🍁🍁🍁
Katanya, di dunia ini kita hidup saling berdampingan dengan mereka yang berasal dari dimensi yang berbeda. Karena perbedaan dimensi itulah, mata manusia terkadang tidak bisa melihat mereka. Meski banyak pula yang mempunyai kemampuan khusus hingga bisa melihatnya.
Namaku Naura Naraya. Biasa dipanggil Naura, tapi ada juga yang memanggilku dengan nama keduaku, Naraya. Bagiku itu tidaklah masalah. Toh, keduanya adalah namaku.
Saat ini aku tinggal sendiri di kampung orang karena tuntutan kuliah. Seperti anak rantau kebanyakan, aku tinggal di sebuah kos-kosan. Karena aku berasal dari keluarga sederhana, aku memilih tinggal di kos yang lebih murah. Aku juga menyempatkan bekerja paruh waktu di hari libur ku. Aku bekerja di sebuah kafe yang buka 24 jam sebagai waitress.
Seperti hari ini, di akhir pekan seperti sekarang aku sengaja mengambil lebih banyak shift. Biasanya aku akan mengambil tiga shift sekaligus. Kebanyakan waiter dan waitress lebih memilih libur di akhir pekan untuk sekedar jalan-jalan melepas penat. Tidak heran jika di akhir pekan yang lebih ramai pengunjung dari hari-hari biasanya malah banyak shift yang kosong. Padahal upah shift di akhir pekan lebih besar dari hari biasanya.
Dalam sehari, totalnya ada empat shift. Shift pertama dari jam 07:00 - 13:00, shift kedua dari jam 13:00 - 19:00, shift ketiga dari jam 19:00 - 01:00, dan yang paling berat adalah shift keempat yang dari dimulai dari jam 01:00 - 07:00 pagi.
Aku sengaja masuk di shift keempat agar bisa pulang jam tujuh malam nanti. Tapi hujan tiba-tiba saja turun dengan derasnya setelah aku berniat pulang. Karena pelanggan kafe membludak sementara pelayan hanya ada sedikit, aku terpaksa mengambil satu shift lagi. Yang berarti aku baru bisa pulang jam satu tengah malam nanti.
Ahh, padahal aku sangat capek karena sudah mengambil tiga shift. Sekarang aku malah mengambil satu shift lagi. Ohh kasurku, aku merindukanmu.
Jam satu tepat adalah waktunya pergantian shift. Cepat-cepat aku mengganti seragam di ruang ganti dan bersiap-siap untuk pulang. Ini pertama kalinya aku akan pulang selarut itu. Biasanya aku selalu mengambil shift ketiga agar bisa pulang jam tujuh.
Alasannya, karena aku harus pulang ke kosan dengan jalan kaki dan harus melewati sebuah taman danau yang tentu saja akan sangat sepi di dimalam hari. Meski terang, tetap saja rasanya sedikit menakutkan untuk lewat seorang diri.
Aku mengeratkan jaketku saat merasakan udara malam semakin dingin. Tidak heran, karena hujan baru saja reda. Menyisahkan udara dingin di tengah malam yang semakin kelam. Sebenarnya, aku bukanlah tipe perempuan yang penakut. Terbiasa hidup sendiri membuatku jadi gadis pemberani. Sedikit!
Hanya saja, ada saat-saat tertentu dimana kita tiba-tiba merasa begitu ketakutan dan merinding. Seakan tubuh kita merespon dengan sendirinya bahwa saat ini kita tidak benar-benar sedang sendirian saja. Ada sosok lain dari dimensi lain yang juga sedang berada di sana. Meski tidak terlihat, tapi dia sebenarnya ada di dekatmu.
Bulu kudukku tiba-tiba meremang. Udara dingin terasa semakin jelas. Hanya saja, rasanya sedikit berbeda. Itu jelas bukanlah dingin karena udara sekitar yang dingin. Itu jelas karena satu dan lain hal.
