"Hey apakah kamu tau toko Spopy yang ada di seberang jalan itu? Katanya, tempat itu selalu memberikan diskon besar-besaran setiap hari 'Black Friday' lho"
"Tapi katanya, ada yang bilang tempat itu di penuhi hantu atau hal mistis semacamnya"
***
Namaku Malaikat Iblis, seorang anak tunggal dari pemilik toko Spopy. Awalnya aku memiliki saudari kembar, namun Kematian aneh datang menjemputnya, jasadnya tak di temukan, sejak itu arwahnya selalu bersemayam di tubuhku, kami berbagi tubuh.
Setiap hari Black Friday, ayah dan ibuku selalu memberikan diskon 90% untuk seluruh pembeli, baik pelanggan maupun pembeli baru. Kami menjual berbagai boneka, mungkin bagi beberapa orang boneka yang kamu buat terlihat menyeramkan, seperti manusia sungguhan.
Terkadang aku binggung, untuk apa kedua orang tuaku memberikan diskon besar-besaran itu, lagipula untuk membuat bonekanya saja memerlukan waktu yang lama, apa mereka tidak takut rugi dan bangkrut?! Apalagi jumlah pembeli kami cukup banyak.
"Mala, ayo bantu Ibu menatanya ke meja pajangan, kita hampir buka toko" Pinta Ibuku.
"Iya, Bu"
Terkadang, aku sendiri pun merasa takut akan boneka manusia itu. Kulitnya yang kenyal serta dingin, serta matanya yang seakan memberikan tatapan peringatan kepadaku.
Aku sendiri belum pernah membuat boneka boneka itu. Terkadang, aku hanya membantu mereka untuk memoles boneka-bonekanya.
CLINGGG...
Bel toko yang terletak di depan pintu telah berbunyi, tandanya toko kami telah di buka. Beberapa pembeli terlihat berbondong-bondong memasuki toko kami. Toko kami pun di serbu pembeli. Kami sendiri bahkan hampir kewalahan menghadapi para pembeli.
***
Malamnya, tepat pukul 23.11 Aku terbangun dari tidurku akibat suara berisik terdengar hingga ketelingaku. Suara itu seperti orang yang sedang memotong daging. Ku pikir, awalnya ibu sedang memotong daging sapi untuk di bagikan kepada penduduk sekitar, karena ibuku sering membagikan daging gratis juga.
Namun, bisikan dari Angel itu terpaksa membuatku keluar dari kamar dan mendatangi asal suara itu.
"Hey, bangunlah! Kejarlah suara itu, maka kamu akan menemukan jawabannya"
"Hah? Jawaban apa?"
"Cepat, ku hitung sampai 5, jika dalam hitungan 5 kamu tak beranjak, maka suara itu akan menghilang, dan kamu tak akan bisa keluar"
"Tapi..."
"Satu, dua, tiga"
"Oi"
"Empat"
"Yayaya, aku keluar nih, tapi kamu diem" Aku membuka pintu kamarku dengan perlahan-lahan dan keluar kamar sembari mengendap-endap.
"Hehehe, gitu dong" Katanya sambil tersenyum meringis.
Pelan dan pelan, aku membuka pintu dapur dan mengintip dari luar. Dari balik pintu, aku melihat sebuah pisau daging tertancap pada sebuah kaki yang panjang, bukan kaki hewan tapi kaki manusia.
"Pak, manusia ini ada tahi lalatnya di matanya, harus kita apakan?"
"Kenapa kamu bunuh yang jelek gitu, cari yang mukanya bagus dong"
"Tapi, ini sendiri termasuk lumayan, karena dia gampang di tipu"
"Ahh, kau cabut saja tahi lalatnya itu, lalu buat dia boneka ala ala Eropa dengan topeng, biar bekas tahi lalatnya itu gak keliatan" Ujar seorang pria bertubuh besar, dia adalah Ayahku!
"A-ayah? I-ibu?!"
"Gimana? Sekarang kamu tau kan? Kenapa jasadku tak di temukan, dan Ayah Ibu tak mau melaporkannya ke polisi" Ujar Angel.
"Ka-kamu, pasti bercanda kan?"
BRUKKK...
Tanpa sengaja aku menabrak sebuah tanaman yang terletak di samping pintu dapur, yang membuat benda itu terjatuh dan memancing kedua orang tuaku keluar.
"SIAPA DI SANA?!"
Aku menutup mulutku dan terdiam sambil menahan tangisanku. Bau darah yang begitu amis dan menyengat, aku tak sangka selama ini boneka yang kami jual berasal dari manusia sungguhan, dan daging yang kami berikan kepada penduduk sekitar.
"CEPAT KELUAR!"
"Ahh Ibu kok di dapur malem malem? Hehe, a-aku tadi habis dari toilet, kebelet soalnya" Jelas Angel. Secara tiba-tiba Angel merasuki tubuhku, yang membuat kami harus bertukar tubuh sementara waktu.
KLINTING...KLINTING!!! Suara bunyi bel itu membuat kami terpaksa harus bertukar tubuh. Bel apa itu?!
"Jangan bohongi Ayah, Ayah tau tadi itu Angel kan? bukan Kamu, Mala!" Ucap ayahku dengan tatapan sinis.
"Eng-eng-enggak" Jawabku dengan gemetar.
"Gausah bohong!" Tongkat kayu yang ia pegang memukul pot tanaman hingga pecah. Aku takut, aku harus bagaimana?!
