Pada tanggal 1 Oktober 1837, ketika Ratu Victoria masih berkuasa di Inggris, Bertie memantapkan dirinya untuk menikah dengan Lydia Funhudson. Pria setengah abad yang baru mempersunting gadis dari tanah seberang ini tidak mengetahui jika Lydia merupakan sepupu dari sepupu keluarga ratu Victoria yang sakit jiwa.
Berparas cantik, sopan, lemah lembut dan berpendidikan tinggi adalah ciri khas yang cocok untuk menggambarkan sosok Lydia yang dikagumi Bertie.
Sebelum berjalan di altar pernikahan berkarpet merah, Lydia FunHudson adalah wanita yang kosong. Dia memang bersekolah ekonomi hingga bergelar professor tetapi dia gagal membedakan mana fakta dan mana ilusi.
Di hari pernikahannya yang sakral, Lydia tidak bisa tersenyum dengan tulus. Kecupan ciuman pipi sebagai tanda ikatan cinta putih antara Bertie dan dirinya rasanya cukup untuk memperlihatkan pada dunia bahwa Lydia sangat mencintai Bertie.
Sore ini, saat kedua mata abu-abu Lydia melihat selembar daun maple keoranyean yang jatuh dari ranting pohon, gadis berambut merah yang mengelus cincin pernikahannya terus menatap gelisah pada benda mati yang terbang jatuh menyentuh tanah.
Dalam pandangan Lydia, pohon gundul yang mengugurkan daun terakhirnya mengingatkannya pada pernikahannya dengan sepupunya, Edward.
Langit biru keoranyean yang menanunginya kepalanya saat ini sama persis dengan langit yang menaunginya bersama Edward. Gadis itu tidak tau kapan dan tahun berapa dia pernah menikah dengan Edward. Telinganya hanya mendengar bahwa dia adalah janda perang yang beruntung dinikahi oleh Bertie yang kaya.
"Aku ingin pulang," sahut Lydia pada Bertie yang tengah sibuk menggobrol dengan tamunya.
Pria berkumis yang melihat Lydia pucat mulai merasa khawatir pada kondisi istrinya.
Secawan anggur yang menemaninya menggobrol hari ini diletakkan di nampan pelayan yang baru saja lewat didepannya.
"Lydia, apakah kamu merasa tidak enak badan ?,"
"Aku ingin pulang,"
"Maaf kalau aku mengacuhkanmu tadi. Bagaimana kalau kita berkeliling ?,"
"Aku mau pulang, Bertie ! Apa kamu tidak mengerti ?!."
Auman kemarahan Lydia terdengar hingga ujung aula pesta pernikahannya. Para tamu yang sedang minum dan makan kue melihat ke arah dua pengantin yang baru saja memulai pertengkaran pertamanya. Mereka meramal pernikahan antara dua sejoli ini tidak akan bertahan lama.
Dengan kepala yang tertunduk malu, Bertie memerintahkan para pelayan dan panitia di pesta pernikahannya untuk menjamu tamu dengan baik. Pria yang sudah mengeluarkan banyak uang ini tidak akan meninggalkan perhelatan pesta pernikahan karena Lydia marah.
Sifat perempuan yang tidak mudah dimengerti membuat Bertie menjadi berhati batu. Mungkin karena dia mengacuhkan Lydia sepanjang pesta, dia menjadi marah. Oleh karena itu, untuk menghilangkan rasa frustasinya, Bertie melanjutkan perayaan pesta pernikahannya tanpa Lydia.
Bertie dan para teman-temannya akan berpesta sampai pagi.
Jauh dari hiruk piuh pesta pernikahannya, Lydia terdesak pulang ke rumah. Kedua tangannya merobek kartu undangan, melepaskan venil pernikahan dan melempar cincin perak bermata biru yang diberikan Bertie.
Fokus Lydia saat ini bukanlah menyiapkan diri untuk melayani Bertie tetapi dia sibuk mencari obat yang harus dikonsumsinya saat marah dan gelisah.
Satu botol berisikan pil dan tablet yang bercampur jadi satu ditemukan Lydia di laci bawah kamarnya. Tanpa ragu, dia menelan beberapa pilnya dan tertidur dengan gaun pernikahan di lantai.
Pagi berikutnya, Bertie pulang ke rumah dengan keadaan berantakan. Pukul sepuluh pagi, dengan rambut acak-acakan, dia melihat rumahnya bak kapal pecah. Ada sepatu, venil pernikahan dan jepit rambut berkeleran di lantai.
Awalnya Bertie tidak berpendapat apapun pada kondisi rumahnya yang berantakan tetapi setelah dia melihat cincin pernikahannya berserakan di lantai, Bertie marah besar.
Pria melepas jasnya. Dia bergegas ke lantai atas menuju ke kamarnya. Berharap kalau Lydia tidak akan melakukan sesuatu yang akan membahayakan dirinya.
