Sejak kecil aku tinggal dengan paman dan bibik ku, mereka memiliki seekor anjing yang sangat mereka sayangi lebih dari aku, anjing yang mereka panggil bayi malaikat itu selalu merusak barang-barang yang ada di rumah, namun akulah orang yang selalu di salahkan karna di anggap tak bisa menjaga anjing mereka,
Mereka bahkan menyediakan kamar untuk anjing itu, sangat berbeda dengan ku yang harus tidur di ruang tamu dengan sofa tua yang membuat penggung ku sakit setiap bangun tidur.
Kedua orang tua ku meninggal, hanya itu yang ku ketehui tentang mereka, aku tak tau penyebab mereka meninggal karna paman dan bibik tak pernah mengizinkan ku menayakan atau membahas hal apa pun yang bersangkutan dengan kedua orang tua ku.
Kau tau? Kehidupan yang mengekang dan penuh tekanan tak selalu menghasilkan seorang yang lemah atau berhati lembut… jika menurut mu begitu, karna dengan semua tekanan batin yang ku terima sejak kecil aku berusaha bertahan hidup dengan melakukan perkelahian untuk mendapatkan apa yang aku mau, aku adalah ketua geng di sekolah, dan aku termasuk anggota dari komplotan pereman terkuat di daerah ini.
Sekarang aku duduk di bangku SMA, aku sering mengadakan party di rumah teman ku dengan beberapa orang gadis-gadis yang haus akan alcohol,
“jay, hari ini party di rumah nino kan, bawa minum yang banyak ya karna aku akan mengajak teman baru hari ini” gadis itu merangkul tangan ku menggoda
“terserah” ucap ku ketus dan segera melangkah pergi meninggalkan mereka, apa mereka tak tau seberapa sulit aku mendapatkan minuman ilegal sebanyak itu
Malam itu seperti biasa kami memulai dengan berbincang dan memainkan beberapa game di antara dentuman musik sambil menikmati alcohol, beberapa menit kemudian aku menangkap wajah baru, dia pasti gadis yang mereka sebut teman baru tadi, fikir ku,
gadis itu memiliki kulit putih dan tubuh dengan lekukan sempurna di balik balutan baju ketat yang ia kenakan, kakinya semangkin terlihat jenjang karna rok mini berwarna hitamnya
Aku terus hanyut dengan dentuman musik dan minuman yang membuat ku melayang ke surga. Bahkan membuat ku tak sadar bahwa malam itu akan merubah seluruh hidup ku.
Aku terbangun karna tangisan seorang wanita di sebelah ku, aku menatap sekitar ku dan segera menyadari aku berada di kamar berdua dengan gadis cantik yang baru ku lihat tadi malam.
Setelah lama berdiskusi kami sepakat untuk merahasiakan hal ini seakan tak terjadi apa-apa, namun beberapa bulan kemudian hal tak terduka kembali terjadi setelah aku memutuskan tinggal di kontrakan yang jauh dari bibik ku
Aku menemukan bayi perempuan di depan rumah kontrakan ku dengan selembar kertas, “DIA ANAK MU, AKU AKAN KELUAR NEGRI UNTUK MEMULAI KEHIDUPAN KU YANG BARU, AKU TAK MENGINGINKANNYA, JIKA KAU JUGA TAK MAU, KUBURLAH DIA DENGAN LAYAK DAN JANGAN PERNAH MENYEBUT NAMA KU APA PUN YANG TERJADI”
Aku panik dan membawa anak itu ke perkebunan sawit yang telah di telantarkan pemiliknya, aku menggali tanah cukup dalam, tiba-tiba bayi itu menangis seakan mengetahui ajalnya yang sudah dekat, entah kenapa setelah melihatnya aku mulai mendekapnya dalam pelukan ku, dan seperti sebuah keajaiban bayi itu berhenti menagis dan menatap ku dengan pandangan yang tak bisa ku artikan.
