Hidup dengan kurang berkecukupan memang sangat sulit tapi jika dijalankan bersama itu tidak akan terasa berat banget, dan Aziel adalah salah satu dari golongan itu. Aziel sangat menyayangi Ibunya melebihi apapun karena Ibunya selalu berusaha mengabulkan apapun yang Aziel minta, entah itu sepeda, mainan, dan lain-lain seperti malaikat pengabul permintaan.
Tapi setelah kejadian di hari itu Aziel jadi mempunyai penyesalan terbesar tepat di hari ulang tahunnya. Sebulan sebelum kejadian Aziel ada meminta hp lipat yang sedang tren di masanya, seperti biasa Ibu nya akan mengiyakan itu dengan syarat Aziel harus mendapatkan nilai tinggi di ulangan berikutnya, mendengar itu Aziel langsung belajar dengan giat.
Tepat sebulan kemudian saat Aziel ulang tahun ke 12, Aziel pergi kesekolah seperti biasanya, Ibunya yang sudah menyisihkan uang untuk membelikan Aziel hp akhirnya cukup, melihat itu Ibu langsung pergi ke toko hp untuk membelikan hp Aziel agar menjadi kejutan untuk Aziel saat pulang sekolah.
Tapi sayangnya saat hendak pulang Ibunya ditabrak truk yang membuat Ibunya langsung dilarikan ke UGD. Disisi lain Aziel di panggil wali kelasnya, Aziel diberitahu bahwa ibunya sedang kritis dan sekarang ada di UGD, mendengar itu Aziel langsung bergegas pergi ke rumah sakit yang dibilang. Sembari berlari Aziel menangis sepanjang jalan. Saat sampai Aziel langsung berlari menuju ke ruang UGD untuk mencari Ibunya.
Aziel menemukan Ibunya yang sudah terbaring lemas dengan Ayahnya berada di samping kasur sambil memegang sebelah tangan Ibu sambil menangis. Aziel yang melihat itu tak berdaya dan langsung berlutut di samping ranjang ibunya sembari menangis dan meminta maaf kepada Ibunya.
Tapi Ibunya tersenyum sambil mengambil sesuatu dari saku celana dan mengeluarkan hp lipat yang diinginkan Aziel. Aziel mengambil itu sambil menahan tangisnya, melihat itu Ibunya berpesan untuk jangan menangisi kepergiannya dan teruslah menjadi anak yang baik.
Sambil menahan air mata Aziel mengangguk, Ibunya pun tersenyum dan menghembuskan nafas terakhirnya, aziel yang menyadari kepergian Ibunya tangis Aziel seketika pecah dan berteriak dengan histeris, begitu juga dengan Ayahnya langsung menangis melihat istrinya telah tiada.
Aziel setelah itu masih terus menangis selama seminggu penuh, Aziel juga melihat Ayahnya yang sering menangis dimalam hari. Hari-hari terasa sangat berat, aziel selalu menyalahkan dirinya, karena ia lah Ibunya meninggal andai saja ia tidak meminta pp mungkin ibunya masih ada.
Ayah Aziel semakin hari semakin hancur juga, setiap hari Ayah Aziel akan mabuk-mabukan dan memakai narkoba yang lumayan banyak lalu memukul Aziel setiap malam, tapi setiap pagi hari sampai sore Ayah Aziel akan seperti biasa.
Aziel pernah bertanya kepada Ayahnya mengapa setiap malam terus memukul Aziel tanpa sebab, Ayahnya yang mendengar hanya tertawa dan bilang bahwa dia tidak mungkin melakukan itu.
Aziel tentu kaget karena Ayahnya tidak mengingat apapun saat malam hari. Aziel pada suatu malam pergi dari rumah tanpa memberitahu Ayahnya karena Aziel tau akan kena pukul lagi.
Saat di luar Aziel hanya berjalan tanpa arah, sampai Aziel duduk ditepi jalan sambil melihat ke sekeliling, Aziel tidak sengaja melihat sekotak rokok. Aziel pernah dengar dari seseorang bahwa rokok bisa menghilangkan stres.
Aziel melihat di dalam kotak itu ada sebatang rokok yang tersisa.
…
Aziel menyelinap ke dapur rumahnya untuk mengambil korek api lalu langsung berlari kehutan di dekat rumahnya. Aziel mengeluarkan sebatang rokok dan korek yang diambilnya tadi. Aziel menyalakan korek lalu mendekatkan rokok itu dengan gemetar.
