Mendung. Bintang tidak nampak di atas sana. Aku sedang dalam perjalanan menuju ke kampung halamanku. Di pedesaan kecil di balik gunung. Cukup jauh dari kota, butuh 6 jam untuk sampai disana. Bahkan sepanjang jalan yang kulihat hanya hutan dan sawah. Ibu mengabariku bahwa nenek sakit parah. Jadi sepulang kerja aku bergegas berangkat ke desa. Dan sialnya lagi, aku pulang tepat satu jam sebelum tengah malam. Tak apa jalan malam, aku kan seorang pria, seharusnya tak ada yang aku takuti.
Aku menempuh perjalanan dengan mobilku. Dua jam menyetir terasa cukup melelahkan, saat aku sudah sangat letih dan mengantuk, dari kejauhan aku melihat ada sebuah supermarket. Aku tidak tau bagaimana ada supermarket di desa kecil dan anehnya masih buka di jam selarut ini. Tapi ya sudahlah. Aku bisa mampir untuk membeli minuman dan roti.
Ku tepikan mobilku, masuk ke halaman supermarket itu. Aku turun dan kemudian masuk. Ada satu petugas kasir wanita dan satu lagi pegawai pria yang menatapi rak di sudut ruangan. Mereka diam tak melihatku. Bahkan melirik saja tidak. Dengan acuh, aku pun menuju rak untuk mengambil barang yang aku ingin beli. Di langit-langit banyak tergantung kertas yang tertulis diskon. Sepertinya sedang ada potongan harga besar-besaran. Saat aku membuka kulkas, aku merasakan ada yang aneh. Kulkas itu sangat dingin, tapi minuman yang aku ambil dari dalamnya tidak terasa dingin sama sekali. Justru terasa hangat. Begitupun dengan rotinya. Terbungkus rapi dalam plastik tapi terasa seperti baru keluar dari oven. Apa karena cuaca sedang hangat? Aku tidak merasa segerah itu!
Sudahlah, mungkin hanya perasaanku. Aku berjalan ke kasir untuk membayar belanjaanku.
"Tolong di total." Kataku. Wanita itu nampak dingin, menunduk seolah tak ingin memperlihatkan wajahnya. Setelah mengantongi belanjaanku ia langsung menyodorkan belanjaanku tanpa mengatakan harganya.
"Berapa?" Tanyaku. Ia tak berucap. Ia hanya terus mengarahkan kantong belanjaan ke arahku.
"Aku akan membayarnya. Tolong tunjukan harganya." Pintaku mengerutkan kening. Dia tetap diam.
"Tolong sebutkan berapa yang harus aku bayar!" Kataku sedikit kesal. Pegawai pria yang ada disudut langsung melirik ke arahku. Wajahnya nampak hitam. Hanya beberapa saat lalu ia memalingkan wajah dan mulai mengangkat kaki.
"Ya Tuhan !!!" Aku terbelalak kaku. Menatapi sudut ruangan yang sudah kosong. Pria tadi menembus tembok di depan mataku. Seketika bulu kudukku merinding dan tengkukku terasa dingin. Aku mundur selangkah. Beralih melihat ke arah kasir wanita. Dia aneh! Jangan-jangan dia juga...
"Ma-maaf!" Ucapku hendak berbalik. Namun tubuhku seperti berat digerakkan.
"Pats!" Lampu mati tiba-tiba, namun tak lama kemudian hidup kembali. Wanita tadi tersenyum lalu mengangkat wajahnya ke arahku. Terlihat normal, namun tiba-tiba perlahan seluruh tangan dan wajahnya muncul luka bakar. Darah segar dan mendidih mengaliri kulitnya. Nafasku seperti mau berhenti saat menyaksikannya. Perlahan ia merintih kesakitan, lalu...
"AAAARRRRRGGGGGHHHH!!!!!!!"
Dia berteriak memekikan telingaku. Dengan sekuat tenaga, aku buru-buru berlari keluar dari supermarket itu. Nafasku sampai tersengal-sengal. Aku masuk kedalam mobilku untuk segera meninggalkan halaman supermarket itu. Namun entah mengapa, mobilku tak mau menyala. Berkali-kali aku mencoba namun tetap tak berhasil.
"Pats!" Untuk kedua kalinya, lampu supermarket mati. Benar-benar tak ada cahaya sedikitpun, gelap! Sangat gelap! Aku terus berusaha menyalakan mobilku dan terus gagal. Aku sangat ketakutan, keringat dingin sudah membasahi keningku.
