Ketika mencoba pakaian di ruang ganti, cermin di hadapanku mendadak bercahaya. Saat mataku terbuka, dunia seolah berbeda.
▪︎~▪︎~▪︎~▪︎~▪︎
Langit sore begitu sejuk, waktu yang tepat untuk berjalan kaki. Aku berjalan di trotoar yang biasa kulewati sepulang sekolah. Kelas tambahan tadi membuatku terpaksa pulang mendekati senja. Tapi tak masalah, karena aku menikmatinya.
Mataku terpejam, menghayati bisikan daun yang berguguran di atas kepalaku. "Hei, Scavie! Kali ini daun kering curhat tentang apa?" Karena sorakan itu, aku menoleh ke belakang. Berjarak beberapa langkah, ada lima orang siswi yang sedang memperhatikanku.
Senyuman ramah langsung tercipta di wajahku. "Mereka bilang, mereka tidak membenci angin. Mereka juga tidak membenci pohon, apalagi dahan. Mereka jatuh, dan bisa menerima takdir itu. Karena mereka—"
"Cukup! Aku bisa ketularan alay kalau mendengar ocehanmu terus. Pulanglah! Ada banyak dinding yang bisa kau ajak bicara!" sinis gadis yang berdiri paling depan, baru saja memotong kalimatku.
Tanpa basa-basi, aku lanjut melangkahkan kaki. Masa bodoh mereka mendengar ucapanku atau tidak, mereka tetap akan membenciku. Jujur saja, aku lelah dipermainkan hanya karena berbeda. Mereka selalu menyebutku aneh, bahkan ada beberapa yang menganggapku seharusnya hidup di dunia lain.
Hanya karena aku bisa mendengar alam berbicara kepadaku. Ini sungguh nyata, mana mungkin aku berbohong untuk mendapatkan perhatian.
Beberapa kali aku merasa alam menyelamatkanku dari kematian yang datang lebih awal. Ketika nyaris tertabrak di jalan raya, waktu aku tersesat di acara kemah sekolah, atau bahkan saat aku sendiri yang mengundang kematian itu.
Sekarang aku sudah mulai menerima fakta, bahwa aku memang berbeda.
Aku berhenti berjalan, menatapi sebuah Mall yang ramai dikunjungi orang. Terlalu padat, pengunjung bahkan berdesak-desakan. Aku tidak suka berada di keramaian, apalagi di pusat perbelanjaan sebesar itu. Kakiku lanjut melangkah, melawan arus angin yang terus menerjang.
WOOSSHH! "Pergilah kesana ...." Sesuatu lagi-lagi berbisik di telingaku. Lelah mengikuti kata hati, aku memutuskan untuk lanjut berjalan ke rumah. Seperti yang dikatakan Shivana tadi, ada banyak dinding yang perlu aku ajak bicara.
WOOOOSSSHH!! "Pergi atau mati, Scavie ...." Lidahku berdecak, bosan mendengar ancaman itu. Ketika aku hendak lanjut berjalan, tiba-tiba ... DEG! DEG! Kakiku sontak berdenyut tak karuan.
"AAAHHH! HENTIKAANN!!" teriakku, refleks jatuh ke permukaan trotoar. Aku meraung-raung kesana kemari, mencakar kedua kakiku yang panas seolah terbakar. Aku tak sadar, orang-orang disekitarku sedang memperhatikan dengan tatapan ngeri.
Aku langsung berdiri, memaksa kakiku berjalan menuju Mall yang ramai itu. Keringat bercucuran membasahi seragamku, membuat suhu tubuhku menjadi acak-acakan. Perlahan tapi pasti, denyut dan sensasi terbakar lenyap dari kedua kakiku.
Banyak sekali poster dan gambar yang terpampang di seluruh sisi Mall. Puluhan tulisan 'Black Friday' terpantul di bola mataku. Namun, aku tidak mengerti apa maksudnya. Setidaknya begitu, sebelum aku melihat tulisan 'diskon besar-besaran' di bagian sudut bawah.
Diam-diam aku tersenyum, bersyukur karena angin tadi memaksaku datang kesini. Untung saja uang hasil menang lomba menggambar di sekolah masih tersisa. Ular yang kugambar sedemikian rupa, ternyata membawa keberuntungan.
