"Kirana maaf, sebentar, aku akan membereskan mereka." Aku maju menghampiri dua preman di hadapanku.
Gusrakk
Spontan aku menengok kebelakang. Tak disangka sejak tadi Kirana menggenggam bajuku dan kini terlepas membuatnya tersungkur tak berdaya.
"Hei hei kenapa dia jatuh!?" ujar preman.
Aku lengah.
Pukulan mendarat tepat ditengkukku. Sangat keras sehingga sebagian kesadaranku hilang. Aku tersungkur. Mencoba bertahan dan memaksakan diri bangkit. Mana mungkin aku menyerah melihat preman itu berjalan menuju Kirana.
"Hei tunggu, kalau gadis itu kenapa-kenapa gimana dong kita Don?"
"Elu bego ya? kita cuman mainin dia sebentar saja setelah itu baru kita pergi." Doni semakin mendekati Kirana.
"Ta-tapi ..." ragu.
"Kenapa takut sih!? yang bakalan tanggung jawab kan si pacarnya! jadi salah mereka juga yang mau datang ke sini."
Aku ...
Ucapan preman ini ada benarnya juga. Kenapa harus pagi-pagi datang ke sini? kenapa harus mencari suasana sepi cuman untuk berduan? ... sial. Apakah ini akibat dari mengikuti nafsuku.
Tapi yang jelas. Jika preman ini tak ada, kami pasti takkan mengalami hal seperti ini!
Aku melampiaskan amarahku. Walau kesadaran rendah aku tetap bisa bergerak bahkan lebih cepat dari biasanya. Di bawah kesadaran akal pikiran sudah tidak bisa bekerja. Semua gerakan dan serangan hanya bergerak berdasarkan naluri. Latihan mati-matian di gunung tidak sia-sia. Di bandingkan melawan diri sendiri dua preman tengil ini tidak ada apa-apanya.
Berlari dengan mengandalkan berat badan. Secepat yang ku bisa.
"Don! Awas!"
Preman yang bernama Doni ini adalah target utama!
Dia berbalik lalu melepaskan pukulan kirinya mengarah ke wajahku. Refleks ku hindari dengan menjatuhkan badan dan kaki kanan menahan laju kecepatan. Tepat berhenti di sampingnya yang masih dalam posisi memukul aku menegakkan tubuhku bersamaan melepaskan pukulan kanan tepat dipipi kirinya. Tak hanya sampai situ. Selagi dalam kejutan serangan preman itu goyah dan aku berada tepat di belakangnya. Itu kesempatan besar untuk menghabisinya dalam satu serangan. Aku memutar badanku untuk memanfaatkan tenaga ayunan dan tendangan 360 derajat kaki kanan yang tajam menusuk tekuknya. Jelas dia langsung pingsan jatuh.
"Don!!! sialan kau!!" teriaknya lalu berlari cepat ingin menyerangku.
Walau berpuluh detik telah berlalu rasa sakit di tekukku sudah pulih dan aku sudah bisa fokus menggerakkan badan sepenuhnya.
Aku memasang kuda-kuda petinju. Pergelangan tangan kanan aku rilekskan dan kaki kiri di depan aku tekan. Preman sudah memasuki wilayah in boxer-ku dan bersiap melepaskan pukulan tangan kanannya.
Terlalu lambat. Sangat lemah!
Bugh!
Tinjuku sekejap mata mengenai wajahnya. Kepalanya terdorong ke belakang sementara pukulannya meleset karena aku sudah menghindar dengan melompat mundur memakai tenaga kaki kiri.
"Akhhh ..." preman itu kesakitan.
Takkan ku beri kesempatan melawan. Aku pukul hulu hatinya sekuat tenaga. Lalu pukulan upper cut di dagunya. Dia pun jatuh terbaring. Sayangnya preman satu ini daya tahan tubuhnya cukup kuat. Dia masih bisa sadar walau terkena serang fatal. Tapi dia takkan bisa lagi bertarung apalagi berdiri jadi aku biarkan saja karena keadaan Kirana lebih penting.
Lekas aku berbalik. Kirana masih tergeletak di tanah tak sadarkan diri membuatku panik.
"Kirana, Kirana!!!" panggilku mencoba menyadarkannya.
Aku meletakkan jari telunjukku di depan lubang hidungnya. Masih bernapas. Syukurlah masih bernapas. Aku takut dia mati dan pergi begitu saja. Aku tak mau.
