Aku berdiri di depan sebuah gedung.Dekorasi pelaminan yang bernuansa putih menghiasi sejak di luar gedung.
Indah!
Siapa pun akan menilai seperti itu. Warna putih yang melambangkan sebuah kesucian. Warna putih yang menunjukkan sebuah kesederhanaan.
Dengan langkah pelan, aku yang berjalan sendiri mencoba untuk menata hatiku. Hati yang telah hancur dengan sejuta rasa sakit.
Jika aku sudah memutuskan untuk datang ke tempat ini,artinya aku sudah siap dan ikhlas dengan semua yang menjadi ketetapanNya. Mata ku teralihkan pada foto berbingkai besar. Sepasang insan yang tersenyum bahagia saling berpelukan.
Ada rasa nyeri dan perih dalam dadaku yang tak bisa terdefinisi. Kaki ku terus melangkah di balik gamis panjang hitam yang ku kenakan.
Kutarik nafas perlahan sebelum ku hentikan kaki ku di depan meja buku tamu undangan. Sosok cantik berkebaya soft pink menatap ku dengan tatapan sendu.
Aku menyunggingkan senyumku, semampuku!
Gadis cantik berkebaya itu memutar meja dan menghampiri ku. Dengan hangat ia memelukku begitu erat.
Aku masih terus berusaha untuk tersenyum. Kuusap punggung kecilnya yang bergetar.
"Jangan menangis, nanti make up nya luntur!", kata ku sambil mengurai pelukan.
Dia pun menghapus jejak air mata itu dengan tisu dengan pelan. Aku tersenyum saat ia menurut untuk tak kembali menitikkan air matanya.
Aku memintanya untuk kembali ke tempat ia duduk tadi. Ku tuliskan nama ku di daftar tamu dan setelah itu, aku melanjutkan langkah ku masuk ke dalam sana.
Sebuah pelaminan sederhana namun tampak indah dan terkesan mewah menjadi spot pertama yang ku lihat.
Pelaminan yang pernah ku impikan bersamanya!
Dan...detik berikutnya, aku melihatnya berdiri dan tersenyum bahagia dengan seseorang yang kini memilikinya seutuhnya.
Pernah berharap kami akan bersanding di sana, dan hari ini harapan itu akan terwujud.
Meski aku disana bukan untuk jadi pasangannya, melainkan tamu undangan di pesta pernikahannya.
Tiba-tiba sebuah tetesan bening meluncur tanpa aba-aba bersamaan dengan buket bunga yang sudah ada di genggaman tanganku.
Saat menyadarinya, aku menjadi pusat perhatian tamu di sana. Dan dengan reflek aku justru membuang buket bunga itu.
Dan seseorang memungutnya lalu kembali memberikannya pada ku. Aku hanya meneguk ludah ku saat melihat siapa yang memberikan kembali buket bunga itu.
"Mungkin setelah ini, kamu yang akan berdiri di pelaminan seperti mereka?!",lelaki itu berkata tepat di hadapan ku.
Suara sorakan dari para tamu membuat ku bangun dari lamunan ku. Aku hanya berusaha untuk tersenyum menutupi kegugupan ku menjadi pusat perhatian di tempat itu.
Dan kini mataku beralih pada sosok yang berdiri di pelaminan sana. Tatapan yang selama ini ku dapatkan sebelum kekasih halalnya menjadi bagian dari hidupnya. Tapi setelah itu aku memutuskan untuk tak menatapnya. Ada hati perempuan yang harus di jaga, di sampingnya!
"Sendirian kan?", tanya lelaki yang tadi mengambilkan buket bunga yang ku buang. Aku hanya mengangguk pelan. Lelaki berbatik cokelat itu tersenyum.
"Jadi ngga keberatan kan kalau sama-sama menemui kedua mempelai?", tanya nya.
"Heum?", aku menggumam pelan tapi setelah itu aku hanya mengangguk pelan. Tak ada salahnya kan?
Kami sama-sama tamu undangan yang memang datang untuk bertemu dengan kedua mempelai.
