Hari Senin awal pertama masuk sekolah. Pastilah setiap murid merasakan rasa cemas. Siapa guru bidang studinya, siapa walinya siapa teman semeja dan lain sebagainya.
Setelah diantar orangtua, karena orangtuaku bekerja ke Medan, jadi kami selalu sama. Tentu karena arah sekolahku yang sekarang searah dengan kerja Ayah.
Saya berlari kecil dan menyalam guru Bimbingan Konseling yang sudah berdiri di gerbang. Layaknya seperti pramugari di dalam pesawat yang menunggu penumpang. Bel berbunyi dan perintah agar berbaris mengikuti upacara. Katanya upacara akan menanamkan jiwa patriotisme di hati murid. Menghormati jasa para pahlawan.
Upacar berjalan selama tiga puluh menit. Isi amanat Pembina upacara mengenai motivasi dalam belajar.
“Kelas baru, sekolah baru, semangat belajar juga harus baru.” Tegas Pembina pagi itu.
“Ingat hanya orang dungu yang benci akan teguran.”
“Jangan pernah benci pada guru yang selalu memarahimu saat kamu bersalah.”
Hmm, rasanya sedikit menyejukkan imanku. Ha..ha…ha.
Bel masuk pelajaran pertama berlangsung. Guru yang masuk juga hanya memberikan motivasi dan perkenalan. Sesuatu yang mengasyikkan karena jam pulang lebih cepat karena adik kelas mengikuti masa orientasi sekolah.
Hari berikutnya suasana sudah berbeda. Guru yang masuk ke kelas sudah berganti. Berbeda dengan waktu kelas tujuh. Begitu juga dengan guru bidang studi IPA kesukaanku. Aku sebenarnya menyukai ilmu IPA karena saya bercita-cita menjadi bidan.
“Kenapa kelas nya masih kotor?” itu yang pertama beliau ucapkan begitu masuk ke kelas.
“Bersihkan dulu, Ibu tidak mau mengajar kalu masih jorok.”
“Hmm, pasti Ibu yang satu ini pembersih,” tebakku dalam hati.
“Biar tahu kalian ya, Ibu itu pembersih. Gak suka yang jorok-jorok. Kalian pun kalau tidak mandi ke sekolah, Ibu tidak mau mengajari kalian.”
Kalimat itu terdengar lucu. Tapi karena suasana tegang tidak ada yang berani tertawa. Atau barangkali ada yang tersinggung karena tidak mandi. Ha…ha..ha.
Setelah kami bersihkan. Beliau lalu memperkenalkan diri. Namanya Ibu Gabe. Raut wajahnya manis mirip orang Ambon. Senyumnya selalu mekar. Akan tetapi intonasi kalimatnya agak pedas.
Waktu berjalan dengan cepat. Ibu Gabe selalu memotivasi kami saat belajar. Tulisan harus rapid an buku harus ada dua. Satu buku latihan dan satu lagi buku catatan.
“Kalian harus hapal rumus-rumus ya?” pesan beliau saat kami belajar IPA materi Fisika. Ternyata beliau jurusan Fisika waktu kuliah. Saat menerangkan Fisika terlihat seperti air mengalir menjelaskan.
Namun jika ada soal soal penyelesaian yang menggunakan hitungan rasanya kelas terlihat menegangkan.
“Loh, kenapa kalau perkalian koma-koma kalian lambat?”
“Perhitungan pecahan lagi, kok gak begitu paham?” teriak beliau sambil memukul meja dengan rol.
“Maklum Bu, kami generasi Covid.”
“Selama pandemi kami jarang belajar serius.” Ucapku sedikit gemetar.
“Oh, gitu pula ya? Ya sudahlah. Kalian pelajari lagi di rumah.”
“Kita harus banyak latihan kalau ingin pintar.”
“Iya Bu. Semoga Ibu maklum dengan keadaan kami.”
***
Semester dua materi pertama adalah tekanan. Lengkap dengan hukum Archimedes, hukum Pascal dan hukum tekanan zat air. Selalu dimulai dengan mengabsen. Lalu menanyakan PR. Beliau akan marah jika sedikit yang mengumpul PR.
“Gimana Ibu mau masukan nilai mu ke rapot , kamu saja enggak pernah mengerjakan PR.” Bentaknya pada Udut yang duduk di bagian belakang. Udut memang terkenal dengan malasnya.
“Buku catatanmu saja Ibu nilai. Apakah rapi?”
Udut kembali diomeli. Setelah diomeli Ibu menyuruh Udut untuk memotong kukunya. Kuku itu sumber penyakit katanya. Sehabis dari WC harus dicuci dengan sabun. Nah itu yang membuatku menyukai Ibu Gabe ini. Dia guru pembersih. Walau sedikit cerewet tapi demi kebaikan kan bagus juga.
“Kalian mau sukses, nggak?”
“Mau Ibu.”
“Kalau mau, ya belajar. Buang ras malas. Paham?”
“Paham Bu.”
“Biar tahu kalian, rakyat Indonesia itu pekerja keras. Jadi camkan dan lakukan itu.”
Kami terdiam. Masih banyak nasihat yang beliau berikan. Membuat kami tersadar akan kelemahan kelemahan yang melilit di raga kami.
“Jika uang orang tua mu tidak mencukupi, jangan menyerah.”
Ah, aku tertunduk mendengarnya. Akau teringat keadaan orangtuaku. Hatiku semakin termotivasi mendengar kalimat terakhir ini.
“Pasti ada jalan. Tuhan tidak tidur. Makanya berdoa.” Pesannya bagai pendeta yang mengkotbahi umat. Memang menurut informasi Ibu Gabe ini adalah sintua atau pelayan gereja yang bertugas menyampaikan firman.
“Banyak cara Nak, misalnya dapat beasiswa kalau pintar.”
“Atau kalian bisa urus surat kartu kurang mampu.”
“Camkan itu anak anakku.“ Suaranya melembut.
Kami terdiam. Merasa bersalah karena beberapa juga ternyata tidak mengerjakan tugas. Tidak terasa jam pulang telah berakhir. Kami berterima kasih atas nasihat yang beliau suntikkan pada kami.