Sunyi....
"Hmm Hutan ini terlalu berkabut, terlalu sulit untuk melihat dengan baik"
"Oh iya Rin, Bagaimana ini, Sudah hampir malam, sedangkan kita belum menemukan tempat istirahat sementara?"
Tanyaku sambil kebingungan
"Benar juga itu, hmm.. Ahhh iya...Lebih baik kita istirahat di bawah pohon ini aja, Gimana?"
"Okelah"
Jawabku setuju
Sementara itu Kami pun beristirahat sejenak di bawah pohon yang amat besar.
Dengan rencana untuk keesokan harinya, mencari rumor tentang "Desa Berkabut".
*Keesokan harinya.....
"Ra...Ra....bangun udah pagi nih, ayo bangun nanti keburu berkabut loh"
Ujar Rin yang tengah membangunkanku
"Iya iya aku bangun"
Dengan nada malas aku menjawab
Hutan Jenggala namanya, hutan yang kami telusuri untuk memecahkan adanya rumor "Desa Berkabut". Hutan itu akan berkabut di siang hari sekitar jam 11.00 hingga tengah malam.
*Disisi lain
Kamipun bersiap untuk melanjutkan perjalanan untuk mencari rumor itu.
Selang beberapa jam dari waktu kami berjalan di titik awal, sesosok "kakek" Ia Mendatangi kami dengan mengatakan sesuatu yang tak terduga.
″Nduk, cara apa disini? Desa berkabut ya? Jalannya ke sini″ ucap sang kakek sambil menunjuk jalan hutan yg nampak buntu.
Aku dan Rin saling menoleh bingung, mengapa kakek ini mengetahui tujuan kami?
"Eeehh...b-baik k-kek."
Kami berdua berbicara dengan nada canggung, karena kami sedikit di takutkan oleh raut wajah sang "Kakek?". Rupa mukanya tak tertampak bola mata, senyuman tipis runcing melebar hingga mendekati pelupuk mata, aura muka yang pucat.
Di sepanjang jalan, "ia" tak mengatakan secuil pun kata-kata, dan aku memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu.
"Eee...anu..kek...b-bolehkah saya bertanya sesuatu?"
"Tanyalah" nada bicaranya dingin sekali.
"Kita ini mau kemana kek?, Kenapa jauh sekali?"
Pake nanya lagi. Kan tadi udah tak bilangin, jalan menuju Desa Berkabut boge, haihh Rara!
"Iya kek semakin jauh, kabut semakin tebal, sulit untuk melihat!
Ini juga si Ririn, ikut-ikutan, hadehh...
Kami berdua bertanya-tanya kepada sosok tua tentang apapun yg belum kami ketahui tentang Desa tersebut.
Nah, sudah sampai!
Ucap lelaki tua itu santai
"Aduh, berkabut sekali, sulit untuk melihat!
Ra, terlalu berkabut!"
"Baru saja sampai di gerbang, sudah begitu berkabut!"
Ucapku dalam hati.
Anu..kek...eh? Kakek itu kemana?
Iya, kemana ya?
"Ra?"
"Rin?"
Kami menoleh satu sama lain, bulu kuduk berdiri tegak!
Boom! Seperti yang kami firasatkan sepertinya benar, sesosok kakek yang menyapa kami, ialah pemegang kunci "Desa Berkabut"
"Ra? Ini beneran?"
Ririn nampaknya ikut merinding, sambil meremas tanganku.
Iya, ngeri juga ya, sunyi, dingin, lembab sungguh kombinasi mematikan.
"Huuhh bener tuu"
Rin sedikit menenang
Kami berdua sangat terherman-heran
Ternyata...isu yang beredar, Kamilah orang kedua yang melihatnya dengan mata telanjang jelas.
"Raa!! Balik yuk, aku takooott!"
Oh tidak, kupikir rasa takut Rin hampir memuncak setelah beberapa detik mereda
"Jangan menangis dong, kita udah susah-susah memecahkan isu itu. Masa tiba-tiba mau puter balik sih!"
"Huhhh...iya deh iya deh"
Tuh, Rin kek terpaksa begitu kan? Lucu banget.
Kami diam sejenak, telinga kami berdua terusik oleh suatu.
Krosak..grasak..grusuk...rek..srek...
