Aku Sera Estele memiliki kekasih yang bernama Albert Ray. Aku merenung sendiri di kamarku dan sesekali menatap ke arah ponsel. Aku tak mengerti akhir-akhir ini intensitas pertemuan kami semakin berkurang. Lelaki yang ku cintai itu seakan makin menjauh, semakin jarang memberi kabar, semakin jarang pula aku diperhatikannya.
Awal pertemuan kami sangatlah sederhana, kami bertemu dilift perusahaan milik ayahku. Kami terjebak di dalam lift berdua, saat itu aku jatuh cinta pada pandangan pertama pada sosok tenang Albert dan aku meminta tolong pada Ayahku agar beliau bisa memperkenalkan kami, Albert Ray adalah karyawan berprestasi diperusahaan kami. Ayah menuruti permintaanku dan akhirnya Aku dan Albert bisa menjadi dekat.
Di awal jadian kami, Albert menjadikanku prioritasnya. Apapun yang ku mau, apapun yang ku ingin selalu dikabulkannya. Awalnya aku tak berharap banyak dan aku menganggap semua yang dia lakukan hanya karena aku adalah putri satu-satunya atasannya.
Namun aku terlena oleh kebaikannya, oleh ketulusannya dan perhatiannya. Sikapnya itu bukanlah akting belaka, karena aku memeriksa latar belakangnya secara diam-diam. Dia memiliki orang tua yang harmonis dan seorang adik laki-laki yang umurnya tidak jauh darinya. Rupanya didikan keluarganya membuatnya menjadi orang sebaik itu. Lama kelamaan aku menjadi posesif padanya, ingin menjadikannya milikku sendiri.
Apalagi seseorang dari masalalunya datang, Albert mengatakan wanita itu adalah anak dari sahabat orang tuanya yang sudah mereka anggap sebagai anak dan saudara mereka sendiri. Namun feelingku sebagai seorang wanita ada hal lain yang disembunyikannya dariku.
Wanita itu seakan merebut seluruh perhatian Albert padaku, dengan tubuh lemahnya dan ketidak berdayaannya membuatku tersisih dari prioritas kekasihku sendiri.
Aku memaksa ayah untuk membantuku agar Albert bisa segera mempererat hubungan kami dengan sebuah pertunangan. Entah apa yang dijanjikan oleh ayah, tak lama kemudian Albert datang padaku dan mengajakku bertunangan. Aku tak bisa menahan perasaan senangku saat itu.
Besok adalah hari yang kutunggu-tunggu. Seluruh undangan sudah tersebar, aku sangat bersemangat menantikan acara besar itu. Acara itu akulah yang mempersiapkan dibantu dengan tim EO yang sangat terpercaya yang juga kenalanku. Sesekali aku menanyakan pendapat Albert dan Albert sangat kooperatif menyampaikan keinginan dan pendapatnya. Setidaknya aku tahu dia juga sama antusiasnya denganku.
Semoga besok segalanya berjalan sesuai rencana. Harapku dalam hati.
Pagi-pagi aku sudah siap dengan gaun indah yang dipesan khusus untuk acara pertunanganku ini. Make up pun aku menyewa jasa MUA terkenal agar semakin menonjolkan penampilanku.
Aku menunggu di tempat acara, hingga satu jam berlalu, ponselnya ku hubungi namun tidak tersambung. Orang tuanya pun belum datang atau memang tidak datang karena aku merasa sejak awal mereka tidak merestui ku menjadi kekasih anak mereka.
Aku masih berpikir positif, mungkin Albert terjebak macet dijalan. Namun dua jam berlalu, aku mulai khawatir karena ponselnya masih belum bisa dihubungi, bagaimana jika dia mengalami suatu musibah?
Aku pun menghubungi adiknya yang mungkin saat ini ada jadwal di kampusnya, tapi aku tidak peduli. Setelah menunggu dering selama lima menit akhirnya adiknya mengangkat telpon. Adiknya mengatakan jika mungkin kakaknya sedang berada dirumah sakit, membuatku lebih takut lagi.
