Kita menjadi ranting rapuh. Saling menguatkan bersama cabang-cabang pohon apel tua. Akar yang tertanam dalam tanah tandus. Meriuhkan harap akan setetes air. Kini awan menari-nari panjang oleh guratan putih. Sedang langit cemas menanti kunjungan awan hitam yang tak lekas datang. Hamparan rumput hanya menyisakan coklat, bak menjadi bunglon peniru tanah. Gelora hiruk-pikuk mengutuk terik, mencoba bertahan dengan cinta gersang.
"Maaf, Cerise. Ini akan lama. Kamu bersedia menantikan kedatanganku untuk yang keempat kalinya?"
Genangan air bersama gemericik gerimis bekas hujan tadi subuh, seolah tak tertuai pada Cerise, sebab hatinya mengadu akan suasana gersang.
"Aku selalu menanti kedatanganmu yang ke empat, lima, enam dan seterusnya," Ucap Cerise manis.
Poni panjang menutup sebelah mata sebab belaian angin. Aegean memperbaiki rambut Cerise dengan lembut. Membuat mata coklat keemasan Cerise nampak indah. Aegean tak bisa membendung senyum karena pesona Cerise.
"Jaga dirimu baik-baik. Kita akan berjumpa tahun berikutnya."
"Aegean!" Cegah Cerise mengurungkan langkah Aegean.
"Ada apa?"
Gemulai angin tenang. Menggelitik Cerise tuk tersenyum malu-malu, "Aku ingin menyampaikan sedikit rangkaian kata untukmu. Tidak apa-apa kan mendengarku sebentar?" Pinta Cerise malu-malu.
Bekas penghujan menyelimuti tanah basa, terpijak kaki lelaki yang tengah berbunga-bunga, " Tentu saja aku ingin mendengarnya," Jawab Aegean antusias.
Cerise menarik napas, "Rindu ini tersusun dari rintik kenang, tetesan luka, percikan kasih, guyuran ingin tuk bersua dan aliran ketidakrelaan. Lalu terjaga erat oleh genangan setia nan membentuk bendungan sekokoh cinta yang terus bertahan. Hingga ketemukan jernihnya air ingatmu sebagai tempat berendam usai berpeluh dari gersangnya penantian."
Buliran air mata mengalir di tengah-tengah pipi Aegean. Haru yang tak bisa dibendungnya. Kata-kata yang indah dari palung hati. Ia tak bisa menyangkal bahwa Cerise memang sangat tulus.
"Andai aku bisa segera membawamu ke jenjang pernikahan. Sekarang pun akan kulakukan wahai Cerise-ku yang paling cantik," Aegean mengusap rambut panjang Cerise, "Aku ingin membalas rangkaian kata-kata indah itu, namun ungkapan rindu ini terlalu singkat untuk penantian kita yang terlanjur panjang."
Kini Cerise ikut berkaca-kaca, berusaha menahan air mata, "Bahkan secuil ucapanmu sangatlah indah. Selamat jalan, terima kasih untuk waktu singkat yang berharga ini."
Aegean melambai. Lalu melanjutkan langkah. Cerise menatap raga yang perlahan menjauh itu. Dengan perasaan sedih, linglung, gelisah, merana serta rindu bercampur menjadi satu. Kiprah sanubarinya akan menghadapi tawanan kegersangan untuk yang keempat kalinya.
Gerimis tak lagi menitik. Fajar mulai terjamah dari ufuk timur, merambatkan cahaya keemasan. Menghasilkan aura estetik dari wajah Cerise. Kulit kuning langsatnya beradu bersama mentari. Ia memang tidak pernah hengkang akan sebuah pesona.
Cerise belum beranjak dari taman dekat stasiun. Seperti biasa, ia akan menikmati bekas hadir Aegean yang masih hangat. Semilir rindu yang sangat sulit untuk ditepis, sebab sajak perpisahan sementara kembali menyergap. Sebuah jarak yang tercipta oleh lelaki yang mengejar mimpi di negeri seberang untuk pendidikan.
Sebuah buku catatan terpangku. Pena biru sedang digoreskan Cerise, merangkai diksi-diksi penenang rasa sendiri. Cara itulah yang menjadi favoritnya dalam meluapkan isi hati. Kertas dan pena. Kicau burung, juga suara bising kereta menjadi sarana inspirasi.
"Rupanya kamu masih di sini. Dia sudah pergi lebih dari satu jam yang lalu, bukan?"
Cerise terkejut. Inspirasinya seketika pecah, sebab suara yang melerai lamunannya.
"Siapa? Aegean? Iya, sepertinya begitu. Aku tidak memerhatikan jam, ada apa kamu tiba-tiba di sini Sora?" Jawab Cerise agak bingung.
Sora menepuk keningnya, "Cerise.." Suara Sora terputus.
"Kenapa?"
"Kuharap penantian keempatmu ini..." Sora menarik napas, "Aegean akan berangkat ke bandara nanti sore."
"Hah?? Dia sudah naik kereta dari tadi. Seharusnya sebelum siang dia sudah berangkat," Tukas Cerise menegaskan.
