Aca adalah seorang gadis yatim piatu yang tinggal disebuah panti asuhan. Orang tuanya tewas dalam sebuah tragedi yang membuat mereka tewas dengan mengenaskan.
Sejak umur 9 tahun Aca hidup di panti asuhan bersama adik-adiknya yang lain dan juga kepala panti, Alena. Ia bertahan hidup sambil terus mengobati traumanya. Trauma kematian kedua orang tuanya, yang meninggalkan luka begitu dalam di hatinya.
Hidupnya mulai membaik hari demi hari, seiring dengan berjalannya waktu.
Aca menatap keluar jendela kamarnya, "Apa aku boleh terus bahagia seperti ini?" Serunya, sambil menatap sendu kearah luar.
Esok adalah hari pertamanya kembali ke sekolah. Sejak libur musim panas, ia terus menghabiskan waktu bersama dengan adik-adiknya di panti asuhan.
♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎
Aca melangkahkan kakinya memasuki pekarangan sekolah, dengan senyum manis ia menghampiri sahabatnya. Riri.
"Pagi Riri." Ucap Aca sambil merangkul pundak sahabatnya.
Riri hanya tersenyum, dan berjalan bersama dengan Aca menuju ke kelas mereka.
Dua sejoli itu masuk kedalam kelasnya, dan duduk di kursi mereka masing-masing hingga guru pelajaran pertama datang.
Bagai disambar petir, dadanya mulai terasa sesak, nafasnya terasa ingin berhenti, dan jangan lupakan matanya yang tak bisa berhenti memandang seseorang di depannya.
Sosok yang begitu ia benci, sosok yang begitu ia hindari, dan sosok yang begitu ingin ia bunuh saat itu juga berdiri tepat di depannya. Tanpa sadar, air mata Aca kembali menggenang, memenuhi pelupuk matanya.
Pria dengan wajah rupawan itu tersenyum, menatap ke semua orang yang menyambutnya. Namun, perhatiannya tertuju pada satu gadis yang tak henti-hentinya menatap kearah dirinya. Dalam hatinya, ia tersenyum senang melihat gadis itu. Ya, sangat senang.
"Alejandro. Kalian bisa panggil saya Al, salam kenal." Katanya, sambil tersenyum.
Pria tampan yang bernama Alejandro itu berjalan menuju kursi yang di tunjuk oleh sang guru, Pak Agun.
"Kita bertemu lagi, sweetie." Ucap Alejandro, tepat di telinga Aca.
Mungkin bagi siapapun yang melihat, merasa iri dengan Aca. Namun, bagi Aca ucapan yang terdengar begitu lembut itu mampu membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat.
Aca menahan air matanya agar tidak keluar, karena jika keluar maka ia akan pingsan saat itu juga. Meskipun, nafasnya sudah tersenggal-senggal ia tetap menahan dirinya sekuat mungkin.
"Wajahmu pucat sekali, kau kenapa Aca?" Tanya Riri dengan waut wajah yang tampak sangat khawatir.
Belum sempat menjawab, Aca sudah jatuh pingsan. Pipinya berbintik merah, dengan wajah yang tampak sangat pucat.
Semua orang heboh melihat Aca yang tiba-tiba jatuh pingsan. Sedangkan Al, ia hanya tersenyum kecil, menghampiri Aca, lalu mengangkatnya, dan membawanya kerumah sakit.
"Tidak perlu khawatir, sejak kecil dia mengidap alergi terhadap airmata. Aku akan membawanya, kalian tenang saja."
Semua orang, termasuk Riri hanya bisa menyerahkan Aca ke Alejandro yang tampaknya sudah mengenal Aca lebih lama.
Tanpa mereka ketahui, bahwa menyerahkan Aca ke Alejandro sama artinya dengan membunuh Aca.
♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎
Secercah cahaya mengusik Aca hingga membuatnya tersadar. Ia membuka matanya dan betapa terkejutnya ia melihat Alejandro yang sedang menatapnya sambil tersenyum. Senyum yang mungkin membuat orang jatuh cinta. Tapi, tidak dengan Aca.
"Apa yang kau lakukan disini?" Seru Aca dengan nada galaknya.
"Menemani pacarku." Jawab Al dengan nada santainya, tanpa memperdulikan Aca yang sudah siap mengamuk.
Aca mencebikkan bibirnya, "Sejak kapan aku menjadi pacarmu?" Ia diam sejenak, lalu kembali melanjutkan, "Aku tidak mau berpacaran dengan monster sepertimu."
