. Sedari awal memang hanya aku yang berharap. Kepalaku tertunduk oleh rasa malu, sakit dan sendu.
“A..ku.. hanya berterima kasih untuk kehadiranmu saja. sudah ya, aku mau pulang dulu. Melihatmu sebentar saja sudah cukup untukku. Cukup untuk membenam rinduku yang selama ini kupendam sendiri. Walaupun pada akhirnya tetap terciprat luka juga. Tapi tenang saja. Aku tak menyesal. Aku tak menganggap penantianku sia-sia. Karena kamu ada. Kamu ada di hadapanku sekarang. Syukurlah aku bisa melihatmu kembali dalam keadaan sehat. Bagaimana di luar sana? Pasti menyenangkan, ya?! punya banyak teman baru, tetangga baru dan… mungkin satu pengisi hati yang baru. Sekali lagi, Bernas. Aku ingin menyebut namamu untuk penutup pamitku sebelum beranjak. Terima kasih, Bernas.”
Mata bekas sembab. Tak lagi mengalirkan bulir air mata. Sudah cukup. Pamitku tak membuahkan tangis lagi.
“Ebira. Aku memang datang tidak untuk kembali bersamamu. Namun tak bisa dipungkiri, aku juga merindukanmu. Tolong jangan mengatakan pamit. Sebab aku masih ingin menjadi bagian dari seseorang yang bercakap dan tertawa denganmu. Hari ini, esok dan seterusnya. Tetaplah menjadi teman cerita dan pendengar setia dari lagu-lagu yang kusenandungkan.”
Aku mengepalkan tangan. Begitu menyakitkan, “Tidak. aku tidak akan mampu. Kuulangi, sekali lagi aku pamit dengan menyebut namamu paling akhir. Selamat tinggal, Bernas.”
Sepeda kutinggalkan begitu saja. aku berlari sekencang mungkin agar segera menjauh dari tempat Bernas berpijak. Bagaimana mungkin aku melakukan hal semacam itu. kecuali hanya menambah beban hati setiap saat. Jalan terbaik kini memang seharusnya memusnahkan pandangku darinya sejauh-jauhnya.
Kepakan sayap telah lalu. Hilang dalam sekejap hingga terlepas sehelai bulunya. Bersama raga yang menekuk dalam kesendirian. Berkutik bersama bayang-bayang yang setia mengikuti. Terik surya mengeringkan isak pilu. Kabut tebal menyamarkan sembab mata. Alam seolah menghiburku yang merintih akan harap kembalinya sepasang sayap yang telah lalu.