Kisah nyata yang kualami dua tahun lalu.
Saat itu aku baru duduk di bangku SMU kelas dua dan bibiku ialah seorang mahasiswi cantik kuliah tingkat akhir yang sudah punya kekasih. Bibi Ani memiliki seorang tunangan yang ganteng bila dibandingkan dengan diriku yang tidak ada apa-apanya ini.
Suatu malam, bibiku mengetuk pintu kamarku yang kebetulan kami berdua ngekost bareng di satu rumah indekos orang tionghoa di kota M. Kost ini dekat dengan kampus dan sekolahku jadi bibi dan aku saling berboncengan dengan sepeda motornya kalau ke kampus bersama-sama. Sudah ku tolak kebaikan bibi, tapi dia memaksaku untuk pergi barengan kecuali kalau aku sekolah pagi, dan bibi masuk sore hari barulah kami tidak akan bersama. Teman sekolah selalu meledekku. Kata mereka bibiku sangat cantik dan seksi. Mereka tidak yakin kalau dia adalah adik ibuku yang paling bontot. Mungkin karena perbedaan umur kamu yang hanya berbeda beberapa tahun saja. Bibi muda yang cantik ini sering membuatku khawatir karena para lelaki hidung belang selalu melihat tubuhnya dengan mata melotot.
"Bi Ani, kalau pakai baju itu yang sopan sedikit tutupin itu entar kalau diganggu gimana?" Tegurku suatu sore, ketika dia menjemputku dan pulang barengan ke kost.
Karena rumah kami sangat jauh dari kota Manado. Orangtua ku di daerah T bersama dengan bibi yang juga tinggal dengan ayah dan ibuku. Pernah pacarnya yang sudah kerja mapan itu mau meminangnya tapi bibiku menolak katanya aku masih sekolah, tunggu aku kelar kuliah baru dia mau menikah. Kebahagiaan bibi apa hubungannya denganku, sering aku bertanya-tanya dalam kebingungan. Bibi memiliki alasan kalau aku kesepian dan sendiri kalau nanti dia menikah kasihan aku, begitu alasan yang aneh yang dibuat bibiku ketika menolak lelaki yang menjadi tunangannya.
Tok tok tok...
Suara ketukan pelan di pintu kamarku. Aku segera pakai baju ak lupa celana dalam, hanya kaos oblong tua dan celana dalam saja. Aku mengintip di jendela kamar. Bibi Ani!? Ngapain malam-malam begini ke kamarku? Malah kehujanan lagi, habis ngapain dia?
Memang bibi Ani sering ke kamarku tapi tidak pernah masuk ke dalam, ia hanya bertamu di teras kecil samping kamarku. Aku tertegun melihat dirinya berantakan. Begitu pintu kamarku terbuka bibi langsung memelukku sambil menangis. Aku yang polos dan tidak tahu apa-apa itu kaget spontan mendorong bibi. "Kenapa kok bi Ani nangis?" tanyaku dengan gusar. Bibi makin menjerit-jerit. Lalu aku menutup pintu kamar berjalan ke meja dan membuatkannya teh .
"Di minum dulu, Bi," kataku lembut. Bibi cuma mengangguk tanpa menyentuh teh yang kusuguhkan padanya. Ia masih sesenggukan.
"Bi, ada apa ini coba ceritain apa yang terjadi?" tanyaku memegang pundaknya. Bibi Ani mengangkat wajahnya, betapa kagetnya aku melihat wajahnya memar-memar, ada bengkak di pipi kirinya.
"Siapa bajingan yang memukulmu, om Andi kah?" Atudingku mengamuk. Aku tahu tunangan bibi itu agak kasar orangnya, tapi belum pernah kudengar om main tangan sama bibiku. Ketika aku sedang emosi, bibiku cuma menangis sambil tersenyum.
"Lebih baik bibi putus saja sama om Andi itu, sebelum bibi menikah sama orang yang suka main tangan, Adi benci orang yang nggak menghargai perempuan!" ucapku dengan berang. Ku tonjok dinding kamarku saking marahnya aku.
Bibi cuma tersenyum, ia sudah tidak menangis lagi. Lalu bibi mulai menyeruput teh hangatku.
"Manis, kayak ponakan bibi,"bisik bibiku seraya mendekat. Tubuhku tersandar di sudut kamar.