Setelah menyalakan korek itu langsung Aziel mematikan korek dengan cepat. Aziel yang sama sekali tidak tahu cara melakukan nya berusaha mengingat bagaimana orang-orang melakukannya.
Aziel terbatuk-batuk saat baru pertama kali menghirupnya tapi setelah beberapa kali mencoba Aziel mulai bisa menikmati rasanya, sayangnya saat sedang enaknya rokok itu habis dan hampir mengenai bibir Aziel.
Karena sudah mulai kecanduan Aziel mulai mengambil uang ayahnya untuk membeli rokok, tak jarang juga Aziel ketahuan dan dipukul oleh Ayahnya tapi itu tidak bisa menghentikan Aziel yang sudah kecanduan terhadap rokok.
Aziel yang sudah semakin liar mulai mendapatkan teman-teman yang nasibnya hampir sama dengan Aziel, suatu hari salah satu temannya menyarankan untuk mengontrak di kos yang lumayan murah agar bisa bebas dari orang tua.
Merasa hal itu menarik Aziel mengikut tanpa memberitahu Ayahnya, Aziel hanya membawa baju sekolah dan beberapa baju kaos lainnya. Mereka semua setiap bulan akan patungan 50.000 ribu untuk membayar kos dan untuk soal makan Aziel sering memalak orang-orang di sekitar sana.
Selama 2 tahun Aziel tidak pernah kembali kerumah itu sama sekali Aziel bahkan sudah hampir melupakan Ayahnya. Tapi tepat di kelas 9 semester satu, saat pulang sekolah Aziel dipanggil untuk menghadap bagian kesiswaan, Aziel berpikir bahwa karena ia telat membayar uang sekolah selama 3 bulan.
Tapi Aziel melihat Ayahnya yang sedang bicara dengan bagian kesiswaan, Aziel mendekat dan berpura-pura tidak melihat Ayahnya dan langsung bertanya kepada bagian kesiswaan mengapa Aziel dipanggil.
Bagian kesiswaan berkata bahwa Aziel dikeluarkan dari sekolah karena ketahuan sering mengambil uang saku temanya dan permintaan dari Ayahnya sendiri, Aziel yang mendengar itu langsung melihat tajam kepada Ayahnya.
Ayahnya hanya diam lalu bangkit untuk pergi. “MENGAPA? MENGAPA AYAH MENGHANCURKAN SEMUANYA LAGI!?” Teriak Aziel menahan tangan Ayahnya dari belakang.
“Apa gunanya kamu sekolah jika pekerjaan kamu hanya memalak uang orang lain?” Ucap Ayahnya menarik tangannya lalu pergi. Aziel yang kesal langsung mengambil tasnya kemudian pergi ke kos dengan marah campur kecewa.
Baru ingin membuka pintu kos Aziel dikagetkan dengan kemunculan Ibu kos yang menunggunya Aziel bertanya ada apa dan Ibu kos langsung memberikan tas yang berisi baju-baju Aziel, Ibu kos berkata bahwa 3 bulan terakhir Aziel dengan temannya tidak membayar kos.
Aziel kaget tak percaya karena ia tidak pernah tidak patungan tapi dengan alasan yang kuat Aziel di usir, Aziel baru ingat bahwa belakangan ini ia diasingkan oleh teman-temannya.
Aziel yang sudah menyerah dengan hidup hanya berjalan terombang-ambing di tepi jalanan. Setelah berjalan selama 2 hari tanpa tujuan, merasa sudah tidak ada yang dipertahankan di dunia, di sore hari menjelang malam Aziel memutuskan untuk terjun ke jurang untuk mengakhiri hidupnya.
Baru saja melewati pagar pembatas ada yang menarik tangan Aziel dari belakang yang membuat Aziel terjatuh ke belakang. Aziel berusaha melihat siapa yang menariknya dengan mata yang menahan tangis.
Ternyata itu adalah murid perempuan yang terkenal di sekolahnya yang bernama Azeela. Azeela membopong Aziel ke bangku taman lalu membelikan minuman untuk menenangkan pikiran Aziel.
Setelah melihat Aziel tenang Azeela bertanya mengapa Aziel melakukan itu. Aziel awalnya tidak ingin membicarakannya tapi rasa tenang yang membuat Aziel percaya kepada Azeela membuat mulutnya tanpa sadar mulai menceritakan apa yang Aziel alami.
