Suara lagu 'We Are!' bergema di seluruh sudut ruangan milik gadis bermarga Khannarissa itu. Gadis bersurai hitam panjang itu terbangun karena suara alarm nya, dan segera mematikan alarm miliknya. Ia mendengus kesal, padahal ia sedang bermimpi indah, namun itu terganggu karena alarm miliknya.
"Ugh, alarm sialan. Padahal dikit lagi gua udah nikah tuh ama Sanji," ujarnya di dalam hati. Ia melihat jam di handphone nya, ternyata ini sudah jam 05.50!! Ia terlambat!
Gadis otaku bernama Alshelya itu pun segera pergi mandi dan bersiap-siap. Ini hari pertamanya sekolah setelah sekian lama libur semesteran, jadi kebiasaannya untuk bangun pagi hilang karena liburan itu.
"Selamat pagi, Bu" sapa Alshelya saat menuju ke dapur untuk sarapan.
"Selamat pagi, Elya. Ayo duduk dulu, kakak-kakak dan adik-adikku belum keluar, jadi tunggu mereka baru kita sarapan bersama, oke?" ucap nyonya Khannarissa sembari tersenyum.
"Ah, tidak perlu Ibu! Aku sudah ditunggu oleh Kylan pasti, jadi aku harus segera menunggu di depan rumah nya!" balas Alshelya dengan terburu-buru.
"Setidaknya makanlah sedikit, nak." Alshelya menatap ibunya, lalu ia mengambil roti lapis yang sudah ibunya siapkan dan memakannya(lebih tepatnya ia menaruhnya di mulut).
"Kwalawu bwegwitu Ewlywa bwelangkwat, Bu! (Kalau begitu Elya berangkat, Bu!)" ujar Elya lalu pergi meninggalkan ibunya dengan terburu-buru. Nyonya Khannarissa yang melihat putri satu-satunya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum.
Alshelya Khannarissa, seorang gadis SMP berumur 14 tahun dari keluarga Khannarissa, ia lebih sering dipanggil Elya. Ia adalah anak ke 3 dari 5 bersaudara, dan satu-satunya perempuan di keluarganya. Ia memiliki teman kecil, Kylan Nahendra namanya. Usianya tak jauh berbeda dari Elya, hanya berbeda beberapa bulan saja. Namun, Kylan lebih terlihat dewasa daripada Elya, walaupun mereka berdua masih SMP.
Elya dan Kylan sudah berteman dari kecil, ini juga karena orang tua mereka sudah berteman lama. Jadi, mereka sudah mengenal satu sama lain dengan sangat baik. Namun...ada satu hal yang Kylan tidak ketahui, yaitu perasaan Elya yang sebenarnya kepadanya.
"Haa...haa... Maaf, Kylan! Aku terlambat!" ucap Elya yang ngos-ngosan karena berlari menuju rumah Kylan, sahabatnya. Padahal rumah mereka dekat, hanya berjarak 5 rumah saja.
Lelaki bermata biru itu hanya terkekeh kecil, lalu ia menepuk-nepuk kepala Elya sembari berkata, "kau selalu saja seperti ini, El. Sudah ku bilang jangan terburu-buru. Aku tidak akan lari, kok." Sembari menunjukkan senyuman manisnya, yang membuat hati Elya meleleh.
Pipi Alshelya sedikit memerah karena ia ditepuk-tepuk oleh Kylan. Padahal itu sudah menjadi kebiasaan sahabatnya, namun Elya belum terbiasa dengan itu. Senyuman manis dari lelaki itu membuat jantungnya berdebar-debar, hingga ia merasa gugup di depan sahabatnya sendiri.
"A-aah, kalau begitu mari kita berangkat ke sekolah!" ucap Elya dengan sedikit gugup.
"Iya, ayo," balas Kylan sembari tersenyum. Mereka berdua pun pergi ke sekolah mereka, dengan berjalan kaki. Karena mereka suka ketika menghirup udara segar di pagi hari, lagipula jarak rumah mereka ke sekolah cukup dekat.
Tetapi, karena mereka beda kelas, jadi mereka hanya bisa mengantar sampai depan kelas masing-masing saja. Namun, lebih sering Kylan-lah yang mengantar Elya sampai di depan kelasnya.
Kelas 8H
"Makasih ya, Kylan..."
"Iya sama-sama, aku pergi dulu ya?"
