Namaku Rainata Helena Margaretha, putri pasangan pengusaha besar bernama Verrel Alicious Brandon dan Brigita Magdalena Margaretha, anak kedua dari dua bersaudara dan memiliki kakak laki-laki berjarak usia satu tahun di atasku. Dia selalu menjaga juga melindungiku sejak masih kecil, apapun yang aku minta selalu dipenuhi tanpa berniat menolaknya bahkan limpahan kasih sayang tulus aku tak pernah kekurangan darinya.
Namun semua kebahagian itu berubah ketika papa dan mama membawa anak perempuan dengan jarak usia dibawah kami masuk dalam keluarga, dia yang semula kupikir sangat baik ternyata aku salah menduga. Perempuan yang papa dan mama pungut dari kolong jembatan nyatanya bermuka dua, aku semakin tersisih ketika dia mulai merebut kasih sayang kedua orang tuaku, dia membuat aku seolah olah orang jahat yang ingin membuat dirinya celaka tetapi kenyataannya anak itu menginginkan aku diusir sehingga dia bisa berkuasa di rumah mewah milik papa dan mama.
Ada saja ulahnya yang membuatku dimaki dan diamuk mereka atas kesalahan yang tidak pernah ku lakukan, yang membuat hatiku semakin sakit kakak laki-laki yang selama ini menjadi pelindungku hanya diam memperhatikan apa yang terjadi tanpa mau ikut campur seakan semua baik baik saja. Contohnya sekarang aku dituduh olehnya menjadi dalang dibalik kecelakaan yang dialami oleh kakak laki-laki ku sendiri.
“Aku yakin kakak pasti bayar orang buat tabrak lari abang kan?” katanya menuduhku
“Yang bener aja, yakali gue tega sama kakak gue sendiri” tentu saja aku tak terima dengan tuduhannya itu “orang yang selalu lindungin gue mana mungkin gue celakai” kataku membela diri, karena memang aku tidak melakukannya
“Siapa tahu aja kan” ucap papa yang kini ikut berbicara “mungkin kamu ga terima karena abang kamu lebih bela Cella daripada kamu?” tentu saja ucapan papa itu membuat adik angkatku tersenyum miring
“Papa kan lebih kenal Rain kaya apa, emang pernah selama ini aku merasa cemburu sama kebahagiaan maupun hidup orang lain?” aku menatap papa yang spontan langsung terdiam untuk memikirkan ucapanku “kalaupun cuma karena itu kenapa baru sekarang, kan aku bisa lakuin itu sejak dia ada di rumah kita?” melirik perempuan itu sekilas
“Kamu memang benar, aku sendiri yang mengajarkan mu agar tidak mudah cemburu pada orang lain” bergumam pelan bahkan sangat pelan namun masih bisa ku dengar dengan jelas karena aku duduk di antara papa dan mama
“Atau mungkin kamu sengaja celakai abang kamu karena mau merebut apa yang menjadi hak milik abang kamu? kamu mau perusahaan yang papa amanahkan sama dia kan?” ucap mama tak mau kalah
Aku yang mendengar ucapan mama hanya terkekeh kecil “mama lupa?” menoleh mama “kan aku yang nolak kelola perusahaan itu karena udah nyaman sama kerjaanku jadi penulis?” aku kembali menatap lurus ke depan dengan kedua tangan dilipat di depan dada “kalau itu tujuannya, kenapa harus nolak waktu itu dan lebih milih nyelakain orang yang Rain sayang cuma demi sesuatu yang bukan milik Rainata?” kataku tanpa menatap beliau
Ucapanku itu membuat mana terdiam, aku yakin dalam diamnya beliau akan setuju dengan pernyataanku bahkan mama sangat tahu seberapa dekat kami dulu sehingga mustahil aku akan melakukan hal seperti itu “daripada kalian nuduh Raina tanpa bukti kaya sekarang, kan lebih baik papa minta anak buah papa telusuri lokasi kejadian dan cari tahu siapa pelakunya” sambungku setelah kami terdiam cukup lama
Sekarang kami berempat berada di ruang tunggu Unit Gawat Darurat untuk menunggu dokter yang sedang sibuk di dalam sana, percayalah dibalik sifat tenang ku ini tersimpan rasa khawatir begitu besar “gue janji akan cari tahu pelakunya bang, Raina mohon bertahan ya?” batinku lalu memejamkan mata dengan kepala bersandar tembok belakangku duduk
Aku kembali membuka mata ketika merasakan papa beranjak dari kursi yang beliau duduki, sepertinya akan menelpon seseorang hingga membuat ku tersenyum puas ketika mendengar papa meminta anak buahnya mencari tau mengenai penyebab kecelakaan itu terjadi bahkan karena hal itu aku bisa melihat dari ekor mataku Cella cemas.
