Lagi-lagi mendung menemani sembabku. Sebelum udara berhiaskan rinai. Awan yang tak kunjung kembali pada guratan putih. Kilat memotret ratapku yang penuh akan nista, noda dan dosa. Jiwa yang terjebak dalam jeruji kehinaan. Gemuruh bising pembawa pengkhianatan. Kerap kali kedap suara gerimis menitikkan untaian sesal. Isi kepala dipenuhi debat tak kunjung usai perihal siapa yang harus disalahkan. Nihil, tak mungkin ada bayang wajah yang terbersit untuk disalahkan kecuali wajahku sendiri. Tuhan, dapatkah Kau memanggilku sekarang?
Bunda, bagaimana aku mengurangi setengah usiaku? Usia di mana yang kutemukan hanya dekapan lembutmu. Segala resah dan gemerlap duniawi tidak terjamah. Dulu kau selalu memuji kulit putihku. Setiap debu yang menempel dengan sigap kau kibaskan. Bibir merah pemberi senyum manis, sebagai prakarsa bahagiamu. Sekali lagi air mataku mengalir. Teringat akan usapan tangan lentik melerai senduku. Segala pemandangan nostalgistik masa kecil. Sungguh, aku menantikan detak waktu yang dapat mengantarku kembali ke saat-saat itu.
Namun lihatlah diriku saat ini, Bunda. Putri semata wayang kebanggaanmu. Tubuh mungil dan suci yang telah susah payah kau jaga telah jatuh ke dalam kubangan dosa. Noda itu menempel sempurna tanpa ada celah tuk menyucikannya. Maaf bunda, masa remajaku tak bisa mempertahankan tubuh yang telah kau jaga sepenuh hati dulu.
Senja telah redup. Pemandangan jingga perlahan berganti gulita. Para petani bersiap-siap meninggalkan sawah. Suasana sudah tidak indah lagi, beralih menjadi menyeramkan. Lantas, bagaimana denganku? Haruskah aku pulang menyerahkan diri dan bersiap-siap mendengar caci-maki keluarga besarku? Atau aku akan tetap menyendiri di tengah persawahan sambil menanggung rasa takut akan kuasa sang malam?
Di tempat ini tidak ada sedikit pun cahaya. Membawa ingat akan sebab melupakan sebuah ponsel dalam kamarku. Suara bising dari tangan-tangan pengetuk pintu, ditambah suara melengking yang memintaku segera keluar. Seketika jantungku seolah berhenti, kejadian memalukan itu sudah sampai ke telinga mereka. Sembari membayangkan hal terburuk dari tanggapan mereka, kulayangkan pandangku ke arah jendela yang terbuka. Seolah mendapat kemampuan berlari kencang dari rasa takut, aku berlari dan melompat menerobos tirai sampai ke luar rumah. Teras rumahku sudah ramai oleh warga. Beberapa di antara mereka melihatku, dan di bingkai pintu ada bunda yang berdiri. Langkahku langsung melesat menghindari tapak-tapak yang bersiap mengejarku.
Terlalu lama merenung, tanpa sadar malam telah datang. Menyelimuti dengan kegelapan padaku yang duduk sendiri di tengah persawahan. Jantungku berdegup kencang. Tubuhku menggigil akan rasa dingin dan takut.
“BUNDA…… AKU TAKUT! SIAPA PUN, DAPATKAH AKU MENEMUKAN SESEORANG DI SINI? HEI! ADAKAH RUMAH YANG DAPAT AKU TEMUI DI DEKAT SINI?” Teriakku histeris diselingi tangis melampiaskan rasa takut di tengah kegelapan tanpa terlihat apa pun.
“KENAPA AWAN MENDUNG? SETIDAKNYA BIARKANLAH REMBULAN MENGATASI KEBUTAANKU. SUNGGUH, TUHAN. JIKA KAU TAHU BETAPA MENYERAMKANNYA SUASANA INI, TOLONG JANGAN JADIKAN TANGGAPAN KELUARGA BESARKU JAUH LEBIH MENYERAMKAN DARI INI!”
