"Elly. Jangan lupa ya, nanti sore." Ucapku kepada Elly, sahabatku. Elly mengangguk, lalu berjalan berbelok ke kanan. Hari ini guru di sekolah memberikan tugas untuk penelitian mencari tahu tentang hal-hal yang tidak masuk akal. Kebetulan, kamu mendapatkan tugas bagian dunia paralel. Pembahasan yang sangat menarik untuk kami yang notabenya pecinta dunia fantasi.
Oh iya, perkenalkan namaku Emma. Saat ini aku duduk di kelas XI di salah satu SMA favorit di kotaku. Aku anak tunggal, orang tuaku sangat sibuk bekerja. Mereka selalu memberikan apa yang aku inginkan. Aku lebih banyak membaca, aku suka mengoleksi buku-buku fiksi. Aku sangat menyukai hal-hal yang berbau fiksi. Seringkali aku tenggelam dalam duniaku sendiri, dunia yang aku ciptakan dengan penuh imajinasiku.
Sore ini Elly akan datang ke rumah, tujuannya untuk mengkaji tentang dunia paralel. Kebetulan hari ini ibuku libur, ibu menyiapkan makanan ringan dan jus mangga untukku dan Elly. "Tugas apa lagi hari ini hm?" Tanya bunda saat melihat buku-buku berceceran di meja. "Mencari tahu tentang dunia paralel Tante." Ucap Elly dengan semangat. "Kalian terlihat sangat bersemangat, apakah menyenangkan?" Ucap bunda bertanya lagi. "Heumm, kami menikmatinya. Lagipula dunia ini memiliki banyak hal-hal yang tersembunyi. Siapa tau memang benar-benar ada dunia paralel di dunia ini." Jawabku bersemangat. "Baiklah kalau begitu, bunda mau ke rumah temen dulu, kalian belajar yang rajin ya." Ucap bunda sebelum meninggalkan kamarku. Aku dan Elly mengangguk bebarengan.
"Emma, menurutmu apakah dunia paralel itu nyata atau tidak?" Tanya Elly tiba-tiba. Aku membuang wajah, memutar bola mata kesana-kemari, "eum, entahlah. Mungkin nyata, mungkin juga tidak. Sepertinya menyenangkan bila kita bisa menjelajahi dunia paralel, seandainya saja itu nyata." Jawabku seadanya lalu tersenyum membayangkan keseruan menjelajah dunia baru. "Aku juga ingin menjelajahi dunia paralel. Itu pasti sangat menyenangkan." Ucap Elly antusias. Tak ada yang tau kebenaran tentang dunia paralel, sampai sekarang tak ada yang bisa menjelaskan tentang ada tidaknya keberadaan dunia paralel. Bahkan teori sains semakin dibuktikan malah semakin rumit.
"Emma, teori-teori ini membuatku semakin bingung." Ucap Elly mengerjap-mengerjapkan matanya kebingungan. "Kalau begitu kita istirahat dulu. Mau nonton film?" Tawarku untuk sekedar merelaksasikan pikiran. "Film apa?" Tanya Elly penasaran. "Gimana Kalau Kimi no nawa?" Jawabku sedikit ragu, pasalnya anime movie ini sudah agak lama, mungkin saja Elly sudah melihatnya. "Tentang?" Tanya Elly. "Dunia paralel." Jawabku singkat. Elly mengangguk. Kebetulan di laptopku Kimi no nawa sudah ku unduh. Aku beranjak untuk mengambil laptop di atas meja belajar. Saat aku membuka laptop, terpancar cahaya yang sangat menyilaukan. Mataku langsung terpejam. "Elly... Elly..." Aku memanggil-manggil nama Elly, tak ada jawaban. Suasananya terasa berubah. Aku membuka mata, aku mengerjap-mengerjapkan mataku, berusaha untuk menyesuaikan cahaya yang masuk di retina ku.
