"Halo, Ma, iya ini aku udah di kosan baruku," ujar seorang gadis sambil memasang sepatunya. Ia terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Ya, ini murah banget, Ma. Cuma dua ratus lima puluh ribu perbulan. Yang lainnya kebanyakan di atas tiga ratus lima puluh," lanjutnya. Kemudian ia memasang headset di telinganya.
Gadis itu pun berjalan tanpa memperhatikan sekelilingnya dan tanpa sengaja dia menabrak seorang pria berperawakan besar dengan tato yang hampir memenuhi tubuhnya. Dari tubuh pria itu juga tercium bau alkohol.
"Kalau jalan pake mata!" bentaknya sambil mencoba meraih bokong gadis itu. Namun, berhasil ditepis oleh gadis itu.
"Maaf, Pak!" kata gadis itu, lalu langsung pergi.
"Maaf Ma. Tadi, aku gak sengaja nabrak orang. Terus kita nyampek mana? Oh, iya ini termasuk murah, Ma. Cuma ya emang agak kecil dan tempatnya campur cewek dan cowok. Tapi, tenang aja, Ma, di sini ada petugasnya dan menurut temanku selama dia ngekos dua tahun di sini gak ada apa-apa alias aman banget," kata gadis itu.
"Ya sudah, Ma. Aku matikan dulu, ya. Aku mau kerja, aku udah nemu angkot."
Gadis itu pun menaiki sebuah angkot hingga ke tempat kerjanya. Dia bekerja paruh waktu di sebuah supermarket yang menjual segala produk karena siangnya dia harus kuliah.
***
Seseorang yang lusuh dengan perawakan kurus dan wajah yang ditutupi masker hitam menghampiri si gadis itu dengan membawa barang belanjaanya.
"Ini aja, Mas? Ng, Mbak? Ng, semuanya empat puluh tiga sembilan ratus," kata gadis itu sambil memasukkan sebuah pisau ke kresek warna putih.
"Pulsanya gak mau nambah juga?" tanya gadis itu.
Si pembeli menggeleng.
"Ini, ada promo pasta gigi, beli dua cuma sepuluh ribu," ujar gadis itu dengan ramah.
Dia kembali menggeleng dan memberikan uang lima puluh ribu, kemudian dia pergi.
"Loh, kembaliannya!" panggil gadis itu. Namun, orang itu tetap pergi.
"Hiii, ngeri," celetuknya.
"Heh, kamu kenapa Rin?" Tiba-tiba salah seorang temannya datang sambil membawa dua buah gelas berisi kopi hangat.
"Enggak ada, kok Bryan," kata gadis itu.
"Nih, ada kopi." Laki-laki itu pun memberikan segelas kopi pada gadis itu.
"Terima kasih, oh iya Bryan, kamu pulang sama siapa nanti?" tanya gadis itu.
"Sendiri."
"Aku boleh bareng, gak?"
"Boleh. Omong-omong gak ada yang marah nih?" tanya Bryan.
"Enggak ada, kok."
"Lah, pacarmu kemana? Kan biasanya dia yang jemput kamu?" tanya teman gadis itu.
"Aku baru putus."
"Lah, kenapa?"
"Ya, biasalah, masalah sepele, cuma masalah aku pindah kosan sama kamu. Dia ngira aku bakal ada apa-apa sama kamu."
"Ya, ampun. Pacarmu itu over banget ya. Hahaha." Bryan pun tertawa.
"Sa ae lu. Udah ah, Bryan. Aku gak mau bahas dia lagi," ujar gadis itu malu-malu.
***
"Rin, yuk pulang, udah jam satu."
"Kita gak bilang ke Desi dan Ahmad dulu?"
"Udah, kok."
Mereka pun pulang pagi itu. Perasaan kantuk sudah mulai tak tertahankan. Mereka tidak sabar ingin cepat-cepat pulang dan beristirahat di atas kasur.
Sesampainya di kosan, mereka pun kembali ke kamarnya masing-masing.
