Arini berada di sebuah ruangan gelap, tak ada setitik cahayapun yang terlihat, keringat dingin mengucur deras di pelipisnya, "Aku dimana?" gumam Arini.
Suasana mencekem teramat sangat ia rasakan, terlebih lagi ia takdapat melihat di kegelapan, hembusan angin yang cukup kencang menerpa tubuh Arini hingga tubuhnya terangkat ke langit-langit ruangan, "Tolong...!" teriak Arini namun semua terasa sia-sia, tidak ada seorangpun yang mendengarnya, diapun taktau berada dimana.
Setelah tubuhnya terangkat cukup tinggi tiba-tiba, tubuhnya di hempaskan ke lantai membuat Arini merasakan sensasi terkejut yang teramat sangat, seketika ia tersadar, dia membuka kelopak matanya bola matanya bergulir kesana kemari menatap sekeliling memastikan dimana ia berada saat ini.
Langit-langit kamar berwarna putih menandakan bahwa dia berada di dalam kamar miliknya, lemari kayu dan poto dirinya tengah tersenyum tak luput dari pandangannya.
"Kenapa aku selalu bermimpi seperti ini setiap malam, aku benar-benar tidak bisa tidur." gumam Arini. Suara musik yang mengalun tiba-tiba di ruang tamu mengejutkan Arini, dia menajamkan pendengarannya, musik itu terus mengalun pelan, membuat tubuh Arini berdesir dia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Sudah beberapa kali Arini membicarakan pengalamannya ini kepada orangtuanya namun, orangtuanya tidak percaya mereka bilang Arini hanya bermimpi saja namun, Arini yakin ini semua nyata bukan mimpi, suara musik menghilang di gantikan suara senandung kecil yang tidak jelas lalu, suara itu semakin terdengar jelas dia memanggil-manggil nama Arini.
'Arini...Arini....Arini...Arini... suara menyeramkan itu terus mengelilinginya, membuat Arini semakin meringkuk ketakutan, dia tidak berani membuka selimut yang menutupi wajahnya, mulut Arini komat-kamit mengucapkan do'a-do'a yang dia bisa, untuk menghindarkannya dari mahluk halus yang terus mengganggunya.
Pagi menjelang, Arini tidak bisa tidur kembali semalam hingga kantung matanya menghitam, Arini keluar dari kamarnya dengan langkah gontai, matanya masih mengantuk namun, dia harus berangkat sekolah.
"Arini, kamu kenapa nak, ko lesuh banget?" tanya ibu.
"Arini mimpi buruk lagi bu, dan semalam Arini dengar suara yang terus manggil-manggil nama Arini, Arini benar-benar takut bu, Arini juga susah tidur, kalau Arini tidur mimpi itu selalu datang bu, Arini harus bagaimana? Arini benar-benar tersiksa bu jika Arini terus ngalamin hal kaya gini tiap hari."
"Ibu mengerti nak, nanti ibu coba bicara sama bapak ya." tutur ibu, wajah ibu nampak cemas, memikirkan ucapan putrinya yang selalu bilang di ganggu mahluk tak kasat mata setiap malam, entah itu di alam mimpi atau di dunia nyata.
Arini berangkat sekolah seperti biasa, menjalani rutinitas sebagai anak yang masih mengenyam pendidikan di bangku smp, dia juga di kenal sebagai anak yang pandai dan juga sopan, teman-temannya tidak tahu apa yang selalu di alami Arini, dia sengaja menutup rapat perihal masalah mahluk halus yang selalu mengganggunya itu, dia tidak ingin di anggap orang aneh oleh teman-temannya sendiri.
Sore selepas magrib seperti biasa Arini selalu berangkat mengaji bersama teman-temannya ke musola yang lumayan cukup jauh dari rumah mereka. Setelah selesai mengaji dan menunaikan shalat isya berjamaah Arini dan kawan-kawanpum kembali pulang, seperti biasa teman-temannya berceloteh ramai mereka saling bercerita tentang pelajaran di sekolah dan guru yang paling mereka sukai begitupun dengan Airini. Namun, perhatiannya teralihkan ketika mereka melwati sebuah pemakaman lama yang hanya terdapat beberapa makam disana, Arini melihat benda putih yang separuh tertanam di tanah dan separuhnya lagi terlihat dan Arini yakin itu adalah pocong yang hanya terlihat bagian kepalanya saja di depan batu nisan, Arini bergidik ngeri dia merasai bulukuduknya berdiri namun, sepertinya teman-temannya tidak melihat pemandangan itu, terbukti mereka masih asik bercerita satu samalain, tanpa menghiraukan apa yang Arini lihat.
