Bagaimana jika jalanan cadas sebagai sebab langkah gontaiku terjempah dan terkilir? Lantas berdebam debu nestapa luruh pada air mata berseling rasa perih. Beriringan menjadi simbah darah kegagalan. Bersimpuh di tengah kemarau. Mengadah pada mentari yang menjadi saksi bisu namun memantau dengan silaunya. Krikil-krikil bersorak lantang, akan raga tak berguna yang rebah di atasnya. Bergelimang kesal, juga angkara ketaksaan tak terbendung. Berbalut bayang wajah-wajah para penikmat kemilau keberuntungan. Pada rerumputan yang bergurat hijau dan coklat kekuningan, mereka yang paling tenang meraut sepoi-sepoi angin senyuman.
Seorang pria paruh baya yang telah ringkih terlihat sedang memanggul ilalang yang diikat kuat. Langkah mantapnya melintas di depanku seraya tersenyum seperti biasanya. Senyuman khas. Dengan bibir tipisnya yang menghitam. Namun, tetap terlihat arungan ketulusan padanya.
Setelah pria itu hendak menaiki motor tuanya, aku segera bangkit dan membawa rantang besi yang telah penyok di beberapa bagian seraya melesat cepat menuju tempat pria itu berada. Ilalang-ilalang yang kerap kali membuatku tergores ini adalah santapan lezat untuk sapi-sapi di kandang dekat rumah kami. Aku membantunya untuk menaikkan hasil menyabit ilalang ke atas motor. Terlihat banyak sekali luka gores pada lengan si pria. Seolah telah menjadi makanan sehari-hari.
“Pegang yang kuat, ya,” ujar si pria sembari naik ke atas motor.
Aku menjawab dengan mengangguk dan menengok ke arahnya yang membuatku menyipitkan mata karena silau.
Sesaat, kami berdua telah berada di atas motor tua dengan ilalang yang berada di tengah-tengahnya. Seharusnya ia bisa membawa ilalang yang lebih banyak lagi. Namun karena ada aku di belakanng, sehingga ia sengaja menguranginya agar masih tersisa tempat untukku menunggang.
Pemandangan desa yang asri terlihat ketika kami melaju bersama motor tua. Angin yang merasuk dapat menghilangkan sedikit rasa gerah yang tak tertahankan sebab kemarau. Sawah-sawah padi berjejer sejauh mata memandang. Sebab pemukiman masih lumayan jauh dari tempat kami tadi. Suasana seperti ini terasa semakin indah ketika menghirup udara segar. Membiarkannya merasuk memanjakan indra penciuman. Selintas melayangkan pandang pada langit yang biru cerah sebab jika terlalu lama hanya akan menambah silau juga peluh. Beberapa terlihat rumah penduduk di antara persawahan. Di antara melambai pada kami untuk menyapa. Ditambah suara berisik motor si pria yang telah tua. Bahkan melebihi usiaku. Di sinilah kami meramu seni kehidupan sederhana.
Sebuah rumah kayu terlihat beberapa meter dari arah lajunya motor tua. Beberapa menit setelah kami berada di perjalanan di atas jalanan cadas. Rumah yang menjadi saksi pahit-getir hidupku. Tempatku berteduh ketika terik dan hujan. Tempat bersua dengan orang tersayang. Tempat pulang. Tempat rindu menjulang kala aku tak ada di dalamnya. Juga tempat, di mana luka terlihat menganga se-lebar-lebarnya. Di sinilah tempat tinggalku. Juga pria yang sedang bersamaku. Seorang pria hebat yang kusebut ayah.
KREKKK.
Seseorang keluar dari rumah kayu setelah membuka pintu dengan kencang. Lelaki mungil yang menggemaskan. Tengah berlari riang menyambut kedatangan kami. Pakaian kaos putih yang telah menguning dikenakannya. Juga sandal jepit yang warnanya beda sebelah.
“AYAH!” panggilnya dengan semangat penuh.
Tak lama, menyusul seorang wanita sebaya si pria yang muncul di bingkai pintu. Senyuman merekah seketika pada sang ayah, ibu, juga si bungsu. Keluarga kecilku. Keluarga kecil kami. Tinggal di bawah bangunan sederhana. Rumah kayu. Namun ada banyak kemewahan tak tampak karena hanya bisa ditemukan melalui rasa.
Tanpa sadar, air mataku menetes begitu saja. Mengalir deras seperti bentungan yang jebol. Tiada ampun membasahi pipiku yang berpeluh.
Ibu meraih bahuku. Lantas menepuknya pelan.
“Ayah, tolong jangan ke mana-mana!”
Sebuah isak cemas menggerogoti relungku. Di mana sebab aku mengetahui ini tidak sekedar keluarga harmonis yang terlihat. Tubuh ringkih itu bukanlah hal biasa. Kebersamaan seperti ini tak dapat menutupi gundah yang mencekam. Suram. Terlampau pedih ketika membayangkannya. Tentang kemungkinan terburuk dari kabar terburuk yang pernah ada.
“Jangan risaukan banyak hal, Qara,” ujar ayah.