Aku terdiam sejenak karena batuk. Tenggorokanku sakit. Terlalu memaksakan diri untuk berteriak.
“Tuhan..,” Tangisku tak kunjung usai. “Ampuni aku. Aku sangat bodoh,” Aku kembali teringat wajah bunda yang terakhir kulihat di bingkai pintu. Tatapannya kosong kala itu.
Membuka atau menutup mata sama saja. sama-sama pekat akan kegelapan. Terdengar suara binatang di bawah kakiku, “AAAAAAA…. KUMOHON JANGAN DATANGKAN APA PUN YANG MENGGANGGU. Aku.. takut. Sudah cukup, aku bisa gila di sini.”
Selang beberapa menit. Aku memilih untuk memejamkan mata sambil merebahkan diri di rumah-rumahan sawah. Menahan dingin yang kian menukik. Ini sungguh menyiksaku. Namun ini memang kesalahanku. Sekali lagi Tuhan, dapatkah Kau memanggilku sekarang?
Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang berbulu di kakiku. Sontak membuatku berteriak karena mengira itu adalah seekor kucing. Ternyata tidak bergerak. Selimut?!
Silau langsung menghujam pandangku, “Ini, HP-mu ketinggalan.”
Sesaat mataku membulat kaget melihat seseorang yang datang dan menerangi dengan cahaya dari ponselku. Tak ada sunggingan senyum seperti biasanya. Nada ramahnya pun tidak terdengar. Tentu saja, ia juga terkena imbas kekecewaan sebabku juga. Tidak. aku tidak ingin melihatnya bersikap dingin seperti ini. Tolong, tidak bisakah kusaksikan gelak tawamu sekarang? Aku sangat membutuhkan itu.
“Diaz..,” Ucapku terputus. “Aku nggak akan bertanya mengapa kamu menemuiku. Cukup terjawab dari raut wajah kecewamu itu,” Ujarku lemas sembari menggunakan selimut yang dibawakan Diaz.
Kuarahkan cahaya senter ponsel ke tempat berpijak Diaz, samar-smar wajahnya menyimpan luka. Sedang aku sudah pasrah dirudung sesal.
“Kuingin menyapamu dengan riang, namun segala sendi tubuhku melarang. Aku diluput sakit yang tak bisa dijelaskan. Nindy, teman masa kecil yang kukagumi. Semakin mengenalmu membuatku semakin kagum. Hingga terbersit diri yang tidak punya apa-apa ini berharap untuk menjadikanmu teman hidup suatu saat,” Tutur Diaz tanpa ekspresi.
“Hah, maksudmu?” Tanyaku terkejut mendengar pernyataan Diaz.
“Kamu sempurna di mataku sampai sebelum semua ini terjadi. Aku selalu menolak menerima ini nyata, Nindy yang aku kagumi dan cintai SEDANG MENGANDUNG TANPA IKATAN PERNIKAHAN? Kenapa aku tak jua bangun dari mimpi buruk ini? Begitulah pikirku. Seberengsek apa pun lelaki itu tetap saja ia tak akan meraihmu jika kamu sendiri menolak. Aku benci mengakui bahwa kamu juga menginginkannya.”
Aku menangis sejadi-jadinya. Semuanya membuahkan sesal yang bertambah-tambah. Laki-laki setulus ini sedang kecewa berat. Lelaki yang seringkali menjadi tempatku mengadu luka, keluh dan air mata. Bahkan kerap kali menjadi jembatan untukku mendapat seorang pacar. Yang ternyata selama ini diam-diam menyimpan rasa tanpa sedikit pun aku sadari.