Ucapan yang di lontarkan Aca tentu saja membuat Al geram. Rahangnya mengeras, dengan tangan yang sudah mengepal hingga memperlihatkan otot tangannya.
"Ingin bermain hide and seek sweetie?" Katanya, sambil mendekatkan wajahnya hingga berjarak beberapa cm dari Aca.
Tangannya mengusap lembut wajah gadis manis yang berada di depannya, menggores wajah gadis itu dengan kukunya yang runcing hingga mengeluarkan darah segar.
"Jika kau menang, aku akan melepaskanmu seperti tahun lalu." Ucapnya, tangannya bergerak mengusap bibir gadis itu, "Jika kau kalah, tentunya kau akan menjadi milikku seutuhnya."
Rasa perih menjalar hebat menusuk kulitnya, di campur dengan anyir darah yang mengalir di kulit pipinya.
Suara dentingan jam, terdengar begitu keras hingga membuat telinganya begitu sakit. Tidak, ia tidak boleh menangis lagi atau dirinya akan pingsan lagi.
Namun, sayangnya keinginan memang tidak sesuai dengan apa yang di dapatkan. Ia kembali pingsan. Anehnya ia jelas sangat sadar bahwa ia kembali pingsan. Tapi, apa ini?
Sebuah rumah yang begitu mewah, namun tampak sangat menyeramkan berada tepat di depan matanya. Aca mencubit dirinya sendiri, berharap ini semua hanya mimpi. Namun, sayangnya ini nyata karena bekas cubitannya begitu sakit.
Kaki mungilnya melangkah, memasuki pekarangan rumah tersebut. Ada beberapa pelayan yang menyambutnya dengan ramah.
"Selamat datang nona Aca, mari ikuti saya Tuan Alejandro meminta saya untuk melayani nona." Seru salah satu pelayan cantik, namun wajahnya begitu pucat. Seperti bukan manusia, pikirnya.
Aca mengikuti langkah pelayan itu, hingga langkah mereka berhenti di sebuah ruang makan yang sangat luas. Di tengahnya terdapat meja makan yang panjanga, dan tentunya diatasnya banyak sekali makanan mewah.
Pelayan itu menarik salah satu kursi, mempersilahkan Aca untuk duduk di kursi itu. Aca hanya menurut, ia duduk di kursi itu sambil menatap makanan mewah yang ada di depannya tanpa rasa minat.
Cukup lama Aca duduk di sana. Tangannya terulur mengambil salah satu cake yang merupakan cake favoritenya. Persetan dengan siapa yang memberi ini, ia tidak peduli. Yang terpenting adalah, dirinya harus kenyang.
Aca makan kuenya dengan tenang, hingga lagi-lagi dentingan jam itu kembali terdengar.
Sebuah anak panah yang terbuat dari jarum jam berukuran lumayan besar, menancap tepat di depan Aca. Membuat gadis manis itu sedikit terkejut.
Ia mencabut jarum jam itu, mengambil gulungan surat yang di ikatkan di jarum jam tersebut.
𝑆𝑒𝑙𝑎𝑚𝑎𝑡 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑤𝑒𝑒𝑡𝑖𝑒, 𝑘𝑎𝑢 𝑝𝑎𝑠𝑡𝑖 𝑘𝑎𝑔𝑒𝑡 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑙𝑖. 𝐻𝑎ℎ𝑎ℎ𝑎 𝑘𝑎𝑢 𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑡𝑒𝑚𝑢 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑢𝑎𝑚𝑢 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛? 𝑡𝑒𝑛𝑡𝑢 𝑠𝑎𝑗𝑎 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑢 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑒𝑚𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑙𝑖𝑎𝑛. 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 30 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘, 𝑝𝑒𝑟𝑚𝑎𝑖𝑛𝑎𝑛 𝑖𝑛𝑖 𝑟𝑒𝑠𝑚𝑖 𝑑𝑖 𝑚𝑢𝑙𝑎𝑖. 𝑆𝑒𝑠𝑢𝑎𝑖 𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛𝑦𝑎, 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑒𝑚𝑏𝑢𝑛𝑦𝑖𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑦𝑎𝑛𝑘𝑢 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟. 𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘, 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝑘𝑎𝑢 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑡𝑖 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑑𝑖 𝑚𝑖𝑙𝑖𝑘𝑘𝑢 𝑠𝑒𝑢𝑡𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎.
Aca mengepalkan kertas itu, membuangnya ke sembarang arah. Ia mulai berlari, menyusuri mansion milik Al yang terlihat seperti labirin.