Sejenak, senyuman pada ibu turut pudar, sedangkan si bungsu yang baru besrusia 5 tahun itu hanya melemparkan tatapan penuh tanda tanya.
“Sudah cukup perihal sandiwara, Ayah. Seharusnya bukan seperti ini. Kita tidaklah baik-baik saja,” ucapku menahan air mata yang hendak mengalir lagi.
Bayangan akan menjelmanya tawa ke duka menyeruak begitu saja.
“Apakah kamu menyangka kebahagiaan kita hanya kepalsuan?” tanya ayah sambil berusaha mempertahankan senyuman khasnya.
“Tentu saja! siapa yang akan bahagia ketika mengetahui salah satu anggota keluarganya akan pergi selamanya?” tegasku beriring pilu tak terbendung.
Perlahan, ibu turut menitikkan sendu. Aku, si sulung yang kurang ajar.Mengubah kebahagiaan sesaat menjadi lara melanda. Tak tersisa sudah suasana riang tatkala aku dan ayah baru sampai.
“Apakah kamu mau mendahului takdir Tuhan dan mempercayakan seratus persen pada perkataan dokter? Kamu juga terlihat begitu yakin bahwa ayah benar-benar akan meninggalkan kalian dalam waktu dekat ini?” tanya ayah.
Sebuah ucapan yang membuatku terdiam sejenak.
“Artinya dokter itu hanya manusia bodoh yang seenaknya menentukan akhir hidup seseorang!” tegasku.
“Itu tidak sopan, Qara. Dialah yang membantu pengobatan,” pungkas ayah.
“Membantu apa? Kita terlilit utang sebab biaya yang nggak masuk akal. Sedangkan sedari awal kita memang bukan orang yang berada. Ditambah penanganan yang lambat. Disusul kabar tentang penyakit Ayah yang kronis dan tidak bisa ditangani lagi. Lalu diakhiri dengan menyebutkan bahwa hidup Ayah tak lama lagi? Siapa dia kalau bukan sosok manusia penguras harta tanpa membantu. Di mana letak keadilan yang tersisa? Hei, apa pun itu. Aku menerima yang dikatakan kecuali perihal kondisi Ayah. Aku nggak mau percaya tentang vonis itu. tapi aku sangat terganggu sebab kalimatnya. Oleh sebab itu aku memilih untuk menemani Ayah ke mana pun. Bahkan sampai terbakar terik surya, terluka karena ilalang, menunggu seharian pun tak apa. selagi relungku dapat bersemi lega bahwa embusan napas Ayah masih dapat aku lihat di pelupuk sanubariku. Selagi dapat melihat wajah ayah dengan senyuman menentramkan itu. Sepuasnya. Sesering apa pun. Aku tak akan bosan.” ungkapku meluapkan isi hati.
Ayah melayangkan pandangnya ke belakang. Tempat rumah kayu sederhana kami berada. Tatapannya sayu. Kemudian menarik napas panjang. Seolah untuk meyakinkan kami bahwa ia benar-benar masih bersama kami. Bersama embus napasnya. Keluarga kecil yang ia bangun dengan kesederhanaan namun mewah akan kasih sayang.
“Keadilan itu luas sekali maknanya. Berdasarkan apa yang terjadi dengan dokter, itu bukanlah bukti ketidakadilan. Kita selalu bernaung di bawah keadilan. Ayah tahu kamu mengkhawatirkan tentang kebahagiaan yang pudar. Namun, lihatlah dunia lebih luas. Ada banyak sekali warna membersamai kita. Anggap saja kelabu adalah kesedihan, seperti kekhawatiranmu tentang kondisi Ayah. Ketika itu terjadi, maka lihatlah tawa riang adikku. Itulah warna lainnya. Mungkin biru, merah, kuning. Atau warna apa pun yang kamu anggap menyenangkan. Juga pelukan hangat ibumu. Itu juga suatu warna berbeda. Warna-warni keadilan. Tak perlu memastikan apakah masih tersisa keadilan atau tidak pada kita. Sebab kita cukup membentuk keadilan itu dengan cara kita sendiri,” jawab ayah yang tetap tenang.
Lagi-lagi kalimat ayah membuatku terdiam. Baju lusuh kami, sandal beda sebelah, rumah dengan kotoran ayam pada terasnya. Semua menjadi saksi kisah pahit-getir hidup kami. Juga kabar tak mengenakkan yang merasuk begitu saja. Warna-warni kenangan yang menjadi memori suatu saat nanti.
“Percayalah pada Ayah. Ia adalah seseorang yang perkasa,” sahut ibu akhirnya turut berbicara.
Mendengar itu, aku mengangguk mantap dan memeluk ketiganya dengan erat.
“Tentu saja aku percaya, Bu. Semua akan baik-baik saja. Hari ini, besok dan hari-hari setelahnya,” jawabku.
Menyingkirlah wahai gundah. Enyahlah wahai cemas. Raiblah wahai gelimang sendu. Biarkan embusan tawa mengendap di antara kami. Lantas menciptakan ruang bahagia untuk keluarga kecilku.
Bogor, 07 Februari 2024