Ketika Bertie tengah gelisah memikirkan keadaan Lydia, gadis berambut merah yang dikhawatirkannya sedang duduk santai di tempat tidur.
Istrinya masih cantik dengan balutan gaun pernikahan dan tatanan rambutnya juga masih bagus.
Satu hal yang tidak pernah dibayangkan Bertie sebelumnya, Lydia adalah seorang perokok.
Gadis yang sudah menikah dengan Bertie tidak melakukan apapun saat suaminya datang. Kedua tangannya masih sibuk menjejalkan putung rokok ke dalam mulutnya. Disesapnya, rokok itu dengan nikmat sampai aroma wangi yang ada di ruangan itu dipenuhi dengan asap rokok.
Bertie sudah tidak tahan dengan kelakukan buruk Lydia. Sejak kapan, dia punya kebiasaan merokok yang dimiliki kaum laki-laki ? Bertie harus menghentikan kebiasaan ini sebelum seputung rokok itu membakar rumahnya.
"Buang itu, Lydia," kata Bertie. Dia mengambil seputung rokok Lydia dan menginjaknya hingga mati.
"Apa yang baru saja kau lakukan, Bertie ? Berikan aku satu lagi," sahut Lydia menadahkan tangannya.
"Tidak ada rokok lagi, Lydia. Kendalikan dirimu."
Senyum licik Lydia terpancar dengan sangat jelas saat Bertie menolak memberikan rokok lagi kepadanya. Gadis yang berwajah garang itu beranjak ke arah pintu penuh kemarahan.
Dengan sekali dorongan, dia menutup pintu kamarnya dan mengajak Bertie untuk berdebat sepanjang malam.
Hari-hari pernikahan antara Bertie dan Lydia menjadi muram hanya karena seputung rokok. Bertie yang biasanya berangkat kerja dengan ceria. Kini harus berwajah muram dan penuh kantong mata ketika menghadapi kliennya.
Namun, di pagi selanjutnya, saat dia bangun tanpa kegaduhan, Bertie melihat Lydia sedang memasak sarapan di dapur. Pria yang sudah rapi dengan mantelnya itu tidk menyangka Lydia bersikap normal.
"Lydia ?"
Namanya disebut. Segera, gadis berambut merah yang sudah merapikan rambutnya kebelakang menoleh ke belakang. Dia tersenyum pada Bertie yang sudah duduk menunggu sarapan.
"Telur dadar atau telur mata sapi ?"
"Telur mata sapi, jika itu mudah."
Lydia mengangguk menerima pesanan Bertie.
Sebutir telur segar dipecahkan di atas loyang panas. Sedikit butter dan sedikit lada untuk menambahkan rasa pada telurnya.
Saat telur sudah berwarna kuning padat, Lydia memindahkan telur ke atas roti yang sudah ditumpuk dengan selada, keju dan tomat di atasnya. Sebagai penutup, dia menambahkan selembar roti dan satu sandwich siap dihidangkan untuk Bertie.
"Aku tidak mengerti, mengapa kamu berubah tiba-tiba, Ly ?" tanya Bertie yang sedang menyantap sarapannya.
"Sudah dua puluh empat minggu," sahut Lydia yang duduk berhadapan dengan Bertie.
"Apa ?" mengernyitkan dahinya. Dia tidak mengerti maksud Lydia. Bisakah diulang lagi lebih jelas, para pria lambat menerima kode perempuan.
"Kita akan mempunyai bayi, Bertie," mengelus perutnya yang menonjol dari balik gaun menggelembungnya itu.
Bertie sangat senang mengetahui berita kehamilan Lydia. Kegembiraannya tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata lagi.
Tinggal beberapa bulan lagi dan Bertie harus bersiap menyambut kedatangan si kecil di rumah.
Pria yang sudah masuk ke dalam masa pensiunnya ini repot-repot memberikan peralatan dan keperluan bayi dari tabungan masa tuanya. Ayunan bayi yang kuat dari kayu, bedak dan sabun bayi, mainan bayi, pakaian bayi dan bahkan nama untuk sang bayi juga sudah disiapkan.
Di sela-sela tiga bulan terkahir kelahiran sang bayi, Lydia berusaha untuk mengeluarkan janin itu dari perutnya. Gadis itu tidak menyukai kegerahan yang sering timbul, kaki bengkak dan sulitnya memilih posisi tidur kadang membuatnya murka.
Agar bayinya lahir lebih awal, Lydia menggunakan segala cara untuk mengeluarkan si bayi. Dia mulai mengonsumsi obat anti depresan secara rutin, merokok diam-diam saat Bertie pergi bekerja dan meminum anggur merah langka yang didapatkannya dari keluarga kerajaan.
Minuman yang langka itu tidak akan pernah dia sia-siakan apalagi untuk anak yang memang tidak dia inginkan tumbuh di perutnya.