"Arin, ko kamu diem aja sih ada apa?" tanya Ria salah satu teman Arini.
"Nggak ada apa-apa ko Ria, aku hanya sedang menghapal do'a yang di berikan pak ustadz tadi." ucap Arini berdalih, dia tidak ingin teman-temannya ketakutan dengan apa yang di lihatnya.
Arini terus berjalan berusaha mengalihkan perhatiannya pada tempat lain, setelah sampai di depan rumah Arini dan kawan-kawan berpisah masuk ke rumah masing-masing. Arini hendak masuk namun, dia melirik ke seatang pohon mangga yang bediri kokoh di halaman rumahnya, alangkah terkejutnya dia, Arini melihat mahluk berwarna hitam dengan tubuh tinggi menjulang dan seluruh kepalanya di penuhi bulu.
Aaaaaa..... Arini berteriak dan masuk dengan menabarak pintu rumahnya. "Arini kamu kenapa?" tanya ibu panik, sepertinya ibu baru saja selesai menunaikan shalat isya karena dia masih mengenakan mukena berwarana putih.
"Bu, Arin lihat..! ucap Arini terputus karena ketakutan.
"Kamu lihat apa?" tanya ibu cemas.
"Arini lihat mahluk hitam yang di penuhi bulu bu." ucap Arini setelah dia bisa menguasai ketakutannya.
"Pak, ini gimana bapak lihat kan masalah ini semakin serius, bagaimana kalau kita adakan pengajian saja di rumah ini?" usul ibu.
"Sepertinya ibu benar, besok kita adakan pengajian dan mendo'a kan Arini agar terjauh dari mahluk-maluk seperti itu." akhirnya bapak Arini pun percaya, dengan apa yang di dengarnya.
"Bu, apa boleh Arini tidur sama ibu malam ini? Arini takut tidur sendirian bu." pinta Arini.
"Iya nak boleh, kamu ganti baju dulu ya, setelah itu kamu tidur ya." Arini mengaangguk dan pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.
Aaaaa......Arini kembali berteriak ketika melihat sosok wanita berbaju putih berdiri di dekat kaca jendela, rambutnya hitam panjang menjuntai hngga ke lutut namun, wajahnya tak terlihat karena posisinya membelakangi Arini.
"Ada apa lagi Arin?" tany ibu yang baru saja datang karena mendengar teriakannya.
"Itu bu." tunjuk Arini dengan sebelah tangannya karena tangan yang satunya lagi dia pakai untuk menutup matanya.
"Itu apa nak? tidak ada apapun di sana." ucap ibu.
"Tapi, tadi ada." ucap Arini dengan tubuh gemetar.
"Sudah nak ayo!" ajak ibu menggandeng pundak Arini.
Esok sorenya seperti yang sudah di rencanakan, orangtua Arini mengadakan pengajian, mereka memanggil beberapa ustadz untuk mendo'a kan Arini agar terhindar dari gangguan mahluk-mahluk tak kasat mata yang selalu mengganggunya setiap hari.
Satu bulan berlalu, Arini sudah tidak pernah melihat mahluk-mahluk yang sering di lihatnya, mimpi-mimpi buruknya pun perlahan mulai berhenti datang, Arini kembali hidup normal diapun sering mengikuti pengajian bersama ibunya, terbukti ayat suci Al-Qur'an mampu menjauhakan mahluk-mahluk halus yang berniat mendekati Arini.
Arini kini hidup dengan tenang selayaknya anak-anak gadis pada umumnya, ketakutan yang sering di rasakannya setiap malam perlahan memudar, seiring berjalannya usia Arini menuju kedewasaan.
Tamat.
Mohon maaf 🙏 bila ceritanya kurang seram. Author hanya mencoba membagi pengalaman yang pernah author alami.
Terimakasih, untuk yang berkenan membaca. ^_^