“Jika saja aku harus melepasmu suatu saat nanti setelah kau menemukan paangan hidupmu, aku pasti tidak akan menyesali apa pun dan berusaha untuk mencari dambatan hatiku juga. Tapi sekarang lihatlah. Gadis multitalenta dengan kecantikan yang menjadi idaman banyak orang, sekarang sudah melepas harga dirinya sendiri. Nindy yang kukagumi sudah lenyap. Ia sudah tidak ada di dunia ini.”
“Diaz, aku tidak akan memintamu untuk memaafkan aku, tapi satu hal yang membuatku bahagia untuk saat ini bahkan satu-satunya hal yang membuatku bahagia. Karena kedatanganmu yang mendamaikan rasa takutku di tengah kekejaman gulita. Walau kau datang tidak untung membelaku.”
“Tentu saja. Di lihat dari sisi mana pun kamu memang bersalah, Nindy.”
“Aku mengerti.”
“Sebenarnya aku tidak akan menemukanmu tanpa informasi dari Bunda.”
“Bunda?”
“Pikiranmu terlalu dangkal menanggapi kepekaan Bunda. Sedari awal ia tahu di sini adalah tempatmu merenung seorang diri. Ia merahasiakan ke semua orang perihal tempat ini agar keluarga dan warga tidak menyusulmu ke tempat ini. Kurang indah apa hidupmu hingga kau sendiri yang membuat keburukanmu sendiri.”
Sungguh, hatiku seperti teriris. Betapa beruntungnya aku dilahirkan dari rahim seorang wanita hebat. Rahim dari seorang wanita yang telah resmi menikah. Sial. Air mataku tak bisa berhenti mengalir.
“Apa lagi yang dikatakan Bunda?”
“Dia berbisik dengan penuh harap. Ia menyerahkan seluruh tanggungjawabnya tentang dirimu kepadaku,” Air mata Diaz mengalir. Untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis setelah terakhir kali saat kami berusia sekitar sepuluh tahun. “Bunda ingin aku menikahimu. Untuk menanggung bayi yang ada di kandunganmu. Aku ingin berteriak bahagia sepuasnya, karena mimpiku untuk memilikimu di depan mata. Namun bagaimana pun hati kecilku sudah menolakmu untuk menjadi tahta nama orang yang kukagumi. Rasa kagum itu sudah raib.”
“Kamu tidak perlu memaksa diri menuruti kata Bunda. Karena bagaimana pun, aku tidak pantas untuk siapa pun. Kamu pantas mendapatkan orang yang lebih baik. Yang melahirkan bayi dari rahim suci. Tidak seperti aku.”
Senyap sejenak. Diaz akhirnya duduk di dekatku. “Mungkin kamu sudah bukan Nindy yang sempurna lagi. Kamu sudah merelakan masa sekolahmu yang tinggal beberapaa bulan lagi. Tapi dapatkah kau menungguku untuk beberapa bulan itu?”
“Ehh?”
Senyuman Diaz yang biasa terlihat akhirnya ia tunjukkan juga, “Kamu memang sudah bukan Nindy yang kukagumi sebagai sosok sempurna. Tapi aku tak bisa mengelak, aku masih mengagumimu sebagai seorang yang aku cintai. Demi dirimu dan mimpiku tunggulah sampai kelulusanku. Menikahlah denganku, Nindyku yang aku cintai,” Ujar Diaz dengan penuh senyuman. Seolah tak pernah ada wajah muram sebelumnya.
Malam ini aku banjir air mata. Setelah penuh akan air mata kesedihan, akhirnya aku menangis lagi dalam mengekspresikan kebahagiaan, “Iya, aku akan menunggumu.”
Aku memang tak akan melepas rasa sesal selamanya. Reputasiku juga pasti tetap akan kotor. Mata orang-orang di sekitarku pun tidak akan sama seperti dulu. Dosa adalah dosa. Tapi lihatlah, aku punya secercah harapan di sini. Walau hatiku tetap berkata, “Kau terlampau jernih untukku yang terlanjur keruh akan debu-debu nista.”