Elya mengangguk kecil, lalu Kylan pergi meninggalkan Elya. Elya pun masuk ke dalam kelasnya, dan ia sudah dihampiri oleh teman dekatnya, Rheanna.
"Elya sengkuuuuu!!!" teriak gadis yang terlihat lebih pendek dari Alshelya, Rheanna.
"Ah, Rhea...udah lama kita gak ketemu, apa kabar?" Rheanna, yang biasa dipanggil Rhea oleh teman dekatnya memeluk Elya sembari ketawa-ketiwi, tidak menjawab pertanyaan dari teman dekatnya itu.
"Rhea..."
"Gua kangen lu, sialan. Biarin gua meluk lu bentar doang," ucap Rhea, masih memeluk Elya dan kali ini pelukannya lebih erat.
Elya hanya bisa menghela napas, dan membalas pelukan temannya. Rhea memang biasa memeluknya seperti ini, terkadang ia bisa manja, namun sisi manja-nya itu hanya ditunjukkan kepada Elya saja.
"Udah?"
Rhea mengangguk. Ia pun mengantar Elya ke tempat duduknya. Setelah Elya menaruh tasnya, mereka berdua pun keluar dari kelas mereka dan duduk di depan kelas mereka.
"Rhe...kapan ya gua bisa nyatain cinta gua Ama Kylan?"
Rhea hanya bisa menghela napas panjang, dan menggelengkan kepalanya. Mulai nih, cerita Kylan lagi, batin Rhea.
"Kalo lu udah siap," jawab Rhea.
"Tapi, gua takut Rhe. Kalo dia gak mau nerima gua gimana? Terus kalo ternyata dia udah punya orang yang dia suka, dan itu bukan gua gimana? Gua takut ditolak, Rhe..." ujar Elya.
"Lu terlalu overthinking, El. Mending lu lupain perasaan lu dan lebih mentingin husbu-husbu lu aja," ucap Rhea dengan santai.
"Tapi Rhe-"
Kriiiing
Omongan Elya terhenti saat mendengar bel. Elya dan Rhea pun segera kembali ke kelas mereka, lalu duduk di bangku masing-masing.
Hari-hari pun berlalu sama seperti biasanya, Elya selalu curhat dengan Rhea soal Kylan. Rhea pun hanya bisa pasrah dan mendengarkan curhatan Elya dengan baik untuk menghargainya, walau sebenarnya ia sudah muak mendengar nama lelaki itu.
Namun, dalam seminggu penuh ini Kylan tidak lagi berangkat bersama Elya, tidak seperti biasanya. Ini membuat Elya overthinking dan berpikiran aneh-aneh. Tidak hanya itu, saat mereka berpas-pasan secara kebetulan, Kylan tidak menyapa Elya sama sekali. Bahkan jika Elya yang menyapanya, ia hanya diam lalu pergi, seperti mengabaikan Elya.
Hari Senin, di kelas 8H
"Rhe..." panggil Elya dengan wajah murung.
"Hnm? Kenapa?" balas Rhea.
"Rhe...kayaknya Kylan mulai berubah..." ucap Elya dengan nada sedih, dan gelisah.
"Berubah gimana?"
"Dia kayak mulai ngejauhin gua selama seminggu penuh...bahkan kemarin waktu gua ke rumahnya, Tante bilang kalo dia gak ada di rumah..." ujar gadis itu, wajahnya terlihat murung dan sedih.
Rhea hanya bisa menghela napas panjang. Ia tau kalau hal ini akan terjadi suatu hari nanti, namun ia tidak menyangka juga kalau Kylan bertindak secepat ini. Ia tau kalau Elya akan sedih, namun ia tidak tau bagaimana caranya menghibur sahabat otaku-nya itu.
Hari berganti hari, Kylan tetap saja menjauhi Elya. Lebih tepatnya, berusaha menghindarinya. Namun, gadis bersurai hitam panjang itu pantang menyerah dan berusaha mendekati atau bahkan mengobrol dengan sahabat kecilnya dengan berbagai cara, tapi cara-cara itu hanya sia-sia saja.
Suatu hari, saat bel istirahat terdengar, Rheanna bergegas pergi dari kelasnya menuju ke suatu tempat. Tak biasanya Rhea bersemangat seperti itu, pikir Elya. Namun, ia tidak ingin terlalu memikirkan hal itu dan bergegas menuju ke kelas Kylan.
