"Kak Rangga! I Love you!" Teriakku pada pria jakung yang sudah kusukai 3 tahun lamanya.
Pria itu hanya menoleh sekilas dan berbalik, ini sudah kesekian kalinya hal ini terjadi, Ia tidak terkejut.
"Gila lo Rin! Udah di cuekin gitu juga ga kapok!" Ucap Nia, teman lama yang sudah hapal betul tabiat sahabatnya itu.
Arin, siswi SMA semester akhir menyukai teman sebayanya di kelas lain. Ia sudah terpikat sejak awal pertemuan mereka saat MPLS (Masa pengenalan Lingkungan Sekolah).
"Gak, gue ga bakal nyerah sampai lulus nanti! Kalau pas wisuda gue ga berhasil, gue bakalan stop!" Gadis itu memantapkan hatinya.
"Yakin lo? Lo udah sebucin gila ini? Mau sama dia?" Nia mencibirnya.
Arin hanya tersenyum kekeh. Toh orang monoton seperti Nia tidak akan mengerti apa yang ia rasakan. Ia hanya sedang bodoh karena cinta. Jika ia sudah menyerah nanti, pasti Arin akan sembuh.
Hari demi hari Arin lewati dengan mengemis cinta Rangga. Pemuda itu tetap acuh tak acuh dan membiarkannya. Ia seolah sudah terbiasa akan kelakuan Arin yang menempel sesukanya.
Bahkan, suatu hari pernah ada seseorang yang datang main gandeng ke Rangga demi memanasi Arin.
"Jauh-jauh lo dari rangga!"
"Lo siapa? Pacar juga bukan!"
Begitulah pertempuran itu dimulai. Bahkan Rangga pun tak ada niat membela dan memisahkan.
Hingga hari-hari terakhir Arin menjelang perjanjiannya dengan perasaannya. Ia sudah memantapkan hati, kali ini ia harus dapat jawaban!
Arin menunggu di depan gerbang sekolah ketika hari ujian sudah dekat. Setiap kali ia minta waktu pada Rangga, pria itu selalu mengabaikannya. Padahal Arin bertujuan memperjelas.
"Rangga! Kalau lo abaikan gue lagi kali ini, gue bakalan berhenti kejar lo! Gue anggap lo nolak gue!" Arin berteriak di belakangnya.
Kata-kata itulah yang berhasil menghentikan langkah Rangga. Pria yang dijuluki wajah sekolah itu memang patut diacungi jempol.
Visualnya yang bukan main dengan postur tubuh gagahnya itu, wanita mana yang tidak tergila-gila.
"Bukannya dari dulu jawabannya udah jelas?" Rangga mengangkat suara.
Arin meneguk salivanya,"beri gue alasan,please."
"Gue ada tunangan." Jawaban itu seketika mengalirkan listrik ke tubuh Arin. Rasanya sakit dan nyeri mendengarnya.
"K-kenapa ga bilang dari awal?" Tanya Arin.
"Perlu gue bilang sama lo?" Rangga menatap datar.
"Boleh tau siapa atau seenggaknya dia orang kek mana?" Arin menahan bulir air matanya.
Rangga diam sejenak lalu melanjutkan,"Bukan urusan lo, mulai sekarang stop ganggu gue,paham? Gue ga suka sama lo."
Banyak mata menjadi saksi. Sungguh, tamparan menyakitkan bagi Arin. Ia pun tak tahu bahwa Rangga memiliki tunangan.
Arin bahkan masih melawan dan membantah pada orang tuanya tentang calon suami pilihan mereka. Tetapi ternyata dirinya salah pilih. Ia salah.
"Maaf, gue ga bakal ganggu lo lagi." Arin mengusap air matanya lalu berbalik pergi.
Ia pulang dengan keadaan menangis dan memeluk Ibunya. Ia sudah tak tahan membendung rasa putus cintanya. Ia pertama kali merasakan cinta yang semanis itu. Tetapi juga sesakit itu.
"Sudahlah Rin, Mama sudah bilang. Pilihan Mama sama Papa itu ga mungkin salah buat kamu. Nurut ya? Oke?" Ibunya mengelus kepalanya dengan lembut dan mencium puncak kepalanya.
Arin pun merasa bersalah, selama ini Ia keras kepala dan membantah pada orang tuanya. Mungkin kini saatnya Ia menuruti mereka.
Arin mengangguk,"Aku mau ma, Aku terima perjodohan yang Mama papa kasih."
--------------
Setelah ujian selesai, seluruh siswa masih harus masuk selama seminggu penuh dan baru mendapat libur.
Hari ini, hari minggu setelah ujian. Arin mendatangi calon suaminya dengan perasaan amburadul. Pikirannya tak tenang bahkan tak bisa berpikir jernih.
Ia ingat pesan Nia, bahwa Ia harus tampak tenang dan santai. Apalagi ini adalah keluarga yang dikenal baik oleh orang tuanya.
"Sudah sampai Rin, ayo turun."
Arin turun dari anakan tangga rumahnya. Pakaian formal nya yang cantik dan indah itu serta riasan naturalnya tampak cantik alami.
Tampillah seorang wanita tua paruh baya yang langsung menghampirinya.
"Astaga, cantik ya mirip Mamanya." Ucap wanita itu,Arin pun tersenyum dengan manis dan lembut.
"Wah, Ini ga salah pilih mantu lagi kami." Ucap calon ayah mertuanya.
Suasana hangat pun tercipta dengan sendirinya. Meskipun begitu, Arin masih merasa janggal. Di mana calonnya? Hatinya tambah berdebar, Ia tak bisa membayangkan pria lain selain Rangga.
'Sadar Arin! Rangga itu jahat! Jelek! Bodoh!' Batinnya dengan skeuat tenaga.
"Aduh, mana sih tu anak! Bentar ya, saya panggil dulu. Anaknya emang susah di atur." Calon Ibu mertuanya buru-buru keluar.
"Oh iya, Nak Arin tahun ini lulus ya sekolah ya?" Tanya sang calon Ayah mertua.
"I-Iya om," Arin canggung.
"Masa om? Panggil Ayah aja gapapa kok." tawa Calon Ayah mertuanya menular pada kedua orang tua Arin.
Kemudian datanglah Calon Ibu mertuanya dengan seorang pria berpakaian rapi dari belakangnya.
"Nah, nak Arin. Ini kenalin, anak Saya Rangga Putra Radiprajaya." Wanita itu tertawa bahagia dan senang.
Sementara Arin? Iya terdiam kaku menatap tak percaya. Begitu pun sebaliknya.
Rangga dengan cepat mengulurkan tangannya seolah mengajak berkenalan dan mereka baru pertama kali bertemu.
"Rangga." Ucapnya.
"Arin." Timpal Arin.
Perbincangan kedua keluarga itu pun semakin mantap dan girang. Kedua keluarga setuju dan saling menyukai satu sama lain.
Sementara Arin, Ia tak tahu harus apa tapi rasanya masih sakit kala mengingat kata terakhir yang diucapkan rangga.
Sementara itu, Rangga terlihat tak tenang tapi diam saja.
"Gimana, nak? Kalian berdua perlu waktu dulu untuk pendekatan atau langsung nikah aja?" Tanya Sang Ibu.
"Langsung Nikah aja."
"Pendekatan aja."
Keduanya menjawab serempak tapi tak sama. Mereka beradu tatap. Arin bingung, kenapa Angga memilih langsung menikah? Bukankah dia membenci Arin?
>>>>>>>>>>>> End 1 <<<<<<<<<<<<<<