-Di Sekolah Intelijen Tel-Aviv
Namaku Josef, aku dari keturunan yahudi usiaku 16 tahun. Aku sekolah di sekolah yang mahal, karena keluargaku adalah orang yang sangat kaya raya. Hari ini aku telah menyelesaikan pendidikan di sekolah intelijen dengan nilai yang sangat sempurna. Aku telah menyelesaikannya padahal seharusnya aku baru lulus 5 tahun lagi,sedangkan teman-temanku yang seangkatan mereka akan lulus 5 tahun lagi, teman-temanku selalu bilang bahwa aku jenius, padahal aku merasa tidak seperti yang mereka pikirkan.
Acara wisuda tinggal beberapa menit lagi dibuka aku menunggu di sebuah kursi panjang yang ada di halaman sekolah. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku dari belakang. Aku menoleh ternyata itu adalah Ridho kakak kelasku yang dulu pernah membullyku waktu pertamakali aku ke sekolah, ia menyiramku dengan seember air dan mengurungku di ruangan yang sangat gelap selama 3 jam. Ternyata ada temanku yang melaporkan kejadian itu kepada orang tuaku. Ayahku sangat marah tidak terima jika aku diperlakukan seperti itu, ayahku menampar Ridho dan mengatakan kepada pihak sekolah untuk mengeluarkan dia dari sekolah,jika tidak maka dana fasilitas bantuan ayah untuk sekolah ini akan dicabut. Petugas sekolah hanya mengangguk-angguk saja. Semenjak itu Ridho memohon kepadaku agar memaafkannya dan membujuk ayahku untuk tidak mengeluarkannya. Aku melakukannya dan Ridho akhirnya masih bisa bersekolah,setelah itu akulah menjadi orang yang paling sok berkuasa di sekolah dan suka nyuruh-nyuruh kakak kelas, apalagi yang namanya Ridho. Tapi sekarang Ridho telah menjadi teman seangkatanku dan teman baikku. Setelah aku menunggu lama sekali acara wisuda dibuka, acarapun dibuka dengan kata sambutan dari pihak kepala sekolah dan pejabat-pejabat tinggi militer israel. Ayahku adalah termasuk pejabat militer yang paling tinggi. Karena ayahku adalah yang mengatur strategi penyerangan terhadap negara-negara islam. Oh iya, aku lupa, aku sangat benci menyebut nama islam itu karena mereka itu perusak bumi dan para teroris dunia yang harus dilenyapkan dari dunia ini.
Setelah acara wisuda selesai aku berkeliling di gedung-gedung sekolah, aku melihat lab komputer, robot-robot, dan beragam jenis benda aneh untuk percobaan. Aku melihat-lihat agar terus mengenang sekolah ini dan tak akan pernah lupa. Aku masih ingat bahwa aku pernah meledakkan lab.sekolah itu adalah kejadiam konyol, hingga akupun hampir mati terjebak di dalamnya, untungnya ada petugas pemadam kebakaran datang untuk memyelamatkanku.Sesudah itu orang tuaku yang mengganti rugi kerusakannya.
Aku langsung pulang ke rumahku, ternyata saat aku sedang membuka pintu rumahku di dalam rumahku ada banyak anggota militer yang sedang duduk. Salah satu dari mereka menyapaku "halo, nak kabarmu baik? " kata Seinde.
"Aku baik-baik saja." jawabku.
Ayahku datang ke ruang tamu dan wajahnya begitu serius.
"Josef sebentar lagi engkau akan menggantikan posisi ayahmu sebagai ketua militer, tinggal menunggu 2 tahun lagi kalau sekarang belum cukup umur sampai kamu berumur 18 tahun" ucap ayahku.
Aku hanya terdiam aku merasa bingung sekali wajar saja karena usiaku baru menginjak 16 tahun.
