Saat itu tanggal 29 November 2030.
Alesha tengah duduk santai di kamar kosnya sambil memandangi layar handphonenya yang menampilkan kisah horor sebuah mall besar di kotanya. Ia memang suka mencari informasi terkait hal yang misterius. Tiba-tiba saja pintu kamarnya terketuk dan terdengar suara memanggil namanya dari balik pintu.
"Masuk!" Katanya sambil masih memandang layar.
Seorang gadis remaja yang seumuran dengannya muncul dari balik daun pintu. Dan duduk menghampiri Alesha.
"Kenapa Mel?" Tanya Alesha yang memandang sahabatnya yang bernama Mela yang matanya berbinar.
Sambil mengambil handphone dari tangan Alesha, Mela berteriak kegirangan. "Nih ya Alesha! Black Friday hari ini! Dan gue tadi gak sengaja liat waktu lewat Mall TuSecret, Mereka buka diskon besar-besaran! Semuanya diatas 50 persen!" Girangnya memenuhi kamar itu. "Gila nggak?" Lanjut Mela.
"Terus?" Tanya Alesha dengan nada datar.
"Kita pergi ya? Ya kalo nggak Lo temenin gue ya kesana!" Pinta Mela.
Alesha sempat menolak dengan wajah agak ngeri, namun Mela tetap saja memaksa. Satu jam kemudian mereka sudah berada di sebuah ruang luas yang sesak dengan manusia. Suara riuh terdengar menyakitkan telinga. Wanita-wanita berteriak saling berebut barang dengan diskon terbesar, tanpa memandang dan mengawasi apa yang mereka bawa. Beberapa anak kecil terlihat menangis karena tersesak- sesak dan beberapa kehilangan orang tua mereka. Ada juga beberapa pria yang tak mau kalah dengan wanita. Mereka sibuk memilih barang yang mereka inginkan.
"Sesak gue disini Mel!" Kata Alesha bergidik.
"Yaudah kita keatas aja dulu. Kali aja gak terlalu sesak."
Mereka membonceng sebuah eskalator menuju lantai dua dan kemudian meneruskannya ke lantai 3. Eskalator menuju lantai itu kosong. Hanya mereka saja yang menaikinya. Tiba-tiba mereka tertegun! Tidak ada keramaian di lantai itu. Hanya barang-barang yang menggantung saja di beberapa tempat. Meja-meja kasir kosong. "Wow! Mungkin disini gak ada diskon Mel!" Kata Alesha terkekeh. "Kita balik kebawah aja ya!"
Mereka mencari cari eskalator yang tadi di gunakanya untuk naik. Tapi sayang tidak ketemu. Beberapa kali mereka berputar dalam lantai yang penuh barang tanpa pembeli. "Perasaaan tadi kita nggak jauh dari eskalator. Tapi kok sekarang malah bingung ya?" Kata Mela.
"Ya gue juga-" tiba-tiba saja sebuah mannequin tanpa busana roboh. Tanpa ada angin! Tanpa ada sentuhan. Mela langsung saja meloncat ke arah Alesha karena kaget.
"Sialan!" Umpat Alesha.
Bunyi mendecit terdengar dan kemudian perlahan berubah menjadi suara melengking tinggi yang membuat bulu kuduk berdiri. Sesuatu bergerak-gerak di balik jejeran baju-baju mahal yang menambah kengeriannya. Tak lama muncul makhluk besar dengan sayap hitam melintang. Matanya masuk kedalam, dan giginya penuh dengan darah.
Mela dan Alesha berteriak sekejap dan dengan berat melangkahkan kaki mereka untuk berlari menghindari makhluk itu. Namun dengan ceketan makhluk itu mengejar, Mereka berlari membelah beberapa gantungan baju dan menubruk manekin yang seakan-akan siap menerkam mereka.
"Lift!" Mela menunjuk ke arah lift yang ada di sebelah tempat kasir.
"Sebenarnya aku belum pernah mendengar disini ada lift!" Katanya dengan nada sangsi.
Namun makhluk itu semakin mendekat, tak ada pilihan lain. Mereka masuk ke lift dan menekan tombol 1. Lift mulai bergerak kebawah. Namun anehnya saat telah sampai di lantai 1 lift itu bukannya terbuka dan menurunkan penumpangnya, tapi malang kembali naik ke lantai atas. Pintu lift terbuka di lantai 3. "Sialan!" Kata Alesha, sedang Mela sudah menangis ketakutan melihat manekin yang seakan-akan berjalan, dan memang mereka berjalan menuju kedua remaja itu.
Alesha langsung menarik tangan Mela dan berlari menlewati manekin manekin sialan itu. Sambil sesekali melayangkan pukulannya ke arah hantu manekin.
Mela menoleh kebelakang dan tiba-tiba dirinya dicengkeram kuat oleh makhluk bersayap itu. "Aaaa! Tolong Alesha!" Teriaknya.
Alesaha berhenti dan menoleh kearah makhluk itu. "Sialan!" Umpatnya untuk yang ketiga kalinya. Ia celingukan entah apa yang ia cari. Di ambilnya sebuah tonggak besi yang tergeletak disamping tumpukan mainan anak. Ia mulai berlari dengan berani ia tusukkan benda itu ke arah makhluk. Cairan asing muncrat dari bekas tusukan. Namun makhluk itu belum kalah. Sekali lagi Alesha memukulkan dan menusukkan hingga dalam ke tubuh monster itu.
Sayapnya terbentang dan Mela terjatuh ke lantai. Logam itu ternyata membuat makhluk itu lemah. Terdengar bunyi teriakan melengking tinggi yang rasanya mampu merobek gendang telinga. Makhluk itu tak lama kemudian jatuh dan batang besi itu menghantam sebuah jam kuno yang tergeletak di pojok ruangan.
Dengan napas tersengal-sengal Alesha menghampiri Mela. Tiba-tiba bahunya terasa tersentuh sesuatu. Dengan ngeri ia berbalik dan hendak meninju keras sesuatu yang ada dibelakangnya. Ayunannya terhenti saat seorang pelayan pria yang berperawakan tinggi itu membuka suara. "Ada apa mbak?" Tanyanya.
Ia masih samar-samar melihat jam kuno yang mulai melebur. "Tolong teman saya ini mas!" Katanya yang bercucuran keringat.
"Lantai tiga tutup untuk sementara ini, karena ada sesuatu yang kurang beres. Sudah beberapa hari ini semua mesin disini berhenti dan tak bekerja." Kata pelayanan toko itu.
"Semuanya memang tak beres disini!" Ujar Alesha dengan sedikit kesal.
Pelayan itu membantu mengangkat tubuh Mela yang lemas dan membawanya ke mobil yang tadi mereka bawa. Sedang Alesha sudah siap menginjak gas.
Mata Mela sedikit demi sedikit terbuka, dengan wajah ketakutan ia memeluk Alesha. "Aku takut!" Katanya sambil menangis di bahu sahabatnya itu.
"Udah, Lo tenang aja. Gue udah bunuh monster itu!" Kata Alesha lembut.