"Oooh ya Tuhan uhuhuu apa itu!??!"
Terjingkat lah dia, sembari memukul tanganku, aku pula jadi korban
Suara itu pun semakin dekat, membuat bulu kuduk ku berdiri.
"Hu..hu..hu..Raa, suara itu semakin dekat, aku takut, pulang saja yuk!"
"Tenang Rin, sabar dulu, jangan buru buru!.
Yaaaahh...meskipun aku takut!"
Ucapku dalam hati.
Duwarr...Rorr
"Hah? Irfan? "
"Irpan? Ngapain kau disini? Kamu ikut ngintil ya?"
*Ngintil is membuntuti
Kami ber 2 Syok dikit lah, nih anak muncul darimana coba?
"Ahahaha ya maap, emang bener kalian juga mencari rumor tentang Desa Berkabut ya?
Irpan kek tanpa rasa bersalah banget ya kau pan.
"Juga katamu? Jadi sebelumnya kau memang ada rencana nyari ini desa pan?"
Ya aku bertanya lah, lagian si Irpan ngapain tiba-tiba nongol?
"Iya, dong...seorang Irfan gitu loh"
Bro kepedean
"Hih"
Rin kayaknya sedikit menanggap Irfan ini orang prik
"Okelah, semakin ramai, rasa takut akan menipis!"
Kami bertiga, melanjutkan perjalanan menuju Desa tersebut.
Sesampainya di tempat...
Kruk...kru...
"Eh...fiyuh.....ternyata suara burung hantu, bikin takut aja!."
Rin mulai merinding nih
"Berkabut sekali, sulit untuk melihat!!.
Eh...eh...senterku..sial... baterainya habis!!
kalian ada yang bawa senter dua nggak?"
"Ada fan, kami punya, nih, aku pinjemin ke kamu!"
"Oh..oke, makasih Ra!!"
"Iya sama sama!"
Sesampainya di tempat kami bertemu dengan banyak sekali pria dan wanita paruh baya, adem ayem sekali desanya.
"Wah... ternyata yang di rumor kan tentang Desa Berkabut itu salah ya, penghuninya..ramah banget!!"
"Iya fan, rasanya seperti mimpi, padahal, orang bilang, Desa Berkabut itu banyak hantunya, eh..padahal nggak!"
Rin udah ngerasa lega kayaknya
Kami berjalan terus, sambil menengok kanan kiri.
"Waaah..Disepanjang jalan, banyak sekali orang yang berdagang!, aku jadi kagum!!"
Iya Rin, ramai banget ya!!
Aku ikutan seneng deh, Rin udah ga takut lagi.
Selang beberapa menit kami berjalan, seorang lansia menghampiri kami dengan bertanya sesuatu...
"Nak..kalian pasti lapar, ayo sini makan dulu!!"
Ajak sang nenek tersebut ramah
"Eh...iya nek, terimakasih!"
"Terimakasih nek!"
Kamipun berjalan mengikuti sang nenek tersebut, hingga kami berhenti di sebuah kedai kecil dipinggir jalan.
"Wah..toko nenek ramai banget, pasti nenek lelah."
Aku kagum dengan nenek itu, seorang diri melayani banyak pelanggan.
Tidak kok nak, nenek tidak lelah, justru nenek merasa senang, karena nenek bisa menghabiskan masa tua nenek di Desa Berkabut ini!!
Desa Berkabut?
Kami tersenyum ramah, karena senang mendengar suara canda sang nenek.
Setelah itu, duduklah kami di salah satu meja makan, dengan nenek yang menyajikan makanan dengan cepat.
"Silahkan makan"
Ramah sang nenek belum luntur ternyata, tanpa pikir panjang kami segera memakan hidangannya dan mengucapkan terimakasih.
Am nyam nyam em kenyang am nyam nyam em kenyang.
Setelah kami selesai makan, kami bertiga beristirahat di gubuk tua yang cukup luas, hingga pagi hari tiba, kami melanjutkan perjalanan pulang.
"Nenek, terimakasih ya, telah memperboleh kan kami tinggal sementara di rumah nenek, sekali lagi, terimakasih ya nenek!"
Pagi hari? Namun masih nampak gelap di desa ini.
Iya, nak, sama sama, hati hati di jalan ya!