Kakinya terus berlari, mencari tempat persembunyian dari para pelayan yang sedari tadi terus mengejarnya. Ia menggenggam jarum jam yang tadi di gunakan sebagai alat pengantar surat itu. Yah, siapa tau berguna.
Dengan gemetar, Aca mengayunkan jarum jam itu hingga mengoyak tubuh sang pelayan hingga wajahnya tidak berbentuk lagi. Ia ingin menangis saat ini juga, namun sialnya tidak bisa. Nyawanya adalah taruhan jika ia menangis sekarang.
"Sembunyilah yang benar, rambutmu kelihatan."
"Sembunyilah yang benar, rambutmu kelihatan."
"Sembunyilah yang benar, rambutmu kelihatan."
Aca kembali berlari dengan sisa tenaganya, ketika serangannya sama sekali tak berguna untuk menghambisi pelayan itu. Kaki mungilnya terus berlari, berusaha semaksimal mungkin menghindari pelayan yang kini tengah mengejarnya. Ia masuk kedalam sebuah kamar, lalu menutup pintunya, dan menguncinya.
Gadis dengan balutan seragam yang sudah acak-acakkan itu, jongkok memeluk lututnya. Ia mengutuk dirinya sendiri, kenapa dirinya begitu malang, dan kenapa harus bertemu lagi dengan monster yang telah menghabisi nyawa kedua orang tuanya. Kenapa tuhan begitu jahat padanya?
Semua orang bisa menyelesaikan masalahnya dengan menangis, membuat dirinya lega dengan menangis. Tapi, bahkan dia sama sekali tidak bisa meneteskan airmata.
Kenapa hidupnya begitu malang?
Suara ketukan pintu, yang berasal dari pintu tempat ia bersembunyi itu terdengar di telinganya.
"Ini ayah nak ayo keluar, ayah tidak akan menyakitimu." Ucap seorang dari balik pintu berwarna coklat itu, dengan suara berat dan seraknya.
Suara yang begitu Aca rindukan. Ya, suara ayahnya.
Aca membuka pintu itu, lalu matanya menangkap ayah dan ibunya sedang tersenyum kearahnya. Senyuman yang sama saat mereka masih bersama-sama, hidup dengan bahagia.
Aca memeluk ayah dan ibunya. Pelukan penuh rindu yang ia pendam selama bertahun-tahun.
"Bunuh kami nak, kami tersiksa disini. Tolong kami." Ucap sang ibu sambil tersenyum lembut, lebih tepatnya menyeringai.
Tidak lama setelah mengatakan itu, sebuah tawa menggelegar memenuhi seluruh mansion. Aura gelap menyelimuti seluruh bangunan ini.
Rasa sakit dan perih bercampur menjadi satu. Jangan lupakan darah yang terus mengalir di punggung Aca, akibat tikaman dari ibunya sendiri. Sungguh, dia sudah tahu bahwa akan seperti ini. Setidaknya, ia merasakan pelukan hangat itu lagi, pelukan yang sangat ia rindukan. Tidak peduli pada apa yang terjadi selanjutnya, setidaknya rasa rindunya terbayar. Meski tidak semua.
Aca tersenyum pada ayah, dan ibunya. Lalu, dengan bibir yang bergetar, ia berkata, "Tidak apa-apa ayah, ibu. Aku tidak apa-apa."
Terlihat jelas raut wajah sedih di wajah ayah dan ibunya. Namun, mereka tidak berdaya karena mereka seperti ini adalah kesalahan mereka. Sama seperti posisi Aca sekarang. Yang membedakan adalah, Aca pasti bisa melewati semua ini. Ya, pasti.
Kesadaran Aca lagi dan lagi kembali menghilang, seiring dengan perginya ayah dan ibunya.
Suara gemercik air, mengusik tidur seorang gadis yang sedang berbaring diatas rumput hijau. Gadis itu membuka matanya, memposisikan dirinya duduk, menatap sekitarnya. Aneh, seingatnya ia berada di sebuah mansion milik Alejandro. Tapi, kenapa tiba-tiba ia berada disini?
Seorang pria dengan balutan kemeja berwarna putih, dan celana panjang dengan warna yang senada mendekat kearahnya.
"Ayo bangun Aca, mau sampai kapan terbaring disana hm?" Ucap pria itu dengan begitu lembut.
Aca menggeleng, menatap pria tampan yang tak lain adalah kakak kandungnya, Geraldian.
"Aca mau disini sama kakak." Katanya, sambil memeluk kakak kandungnya.