Aku kaget sekali ketika bibiku melingkar tangannya di leherku lalu menarik aku lebih dekat ke wajahnya.
"Eeh bibi mau ngapain?" sentak ku takut. Aku mendorong dirinya. Namun bukannya Bi Ani menjauh dan sadar dia malah memelukku erat.
"Ada apa ini Bi, jangan kayak ginilah nanti khilaf," ucapku menolaknya. Bi Ani menatapku sangat lembut seolah seperti sedang meminta sesuatu. Bi Ani berbisik di telinga ku sampai membuat aku merinding!
"Tolong kalau kita sedang berduaan panggil namaku saja," bisiknya.
"Ya gak bisa begitu, 'kan bibi ini adik ibuku. Gak sopan Bi!" ucapku dengan nada dingin. Lalu tangan bibi mengusap bagian bawahku dengan berani. Astaga! Bi sadarlah aku ponakan mu!
"Kamu gak mau ya? Bukannya kamu pernah bilang tidak setuju aku pacaran dengan koh Andi?" Suara bibi membuatku berdebar-debar. Apalagi matanya itu yang berubah menjadi redup. apakah bibi ini kemasukan setan genit!? Aku terus menghindari dia, bahkan aku mau keluar dari kamar, tetapi tangan bibi sangat cepat. Ia mengunci kamarku dan kuncinya disisipkan ke payudaranya. "Astaga, Bi. Jangan main-main! Sini kunci kamarnya!" Aku menariknya. Sialnya kami malah berjatuhan di kasur saling tindih.
"Di, kamu gak mau ya?" rayunya. Rayuan Bibi membuatku merinding. apalagi itu tangan bibi sudah sangat lihai meraba-raba tubuh bawahku. Aku yang lelaki normal ini segera"terbangun ". Junior yang susah payah ku tundukkan sekarang malah sudah beringas seperti serigala.
"Bahaya Bi. Keluar dari kamarku!" teriakku kacau. Aku berusaha mendorong dia, tapi bibi malah membuka bajunya yang tadi sudah basah karena dirinya kehujanan. Aku memelototi seluruh tubuhnya yang indah itu. Belum pernah aku melihat tubuh wanita sesempurna bibiku.
"Bi, tutup kembali," bisik ku dengan gugup. Tangannya malah bermain di "juniorku" gairah lelakiku naik. Dan aku tidak tahu diri lagi langsung ku ubah posisi kami. Aku yang diatas menguasainya. Ku lihat bibi tersenyum manis. Senyumannya sangat menggemaskan!
Betapa dia sangat cantik, aku terbelalak baru menyadari kalau bibi Ani ini sangat cantik. Aku tidak mampu lagi bertahan. Imanku goyah sudah. Langsung saja ku lumat bibirnya yang basah nan seksi itu, ku cium dia dengan penuh kerinduan.
Setelah ciuman demi ciuman, aku melakukannya! Yah, kalian tahu apa yang terjadi. Kami bersenggama!
Aku baru sadar setelah terpuaskan hasratku dan dirinya yang berkali-kali menjerit nikmat.
Bibi memang sangat pandai dan baru aku tahu dia sudah tidak perawan lagi. Mungkin bibi sudah sering melakukannya dengan pacarnya itu.
Setelah selesai saling memuaskan, aku mengusap wajahku dan mengacak rambut dengan kacau.
"Bi, maafkan aku. Sungguh! Aku gak bermaksud -"
Bibi Ani mengusap ku yang masih telanjang lalu memeluk tubuh ku.
"Kamu masih perjaka ya, Di?" bisiknya senang.
"Berarti bibi dong orang yang sudah mengambil keperjakaan mu, hehehe. Sori banget, ya," katanya tanpa bersalah.
Sumpah. Ada apa denganmu, Bibi? Kenapa kamu menganggap semua ini hal yang biasa. Setelah lama kami saling diam, aku yang bersuara membuka keheningan diantara kami.
"Bibi tadi tengkar sama om dan dipukul om Andi, kan?" tebakku dengan pelan.
Bibi mengangguk. Lalu bibi menceritakan segalanya mengapa dia tadi menangis dan datang hujan-hujanan ke sini. Katanya om Andi suka menyiksanya. Om Andi memiliki kelainan seksual yang aneh. Bibiku akan dicambuk bahkan dia tampar berkali-kali membuat bibiku kesakitan dan tidak sanggup lagi dengannya. Aku yang polos ini percaya saja dengan pengakuannya. Harus diselidiki apakah bibi berbohong atau tidak, batinku.