Namun apa yang dikatakan adiknya membuat hatiku hancur, Albert pergi ke rumah sakit untuk menemani wanita itu, adiknya tidak bisa menemani karena ia berada diluar kota untuk menyelesaikan tugas lapangannya dan lelaki itu malah bertanya padaku apakah ada hal penting sehingga mencari kakaknya. Aku hanya terdiam membisu, bahkan Albert tidak memberitahukan keluarganya tentang pertunangan ini.
Tamu yang lain pun mulai gaduh. Kulihat ayah bersama asistennya berusaha mengkondusifkan suasana. Hatiku seakan terkoyak, rasa malu, sedih dan hancur bercampur jadi satu. Saat ini aku hanya ingin marah dan aku ingin menangis melampiaskan rasa kekecewaan dalam diriku.
Jadi selama ini Albert anggap aku ini apa? Kenapa dia terlihat menerima perasaanku padahal dia dengan kejam ingin membunuhku? Rupanya semua yang dilakukannya tidak lebih dari sekedar menyenangkan hatiku, tidak ada cinta yang ku damba dan dia tidak menanggapiku dengan serius.
Semua perlakuan istimewa dan rasa antusiasnya yang ditujukan padaku hanyalah asumsiku saja. Albert tidak memiliki perasaan yang sama sepertiku. Dadaku sangat sesak, aku menatap wajah ayahku yang menghkawatirkanku.
"Sudah cukup nak, kamu tidak bisa memaksakan perasaan Albert terhadapmu." Bisik ayahku, aku semakin erat memeluk tubuh ayahku dan menangis dipelukannya.
"Pertunangan ini dibatalkan saja ya, aku akan menyuruh asistenku membubarkan acara ini, sekarang kita pulang." Kata ayahku kemudian menuntunku menuju mobil yang terparkir di depan gedung.
Mataku masih meneteskan air mata dan tak mau berhenti. Aku merenungkan segala sesuatu yang terjadi. Dinginnya hubungan yang selama ini ku lalui membuatku tersadar, sepertinya disini akulah penyebabnya. Aku terlalu membatasi dirinya, terlalu overprotektif dan terlalu menekannya dengan menggunakan kekuasaan ayahku padanya agar ia menuruti apa yang ku mau. Aku menyalahkan diriku sendiri. Kenapa mencintai seorang Albert bisa sesakit ini? Kataku dalam hati.
Saat ini hatiku mati rasa, aku hanya ingin lari sejauh mungkin, berada di tempat dimana tidak ada satupun orang yang mengenaliku. Aku hanya ingin sendiri dan menenangkan hatiku.
"Ayah aku ingin melanjutkan studyku." Kataku mengutarakan keinginan.
"Itu bagus, apakah ada sekolah yang ingin kamu masuki?" Tanya Ayahku dengan mengusap lembut rambutku.
"Aku ingin mengambil study di luar negeri, ayah, terlalu banyak kenangan yang menyakitkan disini." Kataku kemudian air mata kembali menetes di pipiku. Aku ingin berhenti menangis namun aku tidak mampu menahannya. Dalam dadaku masih terasa sesak.
"Baiklah, kamu persiapkan saja barangmu, lusa ayah akan mengirimkanmu ke rumah bibi yang berada di London, kamu bisa melanjutkan study di sana." Kata Ayah.
Sampainya di rumah aku langsung menuju kamarku. Aku sangat marah, sehingga apapun yang berada di kamarku aku lempar ke berbagai arah. Aku menangis lagi hingga aku merasa sulit bernafas, aku pun berusaha tenang dan menatap cermin rias di depanku, aku sangat mengerikan dengan riasan yang luntur dan dress yang terkoyak.
Semua yang ku persiapkan dan ku perjuangkan selama ini hancur dalam hitungan jam. Aku mengganti baju dan menghapus riasanku dengan cepat. Ponsel yang tadinya kubanting hingga nonaktifpun ku ambil dan kunyalakan kembali.
