Ealish membuka matanya samar-samar ia melihat banyak pria yang mengelilingi dirinya. Setelah penglihatannya kembali jelas ealish terkejut bahwa dia sudah berada di dunia manusia.
" Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan dariku?. "
Kemudian pria-pria itu tertawa entah apa yang dianggap lelucon bagi mereka. Ealish semakin panik, tiba-tiba dari kerumunan pria-pria tadi munculah seorang wanita paru baya, berjalan mendekati peti yang diisi air tempat dimana ealish diletakkan.
" Tenanglah sayang, kami tidak akan jahat padamu." Ucap wanita paru baya tadi.
Sementara ealish masih sangat ketakutan.
" Tora, Martin cepat bawa dia ke mobil kita akan segera membawanya ke kota, "
Pinta wanita tersebut pada kedua putranya. " Yang lain persiapkan barang-barang yang akan dibutuhkan nanti. " Sambungnya.
•••
Setibanya di kota semua anak buahnya mempersiapkan pertunjukan. Saat semuanya telah siap Martin dan Tora dipinta untuk memindahkan ealish ke dalam aquarium besar.
Beberapa anak buahnya berteriak mempromosikan pertunjukan yang mereka adakan.
" Ayo semuanya kemari dan lihatlah aksi seorang putri duyung yang cantik dan pandai menari. "
Kemudian anak buah yang lain menimpali.
" Ayo ayo!!! Satu orang hanya membayar seratus ribu untuk melihat pertunjukan yang langka ini!. "
Orang-orang yang ada disana baik pejalan kaki atau pengendara, berbondong-bondong ingin menyaksikan pertunjukan itu.
Setelah orang-orang kota berkumpul, mereka sangat terkagum-kagum melihat seekor putri duyung sungguhan. Mereka bertepuk tangan, sambil bersorak.
" Ayo menarilah." Kata salah satu penonton.
Melihat keadaan semakin ramai, ealish semakin ketakutan ia tidak mau menari bahkan dirinya hanya diam mematung di dasar aquarium sambil menutupi tubuhnya dengan kedua tangan.
Pengunjung yang geram, akhirnya marah karena merasa di tipu, lalu merekapun meminta uangnya dikembalikan. Semua orang kembali berhamburan sementara wanita paru baya itu sangat marah dan memutuskan untuk kembali ke desa untuk melatih putri duyung tangkapannya.
•••
" Tak mengapa jika kemarin kau tidak ingin menari, aku akan memakluminya, tapi sekarang tidak akan ada lagi kata tidak ingin, kau harus melakukan apapun yang aku perintah! "Ujarnya
Ealish membisu, dia masih tidak ingin berbicara.
" Cepat menarilah! "Katanya sekali lagi.
Kali ini ealish menjawab, " Kumohon lepaskan saja aku, dan aku akan memberikanmu apapun."
" Benarkah? Kalau begitu berikan aku mutiara dari air mata sebanyak-banyaknya. "
Ealish mengangguk, lalu ia meneteskan air mata nya yang seketika berubah menjadi mutiara. Wanita paru baya tersebut sangat senang ia tertawa terbahak-bahak, matanya membelalak ia seperti menemukan sebuah harta karun.
" Sudah ku berikan apa yang kau mau, sekarang kabulkan permintaanku. " Pinta ealish
Wanita tadi berhenti tertawa dan menatap sinis ealish.
" Jika kau bisa memberikan aku kekayaan untuk apa aku melepaskanmu. "Jawabnya kembali tertawa.
Ealish terkejut, wanita tadi memerintah anak buahnya memaksa ealish untuk mengeluarkan air mata.
" Jika ia tak mau menangis maka cambuki saja dia! "
Ealish sangat marah karena merasa di khianati. Ia tak mau menangis meskipun beberapa cambukan menghujam tubuhnya. Tidak berapa lama kemudian Martin datang dan marah melihat perlakuan anak buah ibunya.
" Apa yang kau lakukan?! Dasar bodoh! Pergilah. "
" Tapi nyonya memintaku untuk membuatnya menangis tuan."
"Aku yang akan mengurusnya, berikan cambukmu."
Setelah diberikan, anak buahnya keluar dari sana. Sekarang diruangan itu hanya ada Martin dan ealish.
" Tenanglah kau tidak usah takut, kemarilah aku akan mengobati lukamu. " Kata Martin.
" Tidak kalian manusia adalah mahluk yang kejam. "
" Maafkan aku dan juga ibuku. Sungguh aku tidak bermaksud menyakitimu," Lanjut Martin sembari menghampiri ealish, " Biarkan aku mengobati lukamu setelah itu aku akan pergi. "
Martin mengobati luka-luka bekas cambukan di tubuh ealish, awalnya ia sempat bingung apa yang di oleskan ketubuhnua hingga tubuhnya terasa dingin, kemudian Martin menjelaskan bahwa itu adalah obat yang biasa dipakai manusia untuk meredakan rasa sakit.
Setelah selesai Martin berpamitan untuk kembali ke rumahnya.
" Lukamu sudah ku obati, aku akan pergi."