"Di, kamu nggak marah, kan?" tanya bibi padaku. Bibi mendekat dia duduk di kakiku sambil mukanya memandangi ku. Persis seperti seorang istri yang sedang memohon. Aku sungguh tidak tahan dengan raut wajahnya yang menggoda begitu. Ku palingkan muka ke tembok di samping. Wajahku memanas. Lima belas menit aku terdiam seperti itu baru bisa bersuara lagi,
"Bukannya aku yang harus bilang begitu, bibi kan sudah bertunangan. Bagaimana kalau om tau apa yang sudah kita lakuin, aku bakalan dibunuh, Bi..."
"Kalau mati yah bagus, tapi kalau masuk rumah sakit. Bagaimana dengan ayah dan ibu!"
Seketika aku menjadi takut, panik dan khawatir dengan ayah dan ibu yang ada di kampung.
Teringat akan nasihat ayahku dulu.
"Awas kalau kamu nggak bener di sana, lebih baik gak usah saja sekolah!" ancam ayah yang memberi nasihat dengan wajah sangat.
"Kamu tenang saja, Di. Bibi gak akan bilang kok. Bibi juga akan putusin Andi. Ini rahasia kita berdua, key..." ujar Bibi sambil meraih jemariku sambil tersenyum hangat.
Ada sesuatu yang aneh di dalam hatiku. Ada rasa syukur.
Aku sangat senang mendengar bibi akan menyudahi hubungannya dengan om. Entah mengapa, sepertinya aku puas. Mungkin sejak awal melihat om Andi yang mendekati bibiku membuat ku tidak suka karena dari temanku bilang kalau om Andi playboy, di belakang bibi senang membawa cewek diam-diam ke rumahnya. Hubungan aku dan bibiku terus berlanjut semakin dekat dan penuh gairah.
Kami sering bertemu setiap malam di kamarku dan melakukan hal itu.Lagi dan lagi. Aku merasa tubuhnya menjadi candu bagiku. Seperti obat-obatan! Tak pernah bosan bersentuhan dengan bibi. Terasa sangat menyenangkan dan aku bahagia. Aku gak bisa kalau bibi tidak menyentuhku barang sehari pun. Mungkin karena aku bodoh atau polos yang hanya ku tahu aku menikmati hubungan terlarang kami. Dan aku tidak lagi memanggil bibiku bibi Ani, tapi dengan namanya ketika sedang berduaan atau bercinta dengannya. Kami sudah seperti pasangan suami istri yang belum sah.
Hubungan terlarangku dengan bibi berlangsung satu tahun dan kami bermain belakang. Lama-lama ibuku menjadi curiga dengan bibi Ani. Melihat kedekatan aku dan adiknya, tentu saja ia menaruh curiga.
Seperti kata pepatah. Sepandai-pandainya barang busuk disembunyikan pasti akan tercium jua.
Satu tahun enam bulan hubungan kami yang kian mesra ini membuat bibi merasa harus memberitahu hubungan kami kepada ayah dan ibuku. Aku panik dan langsung kabur dari kosan lalu meninggalkan bibiku sendirian di sana. Aku takut. Aku takut akan diusir oleh ibu dan ayah. Kalau dimarahi aku tidak apa-apa. Aku belum siap bertanggung jawab atas perbuatan kami. Pikiran ku yang masih bocah ini membuat ku tidak berani mengambil keputusan secara dewasa. Hubungan terlarangku harus segera disudahi saja Walaupun bibi sangat mencintaiku.
Sekarang aku tidak mendengar kabar bibi Aniku itu. Ku tanya pada ibu, ibu malas membicarakannya. Ku dengar dari Heru sohibku yang juga satu kosan dengan dirinya. Kata Heru bibi sudah menjadi wanita nakal. Sering dibawa pergi oleh om-om hidung belang. Aku sangat menyesal! Mengapa ku tinggalkan dia sendirian di kos itu. Bibiku telah mengambil jalan yang salah. Aku akan mendoakan dirimu, Bi. Semoga kamu bisa kembali ke jalan yang benar. Kalau tidak, aku akan terus bersalah kepadamu.
Hubungan terlarangku- end.