"Dimana ini?" Monolog Ku. Tempat ini, ini seperti hutan. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, Elly berdiri tepat di sebelahku. "Jangan-jangan..." Ucap kami bersamaan. Kami saling pandang, lalu tertawa renyah. Akhirnya kami berjalan mengikuti arus air sungai yang tak jauh dari tempat kami berada. "Eh liat, itu ada orang!" Ucap Elly sedikit berteriak saat melihat ada seseorang di dekat ladang. "Lihat, dia terlihat aneh. Telinganya, kenapa bisa panjang seperti itu? Eh lihat warna matanya, sangat menawan." Ucapku sembari memperhatikan laki-laki yang jaraknya kurang dari 500 meter itu. "Kulitnya terlihat sangat putih. Astaga! dia, dia punya sayap." Ucapku lagi saat melihat laki-laki berbalik. "Bagaimana ini? Apakah tetap mau bertanya?" Tanya Elly kepadaku. "Mau bagaimana lagi. Dia tak semenakutkan itu. Ayolah... Kamu ga mau menjelajahi dunia ini?" Ucapku sembari meyakinkan Elly. "Baiklah. Kau yang bertanya tapi." Jawab Elly.
Aku dan Elly mendekati laki-laki yang sedang membersihkan hama tanaman di ladangnya. "P-permisi." Ucapku gugup. Dilihat dari dekat, laki-laki ini terlihat sangat tampan, bahkan ketampanannya melebihi idol K-Pop yang ada di dunia. Laki-laki itu menoleh, dilihat dari penampilannya, ia terlihat sepantaran dengan kami. Laki-laki itu menatap ku dan Elly bergantian secara intens dari atas sampai bawah. "Siapa kalian? Kenapa kalian terlihat aneh?" Ucap laki-laki itu dengan menatap heran. "Aku Emma. Ini temanku, Elly." Ucapku memperkenalkan diri. "Emma? Elly? Nama yang aneh." Ucap laki-laki masih dengan wajah keheranan. Kami berdua terdiam. Laki-laki itu berdehem, "perkenalkan, saya Neoptolemus. Kalian bisa memanggilku Neo. Sepertinya kalian terlihat seumuran denganku. Penampilan kalian sangat aneh, namun terlihat menarik. Kalian bukan dari klan Capricorn?" Ucap Neo panjang lebar. Kami menggeleng, lalu saling tatap. "Lalu, dari mana kalian berasal?" Tanya Leo antusias. "Bumi." Jawabku singkat. Neo terlihat sedang memikirkan sesuatu, "bumi... Ohh kalian dari klan Aquarius ya?" Ucap lelaki itu lebih antusias lagi. "Kami dari bumi." Ucap Elly menegaskan. "Bumi itu ada dalam klan Aquarius." Ujar Neo menjelaskan. Kami saling tatap, sepertinya dugaan kami tentang dunia paralel itu memang nyata.
"Kemana kalian ingin pergi?" Tanya Neo tanpa basa-basi. "Tidak tahu, kami tersesat." Ucapku sambil tersenyum kecut. "Kalau begitu, maukah kalian ikut bersamaku? aku akan mengajak kalian untuk mengelilingi kota ini. Aku akan memperlihatkan keindahan kota Tify kepada kalian. Kalian pasti akan terkejut melihat keindahannya. Dalam klan Capricorn, kota Tify merupakan kota terindah." Ujar Neo tanpa jeda. Kami mengangguk, toh ini kesempatan bagus. Lagi pula kami juga tidak tahu tentang kota ini. Lebih baik mendapatkan seorang pemandu seperti ini.
"Kalian tidak keberatan untuk berjalan bukan?" Tanya Neo. Neo memang tak memiliki kendaraan, lebih tepatnya dia belum boleh mengendarai kendaraan, usianya belum cukup. "Kami tak keberatan." Ucap Elly bersemangat. Akhirnya aku dan Elly mengikuti Neo, ia berjalan dengan cepat, kami kesulitan untuk mengikutinya.
"Kita sudah sampai." Ucap Noe. Neo menoleh melihatku dan Elly sudah kehabisan tenaga untuk mengejarnya. Dia berjalan sangat cepat. "Maaf, aku tak tau kalau kalian kesulitan untuk mengejar ku." Ucap Neo merasa bersalah. "Tidak apa. Toh lebih cepat sampai juga kan?" Ucapku menghibur Neo. Neo mengangguk. "Lihatlah, indah bukan? Perkenalkan, Ini kota Tify. Kota terindah di klan Capricorn. Ucapnya sembari menunjukkan keindahan kota dari atas bukit. "Baiklah, ayo kita pergi." Ucap Neo kemudian. "Kemana lagi?" Tanyaku memastikan. "Tempat untuk istirahat." Ucap Neo, lalu langsung berjalan duluan. "Neo tunggu!" Teriakku dan Elly. Neo mengurangi kecepatan jalannya. Kami pun berhasil menyusulnya.