Aku mempercepat langkahku saat bangunan tempat tinggalkan sudah terlihat. Tapi tepat setelah aku hendak membuka gerbang kosan, langkahku terhenti. Aku merasa seperti sedang diawasi. Rasanya begitu jelas. Membuatku tergoda untuk menoleh, penasaran dengan sosok yang sedang mengawasi ku itu.
Rasa penasaran yang mungkin akan segera aku sesali. Karena saat aku menoleh, aku benar-benar melihat sosok sedang berdiri di ujung jalan sana. Sosok pria berbaju serba putih dari atas hingga bawah. Wajahnya tampan dan terlihat seperti bercahaya.
Jika hanya melihat itu, mungkin aku masih bisa berpikir bahwa pria itu hanyalah orang biasa. Manusia biasa seperti diriku. Namun semua bakal praduga itu langsung ambyar saat aku melihat kedua kalinya yang jelas tidak menatap di atas tanah.
Yah !
Pria itu melayang.
Dan yang membuat jantungku hampir saja pensiun dini adalah saat pria itu menatapku sambil tersenyum manis. Demi otak cerdas kakek Albert Einstein, aku lebih baik melihat hantu menyeramkan dengan wajah dingin daripada hantu ramah yang malah tersenyum manis seperti itu. Bagiku, itu malah berkali-kali jauh lebih menyeramkan.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku masuk tanpa mau menoleh lagi. Aku benar-benar menyesali karena sudah menuruti rasa penasaran ku. Yang malah berujung melihat penampakan. Itu adalah pertama kalinya aku melihat hantu di dunia nyata. Meski sudah sering melihat sosok hantu di film-film horor, tapi ternyata tetap saja melihat hantu di dunia nyata jauh lebih menakutkan. Padahal wujudnya terlihat seperti manusia normal.
🍁
Keesokan harinya, tepatnya hari minggu. Lagi-lagi aku mengambil tiga shift sekaligus. Aku pulang pukul tujuh malam. Karena baru jam tujuh jalanan masih lumayan ramai. Beberapa pejalan kaki juga masih berlalu lalang di depan taman itu. Tadi aku sudah takut-takut kalau saja jalanan di depan taman itu sepi. Untunglah, masih ramai ternyata.
Aku berjalan seperti biasa. Tidak cepat juga tidak lambat. Aku mencoba bersikap biasa meski lagi-lagi udara dingin tiba-tiba menyapu kulitku. Udara dingin yang sama seperti kemarin. Saat aku mengangkat pandanganku, benar saja, dia ada di sana. Tepat di depanku, hanya beberapa meter saja dariku.
Lagi-lagi dia tersenyum ramah padaku.
Aku hampir saja berteriak. Beruntung, aku berhasil menguasai diriku. Jalanan masih ramai, dan aku bukan satu-satunya yang sedang melintas di sana. Anehnya, hanya aku yang melihat sosok pria berbaju putih itu.
Aku melanjutkan langkahku yang sempat terhenti. Mencoba menghiraukannya meski jantungku sudah berdetak tidak normal. Sial, kenapa aku harus melihatnya lagi.
Aku sampai di kos dengan selamat. Meski harus susah payah melewatinya yang terus menghadang jalanku. Aku terus mencoba mengabaikannya. Seakan aku tidak melihat apa-apa.
Hari berlalu seperti biasa. Meski sekarang ada satu tambahan baru. Kehadiran sosok pria berbaju serba putih itu. Setiap malam aku harus terus melihatnya setiap kali melewati jalanan taman danau. Seperti biasa dia terus mengikutiku hingga di depan gerbang kosan ku. Karena sudah sering melihatnya, perlahan aku mulai terbiasa. Seakan dirinya adalah sosok yang memang harus aku lihat setiap harinya.
Malam ini adalah malam Jum'at. Tepatnya malam Black Friday. Sebenarnya aku sengaja untuk libur bekerja malam ini karena tidak ingin keluar dan bertemu sosok itu. Katanya, malam Jum'at selalu lebih horor dari malam-malam biasanya. Katanya ! Karena itu aku memutus untuk libur sampai besok.