Kelas 9A
"Kylan!!" Teriak Elya dengan bersemangat sembari berlari kecil menuju ke depan kelas 9A. Namun, langkahnya terhenti karena suatu hal. Ia kaget melihat lelaki yang ia sukai sekaligus sahabat masa kecilnya, sedang mengobrol bahkan tertawa kecil bersama teman dekatnya.
Sedih, marah, kecewa, semua perasaannya tercampur aduk. Ia sangat ingin menangis rasanya, karena merasa dikhianati oleh orang yang ia percaya. Namun, ia berusaha keras menahan tangisannya. Elya berbalik, lalu berlari menuju ke kelasnya, melupakan tujuan sebelumnya yaitu memberikan bekal yang ia sudah siapkan kepada Kylan. Pada akhirnya, usahanya sia-sia begitu saja.
Sesampainya di kelas, Elya segera berlari menuju ke bangkunya lalu duduk dan menangis tanpa bersuara. Rasanya sakit, pikirannya dan perasaannya saat ini tercampur aduk. Ia tidak bisa menyingkirkan pikiran buruknya terhadap Rhea dan Kylan. Begitu banyak pertanyaan yang muncul di kepala Elya, yang membuat kepalanya menjadi sakit dan pusing.
Sejak kejadian itu, hubungan Elya dan Kylan mulai retak. Kylan bahkan Elya kini tidak berjalan bersama menuju ke sekolah seperti biasanya mereka lakukan. Jangankan hal itu, menyapa saja sudah jarang.
Namun berbeda dengan Kylan, Elya malah semakin dekat dengan Rhea. Ia merasa bahagia jika Rhea bahagia, walaupun itu berhubungan dengan orang yang ia sukai. Ia rela memberikannya kepada Rhea, jika memang Kylan membuat Rhea bahagia.
Sebenarnya ia masih tidak rela melepaskan Kylan begitu saja. Ia masih menyayangi Kylan sebagai sahabat dan kakaknya, namun ia tau kalau jika ia berada di dekat Kylan, Rhea pasti akan cemburu.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Tak terasa, ujian kelulusan untuk kelas 9 hampir tiba. Itu artinya, Kylan akan lulus dan Elya tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Karena Kylan akan melanjutkan pendidikannya di Jepang.
Suatu hari, saat ekstra kurikuler di mulai. Elya dan Rhea seperti biasa menuju ke lapangan basket untuk menonton pertandingan antar kelas. Kali ini, kelas 9A melawan 9J. Sebenarnya, Elya tidak ingin menonton pertandingan kali ini, karena Kylan akan bermain juga. Namun, karena Rhea memaksanya, jadinya ia terpaksa mengiyakan dan ikut bersama Rhea.
Pertandingan pun dimulai. Awal-awal pertandingan lumayan sengit karena kelas 9A dan 9J sama-sama mempunyai tim yang kuat. Namun, di tengah-tengah pertandingan, Kylan pingsan di tengah-tengah lapangan yang mengharuskan pertandingan tersebut harus berhenti sejenak.
Elya dan Rhea sama-sama panik, dan segera menghampiri Kylan. Para murid-murid yang ada di sana heboh, namun para guru mencoba menenangkan. Elya dan Rhea berusaha untuk membangunkan Kylan, tapi tidak berhasil. Akhirnya, Rhea memanggil petugas UKS untuk memberikan pertolongan pertama.
Karena situasi bukannya membaik, malah semakin memburuk, akhirnya guru pun mencoba menelpon orang tuan Kylan dan segera membawa Kylan ke rumah sakit terdekat. Elya juga diizinkan untuk pulang terlebih dahulu karena ia sempat sesak napas karena syok melihat Kylan pingsan.
~Di Rumah sakit
Elya segera berlari menuju depan ruang operasi karena melihat ibu Kylan di sana. Terlihat dengan jelas bahwa ia merasa gelisah dan mengkhawatirkan Kylan yang ada di dalam sana.
"Tante!! Gimana kondisi Kylan?! Kenapa Kylan tiba-tiba pingsan tadi?" tanya Elya kebingungan. Ia di ajak ke rumah sakit untuk berjaga-jaga saja, dan kebetulan rumah sakit itu sama dengan yang ditempati Kylan.
Nyonya Nahendra menghela napas, lalu mulai berkata, "Sepertinya aku harus mengatakannya... Maafkan aku, nak." Gumamnya sembari melihat ke ruangan yang sedang ditempati Kylan.
