"Pagi kawan-kawan!" Arin membuka pintu kelas, langsung masuk. (Pagi teman-teman!)
"Pagi Rin! Dari ma se kau? Lah lamo dak tacalik ha." (Pagi Rin! Kamu dari mana aja? Udah lama gak aku lihat)
"Hahaha baa lai Ta. Den baru balik dari Pariaman, amak den sakik Ta." (Hahaha gimana lagi Ta. Aku baru balik dari Pariaman, nenekku sakit Ta)
"Oh, semoga amak kau capek cegak yo Rin." (Oh, semoga nenekmu cepat sembuh ya Rin)
"Aamiin Ta. Oh Iyo, ado PR kini Ta?" (Aamiin Ta. Oh iya, ada hari ini ada PR Ta?)
"Indak Rin. Tapi catatan banyak, kau pinjam se catatan den beko." (Enggak Rin. Tapi catatan banyak, kamu pinjam saja catatan aku nanti)
"Ok Ta, sip-sip."
Tak berapa lama kemudian, teman sebangku Arin datang.
"Arin! Lah balik se ang dari Pariaman mah, baa kabaa amak ang? Lah elok?" (Arin! Udah balik aja kamu dari Pariaman ya, gimana kabar nenekmu?)
"Alhamdulillah Ni. Mendingan lah dari sebelumnyo." (Alhamdulillah Ni. Lebih baik dari sebelumnya)
"Oh syukurlah kalau cam itu." (Oh syukurlah kalau begitu)
"Lai ado oleh-oleh untuk aden tu Rin?" tanya Nia. (Ada gak oleh-oleh untukku Rin?)
"Deh si Ani, baru tibo paja langsung kau mintak oleh-oleh," sahut Tania. (Haduh Ani, Arin baru datang langsung kamu minta oleh-oleh)
"Suko-suko den lah Ta! Sewot se ang mah!" (Suka-suka aku lah Ta! Sewot aja kamu!)
Arin tertawa mendengar celotehan 2 temannya itu.
"Tanang Ni, lah den baokkan oleh-oleh untuk ang." (Tenang aja Ni, aku sudah bawakan oleh-oleh untuk kamu)
"Handeh Rin, padahal den bagarah nyo, tapi makasih yo. Hehe." Nia tertawa kecil, senang dapat oleh-oleh. (Haduh Rin, padahal aku cuman bercanda, tapi terima kasih ya. Hehe)
"Den baa Rin?" tanya Tania. (Aku gimana Rin?)
"Aman tuh, den baok untuk kalian baduo kok." (Aman, aku bawa untuk kalian berdua kok)
"Ang mintak lo nyooo..." ledek Nia pada Tania. (Kamu juga minta tuh...)
Mereka bertiga tertawa riang.