Semakin gencar Lydia berusaha untuk mengeluarkan bayinya semakin cepat Bertie mengetahui kelakuan kejinya.
Ketika hujan salju lebat mengguyur Inggris, Bertie pulang lebih cepat dari bekerja. Besok adalah hari natal dan dia ingin menghabiskan waktu dengan Lydia.
Pria yang membawa kado natal menemukan istrinya sedang merokok dan meminum anggur dengan santai di dapur. Ingin dia menampar Lydia tetapi dia selalu tidak tega dengan bayinya.
"Apa yang kau pikirkan, Lydia ? Apa kau berusaha untuk membunuh anak kita ?" mengambil putung rokok di tangan istrinya dan melemparnnya ke wastafel.
"Aku tidak berniat membunuhnya, Bertie! Aku hanya ingin dia cepat keluar saja," kata Lydia membela dirinya.
"Tapi, kau harus bersabar, Lydia!. Tinggal beberapa bulan lagi dan kau bisa bebas."
Lydia tidak mendengarkan Bertie. Gadis yang sedang hamil itu semakin kesal dengan orang yang suka mengatur hidupnya.
Sebelum menikah, dia bebas melakukan apa yang dia suka. Pergi ke tempat hiburan, mendaki gunung dan ikut kompetisi berenang dengan teman-temannya di danau.
Bertie membuatnya jadi tidak bisa terbang. Pria yang suka membual dan merayu dirinya itu membuatnya jadi queen bee yang tidak bisa terbang lagi.
Saking beraninya, Bertie membuatnya diam dengan bersembunyi di balik pakaian hamil selama setahun.
"Jadi, kau menyalahkan aku karena itu ?" sahut Bertie kesal.
"Ya ! Kau membuatku terjebak dengan anak ini," lawan Lydia. Dia menuang segelas anggur lagi dan meminumnya.
"Kau benar-benar sakit, Lydia!" Bertie mengambil gelas di tangannya dan melemparnya ke dinding.
Di malam putih sebelum hari natal tiba, Bertie dan Lydia bertengkar hebat. Pertengkaran ini adalah puncak dari segalanya.
Bertie yang tadinya penyabar mulai mengambil kursi dan membantingkannya ke dinding hingga pecah saat Lydia terus berlari ke sekeliling rumah dengan botol minuman di tangannya.
Harus apalagi yang dia perbuat selain melihat ibu dari anaknya meminum anggur itu hingga habis. Tubuhnya sempoyongan dan omongannya melantur.
Mulai berprasangka bayinya akan meninggal dalam kandungan, Bertie segera membawa Lydia ke rumah sakit setelah dia melihat air ketubannya pecah dan istrinya tidak sadarkan diri.
Karena dalam pengaruh alkohol, dokter sulit untuk menyelematkan salah satu dari mereka. Bayinya beruntung tidak mengalami cacat fisik tetapi dia sudah terkontaminasi dengan obat - obatan yang dikonsumsi sang ibu saat hamil.
Bertie memang tau kalau Lydia peminum dan perokok. Namun, untuk fakta pengonsumsi pil, Lydia bukan tipe yang seperti itu.
Rupanya Bertie perlu diberitahukan satu hal. Lydia pernah dirawat di rumah sakit jiwa untuk depresi dan kecemasan berlebih akibat kehilangan suami pertamanya yang tewas dalam perang.
Dokter Scheneder yang merawatnya di rumah sakit jiwa berkesempatan menangani persalinannya di hari natal ini. Obat - obatan yang dikonsumsi Lydia adalah jenis obat - obatan yang sama dengan jenis obat yang diberikan dokter dulu.
Kalau mungkin pernikahan dan kehamilannya ini yang menyebabkan dia kembali depresi berat, Dokter Scheneder hanya bisa prihatin. Kali ini Bertie harus memutuskan harus menyelamatkan anak atau istrinya.
"Selamatkan Lydia saja, dokter."
Keputusan berat yang harus ditanggung Bertie harus kehilangan anaknya ternyata tidak terkabul. Saat dokter berniat untuk menyelamatkan Lydia, bayi yang dikandungnya masih selamat. Ibu sang anak yang justru meninggal.
Dengan berat hati, Dokter Scheneder harus memberitahukan bahwa Lydia tidak terselamatkan. Bayi mereka yang berjenis kelamin laki-laki selamat dari maut. Meski kondisi kesehatannya tidak baik, dokter yakin Bertie akan merawat putranya dengan baik.
Setelah Lydia dimakamkan, Bertie dan bayinya pindah ke kota yang lebih besar. Dia pindah ke London untuk mencari dokter terbaik bagi Bertie junior yang sering sakit-sakitan.
Selama sisa hidup Bertie, waktunya dihabiskan untuk kesembuhan putranya dan mengenang Lydia.
SELESAI.