Aku mengelilingi Mall, sebisa mungkin menjauhi kerumunan. Tapi sejauh ini, tidak ada barang yang terlihat menarik. Kenapa ada orang yang tahan berbelanja hingga berjam-jam? Baru beberapa menit saja, aku mengantuk sangkin bosannya berada disini.
Sebuah buku memasak terjatuh saat aku melewati raknya. Ketika tanganku meraih buku itu, sesuatu seolah berbisik di telingaku. "Pergi, lihatlah gaun hitam itu ...." Kepalaku seketika mengangguk, lalu mengembalikan buku tadi ke tempatnya.
Mataku menyisir seisi Mall di lantai 2, bagian khusus untuk wanita. Aku berjalan kesana kemari, tapi tidak ada gaun hitam dimana pun. Bagus, apakah aku baru saja dibohongi oleh buku memasak?
Tiba-tiba, sebuah sinar mengganggu penglihatanku. Aku menoleh ke kiri, kaget mendapati sebuah gaun hitam yang digantung sendirian disana. Padahal cahaya lampu datang dari segala arah, kenapa gaun kuno itu malah tampak lebih terang?
Malas berpikir panjang, aku langsung mengambil gaun itu. Setelah kuamati, tidak ada harga yang tertera. Kalau ada pun, untuk apa? Tidak ada yang mau membeli gaun hitam kuno seperti ini.
Tanpa ragu, aku membawanya ke ruang ganti pakaian. Mungkin setelah mencobanya, aku bisa pulang dengan tenang.
Ruangan itu hening, jauh dari hiruk pikuk pembeli lain. Aku meletakkan gaun tadi, lalu membuka seragamku. Setelah mengancing ritsleting belakang, aku memperhatikan pantulan wujudku di dalam cermin. Kalau dilihat-lihat, gaun ini ternyata tidak seburuk yang aku pikirkan. Ukurannya pas, dan tampak cukup bergaya. Namun tiba-tiba ....
CRIIING! Cahaya super terang membutakan penglihatanku. Mataku refleks terpejam erat, menghalangi cahaya dari cermin di hadapanku. Kepalaku berdenyut keras ketika partikel tubuhku terasa dihisap. Perlahan-lahan aku berusaha mundur, hendak lari dari ruang ganti yang gila ini.
Namun, aku malah jatuh terduduk. Tubuhku terseret, terus dipaksa memasuki cermin bercahaya itu. "TOLOOONNGG! AAAAHHH!" Aku berteriak sekuat tenaga, berharap ada petugas Mall yang mendengarku. Tapi tidak ada siapa pun yang datang, hingga aku terhisap seutuhnya ke dalam cermin.
▪︎~▪︎~▪︎~▪︎~▪︎
Kepalaku berhenti berdenyut, tubuhku seolah dicampakkan ke atas tanah berbatu. Suara berisik sahut-sahutan di sekitarku. Dengan pinggang yang encok, aku berusaha memperhatikan sekeliling.
DEG! DEG! DEG! Jantungku berdebar cepat tatkala sadar, aku tak lagi berada di dalam Mall. Ada banyak orang berpakaian serba hitam yang bersorak heboh di setiap sisi. Mata mereka bercahaya, dan memiliki pupil yang persis seperti reptil. Dari suara sorakannya, mereka seolah sedang menyambut seseorang.
"NAIK! NAIK! NAIK!" Mereka serempak bersorak. Kepalaku menoleh ke kiri dan ke kanan, tidak mengerti apa maksudnya. Siapa yang harus naik kemana?
Dua orang bertubuh kekar tiba-tiba menarik tanganku, memaksaku berdiri dan berjalan ke depan. Aku terkesiap begitu menyadari ada sebuah singgasana megah disana.
Namun, seekor ular hitam raksasalah yang menempatinya. Benar-benar persis seperti ular yang aku gambar saat lomba.
Ketika aku sampai di atas, dua orang berbadan kekar itu langsung pergi. Meninggalkanku berasama ular raksasa yang matanya bercahaya. Bulu kudukku merinding, ngeri menatap wujudnya yang bagaikan siluman. Perlahan aku bergerak mundur, tapi malah terjatuh karena tersandung oleh kakiku sendiri.
"AAAAAHHH!!!" Tanpa aba-aba dia menggigit tangan kiriku, menciptakan dua lubang yang cukup besar. Darah langsung bercucuran membasahi sekeliling singgasananya. Aku sangat yakin, ular menjijikkan itu tampak menyeringai.