Aku meminta tolong bi Asih dan bi Inah untuk membersihkan kamarku yang berantakan. Aku pergi ke gazebo yang terletak di belakang, ku lihat ayah yang selama ini berhenti merokok kini kembali menyalakan rokoknya. Aku merasa bersalah padanya, aku membuatnya mengkhawatirkanku dan aku membuatnya kecewa.
"Ayah." Sapaku pada Ayah yang sedang termenung menatap kolam ikan koi.
Aku meletakkan ponselku disebelah aku dan ayah duduk. Tidak ada yang memulai pembicaraan, aku dan ayah dengan damai menatap ikan koi yang berenang kesana kemari, sesekali aku melemparkan sedikit makanan ke kolam dan langsung disambar oleh ikan-ikan itu.
"Ayah saat aku pergi nanti jagalah kesehatanmu, jangan merokok lagi itu tidak baik bagi paru-paru ayah." Kataku mengingatkan.
Ayah hanya berdehem menyetujui ku kemudian mengambil asbak yang berada di meja gazebo itu lalu mematikan rokoknya.
Aku tertawa saat melihat ayah menuruti apa kataku. Sejak kepergian ibu, ayahlah yang selalu menjagaku dan memanjakanku dengan kasih sayangnya yang begitu besar. Aku juga merasa sedih ketika ingat lusa aku akan meninggalkannya seorang diri di rumah besar ini. Namun aku perlu menata hatiku lagi, menurutku tinggal disini hanya akan membuat perih luka yang tertoreh dihati.
"Ayah, maaf dan terimakasih karena ayah selalu ada untuk Sera." Kataku kemudian menangis lagi.
"Kamu tak perlu berterimakasih nak, karena keberadaan Sera di hidup ayah merupakan anugrah terbesar yang Tuhan berikan kepada ayah dan ibumu." Kata ayah ku lihat mata ayah memerah, aku pun kembali memeluk ayah untuk menyampaikan rasa sayangku padanya.
"Ayah, Sera sangat mencintai ayah." Kataku dengan terisak.
"Ayah juga mencintai Sera." Balas ayah.
Aku dan ayah dengar dering ponselku berbunyi. Aku melepaskan pelukan ayah dan mengambil ponselku, di layar depan tertulis Albert lah yang menelpon.
Ayah melihatku yang menatap sendu ke arah ponsel. Aku ragu, ingin aku mengangkatnya dan mendengar penjelasan darinya namun aku juga tak ingin dikecewakan lagi.
"Angkatlah nak, selesaikan masalah kalian agar tidak ada beban dikemudian hari." Kata ayah memberikanku nasehat.
Akhirnya ku angkat telponnya. Terdengar nafas Albert yang tidak beraturan di telpon. Suara pria itu begitu serak dan terengah-engah.
"Sera, aku berada di depan rumahmu, ku mohon berikan aku kesempatan. Aku ingin menjelaskan semuanya padamu." Kata Albert, suaranya begitu lemah.
"Aku juga ingin menyampaikan sesuatu padamu." Kataku kemudian menutup telpon secara sepihak. Aku melangkah ke pintu depan dengan langkah kaki yang begitu berat.
Di depan pintu ku lihat Albert berdiri dua langkah sedikit jauh dari pintu. Aku melihat dia mengatur nafasnya dan saat aku membuka pintu pria itu menatapku dengan wajah bersalahnya, ia pun berdiri selangkah lebih dekat dariku hingga aku bisa melihat keringatnya yang mengalir dari pelipis menuju ke lehernya.
"Masuklah." Kataku singkat, aku berusaha tenang namun tidak demikian dengan hatiku.
Albert menggeleng, "Sera, maafkan aku di rumah sakit tempat terapi paru-paru sangat terpencil sehingga tidak ada sinyal disana. Aku salah karena tidak mengecek kembali pesan yang ku kirimkan padamu kemarin yang terpending, keadaan Liliana saat itu kritis dan aku juga bersalah padamu karena melewatkan hari ini." Kata Albert yang menyentuh kembali luka terdalamku.
