Kenalin nama aku Nana. Saat masuk sekolah, menjadi murid baru itu agak susah. Harus beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Dan juga harus so akrab sama kakak kelas. Kadang yang bikin aku kesel itu kakak kelasnya sendiri. Mereka bilang "Ihh.. Apa sih so akrab banget ya murid baru!!". Tapi gak semua kakak kelas kaya gitu sih. Bersyukur banget kenal sama yang baik hati.
Beberapa minggu aku sekolah disini, aku merasa kalau aku ni manja. Minta dianter mulu, ya udah aku bilang deh ke orang tua. Akhirnya aku suruh naik mobil sekolah yang bener-bener sempit banget. Mobilnya cukup lah sebenernya, tapi yang naik ada empat puluh dua orang nih. Pengen nangis banget sebenernya.
Beberapa waktu aku ikut mobil sekolah itu, aku makin kenal sama semua kakak kelas yang beda komplek sama aku. Ada yang jutek, centil, buaya darat juga ada. Tapi mereka lumayan asik, gak kaya yang lain.
Kebetulan hari ini tuh yang ngajar jam terakhir wali kelasku. Jadi pulangnya agak lama.
"Berdiri kan jadinya!! Aarrgh ngeselin banget sih tu orang. Jadi guru bukannya mikir." Salah satu temanku mengoceh, panggil saja Nia.
"Eh gak boleh gitu lu. Nanti kualat gimanaa??" Jawabku.
Semuanya pun diam, aku mencoba menahan rasa pegal yang tidak bisa aku atasi sendiri. Aku merasa ada yang mendorongku dari samping. Tiba-tiba *shrettt* Ada yang menarik tali tasku. Aku menengok ke arahnya seraya berucap
¤"Maaf kenapa ya kak?? Kok narik tas aku??". Dia menjawab
¤"Kamu gak capek berdiri mulu? Sini duduk di samping aku."
¤"Oh, gak usah kak. Aku gak capek kok, buat yang lain aja deh." Jawabku.
¤"Sini gak papa, kan gak diapa-apain sama kakak. Nanti kakak tarik ni tali tasnya." ucapnya seraya tersenyum.
¤"Ya udah, makasih ya kak!!" celotehku.
Aaaa, rasanya benar-benar kaget. Kakak kelas yang tadi menawarkan tempat duduk untukku itu dari komplek sebelah, sebelah timur dari komplek ku. Dia tinggi, kulit putih, berhidung kecil, dan lainnya. Dia adalah salah satu pemain voli kebanggaan disekolah. Selain itu, dirumahnya juga dia suka menjalankan hobi yang menurutku jarang dimiliki oleh anak sekolah. Dia memiliki hobi *mengoleksi motor cowok*. Dia sering jalan sore menggunakan motor-motornya. Dia bukan dari kalangan orang kaya. Tapi hidupnya itu tenang, karena dia selalu mementingkan kebutuhan terlebih dahulu. Baru yang kurang penting juga di beli-beliin semua. Konsumtif.
Besoknya saat aku sedang sarapan, dia datang kerumahku. Dengan berucap
¤"Permisi, bu ini rumahnya Nana bukan ya??" Ibuku menjawab:
¤"Iya bener, kamu siapa dek?? Satu sekolah sama Nana??" tanya ibuku.
¤"Saya Rofidwi bu, panggil aja rofi. Dari komplek sebelah. Saya juga jadi ketua OSIS disekolah bu." katanya.
¤"Ouh.. Eh sini masuk, mau makan bareng Nana?? Nanti ibu ambilin."
¤"Eh jangan bu, saya cuma mau jemput Nana aja kok. Ini saya bawa motor soalnya. Temen-temen saya diajak gak ada yang mau bu." ocehnya.
¤"Ya udah kalau gak mau. Mau minum??"
Dia hanya menggelengkan kepala.
What?? Dijemput kakak kelas. Mending cewek, lah ini cowok. Malu lah, apa kata orang nanti. Tapi ya mau gimana. Akhirnya juga aku diboncengin sama dia. Dag dig dug derr jantungku berdebar. Serasa mau salto abis diboncengin sama kakel. Pas sampai sekolah:
"Na, kamu gak ikut mobil ya?" tanya Nia
"Iya, tadi aku mau ikut eh dijemput sama ketua OSISnya. Ya udah aku ikut dia deh" jawabku.
Semuanya terheran. Ada yang bilang gak percaya, ada yang bilang gak mungkin. Terserah ahh. Aku mah netral aja.
Setelah beberama lama. Aku menjadi suka dengan ketos itu. Ketos yang ramah, baik hati, dan tidak sombong itu. Aku berusaha mengingat namanya berulang kali, tapi tetap saja lupa. Dan aku mulai ingat ketika sudah tiga bulan sekolah. Namanya Rofi. Aku menyimpan semua postingannya yang ada di medsos. mulai dari foto, video, bahkan kata juga simpan.
Lama kelamaan, namanya suka ya suka. Mau diganti orang baru juga susah. Mau di pengaruhin sama yang lain juga gak ngaruh. Sampai ada anak kelas dua belas yang bilang, "kamu suka sama dia mandang apanya??". Aku jawab "Gak mandang apa-apanya". Semuanya heran, kenapa aku bisa sedekat itu sama ketos itu. Tapi Semuanya sudah terlanjur aku lakukan. Mau bagaimana lagi. Seandainya aku dikasih pilihan pilih hidup atau dia. Aku tetap pilih dia, karena cinta itu buta. Semua orang pasti mengalami kejadian yang sama. Butanya cinta adalah ketika kita suka dengan seseorang, ya sudah suka. Tidak mandang apanya, dia dari mana, dari keluarga yang seperti apa, kesehariannya bagaimana.