Menyadari reaksinya yang seperti itu boleh bukan jika aku mencurigainya terlibat dengan kecelakaan yang kakak ku alami? lihat saja jika sampai semua kecurigaanku memang benar! Selama ini aku memang memilih diam atas apa yang dia lakukan terhadapku tetapi bukan berarti aku akan terus terdiam seperti itu, tunggu saja apa yang bisa kulakukan karena sudah berani Membangunkan singa tidur!
Aku beranjak dari kursi ruang tunggu ketika waktu telah menunjukkan pukul 13.00 WIB “mau kemana Rai?” mama menatapku
“Apa jangan jangan kakak mau kabur?” Cella menatap ke arahku, sepertinya dia ingin membuat papa dan mama curiga lagi kepadaku “kakak takut kan ketahuan?” sinisnya
“Lo kenapa sih semangat banget nuduh gue jadi pelakunya?” tanyaku heran “emang lo lihat gue nabrak bang Lino dan emang ada buktinya gue nyuruh orang buat lakuin itu sama abang gue sendiri?” menaikkan satu alis sambil menatap dirinya duduk
Tentu saja pertanyaan itu membuat dia seketika terdiam, aku menahan tawa ketika melihat ekspresi kesalnya “gue kan cuma nanya” kesalnya
“Nanya kok menjurus nuduh gitu” ketusku “kalau mau tahu gue mau kemana, gue mau pulang” menatap Cella malas “gue harus kerja, supaya dapet uang biar gak bergantung sama orang lain dan sukur sukur bisa keluar dari rumah kalian biar hidup gue tenang” sindir ku sambil melangkah meninggalkan tiga insan dalam diam mereka
Jika mereka pikir aku akan terus diam seperti yang mereka pikirkan maka semua salah, lihat saja apa yang akan ku lakukan pada kalian bertiga setelah ini “papa percaya gitu aja sama kak Raina?” tanya Cella, aku yang masih belum terlalu jauh bisa mendengar ucapannya
“Iya, apa papa gak mau suruh orang buat ikutin dia?” usul mama yang ikut berbicara “gimana kalau kecurigaan Cella bener?” sepertinya mama benar benar sudah terhasut oleh si muka dua itu
Aku yang mendengar ucapan mereka hanya terkekeh sambil menggeleng pelan, ternyata mereka benar benar tidak percaya dengan apa yang ku katakan “silahkan saja lakukan jika itu membuat kalian puas” menyeringai “karena kalian tak akan mendapatkan apapun yang bisa menjadikanku sebagai tersangka, karena memang bukan aku tersangkanya” menghela nafas
sesampainya di parkiran aku segera menuju mobil dan mengeluarkannya dari barisan parkir lalu melaju pergi meninggalkan rumah sakit, tujuan ku pulang sebenarnya bukan hanya untuk melanjutkan kegiatan menulis ku saja tetapi juga karena aku takut ketika dokter keluar mendapatkan informasi yang akan membuatku semakin takut kehilangan orang yang sangat ku sayang “maaf bang Raina gak bisa ada disampingmu, Raina cuma takut akan membuat semuanya lebih buruk” menghela nafas berat