Gerald memeluk adik kecilnya, mengusap lembut rambut adik kecilnya yang sudah tumbuh menjadi gadis cantik, "Aca tidak bisa disini, ada yang harus Aca lakukan disana. Percaya sama kakak, kamu bisa menghadapinya. Karena dia tidak berniat jahat sama Aca."
Air mata kembali mengalir, membasahi pipi Aca. Ia mengeratkan pelukannya pada Gerald, kakak kandungnya yang sudah terpisah lama dengannya. Ya, karena Gerald meningglkan Aca di panti asuhan, sedangkan dirinya mencari uang untuk menghidupi adiknya dan anak panti lainnya.
"Aca takut kak, Aca mau sama kak Gerald aja." Katanya, masih bersi keras ingin bersama dengan kakaknya.
"Aca tau, Aca cuma mimpi. Tapi, Aca bahagia bisa peluk kakak meski ini cuma mimpi." Lanjutnya, membuat Gerald menitikkan airmatanya.
Gerald tersenyum, tangannya menangkup kedua pipi adiknya, "Ayo berjanji, Aca harus tetap hidup dan temui kakak, di dunia nyata. Bukan mimpi."
Mata mereka bertatapan cukup lama. Aca mengangguk, lalu berkata, "Iya, kalau begitu Aca pergi."
Kaki mungilnya melangkah menjauhi Gerald yang masih diam mematung, menatap kepergiannya.
𝑆𝑒𝑚𝑢𝑎 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑠𝑎𝑗𝑎. 𝑌𝑎, 𝑝𝑎𝑠𝑡𝑖.
♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎
Aca membuka matanya, merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Ia mencabut anak panah yang menancap di punggungnya, dan kembali mendapatkan sebuah surat yang sudah bercampur dengan darahnya.
𝑆𝑒𝑙𝑎𝑚𝑎𝑡, 𝑎𝑘𝑢 𝑏𝑎𝑟𝑢 𝑡𝑎ℎ𝑢 𝑔𝑎𝑑𝑖𝑠𝑘𝑢 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑘𝑢𝑎𝑡 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑛𝑖.
Aca membuang kertas itu. Ia hanya membawa anak panahnya, yang akan dijadikan senjata olehnya.
Kakinya kembali menyusuri mansion, mencari jalan keluar. Bisa-bisanya ia bisa masuk tapi, tidak bisa keluar. Benar-benar bodoh.
Langkahnya terhenti ketika melihat sebuah cahaya dari salah satu ruangan. Dengan berani, Aca melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu.
Sebuah taman, dengan pancuran air yang terlihat sangat indah menjadi hal pertama yang Aca lihat.
"Hai sweetie, kita bertemu lagi." Ucap seorang pria dengan suara beratnya.
Ia beranjak dari kursinya, mendekati gadisnya yang tampak sangat berantakan. Namun, tidak mengurangi kecantikannya.
Aca mendongak, menatap Alejandro yang juga tengah menatapnya dengan lembut. Sambil tersenyum, Alejandro berbisik pada Aca, "Selamat kau sudah memenangkan permainannya."
Dengan mata memerah, menahan tangis sekaligus amarah Aca menggeleng, "Tidak, aku belum memenangkan ini sebelum aku menghabisimu dengan kedua tanganku."
Alejandro tertawa melihat tingkah gadisnya yang begitu menggemaskan dimatanya. Ia tahu betul bahwa gadisnya saat ini sangat marah padanya.
"Kau bisa mewujudkan itu saat ini juga. Tapi, bisakah aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya?" Pinta Alejandro.
Hatinya begitu sakit, mengetahui bahwa gadisnya sangat membencinya. Ya, setidaknya dengan kematiannya mungkin akan mengurangi rasa sakit dalam hati gadisnya.
Aca memeluk Alejandro untuk terakhir kalinya, ia kembali menangis, tidak peduli dengan alerginya. Ia menangis seiring dengan ia menusukkan anak panah sekaligus jarum jam yang selalu ia bawa.
"Aku tahu pasti selama ini sangat berat untukmu, maafkan aku." Ucap Alejandro dengan nafas yang mulai tersenggal. Ia mengeratkan pelukannya pada gadis yang ia yakini tengah menangis, lalu melanjutkan ucapannya, "Maaf untuk segalanya. Kumohon jaga dirimu, jangan menangis dasar bodoh. Alergimu akan memburuk jika seperti itu. Kau harus menjadi gadis yang kuat."
Alejandro terjatuh dalam pelukan Aca, matanya yang sayu menatap Aca, "Entah untuk saat ini, kedepannya, ataupun saat kita masih kecil. Perasaanku selalu sama, aku tetap mencintaimu Rasha Aldebaran." Ucapnya, lalu memejamkan matanya.