Oh iya...bekal kalian pasti sudah habis, ini nenek bawakan bekal untuk kalian berdua!
"Wah nenek..maaf jadi merepotkan"
"Sudahlah tidak apa apa, justru nenek senang, kalian telah berhasil menemukan Desa ini dengan selamat!"
Dengan selamat? Jadi? Selama ini para penjelajah meninggoy selama perjalanan kemari?
"Tentu saja nek, kami sudah berpetualang di mana mana, jadi kami paling tahu tentang hutan!"
Alah udahlah, jangan mikir macem-macem, cepet balik dan istirahat.
"Syukurlah kalau begitu, ini bekal kalian, hati hati di jalan ya!!"
"Baiklah nenek, kami berangkat!"
Ya, sesuatu yang janggal terlekat si pikiran, desa yang kemarinnya ramai, sekarang sunyi bahkan seekor jangkrik pun tak angkat bicara.
Sepanjang jalan terasa ganjil, kenapa perjalanan jadi tambah panjang?
Bruk
"Rin Kamu capek ya? Tasnya sampai jatuh gitu"
Ini posisi aku yang memimpin di depan jadi ga nengok ke belakang
"Rin? Kok ga jawab?"
Aku berbalik badan... celingak-celinguk mencari keberadaan Rin, Ellohh Ririn mana? Nahh paniklah aku itu
"Aku ingat jelas, tadi dia dibelakangku dengan bersenandung, tapi setelah melewati gerbang, ia berhenti bernyanyi, ku pikir karena dia lelah...tapi?"
Oh tuhan Rin...Kamu dimanaa? Nafas mulai ngos-ngosan tak beraturan, pikiran kacau, merinding, namun aku ingat pesan si nenek...
"Angka ganjil nak...semoga keselamatan menyertaimu"
Ucap sang nenek yang sulit kupahami, ganjil? Apanya yang ganjil? Daripada mikir keras, aku iyain aja dan buru-buru balik lah itu.
"1,2,3. 22 Maret 2012, Rara, Ririn dan...satunya lagi? Ehh...hoahh Irpan"
Aku melotot melihat sekeliling yang hanya menyisakan semak belukar. Aku terduduk diam mematung, angin yang tadinya lembut kini menyuram, dingin dan kelembaban mulai naik.
"Ayah Ririn, Ibu Ririn, Irfan sekeluarga...aku harus gimana??"
Tanpa sadar, pelupuk mataku penuh dengan air, dan mulai menetes, aku linglung...hingga satu ingatan yang berseliweran di benak.
Alm. Kakekku pernah berkata dulunya.
"Rara nak gidok, di hutan depan itu luas sekali nak, jika kamu kesana jangan sampai linglung ya, apapun yang terjadi, jangan bengong ngat pesan mbah, hutan itu perlu tumbal nak... rumornya hutan itu tanah pertama yang ada di bumi, angka ganjil dilarang masuk nak"
Setelah itu...aku lupa apa yang Mbah katakan. Maafkan aku Mbah!
"Astaga...jadi? Aku menumbalkan temanku sendiri? Kenapa? Kenapa harus mereka?...oke baiklah mereka telah menjadi tumbal, demi aku...aku tak boleh mengecewakan mereka"
Sambil mengusap air mata, aku menguatkan diri dan berjalan ntah kemanapun itu.
Setelah aku berhasil melewati hutan Jenggala yang dikenal keramat, dengan Desa Ghaib di dalamnya...gini tak terlihat lagi, hilang seketika seperti mimpi.
Ternyata..rumor tentang Desa tersebut, memang benar adanya, sekali pergi ke Desa tersebut, kau tak akan pernah menemukan Desa Berkabut itu.
Entahlah bagimana nasib ku dan kedua orang tua mereka setelah mengetahui kabar hilangnya mereka. Lagi-lagi hutan Jenggala Keramat menelan korban 2 remaja berinisial R dan I.
Terimakasih telah berjuang untukku, tak terasa telah menghabiskan waktu 4 hari di alam ghaib yang setara 1 minggu di dunia manusia, misteri terpecahkan, nyawa menggantikan.
Sebagai pesan kecil bahwa di dunia ini tak ada yang namanya gratis!
Rest In Piece untuk mu Ririn dan Irfan. Terimakasih atas semuanya.
[Selesai]