Empat orang sahabat telah mengenal satu sama lain selama hampir tiga tahun. Mulai dari kelas 10 hingga 12 SMA. Mereka selalu satu kelas, hingga satu sekolah tahu kalau mereka benar-benar definisi dari pertemanan yang sangat diidamkan.
Dua orang cowo dan dua orang cewe, mereka sering dikira sebagai pasangan kekasih. Namun nyatanya mereka tidak memiliki perasaan satu sama lain, atau jangan-jangan iya.
Azia dan Zena mereka dua cewe yang selalu menjadi pengganggu dalam setiap hal yang di lakukan oleh Divo dan Izar.
Zena dari kelas 10 sudah memendam rasa kepada Izar, dia bahkan selalu menjadikan Izar sebagai penyemangat untuk menjalani hari-harinya.
Hingga suatu hari Alzena menemukan kenyataan bahwa laki-laki yang selalu dia idamkan itu ternyata sama sekali tidak menginginkan dirinya. Dari awal sikap friendly Izar hanya dia lakukan semata-mata karena Alzena memang teman dekatnya.
***
Pada malam yang sunyi ini Zena sedang menatap gemilang cahaya di atas langit sana. Tatapan kosong Zena berikan keatas.
"Izar, bisa ngga kalo cewe yang lo cinta itu gue?"
"Gue ngga akan sanggup kalo ngeliat lo sama cewe lain" tutur Zena, setetes demi setetes air jatuh di pelupuk matanya. Semakin Zena ingin menjauh selalu saja ada hal yang membuat Izar harus berada di sisinya.
"Zenaaa" teriak Azia yang tiba-tiba membuka pintu Zena. Dengan buru-buru Alzena menghapus sisa air mata di pipinya. Dia berharap Azia tidak sadar jika dia tadi habis menangis.
Malam ini Alzena tidur ditemani oleh Azia. Hari sudah mulai larut namun dari keduanya tidak ada yang memejamkan mata. Dalam kegelapan kamar mata mereka menatap ke atas langit-langit kamar. Baik Zena atau Azia mereka sedang larut dalam pemikiran masing-masing.
Hingga Alzena membuka suaranya dan bertanya kepada Azia "Lo sayang ngga sama Izar?"
Azia mengerutkan keningnya, lalu dengan spontan dia menolehkan wajahnya ke arah Zena.
"Sayang? Iya gue sayang dia sama kaya gue sayang ke lo dan Devo"
"Ngga maksud gue, ada perasaan lebih" Zena menggantung kata-katanya sembari menghembuskan nafas pelan.
"Kaya, cinta misalnya?"
"Cinta?" guman Azia.
"Iya, Izar punya perasaan lebih ke lo" tutur Zena yang seketika membuat hati Azia senang. Karena selama itu juga Azia sudah menyukai Izar secara diam-diam.
Alzena melihat mata cantik Azia berbinar, sudah di pastikan kalau Azia juga sebenarnya punya perasaan kepada Izar, namun dia sendiri yang selalu menyangkalnya.
***
Tak lama setelah itu, malam ini Izar berniat mengungkapkan perasaannya. Alzena juga di undang untuk datang tadinya dia sudah ingin keluar rumah, namun dia kembali berbalik badan dan masuk ke dalam kamar. Dalam gelapnya kamar Zena meringkuk sendiri. Malam ini adalah malam terburuk baginya. Dia menangis kencang, tak ada seorang pun yang mendatanginya karena baik ayah ataupun ibunya semua sibuk bekerja.
"Ngga bisaa, gue ngga bisa dateng" ujar Zena, air matanya mulai menetes perlahan. Kakinya terasa sangat berat untuk melangkah.
Dalam teriakan penuh frustasi Alzena sudah tidak memiliki tenaga untuk pergi. Azia yang tadinya ingin langsung pergi ke pantai, namun kata Izar Zena belum ada disana jadi dia berinisiatif untuk menjemput Zena sekalian. Devo menunggunya dibawah karena tidak enak masuk ke rumah seorang gadis yang tinggal sendirian, walaupun itu sahabatnya sendiri.