"Zayn!", ia mengulurkan tangannya padaku. Aku pun menyambut uluran tangan itu.
"Anisa!", jawab ku. Setelah itu, ia mempersilahkan ku untuk berjalan lebih dulu. Dan saat mata ku tertuju ke atas pelaminan,'dia' menatap ku. Tatapan yang tak bisa ku tebak.
"Selamat ya bro! Semoga bahagia!",kata Zayn pada Yohan, mempelai pria. Ya, aku memilih untuk mempersilahkan Zayn yang berjalan lebih dulu saat menaiki pelaminan.
"Terimakasih!", jawab Yohan dengan senyum. Zayn pun beralih pada mempelai perempuan. Melakukan hal yang sama seperti pada Yohan, memberikan selamat.
Dan kini giliran ku yang berada di hadapan Yohan. Kedua pasang mata kami saling mengunci. Dan lagi, tanpa bisa ku cegah setetes bening itu meluncur begitu saja.
Ibu jarinya mengusap sisa tetesan itu di mataku. Aku mencoba mengelak, aku tak mau menyakiti perempuan yang sudah berhak penuh pada nya. Tapi Yohan masih melakukannya.
Zayn memutar punggungnya, mungkin karena aku masih berdiri di hadapan Yohan. Begitu pun mempelai perempuan yang diam menatap interaksi antara aku dan Yohan.
"Terimakasih sudah datang, Anisa!",kata Yohan padaku. Mempelai perempuan yang sempat memperhatikan ku menundukkan wajahnya. Kenapa ???
"Selamat ya mas Yohan ,Laura! Semoga bahagia selalu!", kata ku.
Dan detik berikutnya, Yohan justru menenggelamkan ku dalam pelukannya. Aku yang awalnya mencoba untuk kuat dan bersikap biasa saja, akhirnya tak mampu untuk menumpahkan tangis ku di sana.
Kenapa aku merasa berada sedang beradegan di dalam sebuah drama???
Yohan mengusap puncak kepalaku. Dan setelah itu ia menakupkan kedua tangannya di pipiku.
"Suatu saat nanti, kamu akan mendapatkan seseorang yang mampu menjagamu mu. Mencintai mu tanpa tapi. Membersamai mu, tanpa harus mengambilnya dari Tuhan!", kata Yohan padaku.
Aku mengangguk pelan.
Kami memang bodoh! Bodoh terus melanjutkan hingga bertahun-tahun lamanya. Padahal kami tahu, tembok tinggi di antara kami tak akan pernah bisa di robohkan jika salah satu dari kami tak ada yang mau mengalah!
"Berjanjilah, kamu akan terus bahagia. Terus lah ceria seperti biasa. Ini bukan akhir segalanya, Anisa!", lanjut Yohan.
Aku hanya bisa terus mengangguk. Nyatanya, jika yang kuasa tak meridhoi...sekuat apa kita bisa memaksa Nya???
Aku menarik nafasku dalam-dalam, ku mengalihkan badan ku pada sosok cantik bergaun putih yang menatap ku dengan senyum namun ada kesenduan yang bisa kubaca.
"Selamat menempuh hidup baru, Laura!", hanya itu yang mampu kuucapkan. Laura mengangguk dan menyalami ku. Tak lupa, senyum tulus yang terus tersungging di wajah cantiknya.
Dan dengan menarik nafas dalam-dalam, aku meninggalkan pelaminan itu. Dan saat sudah ada di bawah, seseorang mengulurkan sebuah sapu tangan berwarna putih padaku.
Dan ternyata, Zayn lah yang memberikannya padaku. Dia tersenyum menatap ku.
"Yang kuasa tak mempersatukan dengan seseorang yang kita cintai, bukan berati Dia sedang menghukum kita."
Aku menoleh padanya dengan kaki yang terus melangkah.
"Dia hanya ingin memberikan seseorang yang di di waktu yang tepat pula, untuk kita!", kata Zayn.
