"Eh, Indah lewat, tuh!" kata Naif, teman sekelas saya. Dua belas IPA 1. Lagi duduk samping saya yang juga duduk, lagi meramaikan koridor kelas mumpung jam istirahat. Kalau jam masuk kelas, biar dia sendiri aja, karena lelaki ini biasa dihukum.
"Oh," sahut saya, pura-pura cuek. Tapi itu tidaklah benar. Tidak benar saya cuek. Saya sangat gugup seketika, hati saya tidak bisa membohongi, itu bunyinya seperti: Dag Dig Dug Dueg!
Lalu Indah, gadis itu, beneran berlalu lewat depan kami. Dengan teman-temannya dan tersenyum manis. Saya akting jadi patung. Maka Naif memanggil Dia, "Indah!"
Sialan!
"Iya?" jawab Indah, berhenti, menoleh. Tapi dia tidak tahu yang memanggil itu sesungguhnya ialah Naif, yang baru saja berlari ke dalam kelas meninggalkan saya seorang diri dalam tidak percaya diri. "Iya, kenapa?" Indah mengira saya, duh! Sialan!
Saya tentu tidak bisa langsung jawab, itu begitu susah. Maksud saya, bicara dalam keadaan gugup karena suka. Saya takut sekali, saya akan bisa tidak benar menunjukkan sikap buatnya, lalu dia beri nilai jelek. Cukup ulangan harian Naif saja yang tidak pernah bagus. "Eee ..." Lalu saya mengeluarkan suara itu setelah cukup lama ditatap mata itu. "Eee ..." Saya meregang-regangkan leher biar terkesan saya rileks aja. "Eee ..." Dan, lagi-lagi itu aja.
"Kamu Kamu, kan?" Dia potong dengan itu, itu dia bilang nama saya: Kamu.
Eh, saya terkejut. "Kok, bisa tahu?" Lengkapnya, Kamu Saputra.
"Iya" jawabnya sambil tersenyum tipis. "Banyak yang kenal. Iya, kan?" Dia nanya ke teman-teman perempuannya itu. Dan, mereka mengangguk.
Saya jadi malu. Saya menyengir, dan sudah sedikit lupa gugup. "Oh, gitu, ya?"
Dia tersenyum tipis lagi. "Tadi kenapa manggil?"
"Mau kenalan," karang saya akhirnya.
"Oh."
**
Setelah menghukum Naif dengan menyuruhnya push up 100 kali sambil makan kerupuk, lalu saya berangkat pulang. Tapi ada rasanya saya berterima kasih dengannya. Sebab dia, Indah jadi tahu saya meski tidak sampai tahu bahwa juga mengaguminya.
Saya pulang sekolah berjalan kaki, karena berjalan tangan itu susah. Hanya Beo yang bisa melakukannya, teman saya lagi satunya. Tuh, dia sekarang melakukannya di samping saya. Sampai difoto-foto orang, karena dikira atraksi. Memalukan!
"Be, jangan gitu, ih!" bilang saya pada remaja botak itu. "Malu sama bapak kamu!"
Bapaknya tengah lewat bawa motor, mengancunginya jempol dan berteriak bangga: "Pertahankan, itu baru anak Bapak!"
Sialan, ternyata tidak! Tidak malu. Sialan!
**
Hampir pukul empat sore, Ibu menyuruh saya beli lauk. Itu adalah mie instan. Sebenarnya saya tidak ingin menurutinya, tapi karena takut, saya menurutinya.
Di sana ada banyak warung menjualnya, warung-warung terdekat. Bahkan ada hanya beberapa langkah dari rumah saya, tapi saya lewati. Saya teringat warung orangtua Indah, dan itu sangat jauh dari rumah saya.
"Na, jemput, dong! Anterin ke warung Indah!" Saya telepon Naif di beberapa perjalanan, karena dia punya motor dan bisa bawa motor.
"Maaf, tidak bisa ..."
"Sialan!" Lalu saya tutup telepon, tidak mau dengar alasan apa-apanya dari anak lelaki berhidung kotor itu.
Akhirnya saya berjalan ke sana sambil nyanyi-nyanyi, biar tidak terasa. "Eee ... mmm ... mawar melati ... mmm ... semuanya indah ..." Ternyata tidak bekerja, tetap terasa jauh.
Hingga lima belas menit kemudian, orang itu yaitu saya berhasil juga. Berhasil menghindari bola, hasil tendangan seorang bocil di lapangan berdebu sebelah saya berlalu. Itu cukup keras. Kalau kena, cukuplah buat saya balas dendam.
"Maaf, Om!" serunya.
Masih SMA, cil! batin saya sebal. Jika tidak dia beramai, sudah saya samperi dan menasehati. Iya. Saya tidak kok akan memukulnya atau menendangnya.
"Eh ..." Lalu terdengar orang samping saya. Membuat saya menolehnya. "Kamu, kok, di sini?" Dia cantik dan memiliki senyum manis. Dia menjinjing sekantong plastik mie instan. Dia Indah.
"Eh ... kamu ... kok ..." balas saya terbata. Saya beneran kaget, "beli mie instan?"
"Iya, baru beli, buat makan entar," jawabnya setelah tersenyum-senyum, pasti karena merasa pertanyaan saya itu aneh. Padahal artinya, warungnya itu tidak jual mie instan. Waaahh! Saya, kan, inginnya beli makanan kurang sehat kampret itu ... meski juga untuk berharap bertemu dia, sih.
"Belum dijawab ..." ucapnya lagi, "kamu, kok, di sini?"
Iya, saya belum jawab, karena bingung jawab apa sekarang. Apakah saya harus bilang lagi jogging? Apakah saya harus bilang lagi menemui teman? Apakah saya harus jadi patung?
Saya menyengir saja.
"Mau singgah ke rumahku?" alihnya kemudian. "Tidak jauh, tuh!" Dia menunjuk rumah di depan sana.
"Oh, itu rumah kamu, ya!" Saya pura-pura belum tahu dan berusaha rileks. Tentu saya begitu mau, tapi sekarang juga begitu malu. Saya harus ingat juga bahwa ini saya disuruh Ibu beli mie instan. "Kapan-kapan, ya," jawab saya.
"Oh, iya," balasnya tersenyum.
Lalu itu begitu saja. Saya sudah melihatnya. Kami pun berlalu berlawanan. Tapi perasaan tidak akan pernah reda sangat mudah. Saya masih berharap bisa berucap dengannya sebelum balik.
"Indah!" Dan, benar saya memanggilnya. Beruntung dia mau-maunya menoleh.
"Iya?"
Itu ... saat ia bilang itu ... hati saya menyuarakan puncak gugup. Saya rasa begitu berdebar-debar, di dada saya. "Mmm ..." Saya berusaha mengutara. "Mmm ..."
Dia terlihat menunggu.
"Sa ... sampai jumpa di sekolah," ucap saya akhirnya.
Ia balas tersenyum dan mengangguk.