"AAHHH! HENTIKAN! KUMOHOONN! AAAAAAAHHH!" Aku menjambak rambutku tatkala tangan kiriku terbakar hebat. Air mataku mengalir deras, dan mulutku tak berhenti memohon pengampunan. Ini terlalu menyakitkan, tangan kiriku pasti sudah melepuh.
Saat aku membuka mata, ada sebuah tato aneh yang menempel di tangan kiriku. Gambar dari seekor ular hitam raksasa dengan mulut terbuka lebar. Tato ini tidak asing, karena lagi-lagi persis dengan ular yang kugambar saat lomba.
Waktu berjalan begitu cepat. Dua orang bertubuh kekar kembali datang, menyeretku seperti binatang ke dalam kandang. Aku meronta-ronta, berusaha melawan dan membuat keributan. Menggunakan batu yang ada dikurungan besi, aku berusaha mencoret tato ular itu.
Namun setiap kali aku mencoba, mata ular di tato itu akan menyala, lalu kulit di tangan kiriku mulai terbakar oleh panas. Suaraku bahkan sampai serak, terlalu banyak berteriak marah. Lantai ruangan begitu dingin, dan hanya disanalah aku bisa berbaring.
Dibandingkan tamu, aku lebih mirip seperti tahanan. Tato ular ini jauh lebih efektif daripada borgol yang biasa dipakai oleh polisi. Mereka juga tidak memberiku makanan selama berhari-hari. Hanya air hujan yang menyusup masuk lewat jendela yang menyelamatkan nyawaku.
Setelah cukup lama membusuk di dalam kurungan, tiba-tiba mereka membawaku ke ruang makan yang sungguh megah. Di ujung meja panjang, ada seorang pria bersetelan jas hitam yang duduk sendirian. Aku ikut duduk di hadapannya, jauh di ujung meja yang lain. "Silakan dinikmati." Karena sangat kelaparan, aku langsung makan begitu dia mempersilakan. Aku tak peduli walaupun caraku makan terlihat seperti gelandangan. Lagi pula, mereka yang membuatku jadi mengenaskan seperti ini.
Segalanya terasa benar-benar aneh. Mereka secara mendadak memberiku gaun hitam baru— yang jauh lebih bagus dari gaun hitam kuno yang masih kupakai. Puluhan perhiasan hitam berkilau turut hadir. Rambut tebalku yang juga hitam ikut melengkapi penampilanku.
Kemudian, aku dibawa masuk ke ruangan megah bernuansa hitam. Pria yang tadi bertemu denganku di meja makan, ternyata ada di ruangan ini. Dia menoleh, sudah menyadari kedatanganku. Jika diperhatikan, pria ini bagaikan seorang siluman ular. Matanya bercahaya kuning dan berpupil reptil. Lidahnya panjang dan terbelah, sesekali mendesis seperti ular sungguhan.
"Salam, aku adalah Blaire, Pemimpin Klan Black Snake. Aku yang memberimu tanda ular itu kemarin. Haha! Darahmu manis juga ternyata." Suaranya lembut, tapi sinis disaat bersamaan. Dahiku mengerut bingung, tak mengerti apa yang dia ucapkan. Apa tidak ada nama klan yang lebih aneh lagi daripada 'Black Snake'?
"Oh, iya. Mari ikut bersamaku, Scavie. Ini adalah hari yang istimewa untukmu," ucapnya, lalu berjalan duluan ke pintu ruangan. Tunggu dulu, kenapa dia bisa tahu namaku? Aneh, suaranya juga terdengar familiar. Seperti alam yang selama ini berbicara padaku.
Kami sampai di singgasana tempat Blaire menggigitku waktu itu. Kami berjalan bersama-sama, membelah kerumunan orang yang memperhatikan dengan saksama. Aku menunduk ketakutan, tak berani bertindak macam-macam.
DEG! Aku terkesiap begitu melihat Shivana dan empat orang temannya berlutut di depan tangga singgasana. Tangan diikat menggunakan sulur tanaman, tubuh dipenuhi bekas luka, dan mata mereka berbinar menatapku. Tak bisa berbuat apa-apa, aku melewati mereka dan naik menuju kursi singgasana. Kemudian berdiri di sebelah kanan pria ular itu.