"Aku tahu ini bukan waktu yang singkat. Ini penantian yang berat. Kau sudah cukup bersabar selama ini walau sering menangis di bahuku sebab rasa rindu. Tapi kali ini kau harus lebih menguatkan dirimu," Tutur Sora. Raut wajah yang hanya menampakkan wilayah mata nampak serius.
"Sudah, katakan saja apa yang ingin kau katakan, Sora. Jangan buatku penasaran," Cerise mulai jengkel.
"Aegean tidak langsung menuju stasiun gamboge. Tapi dia turun di stasiun wisteria."
"Itu stasiun dekat rumahmu?"
Sora mengangguk, "Aku tidak akan bertele-tele lagi. Satu pintaku, kau harus melepaskan Aegean mulai sekarang! Bukan dalam artian menunggunya kembali. Tapi kalian harus selesaikan hubungan. Selama ini kamu dibohongi tutur manis lelaki itu. Aku menjadi saksi betapa hebatnya acting-nya. Di mana membuatmu luluh dan percaya akan setiap yang ia katakan. Dengar! Selama ini Aegean punya dua pasangan termasuk kau!" Tegas Sora menyampaikan informasi yang ia ketahui.
Seketika Cerise berkaca-kaca. Ia terdiam sejenak dalam pikirannya. Bahkan buku catatan tempat sajak-sajak tentang Aegean terjatuh, "Bagai.. mana kau tahu? Kamu tidak membohongiku kan?"
"Aku tidak bohong, yang bohong itu Aegean. Bukan hanya kau yang menanti kedatangannya untuk yang keempat kali. Tapi ada lagi seorang perempuan lain, kebetulan adalah sepupuku sendiri."
Dengan tangan gemetar ia mencoba berpikir jernih. Ia menatap langit yang kini mulai nampak kebiruannya. Lalu menggigit bibir, dan tertunduk lesuh. Setelah itu ia menangis, "Lantas, kenapa kamu baru memberitahuku sekarang. Setelah semua kalimat-kalimatnya menghiasi habis kiprah kepercayaanku?"
"Sepupuku, dia tinggal jauh dari sini. Dia baru pindah ke kota ini. Jadi, selama ini Aegean bertemu dengannya di kota sebelumnya. Sama sepertimu, ia juga sangat mempercayai Aegean. Aku tentu sangat terkejut setelah menemaninya bertemu dengan cowoknya. Ya, ternyata adalah Aegean," Sora memungut buku Cerise. Lalu menepuk-nepuk debu di sana, "Dia berusaha menyamarkan wajah kagetnya setelah melihat orang yang menemani pacar keduanya bertemu adalah aku. Jadi, jika dia tidak kembali maka dia tidak tega untuk melihatmu memasang wajah kecewa yang mendalam, namun jika dia.., "
"SUDAH!! CUKUP!"
Cerise dan Sora menoleh. Aegean!! Berlari menuju mereka. Tempat yang sama seperti tadi pagi. Tempat yang sama ketika suasana masih berbalut cinta dan percaya.
Aegean ngos-ngosan, berusaha menenangkan lelahnya sebelum melanjutkan ucapan, "Cerise.."
"Kamu yang cukup, Aegean! Jangan katakan apa-apa lagi. Lanjutkan saja perjalananmu, lanjutkan juga apa saja yang kau suka. Asal jangan libatkan aku," Ucap Cerise di sela tangisnya.
Ponsel Sora berdering, "Baiklah, aku ada panggilan mendesak. Karena kamu sudah di sini, jadi selesaikan saja ya, tanggung jawabmu," Sora berlalu sembari melambai dan tidak lupa menatap Aegean dengan amarah.
"Selama ini aku hanya menunggu dan menunggu. Salahku memang terlalu memercayaimu. Kamu menangis setelah mendengar rangkaian kata dariku, bukan karena terharu. Namun karena kasihan betapa tulusnya aku membuatnya sedangkan kau sebaliknya. Permisi, aku juga mau pulang."
"Ce.. " Suara Aegean terhenti. Ia sudah tidak tahu harus berkata apa. Karena memang dari tindakan sudah tidak bisa dijelaskan apapun. Akhirnya ia hanya mematung membiarkan Cerise beranjak.
Ternyata sedari awal ini memang cinta gersang. Kukira gersang oleh penantian panjang dan terus menerus. Namun aku salah. Ini adalah sebuah kegersangan dari serdadu dusta.
Seperti pepohonan lebat berdaun hijau segar, perlahan beralih warna kuning kecoklatan. Mengering. Rapuh. Berguguran perlahan. Bergilir. Menanti masa-masa terakhir bergantung pada ranting. Hingga musnah lah dedaunan itu.
Bak raga yang tengah terbang. Menyusuri langit. Bertemankan pohon-pohon tinggi, Kicauan burung juga tarian awan. Tiba-tiba kau telah terkubur dalam tanah. Gelap sekali. Pengap sekali. Hanya bertemankan fosil-fosil purba dan cacing-cacing menjijikkan.
Pada setiap bait hal menyakitkan itu. Pada semua lontaran dusta itu. Aku lemah. Aku gemetar. Aku linglung. Aku gelisah. Aku lelah jatuh cinta!