Aku mencoba untuk tersenyum. Zayn benar,aku dan Yohan sudah selesai. Tak ada lagi yang harus kami sesali, apalagi di tangisi.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
"SAH!!!!"
Suara para saksi menggema di dalam masjid raya yang ada di kotaku. Aku menangis terharu karena tak pernah menyangka hari ini tiba.
Ya, aku sudah menjadi seorang istri dari Zayn Abdullah. Seseorang yang pertama kali ku temui saat menghadiri pernikahan sang mantan.
Seiring berjalannya waktu, Tuhan mentakdirkan kami untuk bersatu. Siapa yang akan menyangka jika saat ini terjadi????
Sosok lelaki yang sudah sah menjadi imam ku ,mengulurkan tangannya untuk ku cium dengan takzim.
Dan setelahnya, ia mengecup keningku dengan begitu lembut.
Apa aku bahagia? Ya, aku sangat bahagia. Mungkin Zayn memang bukanlah lelaki pertama yang mengisi hatiku,tapi inshaallah...dia yang terakhir dalam hidupku.
Seorang laki-laki yang menggendong bayi perempuan cantik menghampiri ku dan Zayn.
Senyuman teduh terukir di wajah tampannya. Bayi perempuan cantik itu begitu menggemaskan membuat siapa pun ingin menyentuhnya.
"Selamat ya Nisa, Zayn! Semoga sakinah mawadah warahmah!", kata orang itu yang tak lain Yohan.
Sejak pernikahan Yohan dan Laura, aku sama sekali tak pernah bertemu apalagi sekedar berhubungan lewat sosial media. Aku memilih untuk bekerja di luar kota. Dan saat dia datang ke acara pernikahan ku, murni karena Zayn yang mengundangnya.
"Aamiin ...terimakasih Han!", kata Zayn mewakili ku juga. Aku hanya mengangguk dan berusaha untuk terus tersenyum.
"Di mana Laura?", tanya ku karena aku tak melihat istri dari mantan ku tersebut.
Yohan tersenyum.
"Laura sudah bersama bapa di surga! Dan sekarang, ada Vanesa...yang menemani ku!", kata Yohan masih dengan senyum tenangnya. Dia mengecup puncak kepala bayi itu dengan penuh kasih sayang.
Aku mengeratkan genggaman tangan ku pada Zayn. Zayn bisa melihat ku yang tampak terkejut mendengar berita itu. Tapi setelah itu, ia meraih bahuku.
"Maaf mas, aku tidak tahu. Aku turut berduka cita ", kataku. Lagi-lagi Yohan hanya tersenyum.
"Tidak apa-apa Nis. Aku dan Vanes sudah mulai terbiasa tanpa kehadiran Laura!", katanya lagi.
Aku bisa melihat kegetiran dari ucapannya. Dan hanya anggukan ringan yang bisa ku lakukan untuk menanggapinya. Dan setelah itu, Yohan pun berpamitan pada ku dan Zayn.
Aku hanya mampu memandang punggung tegap milik Yohan yang menjauh. Sesekali aku melihatnya tertunduk, mungkin karena menciumi Vanesa.
"Masa depan itu rahasia yang maha kuasa, Nisa!",kata Zayn. Aku menoleh pada sosok yang lebih tinggi dari ku ini.
"Iya mas! Dan jalan takdir pula yang menuntunku sampai pada akhirnya aku menemukanmu, imam ku!", kata ku.
Zayn merengkuh ku dalam pelukannya. Pelukan ternyaman yang sudah ku miliki seutuhnya.
Masa lalu ,tak akan pernah bisa di rubah. Dan masa depan ,tetap lah jadi rahasia yang maha kuasa.
Aku dan Yohan yang pernah merasakan cinta yang begitu hebat, nyatanya tak mampu untuk merayu Tuhan mempersatukan kami.
Dan di saat aku mulai pasrah atas takdir ku, Dia mengirim Zayn...untuk ku! Menjadi imam ku, menjadi ayah dari anak-anakku...juga menjadi sandaran dalam hidupku.
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