"Salam, rakyatku!" teriak Blaire, mengundang sorak-sorai dari rakyat yang ada di sekeliling kami. "Hari ini adalah hari yang sangat istimewa. Aku telah menemukan penerus takhta selanjutnya. Dia adalah keturunan utama Klan Black Snake yang hilang diperadaban manusia lemah," ucap Blaire, lagi-lagi mendapatkan sorak-sorai semangat dari rakyatnya.
Aku menoleh kesana kemari, mencari orang yang dimaksud Blaire.
Kemudian, tangannya menunjuk ke arahku yang masih kebingungan. "Sesuai tradisi, sekarang kita akan menyaksikan dia membalaskan dendam kepada lima orang manusia lemah di bawah sana. Manusia-manusia yang selama ini membuat hidupnya menderita," sinis Blaire sembari menunjuk Shivana dan empat temannya.
Seorang pria perkasa datang, mengulurkan sebuah pedang tajam ke arahku. Pedang itu senada dengan gaunku, tapi jauh lebih mengilap. Ragu-ragu aku meraihnya, lalu memberikan pedang itu kepada Blaire.
Dia menggeleng lembut sambil berkata, "Tidak, Scavie. Gunakan itu untuk membunuh mereka. Ini adalah langkah awal bagimu sebagai penerus takhta di Klan Black Snake."
Ah ... aku mengerti sekarang. Siluman ular bodoh ini ternyata menculikku, agar bisa menjadikanku sebagai penerus klan-nya yang jauh lebih bodoh!
"TIDAK! AKU TIDAK MAU!" Aku memberontak, lalu mencampakkan pedang itu jauh ke belakangku. Mata Blaire bersinar terang, benar-benar marah padaku.
"KAU YANG BUNUH, ATAU AKU?!" ancam Blaire dengan suara bergema. Kakiku langsung bergetar ketakutan, tapi hatiku masih sanggup memberontak. Aku tidak akan membunuh mereka, meski aku akan terbunuh karena mereka.
Blaire mengangkat tangan kiri, memaksaku untuk menyerah. Tetapi aku mengangkat dagu, menantangnya dengan mata berapi-api. Tiba-tiba ... WOSSHH! Angin kembali bertiup kencang. Blaire mengibaskan tangan dengan cepat ke bawah. Bagaikan pedang tajam raksasa, Shivana dan teman-temannya terpenggal di tempat.
Dugh! Aku terjatuh berlutut di bawah kakinya. Mataku membelalak, ingatan proses kematian Shivana terus terputar ulang. Raut wajahnya memohon pertolongan, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Jantungku berdebar cepat, takut serangan Blaire selanjutnya akan mendarat di leherku.
"AAAAAHH!" Aku refleks berteriak frustrasi. Rambutku berantakan, perhiasan di tubuhku kulempar ke berbagai arah. Aku ketakutan, aku sangat ketakutan. Bagaimana bisa alam yang selama ini melindungiku, malah menginginkan kematian yang paling sadis untukku?
"HAHAHA!" Rakyat yang ada di bawah justru tertawa bahagia. Membuatku sangat dongkol dan emosi. Blaire berjongkok di depanku, lalu mengangkat daguku agar bisa menatap wajahnya. "Kau harus membunuh orang untuk melunaskan dendam. Semua orang yang menyimpan dendam akan merasa lega di hari Black Die-Day! Hari pembalasan! HAHAHA!!" Blaire kembali berdiri diiringi tawanya yang membahana.
"O-omong kosong! Kau ... MONSTER!" Dengan kesadaran yang masih tersisa, aku mencoba melawannya. Namun, tato ular di tangan kiriku kembali memanas. Tetapi yang ini puluhan kali lipat lebih panas, seolah ingin membakar tulangku juga. Aku langsung berteriak histeris, berguling kesana kemari untuk meredakan panasnya. Ini terlalu menyakitkan.
Dua orang bertubuh kekar mengekang tubuhku, memaksaku berdiri di hadapan Blaire—yang kini sudah berwujud ular hitam raksasa. "Kau masih terlalu manusiawi. Aku akan mengajarimu, bagaimana caranya menjadi bagian dari Klan Black Snake, Scavie!"
▪︎~▪︎~▪︎~▪︎~▪︎
Terima kasih sudah membaca!;)