Tepat pada 17 Juni 1983. Semuanya bermula.. Kedua pasangan yang baru saja sah menjadi suami istri, menuju jalan pulang dari gereja. Awalnya semua baik-baik saja. Mereka pun turut bahagia.. Namun tiba di persimpangan jalan, kejadian naas terjadi. Mobil pengantin mereka menabrak sebuah tronton. Semua korban selamat, tak terkecuali Valencia. Si pengantin wanita. Tubuhnya hancur tertabrak saat mencoba lari dari tempat kejadian.
Naas, ketika mengingat kisah mereka. Sejak saat itu, semua keluarganya memperingati hari kematian Valencia dengan Black Friday. Kebetulan, hari itu adalah hari Jum'at. Sementara gaun pengantin yang masih utuh pada tubuh Valencia, dipajang pada satu Toko pakaian milik keluarganya. Gaun itu masih terpajang dan lekat di depan toko sejak tahun 1984.
Tak ada satupun orang yang berminat untuk membelinya, walaupun gaun itu sangat cantik dan indah! Ada satu kutukan didalamnya. Konon katanya, arwah Valencia merasuk kedalam manekin. Setiap malamnya, Manekin itu selalu bergerak mencari bagian tubuh nya yang hilang dalam kecelakaan. Bahkan, semenjak kehadiran manekin itu, selalu saja ada kecelakaan yang terjadi di depan toko tersebut.
--
Bagi pemuda yang bernama Austin, semuanya hanya takhayul belaka. Sudah 2 tahun ia pindah ke kota itu, namun tak ada satupun yang terjadi. Semuanya berjalan lancar. Bahkan, ia dan pasangannya akan segera menikah.
''Yaps, hari ini adalah Black Friday! Semua toko pasti diskon! Kita akan lihat.. Gaun yang cocok dengan Audrey. Pastinya dengan harga diskon!'' Seru Austin. Ia sangat bahagia, lusa besok adalah Black Friday!
''Beb, kamu mau cari gaun yang mana?'' Audrey menepuk bahu Austin yang tengah kegirangan.
''Kamu dirumah aja. Kan lagi musim Virus, biar aku aja yang keluar. Pastinya, aku bakal cari gaun yang pas buat kamu ^^'' Austin tersenyum lebar. Lantas, Audrey pun mengiyakannya.
Austin segera berjalan menelusuri kota, Ia memperhatikan setiap toko pakaian yang menjual gaun pengantin. Semuanya diskon 30%
''Hiks, masih kemahalan harganya. Aku kan cuma...'' Ringis Austin. Harga itu hanya turun sedikit.
Austin kembali berjalan menelusuri setiap sudut toko. Sampai matanya tertuju pada manekin yang terpajang di sebalik kaca toko. Manekin itu sangat cantik, bak Boneka Hidup. Tidak, lebih mirip seorang wanita anggun. Lagipula, gaun pengantin yang dikenakannya sangat indah! Terlebih lagi, saat Austin menyadari bahwa harga gaun itu diskon 80%
''Wah!'' Seru Austin. Ia berjalan menghampiri toko yang ada di seberang.
***
Tap tap tap
Langkah Austin bergema di dalam sana. Suasana mencekam dan Hampa melingkupi toko itu. Penjaga toko berdiri di depan meja kasir, wajah nya pucat. Badannya berdiri tegap, memandang datar. Penjaga toko yang tak lain adalah Pengantin lelaki Valencia, yang kini sudah menjadi lelaki paruh baya.
''Permisi. Apa benar gaun itu diskon 80%?'' Sapa Austin, sekaligus bertanya untuk meyakinkan.
Pria paruh baya itu mengangguk.
''Kau mau ambil?'' Pria tua itu bertanya balik.
Austin kembali mengangguk.
''Baiklah, jika kau siap. Aku akan mengantarnya ke rumah mu sekaligus,'' Ucap Pria tua itu datar.
Austin ingin bertanya sesuatu, tapi dia ragu. Lantas, dia hanya mengikuti langkah Pria Tua itu.
----
''Sayang?! Kenapa manekin nya sekalian disini?!'' Teriak Audrey yang mengetahui manekin itu ada di sudut kamar pengantin mereka.
''Maaf, Bapak itu memberikan nya pada ku. Dia bilang, akan mengambil manekin ini kembali saat acara pernikahan kita sudah berakhir,'' Austin menjawab santai.
Audrey mendengus kesal saat melihat manekin itu lebih cantik daripada dirinya.
----
Semuanya berjalan baik-baik saja. Semua orang didalam rumah sibuk mempersiapkan acara pernikahan. Sementara, manekin itu terkurung dalam kamar pengantin mereka.
KLAAK
Knop pintu kamar terbuka. Austin yang membukanya, dia ingin sekali merebahkan diri di kasur setelah berbenah cukup lama.
''Cape juga ya,'' Lirih Austin. Sekilas, matanya tertuju pada manekin yang berada di sudut kamar. Tangan manekin itu masih terlihat memegang bunga. Dengan tatapan mata lurus ke depan. Ya, itu terlihat sangat cantik.
Austin tak menyadari sesuatu. Lirikan mata boneka itu terus bergerak kesana kemari.
''Perasaan doang kali, manekin kok bisa gerak. Ga mungkin lah!'' Bantah Austin.
Di depan matanya, Austin menyaksikan sendiri. Tangan manekin yang memegang buket bunga bergerak. Tangan itu menengadah. Buket bunga itu terjatuh ke lantai. Cukup membuat Austin ketakutan.
