Malam jumat bagi sebagian masyarakat jawa merupakan hari yang paling keramat. Mereka meyakini bahwa pada malam jumat, banyak arwah yang pulang ke rumah untuk meminta doa. Setiap malam jumat, banyak masyarakat yang masih meyakini hal mistis itu selalu menyiapkan beberapa sesaji untuk menyambut arwah para leluhur mereka. Atau datang ke sebuah tempat yang dipercaya sebagai benda keramat.
Hal itu juga berlaku dalam keluarga pak Rahman, yang masih sangat percaya akan hal seperti itu. Katanya, "orang jawa jangan sampai kehilangan jawa-nya." begitu beliau berkata.
Malam itu seperti biasa, pak Rahman beserta istri melakukan ritual mempersembahkan sesaji ke sebuah pohon yang diyakini keramat di desa tempat tinggal baru mereka. Mungkin baru seminggu pak Rahman beserta istri pindah ke desa itu. Pak Rahman beserta istri meletakan tampah yang berisikan bunga tujuh rupa, kemenyan, juga ada beberapa makanan yang disebut sebagai jajan pasar.
"Pak kok udaranya aneh ya? malam ini hawanya sangat dingin?" ucap bu Rahman sembari mengelus tangannya, menciptakan kehangatan.
"Ah nggak bu, mungkin karena ibu sedang nggak enak badan, jadi ibu ngerasa udara hanya dingin aja." jawab pak Rahman tidak setuju dengan perkataan istrinya.
"Mungkin iya pak." bu Rahman masih merasa aneh.
Dikampung itu mungkin hanya beberapa yang orang yang masih mempercayai hal mistis seperti itu. Mereka percaya bahwa pohon yang dikeramatkan bisa membawa keberkahan bagi mereka. Bahkan tak jarang, mereka yang datang meminta kekayaan kepada benda mati itu.
Blebet... Bu Rahman merasakan ada bayangan hitam yang lewat dibelakangnya. Bulu kuduk bu Rahman sudah berdiri, antara takut dan kaget. Bu Rahman memegang baju suaminya dengan sangat erat. "Itu tadi apa pak?" tanyanya pelan karena ketakutan.
"Sstt, jangan berisik bu!" pak Rahman tidak mengindahkan ketakutan istrinya, dia masih melanjutkan dan fokus dengan ritualnya.
"Cepat pak, ibu takut." bu Rahman semakin gemetar, dia mendengar secara jelas seseorang tertawa dibelakangnya. Ada juga seperti anak-anak yang sedang bermain kejar-kejaran.
Bu Rahman dan pak Rahman sering datang untuk ritual ditempat-tempat seperti itu, tapi baru kali ini mereka melihat secara jelas makhluk tak kasat mata penunggu pohon. Biasanya mereka tak menampakan diri, hanya terkadang tercium bau wangi seperti bunga melati. Malam itu benar-benar membuat bu Rahman ketakutan. Mereka melihat secara jelas makhluk itu, juga ada sesosok perempuan yang tertawa, duduk diatas pohon sambil mengelus rambutnya dengan genit.
"Pak.." bu Rahman sudah ketakutan. Apalagi saat sesosok wanita itu tertawa dengan nyaring. Suara itu terdengar jelas ciri khas tawa-nya kuntilanak.
"Bentar bu." pak Rahman masih belum selesai juga ritualnya.
Tak lama kemudian mereka berdua kembali ke rumah dan baru menyadari bahwa malam ini adalah malam jumat kliwon, malam keramat bagi masyarakat jawa.
Setelah beberapa hari pak Rahman mencoba mencari tahu tentang asal usul pohon yang dianggap keramat itu. Menurut para tetua di desa itu, pohon itu memang sangat angker. Konon, pada jaman dahulu, tempat itu digunakan untuk persembunyian para wanita pribumi. Dan kebanyakan dari mereka adalah wanita hamil, tapi tak lama kemudian mereka dibantai oleh para penjajah, mayat mereka dijadikan satu ditempat itu juga. Dan kebetulan waktu pembantaian itu tepat malam jumat kliwon. Jadi setiap malam jumat kliwon, mereka selalu menampakan diri mereka. Mungkin ingin mengingatkan yang lain, bahwa pembantaian itu sangatlah sadis. Dan mungkin mereka ingin dikirimi doa juga.
"Mungkin mereka hanya ingin berkenalan saja." ucap pak Sholeh, orang yang dituakan di desa itu.
Semenjak saat itu, pak Rahman dan istri tidak lagi datang saat jumat kliwon. Mereka memilih jumat biasa aja, menghindari gangguan dari makhluk yang tak kasat mata itu. Dan itu juga yang disarankan oleh para tetua desa itu.