Keesokan harinya aku diajak oleh orang tuaku ke rumah paman. Kalau dipikir-pikir, rumahnya mewah tetapi masih kalah dibandingkan dengan rumahku yang super mewah. Aku disambut dengan gembira oleh keluarga pamanku dan mereka mengucapkan selamat atas kelulusanku.
Kami semua dijamu dengan makanan yang sangat lezat.
"Josef kira-kira setelah kamu lulus apa yang akan kamu lakukan sekarang?." Tanya Johan.
"Aku akan mengamalkan ilmu yang telah aku dapatkan." jawabku asal.
Johan lalu tersenyum sinis kepdaku sikapnya sekarang berubah aneh drastis seperti itu, padahal sebelumnya dia sangat ramah kepadaku, entahlah apa yang sedang dipikirkannya. Ibuku menceritakan tentang liburan ke Jepang. Bangaimana ibuku sangat suka dengan pemandangan Jepang, bunga-bunga yang indah dan makanan sushi yang rasanya sensasional. Kami liburan hanya bertiga yaitu Ayah, Ibu dan aku, karena aku adalah anak satu-satunya. Jepang sangat menakjubkan karena teknologinya maju sekali dan aku mengusulkan untuk mengunjungi sebuah pabrik kamera. Aku lalu menonton proses pembuatannya kemudian aku membelinya karena tertarik dengan produknya.
Sepulang dari rumah pamanku aku bergegas menuju ke kamarku. Aku mengambil sebuah kotak yang disimpan di sebuah dinding, aku membukanya dan di dalamnya berisi sebuah alat penyadap buatanku sendiri, aku berniat jahil sekali menjadikan pamanku sebagai kelinci percobaanku. Aku telah berhasil membuat serbuk yang bisa mengeluarkan sinyal istilah kerennya itu GPS agar aku bisa mendengar suara orang yang berbicara di dekat serbuk itu. Butuh bertahun-tahun aku membuatnya tapi sekarang hanya beberapa menit. Aku bergegas tidur agar aku besok lebih segar menjalankan rencanaku.
Besok paginya aku dibangunkan oleh ibuku, aku sangat malas sekali bangun, lalu aku menarik selimutku sampai menutupi kepala, ibuku juga tak henti-hentinya menarik selimutku agar aku bangun.
"Hei, bangun Josef katanya mau jadi militer tetapi dibangunkan saja susahnya minta ampun, gimana kalau tiba-tiba ada bom ketika perang tapi kau malah enak saja tidur-tiduran di kasur nantinya kau mati konyol." kata ibuku.
Aku menguap sebentar dan melanjutkan tidurku yang nikmat. Ibuku langsung pergi meninggalkan kamar dan berkata
"Ada sesuatu yang penting untukmu loh, kalau kamu melewatkannya kamu akan menyesal."
Aku langsung terperanjat bangun dan cepat-cepat menuju kamar mandi. Ketika aku sedang menuruni anak tangga aku terpeleset sampai guling-guling ke bawah itu karena aku terburu-buru. Dari bawah ternyata ada Rose menertawakanku. Rose adalah orang yang sangat aku suka dari semenjak aku pertama kali bertemu dengannya dia menjadi teman yang setia, ketika aku ada masalah aku curhatnya ke dia lalu Rose menyemangatiku agar aku selalu kuat.
"Ingat jangan lupa kalau jalan hati-hati jangan rusuh." kata Rose.
Mukaku semakin memerah karena malu
"Bukannya nolongin malah ngetawain ayo cepetan bantuin." ucapku.
Rose membopong tubuhku ke kursi, Rose berteriak memanggil pembantu untuk membawakanku kompres air hangat dan antiseptic karena di wajahku ada darah mengalir. Rose kemudian yang mengobati mengompres lukaku.
"Terimakasih Rose." kataku.
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke Danau tapi karena kondisimu seperti ini jadinya batal" Rose membuka percapakan.