“apa kau mau mengutuk ku?” bayi itu menyentuh wajah ku lembut beberapa menit dan mulai terlelap tidur, tak tau kenapa aku merasakan sesuatu yang hangat di dalam hatiku,
Aku pun memutuskan untuk merawat anak itu untuk beberapa hari, namun semangkin lama aku melihatnya aku semangkin jatuh cinta padanya, bayi itu terlihat sangat kecil di tangan ku bagai seorang peri denga mata berbinar seperti malaikat
Sejak saat itu aku mulai mempelajari cara mengurus bayi lewat internet, saat aku pergi memalak anak-anak sekolah atau mencuri untuk mencari uang aku menitipkan bayi itu pada seorang nenek tua di seberang jalan dekat kontrakan ku
Hari terus berganti, dan segala kesulitan mengurus anak itu saat dia menangis atau sakit pun terlewati. bayi kecil itu tunmbuh menjadi anak yang cantik yang ku beri nama bella, setiap malam aku membacakan dongeng pengantar tidur untuknya.
TOK TOK TOK
Terdengar suara ketukan pintu cukup keras dari luar, tampa melihat pun aku tau orang yang datang ke rumah ini di malam hari pasti bodyguard, atau penjahat bayaran dari anak-anak kaya yang ku palak di sekolah.
“peri kecil papa yang cantik, papa nemuin teman papa dulu ya, kamu jangan keluar, dengerin musik dulu ya” aku menyerahkan ponselku dan earphone pada bella
“papa mau latihan bela diri lagi ya? Sama temen-temen papa” ia menatap ku dengan mata sayunya
Aku hanya membalas dengan senyuman dan keluar untuk bertarung dengan orang-orang itu seperti yang sering ku lakukan, kami bertarung cukup lama, memar dan luka mulai bermunculan di tubuh kami hingga akhirnya mereka menyerah dan pergi dari rumah ku.
Aku membersihkan luka ku dan mengompres beberapa bagian tubuh ku yang memar, “papa” bella keluar dari kamar dan menghampiriku “papa boleh gak bella minta papa ga usah latihan bela diri terus, bella gak suka papa sakit”
“ini gak sakit kok” aku mengangkat tubuk bela dan meletakanya di pangkuan ku, “tapi pa di TV orang-orang yang latihan bela diri gak pernah luka-luka kayak papa, bella gak suka liat papa kayak gini”
Mendengar perkataan itu aku pun memutuskan untuk berhenti dari kehidupan kelam ini karna tak mau peri kecil ku bersedih, aku pun memutuskan untuk mencari lowongan pekerjaan.
Sekarang bella telah berumur lima tahun aku pun memutuskan untuk memasukanya di TK dekat toko roti tempat ku bekerja
Setiap hari sebelum bekerja aku mengantarkanya sekolah dan menjemputnya lagi di siang hari
Siang ini bella berkelahi dengan teman sekelasnya, yang membuat ku di panggil ke sekolah, masalah telah di selesaikan di ruang guru namun saat keluar ibu dari anak itu kembali menyenprot bella dengan ucapan yang membuat ku tak terima
“anak yang tak memiliki ibu memang seperti itu, sulit untuk bergaul, tak bisa di ajak bercanda langsung memukul” ia menatap bella senis, yang membuat bella tampak kesal
“bella kamu minta maaf dulu ya sama mereka”, “tapi pa, kan dia duluan yang nakal” aku mengelus rambut putriku lembut “ bella minta maaf ya”
Bella menuruti perkataan ku dan meminta maaf, “oh papa lupa dompet papa tinggal di toko roti bella bisa tolang ambilkan untuk papa?” gadis kecil itu mengangguk dan segera pergi
“sepertinya kau sangat menyayangi anak mu, jadi kau juga harus tau bahwa aku seribu kali lebih menyayangi anak ku, mulai hari ini jaga anak mu dengan baik jika kau tak mau dia berakhir mengenaskan” aku melangkah meninggalkannya menuju toko roti.
Hari mulai gelap aku duduk di sebelah bella di kasurnya, “papa... mama orang yang seperti apa?” ia menatapku serius “mama orang yang sangat cantik, dia juga baik, jadi bella juga harus jadi anak baik ya biar bisa ketemu sama mama”
Hati ku selalu terasa sakit setiap kali ia menanyakan hal itu, “udah malam bella tidur ya” bela memeluku “bella paling sayang sama ayah, jadi bella gak usah ketemu mama juga gak papa kok, bella bakal jadi anak yang baik buat papa”
Aku mengelus rambutnya hingga ia terlelap di pelukan ku “maafin papa ya sayang, kamu harus memiliki orang tua seperti ku, papa akan terus berusaha untuk jadi orang tua terbaik buat bella” bisik ku sambal mengusap air mata yang mengalir tampa ku sadari
-TAMAT-