"Lari!"
Aku mengikuti kata Angel, aku pun berlari menuju keluar pintu. Sesekali ku tengok ke arah belakang, untuk melihat sosok ayahku yang sedang mengerjakan.
Aku lalu mengambil hiasan di dinding, lalu melemparkannya ke arah Ayahku, namun berhasil ia tangkis.
[Hey, bisakah kita bertukar tubuh?]
[Gak bisa, Mal. Gara-gara ayah bunyiin lonceng itu, jiwaku tersegel, jadi aku cuma bisa mantau dan kasih aba-aba ke kamu]
[Lonceng?]
[Iya, setiap korban yang ia bunuh, jiwanya akan di segel kedalam sebuah lonceng. Masing lonceng terdapat satu arwah. Jiwa arwah itu terjebak selama 10 tahun, maka mereka akan menjadi setan, dan tak bisa bereinkarnasi!]
[Tapi kamu kan, udah 12 tahun, artinya kamu udah jadi setan dong?!]
[Harusnya, tapi aku sendiri udah tau tentang kelakuan Ayah sama ibu sebelum aku mati. Sebagai persiapan aku memakai jimat pelindung, itu akan melindungi arwahku, tapi tetep aja sih aku gak bisa reinkarnasi lagi. Sekalipun bisa, itu pun hanya setengah dari jiwaku, yang artinya reinkarnasi aku bisa komunikasi sama aku dan dia di sebut 'Alter ego']
[Kalo udah tau kenapa gak bilang sama aku, ngel?!]
"Heyy, jangan sampai kamu bicara sama 'dia', awas!"
Aku masih berlarian keliling rumahku, untuknya rumahku cukup besar, sehingga aku bisa mengecohkan pandangan Ayah.
[Karena setiap aku mau ngasih tau, aku selalu di awasin, pas aku mau ngasih tau, ehh aku malah di bunuh, yasudah deh]
[Trus aku harus gimana]
[Gampang, buat ngalahin Ayah, kamu harus...-]
Namun, sebelum ia memberitahu rahasia untuk mengalahkan Ayah, jiwanya sudah masuk ke dalam lonceng, itu artinya aku sudah tak bisa berkomunikasi dengannya lagi.
Aku semakin takut, jika tak ada dia aku harus bagaimana?! Seluruh jalan keluar dari rumahku telah terkunci, bahkan jendela sekalipun, aku tak bisa memecahkannya karena ada jeruji yang menghalangi aku keluar.
"MALAAA!!"
Aku menenggok ke arah belakang, dan tanpa aku sadari sudah ada ibu di depanku, dan...
BRUKK...
Kepalaku terpukul oleh tongkat kayu, pandangan mataku mulai kabur, dan aku pun pingsan.
"Ughh!!"
Aku terbangun dari pingsanku, dan mendapati aku sedang tergeletak di atas meja daging serta kaki tangan yang terikat oleh rantai besi. A-apa yang mau ibu lakukan padaku?!
"Sayang, Ibu sangat sayang Mala dan juga Angel. Makanya Ibu mau membuat kalian menjadi awet" Kata Ibuku sambil menggosok gosokkan pisau daging itu dengan sebuah batu.
"I-ibu, Mala gak akan bongkar deh, janji" Aku berusaha memohon kepada Ibuku supaya nyawaku terselamatkan.
"Diam kamu! Dasar anak kurang ajar! Cepat suntikkan cairan itu!" Pinta Ayahku kepada Ibuku dengan membentak.
"Tenang dulu" Jawab ibuku sambil tersenyum sinis, "Nah, Mala sayang, ada gak kata kata terimakasih untuk Ibu dan Ayah?!" Tanya Ibuku dengan senyumannya itu, membuatku menjadi takut.
"ENGGAK! AKU BENCI SAMA KALIAN!"
"Dasar tak tau di untung" Geram Ibuku. PLAKK!!! Ia menamparku tanpa belas kasihan sedikit pun.
Ia lalu mengambil sebuah suntikan yang tergeletak di meja, dan menyuntikkannya ke aku.
"Nah Mala sayang, kamu punya waktu 3 detik, adalah kata-kata yang mau kamu sampaikan? Huh" Kata ibuku sambil menyuntikan sebuah cairan entah apa itu kepadaku.
Seperti itu suntikan yang berisi racun, untuk membunuhku. Aku hanya bisa menyerahkan kepada takdir sambil berkata, "Huh, Hidupku ini sungguh mengenaskan, ya? Aku benci Ibu dan Ayah"
"Satu, dua"
"Awas kalian!" Bentakku.
"Tiga"
"Yah, Mala sayang waktumu sudah habis" Ucap ibuku tanpa rasa sedih sedikit pun, bagiku, ia tak lebih dari seorang iblis yang mengaku sebagai ibuku, begitu juga dengan pria tua itu.
Aku memejamkan mataku sambil meneteskan tetesan air mata terakhirku.
"Harus kita apakan tubuhnya?"
"Apakah setelah bermain kejar kejaran dengan Mala otakmu jadi hilang? Kita masih memiliki tubuh Angel yang tersimpan di lemari pendingin. Kita buat saja mereka jadi boneka kembar, dan melelangnya di pasar gelap, pasti akan laku oleh orang-orang kaya"
"Hemm, bagus juga idemu"
"Kalau begitu, kunamai mereka 'Kemala' Si Kembar Malang"
[End]
By Lisaa Lisaya