Sayangnya, alam seakan tidak ingin memihak padaku. Aku lupa kalau persediaan bulananku sudah habis. Hampir tidak ada yang bisa aku makan. Aku juga lupa belum belanja bulanan bulan ini. Pas sekali, ini adalah Black Friday. Pasti akan ada banyak diskon.
Karena alasan itu, pada akhirnya aku terpaksa keluar. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam saat aku meninggalkan kosan ku. Dan yah, seperti biasa dia sudah berdiri di depan gerbang seperti sedang menungguku. Tersenyum ramah padaku dan menatapku dengan tatapan seperti ingin mengatakan sesuatu.
Sepertinya aku benar-benar sudah terbiasa melihat sosoknya, hingga aku tidak lagi terkejut saat tiba-tiba melihatnya. Aku berjalan santai menuju super market yang berada di seberang jalan. Cukup dekat jadi aku tidak perlu terburu-buru.
Dia mengikutiku, sudah aku duga. Aku membiarkannya, seperti biasa aku bersikap seolah tidak melihatnya. Aku berjalan dia ikut berjalan. Aku bahkan bisa mendengar suara ketukan langkah kakinya. Aneh, kan!
Ahh, yah! Sejak pertama kali aku melihatnya, keesokan harinya kakinya sudah menapak di tanah. Seakan tahu bahwa hari sebelumnya aku cukup terkejut melihatnya yang mengambang di udara.
Dasar, setan aneh!
Aku mendorong troli belanjaan berkeliling mencari daftar belanjaan yang sebelumnya sudah aku catat di ponselku. Dia masih saja terus mengekoriku. Beberapa kali aku melihatnya menatap sebuah cemilan yang sama dengan kedua mata berbinar saat kami melewati rak yang sama. Aku bahkan bisa menyadari bahwa dia menginginkan makanan itu karena dia terus saja menatapnya.
Dan gilanya, aku mengambil cemilan itu dan memasukkannya ke dalam troli belanjaanku.
Bodoh!
"Pacarnya ganteng bangat, neng!" kata seorang kakek-kakek saat aku hendak menyebrang jalanan.
Aku cukup terkejut mendengarnya. Aku menoleh pada Sang Kakek yang berdiri di samping kiriku sebelum kembali menoleh ke samping kananku. Tapi masih tetap berlagak seolah tidak melihatnya.
"Maksud kakek apa, yaa? Aku kan lagi sendiri, kek," kataku mencoba tersenyum senormal mungkin.
"Sendiri? Ah, pantas saja neng membawa belanjaannya sendiri! Kakek pikir dia pacar neng." katanya lagi.
Okay, fix!
Kakek itu juga melihatnya. Aku hanya tersenyum untuk menanggapi Sang Kakek. Mencoba bersikap normal agar kebohonganku tidak sampai ketahuan. Sayangnya, sepertinya Sang Kakek tahu bahwa aku hanya sedang berbohong kalau aku tidak melihatnya.
Kami menyebrang bersama. Dengan sedikit kesulitan aku berjalan sambil menenteng empat kantongan besar. Dua kantongan di tangan kanan dan dua lagi di tangan kiriku. Ahh, seharusnya aku memesan ojek online saja tadi. Berat juga ternyata.
Karena kurang hati-hati, kakiku tersandung dan tubuhku tiba-tiba oleng. Dalam keadaan seperti itu, aku sudah yakin tubuhku akan mendarat mulus di atas tanah. Di sana hanya tinggal aku dan pria itu. Aku berpisah dengan Sang Kakek setelah menyebrang tadi.
Satu detik...Dua detik...Lima detik...
Aku sama sekali tidak merasakan sakit. Tubuhku bahkan tidak jatuh mencium tanah air. Perlahan aku membuka kedua mataku yang terpejam otomatis. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat wajah pria itu berada hanya beberapa centi dari wajahku. Tapi bukan itu yang membuatku cukup terkejut, melainkan kedua tangannya yang sedang menahan tubuhku.
Dia bisa menyentuhku?
Berarti aku juga bisa menyentuhnya, bagaimana bisa?
Bukankah manusia tidak bisa menyentuh hantu, dan begitu pun sebaliknya?
Tapi, kok...
Aku kehilangan kata-kataku.
