Mendung dalam dekapan lelap di pagi hari. Sebagai saksi di balik mata sembab semalam hingga ujung malam. Berkerut amarah yang sempat disetrika maaf. Selimut tebal hanya menghangatkan raga, tidak dengan sendu.
Tetesan rinai mulai menyapa kiprah atap. Yang terjun nyaring menggedor gendang telinga. Ia yang tak tahu menahu perihal kantuk. Namun, banyak insan yang menjadikan nyanyian hujan sebagai instrumen pengantar tidur. Riuh, segala konflik di ruang sebelah tak dipedulikan lagi. Sungguh, ini adalah pagi pembawa mimpi yang terhambat di malam hari. Andai hujan selamanya tak pernah usai.
Setidaknya bisa untuk pura-pura terlelap. Menghilangkan sadar. Menghilangkan kenyataan.
"Riza, kamu masih tidur, Nak?" Suara wanita paruh baya yang serak memanggilku di antara suara guyuran hujan.
Aku diam. Pura-pura sedang menyapa mentari dalam mimpi.
Sesaat aku membuka mata untuk memastikan apakah ibu masih di sini atau tidak. Untuk memastikan lelap palsuku tidak ketahuan juga. Namun gagal, ibu sudah menatap sayu tepat di dekat wajahku.
"Kenapa kamu tidak menyahut saat Ibu panggil?" Tanya ibu melihat wajahku yang agak kaget.
Aku segera duduk dan melihat sekitar yang buram. Dengan segera ibu menyodorkan kacamata dengan tangan kanannya.
"Ini, kacamatamu."
"Maaf, Ibu. Aku tidak bermaksud pura-pura tidak mendengarmu."
"Sudah. Sekarang kamu sarapan, ya. Tidak baik tidur di pagi hari."
"Tapi, Bu."
"Tapi apa?"
Aku menggeleng.
"Cepatlah! Ibu harus segera ke rumah nenekmu."
Aku tertunduk, menahan air mata.
"Apa yang terjadi denganmu, Riza? Kamu habis mimpi buruk?"
Aku masih terdiam. Sembari mengumpulkan mental untuk melampiaskan segala yang akun pendam selama ini.
"Ya sudah. Ibu tidak akan memaksa kalau kamu tidak mau sarapan. Anak zaman sekarang memang aneh. Tak perlu menangis seperti itu hanya karena tidak ingin sarapan."
Ibu hendak berbalik badan dan pergi dari kamarku.
"Tunggu, Ibu!" Pintaku dengan gemetar.
"Kenapa? Berubah pikiran?" Tanya ibu yang kembali berbalik badan.
"Ibu tidak harus seperti ini terus."
"Maksudmu?"
"Sudah cukup, Ibu. Aku hanya ingin Ibu bahagia!"
"Apa kau sedang mengigau?" Tukas ibu sambil memegang keningku.
"TIDAK, IBU!" Gertakku menyibak tangan ibu yang memegang keningku.
"Kenapa kamu begitu kasar?"
"Sudah cukup, Ibu! Jangan sembunyikan luka itu lagi. Sudah terlalu menumpuk hingga senyuman tulusmu pun tak mampu menutupnya. Hidup ini singkat jika dinikmati dengan kesenangan palsu!"
Seketika ibu membuang wajah. Menahan air mata. Lalu menarik napas panjang. Kemudian kembali menghadap ke arahku. Air matanya tidak tumpah.
Hujan di luar semakin deras terdengar. Bising. Sebising gejolak luka yang terdengar pada hati ibu. Luka ibu yang menumpuk seolah berkabung menyapa batinku.
"Jangan lanjutkan perkataanmu, Nak. Ibu tahu apa yang kamu maksud. Jadi tak perlu jelaskan isi pikiranmu itu."
"Aku sudah tak ingin diam lagi perkara ini, Bu. Tolong izinkan aku membahagiakanmu!"
"Bahagiamu adalah bahagiaku juga, Riza."
"Sebaliknya pun begitu, Bu. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Apa ibu pikir serba kecukupan materi seperti ini dari seorang pria yang tidak bisa menghargaimu membuatku bahagia? Tidak, Ibu."
"Jaga mulutmu! Dia ayahmu."
"Ayah sudah lama pergi ke surga! Sedangkan pria yang setiap hari menjadikanmu samsak amarahnya tidak layak menjadi ayah! Apalagi suami Ibu."
"Riza, tanpa pria yang kamu anggap brengsek itu kita tidak akan mendapat tempat bernaung semewah ini, makanan seenak itu, bahkan sekolah se-elit tempatmu sekarang. Ibu tidak sanggup menanggung biaya hidupmu dan adik-adikmu sendirian."
"Aku bisa kerja! Entah jadi buruh, pembantu atau pemulung sekali pun aku rela! Tak peduli semewah apa pun kehidupan di bawah atap rumah besar ini. Karena di dalamnya penuh dengan pembawa luka baru untuk Ibu. Lebih baik aku hidup miskin namun melihat senyuman tanpa luka lagi. Tanpa menyembunyikan rasa sakit lagi!"
Linangan air mata ibu tak tertahan lagi. Mengalir deras seperti guyuran hujan yang terlihat dari jendela.
"Sabar ya, Nak. Kita hadapi bersama. Semua badai ini akan reda. Seperti hujan di luar. Nanti juga akan reda. Terima kasih karena memikirkan kebahagiaan Ibu. Tapi tunggu sebentar lagi. Tunggu Ibu menyerah. Kamu benar, rasa sakit ini sudah sampai puncak. Memang sakit, sangat sakit. Sebentar saja. Jika memang tak ada cercah cahaya, maka kita akan menyerah bersama dan memulai semangat baru tanpa sosok yang menyakiti Ibu lagi," ujar ibu dilanjutkan dengan memeluk erat diriku.
Hangat. Tak ada yang lebih nyaman dibanding pelukan ibu. Bahkan selimut tebal dan mewah yang selalu kupakai tidur.
"Ajak aku Ibu pada setiap lukamu. Aku sayang Ibu."
setelah melepas peluk, ibu mengangguk seraya tersenyum amat manis. Sebentar lagi kami akan menyerah bersama. Lalu memulai semangat baru tanpa sosok pembawa luka itu lagi.