"Ternyata selama ini tebakan gue bener?" gumam seseorang di balik pintu. Azia mendengar setiap kata yang di ucapkan oleh Zena. Bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama kepada Izar.
"Gue harus apa?" gumam Azia.
Tentu saja hatinya ikut sakit kala melihat sahabat cewe satu-satunya sedang dalam ambang kehancurannya, apalagi kala mendengar teriak-teriakan yang keluar dari mulut Alzena, yang kini dia sedang sangat menginginkan Izar untuk terus disisinya. Antara cinta dan teman siapa yang akan Azia pilih?
Izar disana sudah tidak sabar dengan kedatangan Azia. Malam ini penantiannya selama 3 tahun tidak akan sia-sia. Malam ini dia akan menyuarakan perasaannya kepada gadis idamannya. Izar harap Azia memiliki perasaan yang sama kepadanya.
Azia memutuskan untuk menemui Izar terlebih dahulu malam ini dan membiarkan Zena untuk melampiaskan emosinya. Dia berjalan sedikit berlari ke arah Izar.
"Azia" panggil Izar, kala sudah mendekati Izar langkah kakinya ia pelankan. Izar berlutut di depan tubuh Azia sembari memberikan sebuket bunga kesukaan Azia.
"Azia gue cinta sama lo" teriak Izar, suaranya begitu lantang hingga membuat hati Azia tergoyahkan.
Perlahan Azia mengambil sebuket bunga mawar merah di tangan Izar. Dia mencium bunga itu, bunga pertama yang dia dapatkan dari orang yang dia cintai. Air matanya perlahan turun membasahi pipi.
"Maaf, maafin Azia Izar" Azia memberikan buket itu kembali ke tangan Izar. Isak tangis Azia membuat Izar takut. Takut sekali kalau hal yang sama sekali tidak Izar inginkan terjadi.
"Azia ngga bisa nerima Izar" Azia membungkukkan badannya sebagai tanda permintaan maaf.
Dia sendiri tidak akan sanggup bila barus kehilangan Alzena. Sama seperti Alzena, Azia tidak ingin menjadi seseorang yang egois. Dia tidak mungkin bahagia diatas penderitaan orang lain.
"Tapi kenapa?" tanya Izar, dadanya kini terasa sesak. Usahanya seakan tidak mempunyai makna di depan Azia.
"Izar maafin Aziaa, bukan Izar yang Azia mauu"
"Bohong" sergah Izar
"Izar ngertiin Azia, bukan Izar yang Azia mau" ucapnya lagi
"Gue benci sama lo" tutur Izar, buket mawar itu dia hempasan ke tanah. Izar pergi meninggalkan Azia sendirian. Azia hanya bisa memandangi punggung Izar yang kian menjauh.
"Izarr, cowo yang Azia mau sebenernya cuma kamu" tutur Azia, kini dia bersimpuh di pasir.
"Tapi, gimana sama Zena. Dia ngga mungkin kuat ngeliat kenyataan ini kan?"
"Izar tolong bicara sama Azia, kalo yang keputusan Azia udah bener. Hiksss..."
Devo ikut pergi bersama Izar, untuk sekedar menemani temannya yang sedang kacau itu dan meninggalkan Azia sendiri di pantai. Sama seperti Zena, Azia kini sedang terpuruk, apakah keputusan yang sudah dia buat kali ini sudah benar. Dia hanya tidak ingin menyakiti atau kehilangan siapa pun.
Akhir dari persahabatan mereka adalah perpisahan yang sangat pahit, baik dari mereka tidak ingin ada yang seperti ini. Namun sudah hukum alam, jika setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Setidaknya semesta pernah menjadi saksi bahwa persahabatan mereka pernah ada layaknya seorang saudara.