"Sebenarnya, Kylan mempunyai penyakit turun temurun dari keluarganya, nak. Penyakit itu belum diketahui namanya apa, atau bahkan obatnya. Namun, seharusnya penyakit itu muncul saat ia berusia 17 tahun nanti. Tapi...dia berbeda, nak. Kylan menderita penyakit itu dari sejak ia kecil, makanya tubuhnya menjadi lemah." Ibu Kylan berhenti sejenak, lalu melanjutkan perkataannya.
"Penyakit ini...bisa merenggut nyawa seseorang jika ia tidak sanggup lagi melawannya, nak. Jadi...kita doakan saja yang terbaik untuk Kylan agar ia bisa sembuh," ucap Nyonya Nahendra sembari tersenyum pahit.
Mendengar hal itu, Elya sangat kaget. Gadis bersurai hitam panjang itu membeku, dan tidak bisa menahan tangisannya. Ia menangis, perasaannya tercampur aduk. Ia merasa bersalah ketika ia menyadari kalau selama ini seharusnya ia tidak mengabaikannya.
Beberapa saat kemudian, dokter pun keluar dari ruang operasi dan menghampiri Nyonya Nahendra.
"Begini, nyonya. Pasien sedang mengalami masa kritisnya. Kami sudah berusaha keras agar ia masih bisa bernapas, namun saat ini pasien masih belum sadarkan diri. Kini, tinggal menunggu pasien saja. Jika ia bisa berhasil melewati masa kritisnya, maka ia akan bangun. Jika tidak..." Dokter itu diam, tidak melanjutkan perkataannya. Nyonya Nahendra mengangguk, seakan-akan tau apa maksud dokter.
"Ku mohon tetaplah hidup, Kylan..." batin Elya.
Sejak hari itu, sepulang sekolah Elya selalu rutin pergi ke rumah sakit untuk menghampiri Kylan. Ia bercerita tentang kejadian yang ia alami saat ia sekolah, atau bahkan masalah-masalah yang ia terima.
Suatu hari, seperti biasa Elya pergi ke rumah sakit untuk bertemu dengan Kylan. Ia membawa bunga untuk menggantikan bunga yang kemarin ia bawa.
Sesampainya di kamar Kylan, Elya segera mengganti bunganya lalu duduk di sofa dan bercerita. Tak diduga-duga, Kylan mulai terbangun. Namun, suaranya sangat lemah sekali.
"El...ya..." ucapnya lirih, yang membuat Elya terkejut dan hampir meneteskan air matanya. Ia segera menahannya, lalu ingin memanggil dokter. Namun, langkahnya terhenti karena Kylan menarik bajunya.
"Tetaplah di sini, El...aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu..."
Elya terdiam. Lalu, ia mengangguk kecil dan duduk di samping tempat tidur Kylan.
"Katakanlah, Kylan..."
Kylan tersenyum, lalu perlahan ia menyentuh pipi Elya dan mengelusnya. "El...apa kau tau? Ketika kau salah paham denganku dan Rhea...sampai kau menghiraukanku...sebenarnya kita membicarakan mu," ucap Kylan dengan lirih sembari tersenyum. Muka Elya perlahan mulai memerah, ia benar-benar salah paham. Ia mengira bahwa Kylan menyukai Rhea, begitu juga sebaliknya, dan mereka mempunyai hubungan spesial, seperti...pacaran.
Kylan hanya terkekeh kecil melihat wajah Elya memerah, namun ia tetap mengelus pipinya dengan lembut. "Aku tau kau menyukai ku, Alshelya. Aku juga menyukai mu. Ah...lebih tepatnya, aku mencintaimu, Alshelya Khannarissa. Namun...sepertinya kita tidak bisa bersama," ujar Kylan sembari tertawa canggung.
"Pasti...kau kesal denganku, ya? Yah...kau berhak kesal karena aku tidak memberitahu kepadamu sama sekali tentang ini. Jadi, maafkan aku... Alshelya. But let me hug you, at least one last time, Alshel," ucap Kylan sembari tersenyum manis, yang membuat tangisan Elya pecah di saat itu juga. Ia menangis, namun sembari memeluk Kylan dengan sedikit erat.
Di saat itu juga, terdengar nafas terakhir dari si lelaki. Tubuhnya mulai terasa dingin, dan perlahan matanya mulai tertutup. Elya mulai panik, dan segera memanggil dokter. Tapi, sepertinya itu sia-sia karena Kylan sudah pergi di pelukan Elya, untuk selama-lamanya.