Kami baru saja pulang dari berenang di taman air ternama. Dia…. Adalah teman rasa pacar. Kami sama sama memiliki pacar. Dan hubungan ini tentu saja tak bermasa depan. Akan tetapi kami sama sama enjoy saja menjalani.
Terutama aku. Pacarku seorang posesif parah. Bahkan aku dilarang menyimpan kontak nomor pria lain. Dilarang berbicara dengan lawan jenis dan berboncengan dengan lawan jenis. Itu membuat jiwa pemberontak ku semakin menjadi. Semakin dilarang tanpa nalar, semakin aku menantang tanpa nalar. Hubunganku dengan pacarku selalu membara. Hampir tiap hari kami bertengkar.
Aku berboncengan dengan Hary. Aku harus mengantar Hary menuju kosannya sebelum pulang ke rumahku sendiri. Hary ini adalah mahasiswa akhir jurusan keguruan di sebuah universitas swasta. Celakanya di jalan motor kami berpapasan dengan Nusa, pacarku. Dia menggeber motor saat berpapasan.
"Tadi pacarmu kan?" tanya Hary begitsempatu sampai kosan. Aku hanya mengangguk cuek. Hary mempersilahkan aku masuk kamarnya. Kami berbincang ngobrol sebentar.
Tiba tiba Nusa menggedor pintu kamar Hary yang terbuka. Mereka sempat bersitegang di depan kamar. Lebih tepatnya Nusa yang marah pada Hary. Dia memepet tubuh Hary ke tembok.
"Dia mau aku jadikan serius!!! Kau dengar!!!" ucap Nusa marah. Hary hanya santai menanggapi. Merasa kemarahannya tidak ditanggapi, Nusa pulang. Aku juga pulang. Sedikit malu menjadi penyebab kerusuhan di kos Hary yang tenang.
Nusa ternyata menungguku di ujung jalan kos. Dia minta bicara dan aku tidak menanggapi. Aku terus melajukan motor menuju rumah, meski Nusa beberapa kali memepet dan minta berhenti. Akhirnya Nusa menyerah
"Wedokan lon nte!!!" umpat Nusa sebelum menggeber motornya dan pergi. Entah mengapa mataku basah. Aku menghentikan motorku di area sawah dekat rumahku. Itu bukan umpatan atau kata kasar pertama yang Nusa ucapkan padaku, tapi rasanya kenapa tetap sesakit ini.
Aku sadar terjebak dalam hubungan toksik parah. Kami saling mencintai, tapi saling berlomba menyakiti. Aku ingin berhenti, tapi tidak tahu bagaimana berhentinya. Aku lupa cara hidup tanpa Nusa. Aku terbiasa dengan kehadirannya. Terbiasa kemanapun dengan Nusa. Keluarga dan teman sudah mengenal kami adalah pasangan. Rasanya terlalu malu untuk putus.
***
Pertengkaran besar jelas terjadi setelah itu. Sebuah tepukan di pundak menyadarkan lamunanku. Hary memberikan sebotol minum. Kami sama sama sedang istirahat.
"Masih bertengkar?" tanya Hary sambil duduk disampingku. Aku hanya mengangguk. Maksudnya tentu saja Nusa dan aku.
"Perkataan kasar lagi?" tanya Hary yang pernah melihat chat caci maki Nusa padaku. Lagi lagi aku mengangguk. Hary merangkul pundakku tanpa canggung. Padahal beberapa teman kami melihat.
"Dengar, aku memang ber reng sek. Aku… yah, berselingkuh denganmu saat pacarku disana setia. Tapi aku tidak tega melihat hubunganmu yang seperti itu. Apa yang memberatkanmu menghentikan hubungan seperti itu? Be smart Sayang! Kau pasti bisa dapatkan orang yang lebih layak daripada Nusa. Kau berharga cantik," kata Hary kemudian meninggalkanku sendiri.
Perkataan Hary menjadi salah satu penguat aku mengakhiri semuanya dengan Nusa. Apapun resikonya!!!!
Musim berganti….. tahun berganti. Hubunganku dengan Hary berakhir. Kami sama sama tahu hanya pelampiasan. Aku mendapatkan seorang lelaki baik dengan cintanya yang lembut. Yang mengikatku dengan kasih sayang. Bukan tali kekang keposesifan. Aku bahagia dengan cinta baru. Semua menjadi pembelajaran. Pelajaran hidup yang berharga.
Sedang Hary menikah dengan kekasihnya. Dan memiliki dua anak lucu. Semoga kami selalu bahagia dengan keluarga masing masing. Terimakasih untuk nasehatmu dulu.