"Argghh! ukh! ukh! ..." preman yang terakhir tadi masih kesakitan.
"Kirana, tolong sadarlah!" menepuk pundaknya.
"Maafkan aku Kirana, maaf aku tak bisa menjagamu." Lirihku minta maaf padanya.
Melihatnya tak berdaya membuatku sangat merasa bersalah. Ingatan memori tentangnya bermunculan didalam gelapnya mata yang ku pejamkan. Semua ingatan yang aku ingat dia selalu tersenyum manis untukku. Saat bersamanya. Saat dia menungguku. Saat dia memberikan bekalnya untukku. Semua ingatan tentangnya menyesakkan dada ini.
"Ka ..."
Suaranya. Suara lembutnya. Benar! akhirnya dia sadar.
Aku mengusap air mataku. "Kirana, maafkan aku." Tanpa sadar ku pegang tangannya.
Dia masih linglung. Aku bantu dia duduk.
Tatapan matanya tidak terarah padahal aku di depannya.
Kenapa? kenapa aku harus memaksanya berbuat hal yang tak disukainya?
Maaf, maaf, seharusnya kamu bahagia di dekatku.
Air matanya mengalir, "kumohon ka, jangan tinggalkan aku. Aku tak mau hiks aku tak mau berada di sana lagi. Aku tak mau mereka memegangiku lagi. Tolong ka, hentikan mereka."
"Aku di sini bersamamu Kirana, aku takkan meninggalkanmu." Aku mengusap air matanya.
Air matanya mengalir deras. Isak tangisnya tak kunjung berhenti. Kedua lengannya melingkari tubuhku, memelukku sangat erat. Cengkeraman tangannya sangat terasa di punggungku. Aku tak membalas pelukannya. Tapi aku membopongnya. Aku akan membawanya pergi jauh dari sini.
"Heh! dasar cowok sok hebat, kau sama saja dengan kami. Pasti suatu saat kau akan menikmati tubuhnya! jadi jangan sok hebat!" teriak Doni yang sudah bangun.
"Benar! dia melindungi karena dia hanya ingin menikmatinya seorang." Preman satunya lagi.
Aku terdiam. Emosiku sangat kacau. Aku ingin sekali menghajar mereka lagi sampai cacat. Tetapi sekarang, aku sedang membopong Kirana yang sudah terlelap tidur.
"Ada apa ini!?" sepasang suami istri berhenti joging karena pemandangan preman yang babak belur dan aku yang sedang membopong Kirana.
"Dia mau memperkosa gadis itu!" ujar Doni menuduhku.
"Hei!!! lepaskan dia!" teriak suami pasangan joging.
"Tunggu pah! coba lihat baik-baik. Gadis itu sedang memeluknya dan cowok itu habis menangis." Istrinya menahan suaminya.
Aku tak tahan. Tanpa sepatah kata pun aku pergi menjauhi tempat itu dan menuju parkiran. Aku tak dengar apa-apa, aku lebih fokus pada Kirana.
Di perjalanan Kirana terbangun. Aku pun berhenti sejenak. "Kirana," panggilku. Dia pun menoleh ke atas melihat wajahku. Sesaat saja lalu memelukku lagi dan wajahnya di dadaku, ia sengaja melakukannya.
Geli.
Aku pahami sekarang dia sedang memulihkan dirinya. Jadi aku teruskan saja langkahku menuju parkiran.
"Ka ..."
"Hm kenapa?"
"Tadi aku bermimpi kaka pergi meninggalkanku sendirian."
"Itu cuman mimpi, mana mungkin aku tega meninggalkanmu."
"Di dalam mimpi itu aku sangat ketakutan. Sangat kehilangan semuanya." Mencengkeram lagi punggungku.
"Kamu gak sendiri. Ada aku dan Ayu yang selalu ada untukmu. Orang tuamu dan juga teman-temanmu. Aku akan selalu ada untukmu."
"..." tak membalas lagi.
Hingga kami sampai di tempat parkir. Kirana sudah bisa berdiri sendiri dan masuk ke dalam mobilnya.
Aku ditarik paksa masuk. Kirana ingin aku menemaninya lagi. Terpaksa aku masuk. Traumanya kambuh, aku harus bisa menenangkannya.
Sambil meminta maaf aku membersihkan sisa air matanya di pipinya dengan lengan bajuku. Kirana memandangku dan lagi-lagi ia memelukku.
"Jangan nangis lagi. Aku ada di sini kok."
...