Aku terdiam mendengar penjelasannya, menahan diri agar tidak melepaskan emosi didepannya, "Aku tahu, betapa pentingnya Liliana bagimu, kamu menganggapnya sebagai adik dan sebagai keluargamu, tapi kalian tak memiliki ikatan darah. Aku mencoba mengerti karena ia sebatang kara, tapi kenapa harus disaat yang penting ini? Bukankah ada kedua orang tuamu yang juga menyayanginya, kenapa kamu membuatku hancur sampai seperti ini, Albert?"
"Mungkin tanpa sadar kamu mencintainya, dia menjadi prioritasmu dalam segala hal dan aku bukan siapa-siapa, aku hanya wanita manja yang memanfaatkan ayah untuk mendekatimu, kau sama sekali tidak salah. Akulah yang salah memanfaatkan kebaikanmu, dan membuatmu berada di posisi yang sulit."
Aku merasakan air mata menumpuk di mataku, pandanganku mulai memburam. Tapi saat ini aku tak boleh menangis, aku harus mengatakannya dengan jelas untuk menegaskan segalanya.
"Sera, tidak bisakah kamu memberiku satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya?" Tanya Albert suaranya bergetar, aku tahu dia juga pasti mengalami kesulitannya sendiri, tapi aku tidak bisa terus menerus memaksanya untuk memilih siapa yang terpenting baginya. Aku sudah memutuskan, akulah yang akan mundur.
Aku meraih tangannya yang terkepal kuat, ku uraikan kepalan tangannya, ada bekas kuku yang tertinggal di telapak tangannya. Setetes air mata mengalir dari mataku.
"Albert, kita akhiri saja hubungan ini." Albert tertegun mendengar ucapanku.
"Aku ingin kamu bahagia, aku sadar selama ini kamu pasti sangat tertekan saat bersamaku. Maafkan aku Albert, mungkin kata maaf tak bisa mengembalikan semua, tapi aku sangat senang pernah jadi bagian dalam kehidupanmu." Kataku kemudian aku melepaskan tangannya pelan, namun Albert justru menggenggam tanganku erat.
"Mari kita jalani hidup kita masing-masing." Kataku akhirnya, Albert pun melepaskan genggamannya ditanganku dengan pelan saat menatap kedua mataku yang menyiratkan rasa kekecewaan mendalam padanya.
Albert akhirnya menyadari bahwa hubungannya dengan diriku memang sudah tidak ada harapan untuk kembali. Aku sudah menyerah akan dirinya.
"Pulanglah Albert." Usirku pada Albert, aku masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Tubuhku terasa lemas, aku duduk di depan pintu dan meluapkan emosiku, kemudian suara berat dan lirih Albert terdengar ditelingaku.
"Sera, aku bersalah padamu dan membuat luka dihatimu, tapi selama ini aku pun juga menikmati kebersamaan kita. Perlu kau tahu, mungkin ini sangat terlambat tapi sejujurnya aku sangat mencintaimu."
"Sera, dengarkan aku, meskipun nanti kamu punya pasangan lain, aku akan tetap menunggumu. Jadi, kumohon jangan mendorongku untuk menjauh darimu karena aku tak akan bisa melakukannya."
Aku menutup mulutku erat agar isakanku tak terdengar olehnya. Ku lihat dari balik jendela, Albert melangkah pergi dari rumah dengan lunglai.
"Kamu tidak boleh melakukan itu, Albert, kita tak akan pernah berhasil." Kataku sambil melihat punggungnya yang makin menjauh.
**END**
Huah, jangan hujat aku karena endingnya, gara-gara liat story chat aku yang sepi jadinya aku bikin aja cerpen yang agak panjang. . .
Semoga kalian suka, kalau ga suka ga usah dibaca!
Kalian juga bisa cek cerita karya aku yang lainnya lihat profil aku ya, makasih yang udah kasih vote see you next story!