Dan delapan bulan berlalu. Telah ku lewati bersamanya. Ternyata!! Aku menangis sejadi jadinya. Aku terkejut melihat dia yang sedang berpelukan dengan seseorang. Maka aku langsung berteriak
¤"Rofiiiiiiii. I hate you!!". Rofi langsung berbalik arah dan melihatke arahku, di bilang
¤"Na Na Nana!! Salah paham Na, salah paham!".
¤"Aku gak percaya kalau ini salah paham. Sekarang lebih baik aku menghindari Rofi yang aku sayangi selama sekolah disini. Daripada aku semakin menyadari siapa aku disini". Jawabku
¤"Ayolah, kamu gak inget hal yang udah pernah kita lakuin? Itu adalah awal cerita kita. Sebelum nanti kita berpisah untuk kuliah. Semoga saja ditempat yang sama. Kelasnya sama juga". Katanya
¤"Jangan ngayal deh. Kamu kelas sebelas, aku kelas sepuluh. Gila kamu mau kuliah bareng sama aku?? Kamu mau kuliah berapaa lama??". Ocehku geram
¤"Na, itu tadi kakak aku. Aku sayang sama kamu. Gak mungkin aku ninggalin kamu. Kamu satu-satunya di hidup aku, satu-satunya yang aku punya. Kamu kan tau ibuku, ayahku, kakak dan adikku udah gak ada semua. Cuma kamu, gak yang lain".
¤"Weeww, katanya kakakmu udah gak ada. Kakak siapa yang tadi kamuu PELUK?? Hahh? Siapa?". Aku bertanya semakin geram.
¤"Dia Dia Dia Alysa. Teman sekelasku". Jawabnya
¤"Wih keren banget nih. Kak Rofi yang aku kenal baik hati ternyata nyobek hati. Haha, terlalu bagus pekerjaan mu bung. Oh iya sekalian aku mau tanya, di koperasi ada kertas HTS gak??". Kataku
¤"Nana, HVS cintaku bukan HTS. Kamu merasa kamu diduain ya?" tanya Rofi dengan sangat jelas.
¤"Aku gak ngerasa diduain ataupun di apain. Yang aku rasa cuma satu, kenapa sih cowok yang aku kenal selalu mainin aku, tapi dia gak balikin lagi ketempat semula. Kalau kamu belum bisa ngelarin masa lalumu, ya udah jangan terima Orang baru. Apalagi bawa orang baru jauh-jauh. Aku cuma ngingetin kamu Rofi. Biar cuma aku yang digituin sama kamu."
Dia gak respon malah nangis. Aku sedih juga sih, barangkali Alysa itu saudaranya atau masih sepupu Sama dia. Aku salah ngomong. Abis gimana ya, aku juga kesel gitu sama dia. kenapa harus pelukan sih. Mungkin itu memang cara mengatakan cintaku pada rofi, dan cintanya padaku. Jika mengingat kronologi berantemnya, sebenarnya aneh. Cuma ngeliatin mereka pelukan dari jauh, tiba-tiba nangis, ngomel, adu mekanik dan yah benar-benar aneh.
Dan akhirnya, aku minta maaf sama Rofi. Dia juga balik minta maaf. Kurang lebih gini:
¤"Rofi, boleh minta waktunya sebentar?"
¤"Bolehh. Banyak juga ga papa kok, kenapa?? Kamu pengen balikan sama aku?"
¤"Aku mau minta maaf soal ribut yang kemarin.."
¤"oww.. Kirain mau balikan sama aku. Iya aku maafin, tapi kebalik. Yang salahkan akuu Na, gimana?!"
¤"Aku gak mau balikan sama kamu. Aku kan bilang aku pengen menghindar dari kamu daripada nanti aku tambah sadar."
Semuanya terdiam. Haha, mendadak garasi motor yang tadinya menggema suaranya. Sekarang sunyi, sepi, tidak ada suatu percakapan kecuali suara kucuran air dari selang untuk mencuci motornya. Aku hanya duduk sambik menyiram motor sekalian orangnya. Sesekali dia menengok ke arahku, tapi aku buang muka. Kadang aku siram mukanya sampai glagepan dan RASAIN!!. Dan dia melemparkan sponge kotor yang sudah digunakan untuk mencuci enam motor. Setelah itu aku pulang dan langsung mandi agar aku bisa sekalian mencuci bajuku yang kotor karena lemparan sponge.
Beberapa bulan kemudian. Pahit, asam, manisnya cinta, sudah kudapat dari dia. Tadi pagi aku gak masuk sekolah, gara-gara pusing semaleman, akhirnya gak bisa tidur. Sialnya, aku ketemu dia. Dia dengan mantannya, Syakira namanya. Si abu pendek. Bahkan disekolah dijuluki monyet. Rofi klakson pas didepan aku, kaget asli. Syakira langsung menjulurkan lidahnya tanda meledekku. Astaga, kenapa jadi kaya gini sih. Ini salah satu pahitnya ini. Yang manis udah aku up drack semua jadi kertas. Kalau ilang juga gak papa.
Sekarang aku sakit gak pernah ada jengukan, dengan alasan kamunya ngambek maa aku. Aku takut mau kerumah kamu, takut ada ibu. Aku kaya ginilah gitulah lagu lama. Sekarang semuanya gak asik. Semua jadi asing. Kaya masak kebanyakan garam jadinya. Asing banget.
Oh iya, air yang dijalanan itu namanya kenangan ya?? Kok aku Kalau nginjek inget semua mua ya?? Apalagi tentang kamu.. Terus yang buat gambar tuh kertas HTS ya?! Soalnya aku berasa kaya gak kenal lagi sama kamu kalau pake kartas itu. Bener gak sii?? Oiya, kopi yang asli itu rasanya pamit ya??