Apa yang akan terjadi? Apa aku akan mati begitu saja disini? Tidak! Aku tidak mau mati konyol begini! Ayo nyalalah mobil! Cepat!
"Sial!" Gerutuku kesal. Tidak berhasil, mobilku tidak mau hidup. Aku mulai menangis ketakutan. Aku menekuk kedua tanganku di atas setir dan menyembunyikan wajahku. Dalam hati aku terus berdoa agar segera terlepas dari keadaan ini.
"Tok-tok-tok!" Bunyi ketukan kaca pintu mobilku. Apakah hantu itu yang melakukannya? Tidak! Kenapa harus mengejarku?
"Tok-tok-tok!"
"Pergilah! Kumohon! Kita tidak saling mengenal! Jangan ganggu aku!" Pintaku terisak.
"Tok-tok-tok!" Duh, Apa hantu itu tak mau menyerah?
"Hey, nak!" Seru seseorang dari luar. Aku segera mengangkat wajahku. Seorang pria tua dengan senternya melihat ke arahku dengan khawatir dari luar mobil. Dia manusia kan?
"Ada apa denganmu? Apa kau mabuk?" Tanyanya. Sudah jelas dia manusia. Aku jadi berfikir yang tidak-tidak. Ku buka pintu mobilku lalu meraup wajahku dengan frustasi.
"Sesuatu terjadi padamu? Bagaimana kau bisa ada disini?" Tanyanya. Aku menggeleng tidak kuat berucap.
"Ayo kerumahku. Tenangkan dirimu disana." Ajak kakek itu. Akhirnya akupun kerumahnya di gubuk kecil yang tidak jauh dari supermarket itu.
"Minumlah." Katanya menyodorkan segelas teh hangat. Dia duduk di sampingku dan membiarkan aku menenangkan diri sejenak.
"Apa yang kau lakukan disana malam-malam begini?" Tanyanya penasaran. Aku menghela nafas lalu mulai menceritakan apa yang aku alami. Kakek itu hanya mengangguk. Tak heran seolah yang aku alami adalah hal yang biasa saja.
"Kau bukan yang pertama." Kata kakek itu membuatku tercengang.
"Ada dua orang di tahun-tahun sebelumnya yang mengalami hal sama sepertimu."
"Ha?" Aku menggeleng seolah tak percaya.
"Tiga tahun lalu saat supermarket itu menggelar diskon besar-besaran terjadi hal mengerikan. Seseorang membakar supermarket dan dengan jahat mengunci dua karyawan yang berada di dalamnya. Dua orang itu meninggal terpanggang disana. Dan setelah itu setiap tahun, di hari besar yang sama, seseorang akan mengalami hal mengerikan seperti yang kau alami." Percaya tak percaya! Masih sulit ku terima, tapi semua benar-benar nyata.
"Aku datang cukup terlambat. Tapi setidaknya tidak ada hal yang buruk yang terjadi padamu."
"Saya sangat berterimakasih." Ucapku.
"Menginaplah disini sampai pagi. Jangan meneruskan perjalananmu sebelum pagi tiba." Ujarnya bangkit dari duduk.
"Kenapa? Saya harus segera sampai dirumah."
"Dua korban di dua tahun sebelumnya terlibat kecelakaan setelah memaksa melanjutkan perjalanan di malam yang sama setelah mengalami hal buruk itu. Kau mau seperti itu?" Aku menggeleng keras. Sepertinya aku harus mengalah dan bersabar. Ini jauh lebih baik daripada hal lebih buruk terjadi padaku.
Paginya saat aku hendak melanjutkan perjalanan, aku sempatkan diri untuk melihat lokasi supermarket itu. Dan ternyata cukup mengejutkan. Tidak seperti yang kulihat semalam. Bangunan supermarket itu sudah sangat rusak bekas terbakar. Halamannya dipenuhi ilalang liar. Banyak sampah berserakan dan di dalamnya terlihat rak-rak yang sangat berantakan. Dua orang yang semalam pasti adalah korban kebakaran supermarket ini. Nasibnya sungguh mengenaskan. Namun bagaimanapun seharusnya mereka tak mengganggu orang-orang yang masih hidup. Semoga di tahun selanjutnya tidak ada lagi orang yang mengalami hal buruk seperti yang kualami.
===^end^===