''Gila nih!'' Austin berdecak kesal.
Ia tak pernah percaya bahwa mahkluk makhluk halus ada disisinya. Itu semua cuma takhayul.
--
Malam tiba. Austin memilih tidur di sofa, sementara Audrey tidur di kamar bersama ibunya. Kamar pengantin itu dibiarkan kosong.
''Kembalikan tubuh ku!'' Seorang wanita terdengar berteriak diluar. Ia seperti menahan rasa sakit.
Austin terbangun.
Sementara Audrey sudah terlihat berada disampingnya, ia kelihatan bergemetar. Tak kunjung tenang.
''Kak, dengar suara itu 'kan?''
''Iya, palingan cuma orang iseng. Udah, kan ada Ibu di kamar'' Austin menenangkan.
''Kak, kembalikan saja manekin nya. Gaunnya juga'' Usul Audrey.
''Engga bisa. Masih banyak urusan lain, sebaiknya kita jangan boros,'' Bantah Austin.
''Yaudah! Pokoknya kalo kakak tetap bantah, kita ga jadi nikah!!'' Rengek Audrey.
Austin menghela nafas kasar, terpaksa dia mengiyakan permintaan calon istrinya itu. Siang itu, dia menyempatkan diri untuk keluar menuju toko pakaian yang kemarin.
''Lah..'' Austin tergelak saat mendapati toko itu sudah terbengkalai, alias tutup.
Terpaksa, dia kembali ke rumah dengan rasa penyesalan. Namun berulang kali Austin mencoba yakin, kalau semua akan baik-baik saja.
----
Malam berikutnya tiba, karna mereka belum sah menjadi pasangan suami istri. Keduanya terpaksa tidur di kamar yang terpisah. Audrey yang punya perasaan buruk terhadap manekin itu, akhirnya memutuskan untuk tidur di kamar sebelah. Sementara Austin menjaga manekin itu.
Sebelumnya, Austin tidak mengatakan soal yang terjadi tadi siang. Dia lebih baik merahasiakannya.
''Halah, kok ada ya orang yang percaya gituan..'' Batin Austin. Dia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Rasanya, ada yang bergerak di sekitarnya. Ntah itu hewan, atau mahkluk lain.
BRAAAAAK
Austin bangkit dari kasurnya saat mendengar suara dentuman yang sangat keras dari bawah jendela kamarnya. Dia mengintip ke arah bawah.
''Dimana tubuh ku!'' Teriakan wanita terdengar dari arah luar. Suara yang kemarin juga di dengar oleh Austin. Namun kali ini suaranya cukup memekikkan telinga Austin.
''Siapa sih yang teriak malam-malam begini?'' Ucap Austin kesal.
Austin mengintip dari arah jendela. Terlihat Gaun putih menyeret rerumputan yang mengembun. Gaun nya amat panjang. Sampai Austin menyadari, teriakan itu berasal dari wanita yang mengenakan gaun pengantin yang lewat dari belakang rumahnya.
Austin mengerjapkan matanya, dia mengingat sesuatu. Gaun itu sama persis dengan Gaun pengantin yang terpajang pada manekin disudut kamarnya.
''Tunggu! Manekin nya!'' Matanya tertuju pada sudut kamar. Dia tergelak saat mendapati Manekin itu sudah tidak ada di sana.
''Jangan-jangan, wanita itu adalah Audrey!'' Austin masih berfikir positif.
Sementara, wanita itu masih berjalan disekitar halaman belakang rumah Austin.
''Audrey!'' Austin berteriak.
Teriakannya membuat wanita itu menoleh. Wanita berwajah kayu, dengan leher yang susah untuk menoleh. Bermata hitam pekat, lengkap dengan buket bunga berdarah ditangan kirinya.
Austin tersentak, Ia terjatuh dari jendela kamarnya yang terbuka lebar.
BRUUK
Anehnya, dia kembali terbangun setelah terjatuh dari lantai 3 rumahnya. Ia tergeletak di rerumputan basah yang mengembun. Kain putih menjulur di sepanjang rerumputan. Tetesan darah terjatuh di keningnya. Dia menoleh ke arah samping.
''Di mana tubuh ku?'' Wanita berwajah kayu itu bertanya lagi.
Austin ingin berlari, namun kakinya mati rasa. Tidak bisa bergerak.
''Kamu pengantin ku? Bantu aku mencari tubuh ku kembali...'' Lirih wanita itu. Suaranya datar, serak basah.
Sesuai dengan kutukan gaun itu. ''Siapa saja yang membeli Gaun ini, kelak akan menjadi pengantin ku. Dia yang akan membantu ku mencari bagian tubuh ku.'' - Valencia.
Bisa dikatakan, Austin yang akan menjadi tumbalnya.
''Sayang... Bantu aku mencarinya..'' Suara itu terdengar mengerikan. Sekali lagi, Austin ingin berteriak. Namun pita suaranya rusak, kakinya mati rasa.
Tangan kayu itu menarik baju Austin, dan menyeret Austin di sepanjang jalan.
''Wiston, terima kasih. Aku sudah menemukan pengantin pengganti ku,'' Wajah Manekin itu terlihat menitikkan air mata.
''Tidak! Aku bukan pengantin mu! Audrey tolong aku!'' Austin membatin.
Dari sebalik batang pohon Cemara, terlihat Pria paruh baya menghembuskan nafas lega.
''Valencia, ku harap kamu tenang disana.'' - Wiston
TAMAT