Aku tidak bisa lagi mengelak bahwa aku tidak melihatnya, karena sekarang pandangan kami bertemu. Saking terkejutnya aku sampai mematung untuk beberapa saat. Aku bahkan membiarkannya saja saat ia meletakkan tiga kantong belanjaan di tangan kananku. Berlagak seolah tiga kantong belanjaan itu ditenteng olehku, padahal sebenarnya dialah yang menentengnya. Nyatanya aku hanya membawa satu kantongan belanjaan saja.
Aku menata belanjaan setelah kami sampai di kamar kosanku. Aku masih diam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Berbicara dengan hantu? Bukankah itu terdengar sangat konyol?
Tapi, aku tidak bisa untuk terus diam. Aku harus menanyakan kenapa dia mengikutiku. Kenapa aku bisa melihatnya dan kenapa aku. Kenapa bukan orang lain?
"Bukankah ada yang ingin kau katakan padaku?" aku menyerah untuk terus diam dan berpura-pura tidak melihatnya.
Saat ini kami duduk saling berhadapan di lantai beralaskan karpet di kamarku. Aku bahkan berani menatap kedua matanya yang indah sekarang. Senyumnya seketika merekah. Terang, seperti Sang Mentari. Dia terlihat sangat bahagia karena aku akhirnya berbicara padanya.
"Aku hanya ingin menjadi temanmu." jawabnya penuh semangat.
Aku menautkan kedua alis ku. Sedikit tidak paham dengan maksudnya. Teman? Apa kau sedang mengajakku bercanda, wahai hantu tampan? Jika iya, maka sungguh itu lelucon yang sangat basi.
"Aku ingin menjadi sahabatmu, Naura! Namaku Ken. Apa kau ingat dulu kita sudah pernah bertemu di taman danau?"
Deg!
Bodoh!
Kenapa aku baru mengingatnya sekarang?
Dia... Dia adalah pria yang dulu pernah aku temui di taman danau. Tepatnya sekitar 2 tahun yang lalu saat aku masih menjadi mahasiswa baru. Berarti aku sudah cukup lama bisa melihatnya. Pria yang tiba-tiba menghampiri ku saat aku sedang duduk seorang diri di taman danau dan mengajakku berteman. Saat itu, aku hanya menanggapinya dengan senyuman tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku bahkan tidak tahu bahwa dia adalah hantu.
Malam itu, entah bagaimana ceritanya aku mendadak akrab dengannya. Pria hantu bernama Ken, entah mengapa aku merasa seperti sudah lama mengenalnya. Cerita demi cerita mengalir begitu saja. Aku benar-benar mendapatkan sahabat baru. Sesekali aku tertawa sendiri. Menyadari betapa anehnya diriku. Bersahabat dengan hantu.
Lucu sekali!
Ahh, dia bahkan bisa makan seperti manusia. Lihat saja, sekarang dia sedang menikmati cemilan yang tadi ia tatap dengan mata berbinar. Ia bahkan hanya memberiku beberapa saja karena sangat menyukainya.
Aku tidak gila, kan?
Aku masih waras, kan?
Sahabat beda alam, kedengarannya jelas aneh. Tapi, aku memilikinya. Sahabat beda alam itu.
Sejak hari itu aku benar-benar bersahabat dengannya. Setiap malam ia menemaniku dan mengikuti kemana pun aku pergi. Menemaniku, mengusir kesunyian yang datang menyerang karena kesendirian. Aku benar-benar tidak pernah lagi merasa sendiri sejak saat itu.
Aku bahagia mengenalnya. Aku bahagia memiliki sahabat sepertinya. Meski berbeda alam, kami tetap adalah sahabat yang takkan terpisahkan. Hidupku yang awalnya seperti selembar kertas polos, kini telah dipenuhi oleh ribuan bahkan mungkin lebih banyak lagi warna.
Dia selaku ada di sampingku, menemaniku, menghiburku, menenangkanku, mengursir sunyiku, dan mendekapku.
Ken, Sahabat Beda Alam-ku.😊
~
~
~
~
♥SELESAI♥🤗🤗😊