Jujur saja, dalam hati Aca. Ia juga begitu mencintai sosok Alejandro. Tapi, rasa cintanya tertutup oleh rasa benci ketika ia melihat Alejandro menghabisi orang tuanya.
Ia berjalan meninggalkan Alejandro, menuju ke sebuah kursi yang sebelumnya di tempati Alejandro.
"Aca..." Panggil seseorang dengan suara beratnya.
Aca menolehkan kepalanya, dan melihat kakaknya Geraldian menghampirinya.
Gerald duduk di samping adik manisnya, "Ketemu lagi sama kakak, Aca mau kakak ceritakan sesuatu?"
Aca tersenyum, lalu mengangguk, "Ya, Aca mau."
Gerald mengusap rambut adiknya, lalu melirik jasad Alejandro yang sudah terkapar di atas rerumputan, "Saat itu, ada vampire kecil yang berteman dengan anak manusia. Vampire kecil itu merupakan pangeran dan calon raja dari semua para vampire. Namun, meskipun ia seorang vampire, dia sama sekali tidak jahat. Justru, dia menyayangi anak manusia itu. Hingga suatu hari, vampire kecil itu dihadapkan dengan posisi sulit." Ucap Gerald menggantung, ia diam sejenak lalu melanjutkan ucapannya, "Vampire kecil itu harus membunuh kedua orang tua teman anak manusianya, karena kedua orang tuanya sangat berbahaya. Orang tua dari anak manusia itu juga merupakan vampire berdarah campuran yang harus meminum darah manusia untuk bertahan hidup. Demi melindungi temannya vampire kecil itu membunuh orang tua anak manusia itu dan menghidupkannya kembali, lalu dijadikan sebagai pelayannya. Agar mereka bisa memulai hidup barunya."
Aca menatap kakaknya, yang sedang menatap jasad Alejandro, "Apa vampire kecil itu Al kak?"
"Iya, vampire kecil itu adalah Al." Jawab Gerald, sambil tersenyum.
"Mau tau kenapa surat Aca di kirim dengan jarum jam dan anak panah dengan bulu hitam itu?" Katanya, masih dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya.
Aca mengangguk sebagai tanda bahwa ia mau tahu alasan kenapa dikirim surat melalui jarum jam dan anak panah.
"Karena vampire berdarah murni hanya bisa di bunuh dengan kedua benda itu." Ucap Gerald yang sukses membuat airmata Aca kembali mengalir.
Dengan tertatih-tatih, Aca menghampiri jasad Alejandro, lalu memeluknya. Ia menumpahkan semua kesedihannya, dan rasa bersalahnya dalam tangisnya. Persetan dengan alerginya ia tidak peduli sekarang.
♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎
"Aca..." Suara berat dan lembut kembali terdengar di telinganya.
Tidak, ini bukan suara kakaknya. Ini suara yang sangat ia rindukan, Alejandro.
Aca membuka matanya, ia melihat Alejandro sedang menatap kearahnya sambil tersenyum. Bau obat-obatan menyeruak masuk, menusuk hidungnya.
"Syukurlah nona sudah siuman, nona terbaring di rumah sakit akibat alergi nona kambuh." Kata seorang dokter yang berdiri di depannya.
Aca bangun, melihat keadaan sekitarnya. Jelas ini di rumah sakit. Seingatnya, ia sedang berada di taman mansionnya Alejandro.
"Kau masih hidup?" Tanya Aca, sambil memeriksa seluruh bagian tubuh Alejandro.
"Hei, aku tahu kau tidak menyukaiku. Tapi, jahat sekali pertanyaanmu itu." Jawab Alejandro dengan nada sedikit kesalnya.
Nafasnya terasa sesak kembali, airmatanya ingin menetes lagi, dan bintik diwajahnya mulai memerah lagi membuat semua orang panik.
"Hei, jangan menangis." Ucap Alejandro, sambil menangkup kedua pipi Aca dan membuatnya agar air matanya tidak keluar.
Aca memeluk Alejandro, ia bersyukur bahwa itu cuma mimpi buruknya. Mimpi yang membuatnya kehilangan seseorang yang ia cintai, dan mimpi yang membuatnya sadar bahwa ia sangat mencintai sosok pria yang berada di pelukannya. Alejandro Xaviero.
Terkadang, apa yang kita lihat belum tentu itu kebenarannya. Jika memang benar, maka pasti ada alasan dibaliknya. Karena asap, tidak akan pernah ada jika tidak ada api.