"Sayang, aku pulang," ujar Bryan. Namun, istrinya tak kunjung menjawab dan ia mendapati pintu kamar kosnya tak terkunci. Saat laki-laki itu masuk, dia tak menemukan istrinya dan hanya ada dua anaknya yang tertidur lelap.
Laki-laki itu pun melihat teh yang biasa dihidangkan istrinya setiap kali dia baru pulang bekerja di dekat TV. Dia pun segera meminumnya. Kemudian, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
***
Tik!
Si gadis itu menghidupkan kamar kosnya. Ia pun bergegas menuju ke kasurnya. Tiba-tiba seseorang dari belakang membekap mulutnya dan menusukkan sebilah pisau di punggungnya.
"Halo, Arin!" Suara perempuan menggema di kamarnya. "Sakit ya? Sama, Rin. Tapi, ini tidak sesakit perasaanku saat aku mengetahui suamiku menggodamu, bahkan kamu juga ikut-ikutan menggodanya." Lalu dia menarik pisaunya dari punggung gadis itu dan kembali menusukkannya diperutnya.
Gadis itu menggeliat dan memberontak.
"Aku tahu hubunganmu dengan suamiku. Kalian dulu pernah pacaran, 'kan? Dan kalian bertemu lagi di supermarket tempat suamiku bekerja. Kemudian, benih-benih cinta tumbuh lagi. Bahkan, kamu juga sampai kerja paruh waktu di tempat yang sama seperti suamiku, padahal kan, masih banyak supermarket yang bisa kamu jadikan tempat untuk bekerja, kenapa harus supermarket suamiku kerja, hah? Kamu juga putus dari pacarmu gara-gara dia tahu kalau kamu selingkuh dengan suamiku, 'kan?"
Darah gadis itu berceceran di atas lantai. Ia pun mulai sekarat dengan dua tusukan di tubuhnya.
"Sakit hatiku Rin! Kamu gak tahu rasanya mengurus dua orang anak mulai pagi dan kembali pagi lagi. Ditambah, suamiku juga berselingkuh denganmu."
"Maafkan kami." Sebuah kalimat keluar dari mulut gadis itu menandakan dia mengakui kalau dia dan suami perempuan itu bermain api di belakangnya.
Mendengar kalimat itu keluar dari mulut gadis itu, Ia menarik pisaunya dan menggorok leher gadis dengan pisau yang baru dia beli di supermarket tempat gadis itu bekerja.
Gadis itu pun menghembuskan napas terakhirnya di tangan perempuan itu.
"Aku benci dengan orang yang tukang selingkuh!" gerutu perempuan itu. Kemudian dia menuju ke kamarnya dan mendapati suaminya tergeletak tak bernyawa di atas kasur dengan busa yang keluar dari mulutnya.
"Halo, Mas Bryan. Sepertinya kamu sudah minum tehmu yang kucampur dengan sianida, ya? Aku bisa tenang sekarang. Tidak akan ada lagi orang yang suka selingkuh sepertimu, Mas."
Istri laki-laki itu kemudian pergi ke pos penjaga. "Pak, bisa bantu, saya?" tanya dia pada kedua penjaga kos.
"Ada apa, Tut?" tanya salah seorang dari mereka.
"Tolong bereskan mayat suami saya dan selingkuhannya. Ini, ada uang buat beli rokok dan makan," ucap perempuan itu sambil memberikan sejumlah uang.
"Wah, ini lebih dari cukup Tut. Darimana kamu dapet ini? Suamimu 'kan kerjanya cuma di supermarket," tanya salah seorang dari mereka.
"Dapat dari laki-laki gendut yang punya tato, yang kemarin malam saya bunuh. Oh, iya, sekalian laki-laki b*bi mesum itu juga dibereskan, Pak."
Dua penjaga itu pun mengitung uang yang diberikan perempuan itu sejumlah delapan juta tujuh ratus dua puluh ribu.
"Ok, beres!" kata mereka serempak.
SELESAI
Cover:Google