•••
5 hari kemudian...
Ealish masih bersikeras untuk tidak mematuhi permintaan wanita yang menahannya. Hingga ia selalu mendapatkan siksaan.
Martin yang melihat semua itu sangat sedih, entah apa yang ada dipikirannya, dalam beberapa hari ini dia merasa sakit bila ealish terlihat kesakitan bahkan saat ada didekatnya jantung Martin sangat berdegup begitu kencang.
Malam harinya, ketika semua orang sudah tertidur, kecuali dua orang anak buahnya yang masih berjaga. Martin datang ke tempat dimana ealish disembunyikan.
" Nanang, darto kalian istirahat saja, biar aku yang menjaga putri duyungnya. "
" Tapi... "
" Ini perintah! "
"Baiklah tuan. " Jawab darto yang kemudian mereka berdua meninggalkan tempat itu.
Martin masuk, ia melihat bahwa ealish sudah terkulai lemas didalam peti airnya. Martin yang panik segera berlari, matanya berkaca-kaca.
Ia memeluk tubuh ealish kemudian membawanya pergi dari sana secara diam-diam.
•••
Keesokan harinya saat Martin terbangun dari tidur ia melihat tubuh ealish perlahan mengering, napasnya melemah, Martin yang panik segera mencari air untuk menyiram tubuh ealish. Ia kembali dengan membawa air dengan ember yang ia temukan disekitar rawa.
Tubuh putri ealish kembali bersinar dan nampak segar. Namun, ia tidak bernapas lagi. Martin menangis dan memeluknya erat-erat.
" Ku mohon bangunlah, aku mencintaimu."
Tiba-tiba air matanya menetes ke tubuh ealish dan sebuah keajaiban datang, ia kembali bernapas.
" Hhhhhhhhhhh. " Ia menghela napas sangat panjang , " Ku mohon bawa aku kembali pulang. " Lanjut ealish
Martin mengangguk, " Tentu saja aku berjanji aku akan mengantarmu kembali ke tempat asalmu. "
Sejak hari itu hubungan merekapun menjadi dekat. Sementara di desa ibu dan anak buahnya terus mencari keberadaan Martin.
•••
Sepuluh hari sudah berlalu..
Jarak pelabuhan dan hutan tempat mereka bersembunyi sangat jauh, Martin harus memapah tubuh ealish sepanjang hari, karena ealish adalah putri duyung dirinya tidak bisa berlama-lama di darat sehingga membuat perjalanannya semakin lama sebab mereka harus berhenti saat melihat genangan air.
Di sepanjang perjalanan mereka berbincang-bincang.
" Ngomong-ngomong siapa namamu? Sejak pertama aku melihatmu aku tidak tahu harus memanggilmu apa. " Tanya Martin.
" Ealish." Ia menjawab dengan tersipu malu, " Dan kau?. " Katanya kembali membalikan pertanyaan.
" Kau bisa memanggilku Martin."
Waktupun terus berlalu melaju begitu cepat, kini mereka sudah bersama selama 28 hari.
Saat sampai dipelabuhan, Martin melepaskan ealish ke laut. Sebelum ealish pergi ia sedikit berbincang dengannya.
" Jagalah dirimu baik-baik, pergilah. "
"Terimakasih kau sudah membantuku untuk pulang, jaga dirimu juga Martin. "
Saat hendak berenang ke laut lepas, suara tembakan terdengar begitu keras. Tubuh Martin yang tadi berdiri gagah tumbang dan terkulai diatas tanah.
Ealish yang sadar bahwa para penculik itu datang, ia segera menarik tubuh Martin hingga masuk kedalam laut bersamanya.
Mereka tak mau kalah, mereka berlari kearah Martin dan ealish, saat kehilangan jejak mereka menghujami lautan dengan peluru, sehingga salah satu peluru tadi berhasil mengenai ekor duyung ealish.
Ealish menghiraukan rasa sakitnya, ia terus berenang menyusuri lautan sambil mengenggam tangan Martin ia berniat membawa martin ke daratan.
Saat sampai di daratan, ia menarik tubuh Martin sekuat tenaga. Ia memeluk Martin dan sadar bahwa jantungnya sudah berhenti berdetak. Mungkin karena terlalu lama didalam air.
Ealish menangis, ia bisa saja menyelamatkan Martin tapi nyawa ealishlah yang akan menjadi taruhannya.
Tak berpikir lama karena ealish tak ingin kehilangan orang yang ia sayangi, ia memutuskan untuk menyelamatkan Martin, ealis mencium martin dan memindahkan semua kekuatannya ketubuh Martin.
Saat-saat terakhir ealish kembali kedalam laut ia tak ingin Martin melihatnya dalam keadaan tewas dan membuatnya bersedih.
Tiga puluh menit kemudian, Martin terbatuk-batuk kemudian kembali sadar. Ia sadar bahwa dirinya sudah berada jauh dari tempat tinggal nya, dan ealish dimana ealish? Martin tidak melihat keberadaannya, ia terus memanggil-manggil nama ealish, tapi sejak itu mereka berdua tidak lagi pernah bertemu.