Azella mendengarkan cerita Aziel lalu memberikan Aziel beberapa saran. Azeela juga memberitahu Aziel bahwa nasib Azeela juga hampir mirip dengan Aziel.
Ternyata Azeela yang selalu ceria di sekolah memiliki masa lalu yang rumit, Ayah Azeela itu pemain perempuan, perokok aktif, dan pecandu narkoba dan tak jarang Ayahnya memukuli Azeela saat sedang tidur, pernah dua atau tiga kali Ayahnya berusaha membunuh Azeela dengan berbagai cara dan Ibunya telah meninggal ketika Azeela berumur 5 tahun. Azeela juga sejak kecil sudah disuruh mengerjakan pekerjaan rumah.
Aziel mendengar itu merasa sedikit menyesal karena adalah orang yang hidupnya lebih parah dari pada dirinya tapi tidak berbuat separah Aziel.
Azeela melihat ada sedikit harapan di mata Aziel yang sedang termenung.
“Apa kamu mau mencoba memperbaiki semuanya dari awal lagi?” Tanya Azeela dengan tersenyum.
“Memangnya…Masih bisa?” Tanya Aziel balik. Azeela hanya membalas dengan senyuman.
Azeela pun mengajak Aziel untuk memperbaiki dirinya mulai dari mendekatkan diri kembali kepada tuhan, memperbaiki diri, sikap, amarah, dan yang terakhir kembali ke rumah.
Aziel awalnya tentu saja ragu karena mengingat apa yang telah ia perbuat selama ini kepada ayahnya.
Azeela melihat Aziel ragu mulai meyakinkan Aziel kembali untuk menemui Ayahnya. Saat sudah di depan rumah, Aziel melihat sekeliling “rumah ini…tak pernah berubah” ”Benak Aziel sembari tersenyum tipis.
Aziel mengetuk pintu rumahnya dengan ragu. Azeela bersembunyi di balik pohon dekat rumah Aziel sembari memantau Aziel dari jauh.
Awalnya Aziel berpikir Ayahnya sedang keluar tapi sesaat sebelum ia berbalik badan terdengar suara pintu rumahnya yang sudah usang terbuka.
Tak lain itu adalah Ayah Aziel. “A-Ayah?... Ayah menangis?...” sontak Aziel bertanya saat melihat wajah Ayahnya yang sama persis ketika kejadian ibunya meninggal. Muka yang putus asa.
Ayahnya melihat ke arah lain dan ingin menutup pintu lagi tapi di tahan oleh Aziel yang lalu memeluk Ayahnya sambil menangis sambil meminta maaf atas kesalahan yang telah dibuat Aziel selama ini di pelukan Ayahnya.
Tak bisa menahan tangis lagi Ayah Aziel memeluk Aziel kembali sembari menangis. Azeela yang melihat itu dari balik pohon hanya tersenyum dan berkata “Satu orang sudah selesai lagi .” sembari berjalan pergi.
***
Seminggu berlalu Aziel pun pulang ke rumah Ayahnya dan mulai bersekolah minggu ini. Aziel mulai menjalani hari-harinya dengan gembira karena merasa sudah tidak memiliki penyesalan.
Aziel juga mulai mendapat teman baru yang pergaulan nya positif dan Aziel mulai memutus hubungan dengan hal-hal yang negatif.
Aziel juga perlahan mulai mengikhlaskan kepergian Ibunya dan berharap Ibunya disana baik-baik saja. Terkadang juga ketika Aziel melihat hp yang merupakan hadiah terakhir dari Ibunya pun hanya bisa mengirimkan doa untuk Ibunya, meski sakit tapi ini hanyalah cobaan semata itu lah yang diterapkan Aziel mulai sekarang.
Tapi Aziel baru menyadari bahwa Azeela tidak pernah keliatan lagi di sekolah semenjak kejadian itu.
Ketika Aziel bertanya kepada wali kelas Azeela, katanya Azeela sudah pindah sekolah sejak 1 minggu yang lalu.
Aziel yang bahkan belum Sempat berterima kasih kepada Azeela sedangkan Azeela sudah pindah sekolah duluan tanpa pamit pada Aziel.
Tapi terkadang Aziel berpikir mungkin Azeela adalah malaikat yang diturunkan Tuhan untuk membantu dirinya.