"sebenarnya sekarang aku siap kok karena di rumah itu membosankan mendingan di luar sambil melakukan hiburan ataupun kegiatan" jawabku.
Dalam hati aku berkata sebenarnya kalau bersama Rose itu menyenangkan walaupun aku dalam keadaan sakitpun aku akan memaksakan yang penting aku tetap bersama Rose apalagi yang membuat Rose bahagia aku akan bahagia.
"Akh..!" aku mengaduh kesakitan dan suara itu terdengar keras karena Rose menekan lukaku.
"Daritadi aku nanya kamu mau apa, tapi gak dijawab kamunya diem mulu aku berpikir luka di kepalamu sangat serius apalagi sampai membuatmu gila" kata Rose.
"Yang bener aja aku jadi gila buktinya aku sekarang menjawab pertanyaanmu." jawabku.
Ibuku tiba-tiba datang setelah mendengar teriakanku.
"Ada apa ini kenapa kamu teriak-teriak nak?" tanya ibuku.
Ibuku langsung kaget melihat diriku yang sedikit terluka.
"Josef kenapa kamu jadi begini?" tanya ibuku.
"Jatuh dari tangga bu." jawabku.
Ibuku kemudian terlihat seperti menelepon dokter, aku mencegahnya dan bilang bahwa aku baik-baik saja. Ibuku mengangguk dan bergegas menuju ke kamar meninggalkan ku beruda bersama Rose, aku sangat senang. Aku mengambil snack dari lemari untuk dimakan bersama Rose seraya menikmatinya sambil bercerita kemana saja.
2
Hari ini aku telah sangat siap melanjutkan rencanaku. Aku mengenakan baju kaos dan celana pendek topi hitam. Aku membawa serbuk sinyal buatanku aku mengendarai sebuah mobil menuju rumah pamanku. Setibanya di sana aku mengetuk pintu
Tok! Tok! Tok!
Pintu dibuka dan muncul sepupuku Johan
"Tumben masih pagi udah kesini ada perlu apa? Tanya Johan.
"Aku mau bertemu paman Nichol." jawabku.
"Paman sedang meminum kopi, masuklah." ucap Johan mempersilahkan.
"Halo paman apa kabar?"
"Aku baik-baik saja." jawab paman.
"Paman aku kan mau ikutan lomba fashion show yang diadakan di ibukota, apakah paman ada saran aku harus memakai baju apa?" tanyaku.
"Kayaknya kalau kamu pake baju bos-bos kantoran cocok deh." jawabnya
Aku langsung menyambar kacamata yang sedang tergeletak di meja.
"Paman kacamata ini cocok kan dipake sama aku?" tanyaku.
"Kayaknya kurang pas mendingan kamu pakai kacamata hitam saja." saran pamanku.
"Okelah" jawabku.
Tanpa sepengetahuan pamanku aku mengusap-usap kacamata pamanku dengan serbuk sinyal tujuannya agar aku bisa mendengar percakapan pamanku ketika berbicara ha ha ha.
Aku langsung minta izin ke toilet untuk mengecek alat penyadapku berhasil atau tidaknya. Kulihat-lihat dulu sekeliling toilet takutnya ada CCTV setelah dicek ternyata tidak ada. Aku mencari sinyal yang tadi aku simpan di kacamata, setelah pencarian digital akhrinya tersambung dan aku langsung minta izin pulang ke rumahku.
Aku mengendarai mobilku memasuki daerah hutan tiba-tiba ada longsor yang mengahalangi jalanku, akhirnya aku memutar arah balik dan perjalanan ke rumahku menjadi lebih lama. Ponselku berdering tiit....tiiit..tiit.
Aku langsung mengangkat hpku ternyata temanku Steve yang menelepon dan memberi kabar bahwa aku harus mewakili alumni sekolah sebagai pengisi acara.
Aku menolaknya dengan beralasan tidak enak badan padahal aku hanya malas saja dan aku menyuruh John menggantikanku.
Bersambung